Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 36



Keesokan harinya, Maya menerima telepon dari Amara dan mendengar bahwa Nasha sudah pergi dan Galaksi membiarkannya. Maya meletakkan ponselnya dan merasa luapan bahagia memenuhi hatinya.


Ia merasa bahwa perlakuan tidak adil yang diterimanya akhirnya sepadan. ia dengan bersemangat mengepak barang-barangnya. Sore harinya, akan sopir yang akan menjemputnya. Maya berbicara dengan anak yang dikandungnya, ia tertawa sendiri.


Pintu diketuk dari depan, ia mengernyitkan keningnya. Lantas ia segera membuka pintunya.


“Kamu kembali.”


Daniel langsung masuk ke dalam rumah. “Ya.”


Ia melihat beberapa barang dikemas. Daniel langsung memandang ke arah Maya dan turun ke perut Maya. Mata Daniel tak bergerak dari sana.


“Aku hamil, anak sepupumu. Aku akan pindah ke rumahnya besok. Nasha sudah pergi. Terima kasih atas perhatianmu. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.”


“Berhenti!” Daniel berteriak dengan marah. “Aku tidak pernah kamu bertindak sejauh ini. Aku benar-benar kecewa padamu. Kamu menghancurkan hidup seseorang.”


“Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku,” ucap Maya yang sedikit kesal.


“Apa yang menjadi milikmu? Aku harap aku tidak pernah bertemu denganmu.”


Maya melihat kepergian Danial dan ia mendengar suara pintu ditutup dengan keras. Ia pikir Daniel akan mengerti. Pria itu akan paham dengan apa yang ia inginkan. Setidaknya ia ingin melihat pria itu mendukungnya.


Sore harinya, Maya benar-benar sudah ada di depan kediaman Januartha. Amara menunggunya di ruang tamu. Begitu Maya masuk, Amara menyambutnya dengan acuh tak acuh.


“Ayah, ibu aku datang.”


Maya menyebut panggilan ayah dan ibu dengan sangat lembut. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya.


Sementara Amara menjawabnya, ayah Galaksi sama sekali tidak tertarik.


“Di mana Galaksi? Aku tidak melihatnya.”


“Galaksi berada di penthousenya.”


“Apa? Bagaimana bisa? Kamu menyuruhku tinggal di sini sementara Galaksi tinggal di sana. Aku tidak ingin tinggal di sini. Aku ingin tinggal bersama Galaksi.”


“Maya, dengarkan aku. Kondisi Galaksi saat ini masih kacau. Dia butuh ketenangan.”


“Berapa lama lagi aku harus menunggu?”


“Itu...”


“Apakah dia sudah menandatangani perjanjian perceraiannya?”


“Nasha sudah menandatanganinya tapi Galaksi belum.”


Maya dengan marah tertegun. “Bagaimana bisa? Aku sudah menyuruhmu untuk memaksa Nasha dan Galaksi menandatanganinya. Jika begini aku tidak bisa mendapatkan statusku.”


Malamnya, Maya dengan tidak tahu malu pergi ke penthouse Galaksi. Ia menekan bel pintu dengan tak sabaran. Ketika pintu dibuka, pandangan tajam dari Galaksi menyambutnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Galaksi dengan dingin.


“Aku ingin tinggal di sini. Aku sudah menjadi milikmu, jadi mengapa kita tidak tinggal bersama?”


“Dalam mimpimu.”


Galaksi hendak menutup pintunya namun Maya segera menghentikannya.


“Galaksi, bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?” Maya berteriak dengan histeris sambil menangis.


“Pergilah!”


“Aku tidak akan pergi!”


Galaksi mencibir dengan ejekan. “Kamu mendorong Nasha ke neraka jadi mulai sekarang aku akan membiarkanmu hidup di neraka."


Wajah Maya langsung tertegun detik berikutnya ia mendengar pintu ditutup dengan kasar dan keras.


...♡♡♡...


Sebelum berangkat ke kantor, Manda dan Ale mampir ke kafe untuk membeli kopi. Rupanya dalam perjalanan, Manda mendapatkan pesan dari Nasha bahwa untuk hari yang tidak bisa ditentukan semua pekerjaan akan dialihkan padanya di bawah pengawasan ayahnya.


Membaca pesan dari Nasha, Manda sedikit mengernyitkan keningnya. Ia merasa curiga. Lantas wanita itu langsung menelepon Nasha namun di panggilannya terus-terusan dialihkan.


Manda selalu tertuju pada ponselnya sehingga ia tidak sadar bahwa Ale beberapa kali memanggilnya.


“Huh? Ada apa?” kejut Manda.


“Kita sudah sampai di kafe. Kamu mau pesan apa?” tanya Ale dengan sopan.


“Biar aku saja yang turun. Kamu mau apa?”


“Ice americano.”


“Oke.”


Manda pun turun dari mobilnya. Begitu ia masuk, ia bertemu dengan ibu mertua Nasha. Wanita itu pun menyapanya dengan ramah dan sopan. Ia pun bertanya pada wanita paru baya itu tentang kondisi Nasha dan kenapa wanita itu tidak masuk ke kantor. Namun apa yang di dengarnya dari mertua Nasha membuat Manda terkejut.


Kepala Manda langsung pusing. Ia tertegun sejenak. “Bibi pasti bercanda.”


“Aku tidak bercanda.”


Manda keluar dari kafe seakan kehilangan separuh jiwanya. Ia tidak percaya dengan Maya yang rupanya hamil anak Nasha.


“Bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa menyimpan lukanya sendiri? Mengapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku?”


Manda memikirkan pasti setiap hari Nasha merasa sedih.


Begitu Manda membuka pintu mobil. Ale mengernyitkan keningnya. Ia melihat Manda menangis dan tidak memegang dua gelas kopi.


Apakah kopinya habis dan dia menangis?


“Apa yang terjadi?” tanya Ale begitu Manda sudah duduk di kursinya.


“Nasha, ia menyimpan lukanya sendiri. Maya mengandung anak Galaksi.”


Tubuh Ale langsung kaku. Ale langsung menyalakan mesin dengan kecepatan di atas rata-rata. Rupanya Ale menuju ke penthouse di mana Galaksi tinggal.


“Tunggu di sini,” ucap Ale begitu ia sudah sampai di depan penthouse Galaksi.


Ale langsung mengedor pintu dengan tidak sabar. Amarahnya sepertinya terpancing. Matanya begitu tajam dan dingin.


Begitu Galaksi keluar, Ale melayangkan sebuah bogeman mentah yang mengarah pada wajah Galaksi.


“Aku sudah pernah mengatakan padamu. Jika kamu tidak bisa memberinya kebahagiaan seharunya lepaskan dia sejak awal, berengsek.”


Ale kembali melayangkan pukulannya beberapa kali sehingga membuat sudut bibir Galaksi berdarah.


Tidak tinggal diam, Galaksi langsung membalasnya. Dua pria dewasa kini berkelahi. Manda yang melihat mereka langsung keluar dari mobil.


Manda tidak pernah melihat Ale bertindak impulsif. Hanya jika menyangkut Nasha, Ale akan menunjukkan kepribadian aslinya.


Manda langsung menghentikan mereka dan memaksa Ale untuk pergi dari sana. Mereka berdua tak langsung pergi ke kantor melainkan pergi ke taman dekat kantor mereka.


Manda keluar untuk membeli plester luka dan obat luka. Manda dengan diam membersihkan luka Ale setelah itu ia menutupnya dengan plester bening.


Malamnya Manda terbangun dari tidurnya dan ia tidak menemukan Ale di sampingnya. Manda pun bangun guna untuk mencari Ale. Sebelumnya, Manda mendengar bahwa Ale menyebut nama Nasha beberapa kali.


Manda berjalan ke balkon saat melihat bayangan Ale di sana. Pria itu tampaknya merasakan kehadirannya. Tanpa menoleh Ale bertanya, “Kenapa bangun?”


Manda tidak menjawabnya dan memilih berdiri diam di samping Ale.


“Apakah kamu ingin minum air? Aku akan mengambilkannya untukmu.”


“Tidak,” jawab Manda setelah itu ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya kembali. “Apakah kamu memimpikan Nasha?”


Ale tidak menjawabnya membuat Manda terus melanjutkan ucapannya.


“Aku mendengarmu menyebutkan nama beberapa kali.”


“Apakah itu salah?”


Manda menggeleng pelan. “Aku hanya merasa kurang nyaman. Aku tidur dengan suamiku tapi dia meneriaki wanita lain.”


Manda langsung melepas cincinnya yang melingkar di jari manisnya. Ia mengambil tangan Ale dan meletakkan cincin itu di telapak tangan Ale.


“Aku tahu kamu tidak mempunyai perasaan untukku dan aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Nasha. Aku pikir, aku harus melepaskanmu.”