Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 57



Nasha benar-benar berangkat ke Inggris dan Galaksi sendiri yang mengantarkannya.


Nasha selalu menggandeng tangan Galaksi. Berat sebenarnya ia meninggalkan Galaksi.


“Jaga dirimu baik-baik.”


Nasha langsung memeluk tubuh Galaksi dan tidak melepaskannya.


“Haruskah aku pergi?”


“Oh,” jawab Galaksi sambil membalas pelukan Nasha.


Nasha benar-benar tidak ingin melepaskan pelukan Galaksi namun perlahan pria itu melepaskan pelukannya.


“Pesawatmu akan lepas landas sekarang.”


Nasha langsung cemberut.


“Aku tidak akan memberi pesan padamu saat aku sudah sampai di sana.”


“Nasha!”


Nasha tersenyum saat berhasil menggoda Galaksi.


“Bercanda. Aku hanya bercanda.”


“Beri pesan setelah kamu sampai di sana. Kabari selalu dan jangan berbuat nakal.”


“Kamu juga. Jangan berduaan terus dengan Maya.”


“Tidak akan, aku akan mengajak Adrian.”


Nasha mengangguk. Ia melambaikan tangannya saat ia mulai boarding pass.


Galaksi melihat kepergian Nasha dan merasa sedih. Pria itu ingin menarik Nasha dan ingin kembali memeluknya.


Nasha kembali ke luar karena rupanya pesawatnya delay. Nasha melihat-lihat keberadaan Galaksi. Namun rupanya pria itu sudah pergi.


Nasha menghela napas. Tiba-tiba perutnya ingin mengeluarkan hajatnya.


“Ah, aku butuh toilet sekarang.”


Nasha pun pergi ke toilet.


Baru saja ia keluar dari toilet dua orang pria dengan berbadan degap tengah menghampirinya. Tangannya langsung dipegang sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi.


“Siapa? Siapa kalian?”


“Diam!”


Salah satu pria tengah menodongkan pisau tepat di pinggang Nasha.


“Ikuti kami dan jangan berbuat masalah atau pisau ini akan menembus kulitmu.”


Nasha menjadi panik.


Ia menuruti perkataan dua pria itu. Rupanya di depan bandara sebuah mobil van tengah menunggu mereka. Nasha langsung di dorong ke dalamnya dengan kasar. Mobil itu pun meninggalkan bandara.


“Siapa kalian? Aku akan membayar kalian tapi tolong, lepaskan aku. Aku sedang hamil.”


“Aku tidak peduli! Yang aku pedulikan sekarang adalah membawamu ke bos kami.”


“Siapa bosmu? Aku bisa membayar kalian lebih besar dari bos kalian.”


“Jangan bicara omong kosong atau kami akan menutup mulutmu.”


Nasha langsung menutup mulutnya. Ia melirik tasnya yang dipegang oleh penculik. Ponselnya ada di dalam dan ia tidak bisa menghubungi Galaksi.


Bagaimana ini bisa terjadi padanya. Nasha terus berpikir motif dari penculik ini. Apakah mereka ada hubungannya dengan Galaksi? Karena pria itu, akhir-akhir ini bersifat aneh. Ia terus mendorongnya pergi ke luar negeri dengan alasan lebih aman.


Apakah bos yang menyuruh mereka adalah musuh Galaksi? Tapi siapa?


“Kamu tahu aku siapa? Aku adalah putri dari Gustama. Aku bisa membayar lebih. Aku punya kartu dalam tasku jumlahnya tidak terbatas. Kalian bisa mengambilnya tapi lepaskan aku.”


“Tutup mulutmu.”


“Aku tahu kalian melakukan ini untuk keluarga kalian tapi aku juga punya keluarga. Bayangkan jika saat ini istri kalian yang diculik dan sedang hamil, apakah kalian—“


“Wanita ini benar-benar. Tutup mulutnya!”


Salah satu di antara mereka mendekati Nasha dengan memegang selotip.


“Tidak! Jangan! Emmmm.”


Nasha sekarang bungkam. Ia tidak bisa bersuara karena memang mulutnya dibungkam.


Mobil itu berhenti di sebuah gedung yang setengah dibangun dan sepertinya sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.


Angin berembus di wajahnya dan ia bergidik ngeri.


Kedua lelaki itu mendorongnya sampai masuk ke dalam bangunan.


Terdapat kursi kosong di tengah-tengah ruangan. Nasha pun di dorong sampai ia terduduk di sana. Ia kebingungan saat tangan dan kakinya diikat di sana.


“Apa yang kalian lakukan?”


Setelah berhasil mengikat Nasha, tas Nasha dilemparkan begitu saja. Ia juga ditinggalkan begitu saja. Nasha berteriak meminta bantuan namun percuma saja.


Lalu sosok tinggi muncul. Nasha menyipitkan matanya. Sosok itu adalah sosok pria tinggi tegap.


“Siapa kamu? Apa yang ingin kamu lakukan?”


Nasha terkejut bahwa sosok itu rupanya memegang pisau di tangannya. Langkahnya mantap mendekatinya.


“Kamu siapa? Aku tidak pernah menyinggungmu! Lepaskan aku!”


Senyum licik tercipta di wajahnya.


“Kamu memang tidak pernah menyinggungku tapi suamimu telah membuatku marah.”


“Tolong tenanglah, kita bisa mendiskusikannya.”


“Hehehe.”


Pria itu terkekeh dengan seram.


“Galaksi yang mendorongku ke langkah ini. Aku sudah memperingatkannya tapi dia seakan tuli dan tidak mau mendengarkan.”


...♡♡♡...


Galaksi yang berada di kantornya tiba-tiba menerima panggilan Maya. Pria itu mengerutkan keningnya sebelum mengangkat panggilan tersebut.


“Ada apa?”


Maya tidak kunjung berbicara, sehingga membuat Galaksi sedikit kehilangan kesabarannya.


“Jika kamu tidak bicara aku akan menutup teleponnya.”


“Tidak! Jangan! Aku ada kabar yang penting, ini mengenai Nasha.”


“Katakan cepat.”


“Nasha diculik!”


Tiba-tiba saraf Galaksi menjadi kencang. Otot-ototnya kaku seketika.


“Apa maksudmu? Nasha sedang dalam perjalanan ke Inggris. Aku sendiri yang mengantarkannya.”


“Galaksi, aku minta maaf. Aku baru bisa memberitahumu sekarang.”


Panggilan langsung terputus. Jantung Galaksi langsung berdentum lebih kencang.


Galaksi langsung menelepon Adrian agar pria itu mengkonfirmasi bahwa Nasha sudah terbang ke Inggris.


Namun menit berikutnya, Adrian mengabari bahwa pesawat Nasha sempat delay. Dan Adrian sudah mengkonfirmasi bahwa memang ada penumpang atas nama Nasha namun wanita itu tidak ikut masuk ke dalam pesawat saat boarding pass.


Galaksi dengan cemas langsung memutar nomor Maya dan langsung berteriak saat panggilannya di jawab.


“Siapa? Siapa dia? Siapa yang menculik istriku? Di mana dia sekarang?”


“Kamu jangan khawatir. Aku akan mengirimkan alamatnya dan yang menculiknya adalah Tian.”


Galaksi langsung bergegas keluar.


Di tempat lain, Nasha semakin di desak oleh Tian. Wanita itu kini berada di atas bangunan dengan angin yang kencang ia terpaksa mundur di tepi karena Tian yang terus menerus mengacungkan pisaunya.


Nasha gemetar dan berusaha untuk menenangkan dirinya dan meyakinkan dirinya bahwa akan ada seseorang yang akan menyelamatkannya.


Ponsel yang tergelatak di lantai terus menerus berdering. Nasha tahu betul bahwa itu adalah panggilan dari Galaksi. Pria itu pasti mencarinya karena ia tidak mengabarinya. Pria itu pasti menyadari bahwa ia mengalami kecelakaan.


Pada akhirnya, Tian tidak tahan dengan suara berisik yang terus menerus mengusik kesenangannya.


Ia berjalan dengan tergesa-gesa dan langsung mengambil ponsel Nasha dan pada saat itu, saat Tian sedikit lengah. Nasha yang berada di belakangnya langsung mengambil pisau Tian dan membuangnya jauh-jauh.


Tian yang marah langsung menjambak rambut Nasha.


“Apakah kamu merasa aman saat melempar pisauku? Aku bisa langsung menendangmu dan kamu serta anak-anakmu akan mati bersamamu.”


Air mata Nasha kembali keluar. Ia semakin takut pada Tian jika pria itu benar-benar kehilangan kontrol.


Nasha merasakan ada pergerakan dalam perutnya. Pasti bayi yang berada di kandungannya juga merasa takut.