
Maya menyambut Galaksi layaknya seorang istri yang berbakti pada suaminya. Orang tua Galaksi sudah menunggunya di ruang makan.
Pria itu melihat kedua orang tuanya secara bergantian. Maya mengambilkan makanan kesukaan Galaksi.
“Makanlah yang banyak. Tenagamu pasti terkuras karena seharian bekerja.”
Galaksi mendengus lalu menolehkan kepalanya ke samping.
“Maya, apakah kamu benar-benar hamil?”
Jantung Maya berdetak cepat, sedikit panik. Sebisa mungkin ia mengubah ekspresinya.
“Tentu saja.”
“Benarkah? Apa kamu yakin?”
“Iya. Ibu dan ayah sudah tahu. Kamu juga, bahkan kamu mengantarkanku untuk periksa.”
“Tapi aku tidak pernah ikut masih dan menyaksikan pemeriksaannya secara langsung.”
Maya mengedipkan matanya beberapa kali. Ia merasa terusik oleh pertanyaan Galaksi yang seakan menyudutkannya.
“Aku sudah selesai. Aku akan naik lebih dulu,” ucap Maya berdiri dan bersiap pergi.
“Kamu ingin ke mana? Aku belum selesai bicara,” ucap Galaksi.
Galaksi mencekal tangan Maya dan wanita itu benar-benar panik.
“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Amara.
Galaksi mengambil hasil tes Maya yang asli dan palsu yang ia siapkan sebelumnya.
“Apakah kamu bisa menjelaskan ini? Kenapa hasilnya berbeda?”
Maya langsung mengambil hasil itu dari tangan Galaksi.
“Apakah itu benar Maya?” tanya Amara sedikit marah.
“Rumah sakit pasti yang salah. Hasil yang negatif itu adalah bukan hasil tes yang aku lakukan.”
“Katakan yang sebenarnya!” bentak Galaksi.
“Aku sudah mengatakannya!” Maya berteriak.
“Kamu masih bersiteguh dengan kebohonganmu. Aku sudah menyelidikinya. Dokter Mina, dokter penanggung jawabmu adalah temanmu. Sejak awal kamu bersekongkol dengannya merekayasa kehamilanmu.”
“Aku...”
“Kamu berani menipuku dan keluargaku. Kamu bahkan menghancurkan pernikahanmu.”
Semua orang di sana terkejut terlebih Amara, ibu Galaksi. Wanita itu langsung marah dan berdiri. Ia mendekati Maya dan langsung menghadiahi wanita itu dengan tamparan yang keras.
“Beraninya kamu.”
“Maafkan aku bu. Maaf, Galaksi. Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”
“Aku tidak ingin melihatmu lagi,” ucap Galaksi begitu dingin. Lantas pria itu melihat ibunya. “Bu, kamu juga ikut ambil dalam bagian ini. Jadi terserah padamu.”
Maya menangis dan mengejar Galaksi. Wanita itu tidak ingin Galaksi meninggalnya. Galaksi yang sudah geram langsung menyentak pergelangan tangan Maya dan wanita itu terjatuh ke lantai.
Ia menatap punggung Galaksi yang perlahan pergi.
Amara bergegas untuk ke arah Mayam ia menampar Maya untuk kedua kalinya dan menyeret Maya keluar.
“Kamu keluar dari rumah kami! Kamu adalah wanita yang begitu jahat dan aku jahat juga karenamu.”
Ia merasa sedih dan menyesal mengingat bahwa ia sudah memaksa Nasha untuk meninggalkan putranya.
Maya diseret oleh beberapa pelayan. Wanita itu menangis histeris saat tubuhnya menyentuh tanah.
“Apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak tahu, aku adalah menantu Nyonya Muda dari keluarga Januartha.”
“Apa kamu sudah gila sekarang?” pelayan itu meremehkan Maya.
“Kalian!”
Ia berteriak seperti orang kerasukan tapi tidak ada yang peduli. Pada akhirnya ia menangis di sana sendirian. Rumah susunnya sudah habis masa kontraknya. Satu-satunya harapan adalah meminta bantuan Daniel tapi bahkan ia tidak tahu keberadaan Daniel.
Ia mencoba untuk datang ke apartemen Daniel berharap pria itu di sana meski kemungkinan sangat kecil.
Ia mengetuk pintu dengan lemah. Seorang wanita asing membuka pintu tersebut.
“Kamu mencari siapa?”
“Aku mencari Daniel, dia pemilik apartemen ini.”
“Aku tidak tahu. Aku membeli apartemen ini lewat perantara orang lain.”
Maya berjalan di pinggir jalan dengan tidak berdaya lalu ia teringat ucapan Daniel yang menyebutkan bahwa dia akan menyesalinya. Ia menangis dengan sangat pilu.
“Apakah kamu masih belum tahu di mana dia berada?” tanya Galaksi tanpa perlu membalikkan badannya. Ia tahu orang yang membuka pintu kerjanya beberapa detik lalu adalah Adrian.
“Aku sudah memeriksanya di mana-mana tapi masih belum menemukannya.”
“Dia sangat pandai bermain petak umpet. Menurutmu ke mana dia akan pergi?”
“Aku pikir istrimu pergi ke luar negeri. Tapi menemukannya di luar negeri bagai mencari jarum dalam tumpukkan jerami,” ucap Adrian.
...♡♡♡...
Nasha menyibukkan diri bekerja di cabang Singapura. Perusahaannya di sana sedang bekerja sama dengan Mckenzy company. Otomatis Nasha sering membicarakan pekerjaan dengan ceo nya yang bernama Edward.
Karena intensitas mereka bertemu, kabar tentang hubungan mereka sudah merajalela di kantor masing-masing. Berita itu merajalela dan membuat gempar pasalnya semua tahu bahwa Edward anak sulung mendiang Hans Mckenzy itu tidak pernah dikabarkan dekat dengan wanita mana pun selama ini.
Edward dikenal sebagai pengusaha muda workaholic berbakat yang dingin dan berbahaya sehingga sangat tidak memungkinkan jika pria itu menjalin sebuah hubungan.
Edward tersenyum di kursi kebesarannya sambil menghitung mundur. Ia tahu akan ada wanita yang marah-marah pagi ini. Membayangkan ekspresinya membuatnya tidak sabar.
Dan benar dalam hitungan ketiganya. Pintu ruangannya di buka dengan kasar. Siapa lagi kalau bukan Nasha pelakunya.
“Kamu akan berjanji akan menandatanganinya. Apakah kamu lupa?”
“Tidak, aku tidak lupa.”
Nasha memicingkan matanya melihat Edward yang duduk di sana bagaikan seorang raja tampan yang mengawasi ratunya.
“Ke sini.”
“Aku tidak mau.”
“Kamu ingin tanda tanganku tidak.”
Dengan ragu Nasha berjalan mendekati Edward. Sementara Edward ia berusaha tidak tertawa saat melihat ekspresi lucu dari Nasha.
“Tanda tangani itu.”
Edward menatap intens Nasha.
“Edward.”
Pria itu menggeleng. “Panggil aku dengan cara yang benar. Kita berjanji tidak hanya menjadi rekan kerja.”
“Ini kantor, aku harus menjaga profesionalismeku.”
Edward mendengus.
Melihat pria itu enggan, Nasha menghela napasnya dan pasrah.
“Ed.”
Edward langsung tersenyum mendengar panggilan yang terdengar akrab itu.
Edward menandatangani dokumen-dokumen perjanjian kerja sama tersebut. Saat tanda tangan yang terakhir terlintas pikiran nakal untuk mengerjai Nasha.
Edward menyusun dokumen itu lalu menyerahkannya pada Nasha. Nasha hendak mengambilnya tapi pria itu menariknya kembali. Edward kembali
“Ed.” Peringat Nasha.
“Apa? Ini silakan ambil.” Cetus Edward.
Nasha mendengus lalu tangannya bergerak mencoba mengambil dokumen tersebut.
“Ed! Berikan!” sentak Nasha saat Edward memainkan-mainkan dokumen itu ke atas.
“Ambillah.” Cengir Edward.
Nasha tak bergeming di tempatnya.
“Baiklah, aku akan memberikannya jika kamu bersedia makan malam denganku.”
“Oke.”
Setelah kepergian Nasha, sekretaris Edward datang. Juna berpapasan dengan Nasha di pintu.
“Katakan dengan jujur, apakah kamu tertarik dengan Nasha?” tanya Juna. Meskipun ia menjabat menjadi sekretaris namun Edward menganggapnya sebagai saudara laki-lakinya. Sehingga tidak membuat Juna sungkan.
Edward tidak langsung menjawab namun senyum tenangnya seakan menjawab segalanya.
“Hei ada apa dengan wajahmu.”
“Kenapa?”
“Aku rasa otot-otot wajahmu tidak sekaku dulu.”
“Sialan,” umpat Edward.