Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 31



Galaksi menyadari bahwa ia sudah bertindak di luar kendalinya. Pria itu langsung memeluk Nasha dengan erat dan meminta maaf.


“Aku minta maaf, aku mungkin terlalu lelah. Aku tidak bermaksud untuk—“


“Ya, aku tahu.”


Keesokan paginya, senyum terukur di wajah Nasha sementara tangan-tangannya sibuk menyiapkan bahan makanan untuk sarapan. Salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan yaitu memasak untuk Galaksi.


Nasha akan sangat senang ketika melihat Galaksi mencicipi makanan yang ia masak. Melihat senyum di wajah pria itu, kepuasan yang dirasakan Nasha ternyata jauh lebih besar ketimbang ketika ia berhasil memenangkan para investor di perusahaannya.


Terdengar suara langkah dari atas tangga berhasil menarik pikiran Nasha. Pria itu muncul di ambang dapur.


“Aromanya sangat enak.”


Nasha tidak menoleh karena sibuk mengetes rasa saus yang sedang diaduknya tapi Nasha tahu bahwa Galaksi sedang berjalan mendekatinya.


Ia terkesiap ketika lengan pria itu melingkari perutnya. Jari telunjuk Nasha masih berada di dalam mulutnya ketika pria itu menariknya hingga tubuh bagian belakangnya kini menempel di tubuh kokoh Galaksi.


Aroma pria itu menyerbu indera Nasha, menggantikan aroma harum masakan yang sedari tadi mengelilinginya.


Nasha bergidik geli ketika hangat embusan napas pria itu mengenai daun telinganya.


“Apa itu?”


“Aku sedang memasak pasta.”


Nasha suah memasukkan sentuhan terakhir ke dalam sausnya lalu mengaduk pelan agar masakan itu bercampur dengan sempurna. Terakhir ia memasukkan pasta dan mengaduknya agar tercampur dengan saus.


Nasha agak sulit berkonsentrasi dengan kehadiran Galaksi di belakangnya.


“Aku sudah hampir selesai, kamu bisa duduk di sana.”


Galaksi menggeleng pelan, tangan yang kuat kini tengah mengusap perut Nasha, menyebarkan panas yang menyerap melewati celemek dan gaun yang ia kenakan.


Nasha terkejut ketika tangan yang lain terulur melewati dirinya dan mematikan kompor. Ia bahkan tidak sempat menyuarakan protes karena tangan-tangan kuat Galaksi membalikkan tubuhnya sehingga ia menghadap Galaksi.


“Sudah selesai kan?” tanya Galaksi dengan senyum yang menawan.


Pria itu tampak selalu tampan, tidak peduli kapan pun Nasha melihatnya.


“Bagaimana?” tanya Nasha.


Saat ini mereka sudah berada di meja makan sedang menikmati pasta yang dimasak Nasha.


Galaksi menyuapkan satu suap penuh pasta ke dalam mulutnya.


“Enak, ini sangat enak.”


“Benarkah?”


Nasha yang tidak percaya, juga tergerak untuk mengambil satu suapan pertamanya. Ia menganggukkan kepalanya ketika pastanya melewati kerongkongannya.


“Hm.”


Mereka melewati sarapan mereka dengan hangat. Saat Nasha ingin mengambilkan jus jeruk lagi, terdengar suara bel pintu berbunyi.


“Aku akan melihatnya,” ucap Galaksi.


Nasha mengangguk, begitu ia mendapatkan persetujuan Nasha. Pria itu melenggang pergi untuk membukakan pintu.


Begitu pintu terbuka, Galaksi terkejut.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Maya melirik tajam ke arah dalam penthouse.


“Apakah dia ada di dalam? Aku akan memberitahukannya.”


Galaksi langsung mengambil sikap dengan menyeret Maya. “Ikuti aku.”


Pria itu menyeret ke Maya agar menjauh dari penthouse namun wanita itu tidak mau. Wanita itu terus memberontak dan menimbulkan keributan.


“Aku hamil!”


Nasha yang baru saja berdiri di ambang pintu merasakan jantungnya berpacu dengan cepat. Perasaannya menjadi kalut, ia takut akan terjadi hal yang tak ia inginkan.


“Lalu apa hubungannya denganku?”


“Ini adalah anakmu.”


“Kamu jangan dengarkan dia. Dia sudah gila.”


“Kamu tidak percaya? Apakah aku harus memberikan buktinya.”


“Kamu pergi dari ini.” Galaksi berteriak dengan marah.


Kebetulan, Adrian baru saja sampai. Pria itu hendak menjemput Galaksi dan Nasha untuk pergi ke kantor. Namun setelah melihat Nasha, Galaksi dan Maya. Adrian berpikir bahwa ada sesuatu yang besar telah terjadi.


Galaksi langsung membantu Nasha untuk berdiri.


“Adrian, seret wanita gila ini keluar.”


Adrian yang tak tahu apa-apa langsung saja menuruti perintah Galaksi. Maya berjuang dan berteriak histeris mirip seperti orang gila yang sedang mengamuk.


“Jika kamu tidak mengakuinya, aku akan memberitahukan pada media sehingga semua orang akan tahu betapa kamu tidak punya rasa tanggung jawab terhadap darah dagingmu sendiri.”


“Ada apa ini?” suara Amara terdengar di sana.


Galaksi begitu terkejut melihat ibunya datang. Betapa sialnya pagi ini karena wanita gila bernama Maya.


Maya langsung mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Adrian dan berlari ke arah Maya.


“Bibi, aku sedang hamil anak Galaksi tapi dia tidak mengakuinya.” Maya berkata dengan tangisan yang dibuat-buat.


Wanita paru baya itu terlihat terkejut. Ia melihat Maya dan kemudian melihat putranya.


“Ibu jangan dengarkan dia. Dia sudah tidak waras.”


Amara tidak ingin langsung percaya, ia menatap Maya dengan dingin. “Jangan berbohong, aku bisa menuntutmu.”


“Bibi, aku tidak berbohong.”


“Apakah kamu punya bukti bahwa kamu mengandung anak Galaksi?”


Maya langsung membuka tasnya dan menyerahkan bukti bahwa dirinya dipastikan sedang hamil.


“Ini adalah hasil tesnya. Aku sedang hamil satu bulan. Putramu dan aku melakukannya di bulan Juni. Kamu bisa menanyakannya sendiri.”


Galaksi langsung memegang tangan Nasha yang gemetar. Galaksi melihat wajah Nasha yang sedih. Ia dapat merasakan sakit hati yang teramat pada saat ini.


Galaksi berpikir sangat keras, jika ia tidak mengakuinya ia pasti akan mendapatkan tekanan dari luar terlebih lagi jika yang menanyakan hal ini tapi jika dia mengakuinya...


Pada akhirnya Galaksi benar-benar tidak tahan. “Mungkin hari itu, aku harus membunuhmu.”


Wajah Maya ketakutan namun mulutnya masih saja bisa mengatakan hal yang membuat Galaksi geram. “Bahkan jika aku mati. Aku tidak akan sendirian!”


Ia bergegas ke Maya dan hendak mencekiknya. Amara yang melihatnya langsung berteriak dan menghentikan putranya.


“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti istriku.”


Galaksi memandang wajah Nasha.


“Galaksi kamu harus tenang,” ucap Amara.


Nasha tidak tahu bagaimana pastinya, ia hanya tahu kepalanya terasa pening dan semuanya menjadi buram setelahnya ia sudah terbangun di kamarnya.


Ia melihat langit-langit kamarnya dan teringat kejadian yang membuat hatinya sakit. Embusan napas yang disebabkan rasa sedih dan tak berdaya keluar dari bibirnya.


Galaksi yang melihatnya bangun langsung menggenggam tangannya dan menyentuh wajahnya. Diamnya Nasha membuat pria itu takut. Betapa ia berharap Nasha bisa menangis bersamanya atau setidaknya wanita itu bertanya kepadanya mengapa ia melakukannya. Satu-satunya reaksi yang ditawarkan Nasha adalah tatapannya yang kosong.


“Nasha jika kamu ingin menangis, menangislah. Jika kamu ingin berteriak, berteriaklah. Kamu ingin memukulku, pukullah aku.” Galaksi mengatakannya dengan sedih.


“Nasha, maafkan aku.”


Galaksi bahkan meneteskan air matanya. Ia terisak-isak di sana.


Sementara Nasha berusaha menguatkan hatinya yang mulai hancur. Nasha bertekad untuk tidak mendengarkan penjelasan apa pun. Hatinya sudah terlanjur sakit tapi air matanya bahkan tidak bisa keluar.


Nasha menatap pria itu dan tidak mengatakan apa pun. Jiwanya sudah mati. Ia sudah tidak mempunyai emosi apa pun. Jiwanya terjebak dalam gelombang kekecewaan yang Galaksi buat.


“Nasha. Kamu berhak kecewa, menangislah, berteriaklah, pukul aku sesukamu!”


Galaksi terus mengguncang bahu Nasha. Berharap wanita itu bisa mengungkapkan emosinya. Ia harus meluapkannya dari pada memilih diam.


“Kenapa harus dia?”


Setelah Galaksi berteriak-teriak, Nasha akhirnya berbicara tapi wajahnya masih tidak memiliki ekspresi apa pun.