
Berbaring di tempat tidur, tak henti-hentinya air mata Nasha mengalir bagaikan sungai deras. Seberapa kuat ia menahan perasaan sedihnya namun ia sudah tak kuat lagi dan ia tumpahkan dengan air matanya.
Isak tangis terdengar di sana dan ia redam dengan mengubur wajahnya di bantal.
Tidak tahu sudah berapa lama, Galaksi sudah berada di sampingnya dengan lembut mengusap kepalanya.
“Jangan menangis. Aku sedih melihatmu menangis.”
Galaksi langsung berbaring di sampingnya dan memeluknya dari belakang.
“Tidak ada yang lebih penting bagiku daripada kamu dan si kembar. Aku sudah mengatur ulang jadwalmu ke Inggris lebih cepat dari jadwal awal.”
Nasha langsung mendorong dada bidang Galaksi dan berbalik untuk menatap tajam pria itu.
“Kamu sangat ingin mengusirku agar kamu bisa dengan leluasa bertemu dengan wanita itu?”
“Nasha—“
“Baiklah jika itu yang kamu inginkan! Aku akan pergi!”
Keesokan harinya ia tidak menemukan Nasha di sampingnya. Ia mencoba untuk melihat ke kamar mandi, ruang kerjanya dan terakhir dapur namun ia tidak menemukan Nasha.
Ia menanyakan orang rumah namun tidak ada yang tahu. Beberapa menit kemudian ia mendapatkan pesan dari Nasha.
Aku akan pergi seperti yang kamu inginkan
Perasaan Galaksi langsung cemas dan khawatir. Pria itu mengatur orang-orangnya untuk mencari istrinya.
Bahkan Galaksi pergi ke bandara untuk memeriksa apakah ada catatan boarding pass atas nama Nasha tapi ia tidak menemukan apa-apa. Wanita itu tidak pergi ke luar negeri.
Tak jauh berbeda dengan Galaksi. Amara juga mencari Nasha dengan melaporkannya ke polisi. Ia juga sangat cemas dan khawatir, apalagi Nasha dengan mengandung dua bayi di dalam perutnya.
Siangnya Galaksi dapat pesan dari orang-orangnya bahwa Nasha pergi ke luar kota dan sedang berada di sebuah kota kecil.
Galaksi yang mendapatkan info yang sangat penting langsung mengendarai mobilnya dan bergegas menyusul Nasha.
Dalam perjalanan ia menelepon Adrian.
“Adrian, aku dalam perjalanan menjemput Nasha. Bisakah kamu mengurus masalah tikus-tikus kantor untuk sementara waktu. Musuhku pasti sudah mendapatkan kabar bahwa istriku kabur. Terus awasi mereka agar mereka tidak menyentuh kami untuk sementara waktu.”
“Ya, baik.”
Waktu sudah malam ketika Galaksi sampai di tempat tujuan dan malam itu hujan deras. Galaksi bertanya ke beberapa resepsionis hotel yang ada di kota itu.
Kota itu kecil jadi tidak banyak hotel di sana dan pada akhirnya ia menemukan ada pengunjung atas nama Nasha di hotel terakhir yang ia kunjungi.
Nasha sangat terkejut saat pintu kamarnya ia buka ia melihat Galaksi berdiri di depannya. Ini sudah sangat larut malam dan di luar juga hujan deras. Nasha dapat melihat baju Galaksi yang basah di titik-titik tertentu.
“Untuk apa kamu di sini?”
“Apakah kamu masih bertanya untuk apa aku ke sini?”
Nasha ingin menutup pintu namun langsung dihalangi oleh Galaksi. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar dan menutup kamar hotel tersebut.
“Nasha, kenapa kamu sangat suka sekali meninggalkan rumah?”
“Bagaimana pun juga kamu yang ingin aku meninggalkan rumah?”
“Tapi itu atas pengaturanku.”
“Apa bedanya aku pergi dengan keinginanku sendiri? Toh sama saja pada akhirnya kamu mendorongku untuk pergi.”
“Itu tidak sama! Aku menyiapkan pengiriman yang terbaik tapi kamu malah pergi ke tempat terpencil ini. Apakah kamu ingin membesarkan anak-anak kita dengan memberinya makan sayuran liar?”
“Ya, aku akan memberinya makan rumput liar.”
“Sayuran liar bukan rumput liar. Aku tidak setuju dengan rumput atau pun sayuran liar. Aku sekarang memerintahkanmu sebagai ayah dan suamimu. Kamu pulang bersamaku.”
“Aku sekarang memerintahkanmu sebagai ibu dan seorang wanita yang dikhianati oleh suaminya. Sekarang kamu pergi dari sini!”
“Aku tidak mau.”
Galaksi langsung mencium Nasha dan menuntut dan tangan pria itu tidak tinggal diam.
...♡♡♡...
Pagi harinya, dengan masih menutup mata tangan Galaksi meraba-raba tempat di sebelahnya. Ia merasakan hanya angin yang ia tangkap seketika itu pula Galaksi langsung terbangun dan tidak mendapati Nasha di sampingnya.
“Tidak!”
Pria itu langsung bergegas mengambil bajunya dan mengenakan ala kadarnya. Ia langsung pergi ke meja resepsionis untuk bertanya keberadaan istrinya.
Ia melihat Nasha sedang berada di pinggir jalan dan sedang mencoba makanan di pinggir jalan.
Galaksi ingin menyusul Nasha yang berada di seberang namun matanya melihat seorang pria yang mengendarai motor melaju ke arah istrinya.
Galaksi buru-buru berlari untuk menyelamatkan Nasha. Pria itu langsung menarik lengan ke arahnya dan mendekapnya.
Detak jantungnya berdentum keras. Jelas sekali ia ketakutan setengah mati tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya jika ia tidak tepat wakku.
“Perhatikan matamu!”
“Kamu berteriak padaku!”
Galaksi sangat ketakutan sehingga tanpa sadar membentak Nasha.
Mungkin karena hormon kehamilannya hatinya menjadi sensitif tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
Galaksi yang melihat Nasha menangis menjadi kelabakan.
“Aku...aku tidak bermaksud membentakmu,” ucap Galaksi lembut namun malah membuat Nasha semakin menangis.
“Nasha. Apakah kamu ingin makan makanan yang lainnya? Aku minta maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Ah, kamu ingin jalan-jalan. Aku akan menemanimu.”
Nasha mengusap ingusnya sendiri dan menatap Galaksi.
“Aku ingin ke sana,” ucap Nasha.
“Oke.”
Mereka mengitari kota kecil itu. Pergi ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Itu adalah pengalaman pertama bagi mereka.
Udara di sana sangat dingin. Banyak pohon-pohon di sekitar mereka dan angin berembus mengenai kulit mereka dengan lembut.
“Nasha.”
“Apa?”
“Bisakah kamu memenuhi permintaanku? Hanya dua hal.”
“Kalau begitu kamu juga harus memenuhi dua permintaan dariku.”
“Baiklah.”
“Katakanlah.”
“Pertama maukah kamu memaafkanku? Jangan mengabaikan aku lagi.”
“Baiklah aku memaafkanmu dan tidak akan mengabaikanmu. Jadi giliran aku. Bisakah aku tidak pergi ke Inggris?”
“Tidak.”
Nasha langsung melihat Galaksi dengan cemberut.
“Kalau begitu aku akan menggantinya. Katakan padaku apa yang terjadi di antara kamu dan Maya?”
Galaksi langsung menghentikan langkahnya dan suasananya menjadi sunyi.
Nasha melirik Galaksi dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan pria itu.
“Semakin kamu tidak memberitahuku, semakin aku menjadi penasaran.”
“Nasha, aku tidak memberitahumu karena aku tidak ingin kamu banyak pikiran. Kamu sedang hamil. Aku hanya ingin kamu bahagia.” Galaksi langsung mengambil tangan Nasha dan meletakkannya tepat di dadanya. “Apakah kamu merasakannya? Hatiku hanya untukmu. Detak ini untukmu.”
Nasha langsung menarik tangannya.
“Sekarang keinginanku yang kedua. Pergilah bersamaku lalu pergi ke Inggris.”
Nasha mengangguk pelan.
Galaksi langsung tersenyum dan langsung mencium bibir Nasha. Lalu Galaksi langsung melepas mantelnya dan memakaikannya pada Nasha.
“Pasti kamu sangat kedinginan.”
Keesokannya Nasha dan Galaksi kembali ke rumah. Mereka disambut langsung oleh Amara.
Wanita paru baya itu bahkan meneteskan air mata karena menantunya kembali namun saat Galaksi memberitahukan bahwa Nasha akan pergi ke Inggris. Amara kembali menangis dan protes pada putranya.
Namun Galaksi meyakinkan ibunya agar ia mempercayai keputusannya. Bahwa itu adalah keputusan yang terbaik. Karena memang Inggris adalah tempat yang aman untuk sementara waktu ini.