
Besok akan ada acara reuni sekolah. Nasha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak peduli dan tidak akan datang. Namun masalahnya tidak sesederhana itu.
Nasha memiliki teman yang amat menyebalkan dan lebih buruknya mereka berdua mempunyai kesepakatan bahwa siapa yang akan menikah terlebih dulu akan menjadi pemenang dalam kesepakatan itu.
Huh, harusnya tidak menerima kesepakatan yang kekanakan seperti itu.
Jadi untuk mempertahankan harga dirinya di depan teman-temannya, ia tidak mempunyai pilihan selain pergi ke kantor Galaksi.
Nasha yang sudah
hafal benar letak kantor Galaksi langsung berjalan dan tanpa repot-repot mengetuk pintu ia langsung membuka pintu kantor Galaksi.
Rupanya kepala Galaksi sudah mendongak, mungkin terkejut melihat kehadiran Nasha. Gaya pria itu masih sama menyebalkan, dengan salah satu memegang pulpen. Ekspresi tenang sedikit dingin. Benar-benar kaku.
Ingin rasanya Nasha menempelkan senyum palsu di wajah Galaksi.
“Besok akan ada acara reuni sekolahku. Temani aku.”
“Tidak bisa. Saya sibuk.”
Dasar pria tidak punya perasaan, batin Nasha. Ia menarik napas dalam dan kini berdiri tepat di depan Galaksi, melotot tidak ramah untuk membalas tatapan yang acuh yang diperlihat Galaksi padanya.
Nasha mengambil napas sekali sebelum mengutarakan masalah yang menjadi tujuan kedatangannya dan juga masalah mengenai teman-temanya. Tentunya ada sentuhan kata hiperbola di sana dan sedikit di drama queen.
Melihat rentetannya, Galaksi berpikir sejenak.
“Baiklah ini yang terakhir kali.”
Ini benar-benar memalukan namun apa boleh buat, Nasha tetap setuju namun ia tidak akan berjanji bahwa ini yang terakhir kali.
Setelah mengalami hari yang cukup panjang dan melelahkan. Nasha dan Galaksi pulang bersama. Seperti biasa mereka makan malam bersama.
Saat Nasha sudah duduk di kursinya, Amara memberi kode pada pelayannya untuk segera memberikan sup.
Awalnya Nasha tidak keberatan namun lama-kelamaan muncul rasa curiga. Karena hanya ia yang diberikan sup itu.
“Minum sup ini selagi hangat. Dengan begitu aku bisa memiliki cucu secepatnya.”
Nasha yang mendengar ucapan dari ibu mertuanya langsung terbatuk-batuk. Reaksi Galaksi? Pria itu seakan tidak mendengar apa-apa.
Ibu mertuanya tersenyum cerah sementara Nasha merasa ngeri. Dua orang yang belum pernah tidur bersama bagaimana mungkin bisa hamil hanya minum sup?
Nasha mendelik melihat ekspresi Galaksi dan memukul tangannya yang berada di atas meja. Nasha merasa tertekan, hanya ingin mengakui bahwa keduanya tidak seperti suami dan istri pada umumnya.
“Ayah, ibu lanjutkan makan malamnya. Aku sudah kenyang.”
Nasha pamit dengan sopan dan mendapati persetujuan dari mertuanya. Sementara Galaksi, pria itu tidak usah repot-repot meminta izin untuk pergi dari sana.
Nasha dengan cepat ke ruangannya dan menit kemudian ia keluar namun ia langsung menjerit saat mendapati Galaksi yang sudah bertelanjang dada.
“Yak, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu sudah bersedia dengan pendapat ibumu?”
“Apa? Aku hanya ingin mandi.”
Nasha menarik napas panjang sambil memaksa dirinya untuk menatap Galaksi lekat-lekat. Silakan saja, pria itu berpikir macam tentangnya.
“Ayo kita buat anak!”
Tuhan! Apakah Nasha benar-benar mengatakannya?
Pupil mata pria itu melebar.
“Maksudku tidak sekarang! Aku butuh seorang anak agar warisan ayahku segera jatuh ke tanganku.”
Setelah melemparkan kalimat itu, Nasha berbalik dan bermaksud berderap cepat untuk ke ruangan rahasianya namun niatnya harus terhenti karena sebuah cekalan yang melingkari pergelangan tangannya.
Nasha tersentak, Liam menarik dan memutar tubuhnya lalu memerangkapnya di dalam kungkungan lengan-lengan pria itu.
Serangan tiba-tiba itu membuat Nasha tidak siap, apalagi wajah Galaksi begitu dekat melintasi wajahnya. Bahkan jantungnya sudah berdetak jauh lebih cepat dan napasnya tidak teratur.
Nasha mengerjap. Mata pria itu begitu dalam menatapnya.
“Bagaimana bisa kamu mengorbankan anakmu yang tidak berdosa dalam skenariomu itu? Tentu jelas aku tidak ingin mengorbankan masa depan anakku.”
Nasha begitu tercekat. Setelah itu Galaksi melepaskannya dan pria itu melenggang ke kamar mandi.
Baru saat itu, Nasha bisa bernapas lega dan mampu menjernihkan pikirannya. Jika dipikir-pikir kembali, Galaksi ada benarnya.
Ia juga tidak ingin mengorbankan anaknya demi tujuan ambisinya.
“Ah bahkan aku tidak memikirkan hal itu.”
Malam berikutnya, Nasha mengakhiri pekerjaannya. Ia bergegas pulang dari kantornya dan cepat-cepat untuk berganti pakaian dan juga berdandan.
Wajahnya dirias dengan riasan yang natural namun elegan. Rambutnya dibiarkan tergerai. Ia juga menambahkan anting-anting panjang yang berkilau.
Gaun yang ia pakai menampilkan tulang selangkanya yang memesona.
Setelah melihat waktu, ia segera bergegas turun dan tanpa sengaja menabrak adik sepupunya.
“Omg, kak kamu begitu cantik. Apakah kamu akan pergi berkencan?”
“Tidak! Aku hanya ingin menghadiri acara reuni.”
Adik sepupunya menyipitkan mata curiga. Namun setelah itu ia tersenyum. Begitu senyum Bintang yang misterius keluar, mereka mendengar suara mobil di luar. Keduanya keluar di saat yang bersamaan.
Galaksi yang melihat senyum Nasha yang canggung seolah membuat hatinya terasa aneh. Beberapa detik, Galaksi sudah memulihkan ketidakpeduliannya. Ia memanggil Nasha dengan nada memerintah.
Setelah sampai di sana, semua orang langsung terkejut dan seolah takjub dengan keberadaan pasangan Galaksi dan Nasha. Nasha memasang wajah ramah sambil menyapa beberapa teman sekelasnya.
“Aku hanya menemanimu sebentar. Setelah ini kita langsung pulang.”
Nasha hanya mengangguk. Tak sengaja ia melihat sepasang mata tajam di kejauhan. Secara refleks tangan Nasha langsung menggandeng tangan Galaksi.
Galaksi menghela napas dan matanya melihat ke arah yang dilihat Nasha. Matanya menyipit ketika melihat laki-laki yang dikenalnya yaitu Juan.
“Kenapa dia selalu menatapmu? Apakah pria itu ada hubungannya denganmu? Apakah dia kekasihmu?”
“Kekasih apa? Jangan bicara omong kosong. Ayo kita pulang.”
Nasha berbalik dan berjalan cepat keluar aula. Lengannya tiba-tiba ditarik keras. Nasha pikir itu adalah perbuatan Galaksi namun salah. Rupanya yang menariknya adalah Juan.
“Kita perlu bicara.”
Juan langsung memasukkan Nasha ke dalam mobilnya, membanting pintu mobil dengan marah dan menyalakan mesin mobil.
Setelah mobil Juan berhenti di pinggir sungai. Nasha langsung keluar.
"Bisa kamu jelaskan mengapa kamu membawaku ke sini?”
“Jika orang yang kamu cintai, tiba-tiba menikahi orang lain dan kamu tidak tahu. Dapatkah kamu bersikap waras?”
“Aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa kita tidak cocok.”
“Lalu apakah kamu cocok dengan Galaksi? Apakah kamu tahu orang seperti Galaksi?”
“Aku tahu.”
Nasha tiba-tiba mendongak dan menatap lelaki di depannya.
Di tempat yang berbeda, Galaksi pulang dengan marah. Galaksi memang tidak menyerukan sumpah serapah. Namun aura pria itu cukup membuktikan bahwa pria itu sedang marah besar.
Bahkan keluarganya tidak ada yang berani untuk bertanya.
Amara yang melihat putranya sedang merah bertanya pada putrinya. Bintang menjelaskan bahwa kakaknya sebelumnya pergi bersama Nasha namun entah mengapa Galaksi pulang sendiri dan terlihat marah.