Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 23



Di ruang kerjanya Nasha hanya ada ia dan Manda. Mereka baru saja selesai rapat rutin di hari Senin. Nasha panjang kali lebar menyuarakan keluhannya tentang hasil rapat tadi namun Manda tak sedikit pun menanggapinya.


Nasha pun menoleh melihat Manda yang tidak bicara sedari tadi. Raut wajah wanita itu terlihat sangat serius dan seolah tengah tenggelam dalam pikirannya.


Apa yang dipikirkannya? Nasha penasaran.


Manda hanya melayangkan pandangannya ke tembok seakan tengah serius memikirkan sesuatu.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Nasha hati-hati.


“Apa?” Manda memalingkan wajahnya dan menatap Nasha.


“Aku bertanya, kamu sedang memikirkan apa?” ulang Nasha.


“Aku akan menikah.”


Nasha tiba-tiba mendongak. Pulpen yang ia pegang langsung terjatuh. “Menikah? Dengan siapa?”


“Ale.”


Nasha merasa ragu untuk sesaat, tapi kemudian membuka bibirnya perlahan. “Apa yang terjadi?”


Manda terdiam sesaat lalu menjawab, “Tidak ada yang terjadi. Dia memintaku menikah dan aku menjawab yes.”


Nasha merasa ada sesuatu yang salah. Ia berpikir keras. Ia berusaha mencari jawaban apa yang terjadi dengan mereka. Apakah ada alasan dibalik mereka yang akan menikah. Bukannya Nasha tidak senang justru ia merasa bahagia karena akhirnya Manda menikah dengan orang yang ia sukai namun menurutnya itu terlalu mendadak.


“Ia meminta untuk menikah denganmu? Itu adalah hal yang baik. Akhirnya ia jatuh cinta padamu,” seru Nasha.


“Dia tidak mencintaiku,” jawab Manda dengan lesu.


“Itu tidak apa-apa. Awalnya aku dengan Galaksi juga tidak saling cinta. Hubungan kami hanya keterpaksaan tapi lihatlah sekarang. kami saling mencintai.”


Manda tersenyum tipis dan mengangguk-angguk.


“Aku berharap kamu bahagia.”


Setelah Manda meninggalkan kantornya. Nasha langsung mengambil ponselnya. Wanita itu segera mengetikkan pesan untuk Ale.


Aku tidak tahu mengapa kamu melamar Manda untuk tujuan apa tapi aku mengingatkanmu bahwa Manda adalah gadis yang baik. Tolong jaga dia.


Ketika Ale menerima pesan teks itu, ia menutup matanya dengan rasa sakit. Setelah beberapa saat ia menelepon Manda untuk bertemu dengannya setelah pulang dari kantor.


Saat jam pulang kantor, Ale menunggu Manda di parkir mobil. Pria itu membalikkan tubuh ketika melihat Manda. Ia membuka pintu mobilnya memberi isyarat pada Manda untuk segera masuk.


Manda tidak tahu kemana ia akan pergi. Ia hanya mengikuti Ale. Mobil yang dikemudikan Ale berhenti di sebuah rumah yang besar.


“DImana ini?”


Manda bertanya ketika Ale membukakan pintu mobil.


“Rumah ibuku”


Mata Manda langsung terbelalak. Langkahnya langsung terhenti. Manda langsung membalikkan tubuhnya dan berniat untuk pergi. Ale langsung mengambil tangan Manda.


“Jangan lari.”


“Ibumu akan membunuhku.”


“Tidak akan hal terjadi seperti itu jika bersamaku.”


Raut wajah dan nada suara Ale menjadi serius. Manda memandangi tangan yang dipegang Ale, detak jantungnya menjadi lebih cepat.


Dan di sinilah, Manda. Wanita itu sudah duduk di ruang tengah bersama Ale dan juga ibu Ale. Jelas sekali, ibu Ale terlihat marah. Mata tajam wanita paruh baya itu selalu tertuju pada Manda.


“Katakan, apa maksudmu membawa ini ke sini?”


“Aku akan menikah,” ucap Ale dengan serius.


Suasana tiba-tiba menjadi suram. Manda tidak berani mendongak melihat dua orang yang sedang beradu lewat sorot mata.


“Jangan bilang, kamu ingin menikahi wanita ini?"


"Ya, dia."


"Apakah ini semua karena aku menyakiti Nasha jadi kamu menikahi wanita asal. Pernikahan bukanlah permainan anak-anak bukan sembarang wanita yang bisa menjadi menantu perempuanku.”


Jelas sekali ibu Ale terlihat benar-benar marah. Penampilannya sangat sengit dan menyeramkan sehingga membuat tangan Manda mengepalkan tangannya.


Ale berdiri dan membawa Manda yang masih dalam keadaan terkejut dan terlihat ketakutan. Mereka baru saja sampai di depan pintu sebelum suara ibu Ale menghentikan mereka.


“Berhenti.”


Ale dan Manda langsung berhenti namun mereka tidak membalikkan tubuhnya.


“Aku berjanji tidak akan mengusik kehidupan Nasha dan keluarganya namun kamu jangan menikah dengan wanita ini.”


Ale menghembuskan napas mendengar ucapan ibunya. Sementara itu, bibir Manda hanya bisa tertutup rapat. Ia merasa ingin segera kabur dan bersembunyi dalam sebuah lubang.


Manda merasa sedih dengan ibu Ale karena wanita itu mengkritiknya seperti itu.


Ale tak menanggapi ucapan ibunya, pria itu menggenggam tangan Manda dengan erat dan beranjak pergi dari sana.


Ibu Ale mengejar putranya dan terus berteriak, “Aku tidak akan pernah setuju tanpa izinku kamu tidak bisa menikahi wanita itu.”


Sebelum Manda membukakan pintu mobil, Ale sudah membukakan pintu terlebih dulu untuknya. Tanpa berkata-kata Manda masuk ke dalam mobil disusul oleh Ale.


Mereka membelah jalanan dalam keheningan. Sesekali Manda melirik Ale. Manda dapat merasakan bahwa Ale berada dalam suasana hati yang buruk.


Manda terlihat seolah tidak akan membuka mulutnya terlebih dahulu namun ia berjuang untuk waktu yang kama dan berkata dengan hati-hati.


“Ibumu tidak menyukaiku. Kamu dapat memilih seseorang yang dia sukai untuk dijadikan istri.”


Ale terdiam, alisnya terlihat dirajut.


Manda menelan salivanya dan lagi-lagi menoleh ke Ale.


“Aku ingin kamu mempertimbangkannya. Ibu benar, pernikahan bukanlah suatu permainan.”


Ale sudah tidak tahan lagi. Ia membelokkan kemudi setirnya dan menghentikan laju mobilnya. Ale memaksakan dirinya tersenyum tipis tanpa memedulikan kenyataan bahwa sebelumnya mereka membicarakan hal yang membuat sakit kepala.


Ale langsung mencium Manda tanpa peringatan. Otak Manda langsung blank. Ia terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa.


Sarafnya seakan mati. Tubuhnya langsung seperti jeli.


Ale melepaskan ciumannya. “Jika kamu tetap bicara masalah ibuku, aku akan menciummu lagi.”


Ale menyalakan kembali mesin mobilnya dan mengantar Manda ke rumahnya dengan selamat.


Keesokan harinya, ibu Ale mengajak Manda untuk bertemu di sebuah kafe. Manda tidak bisa menghindarinya. Mau tidak mau ia bertemu dengan calon mertuanya.


Namun setelah sampai di kafe, wanita paruh baya itu melempar sebuah cek dan menyuruh Manda untuk meninggalkan putranya.


Manda berusaha untuk sabar dan tidak terpancing amarahnya karena dihina. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa ia tulus mencintai Ale dan tidak akan meninggalkannya.


Mendengar ucapan Manda, ibu Ale langsung melemparkan sumpah serapah dan mengecam Manda.


... ♡♡♡...


Setelah makan malam, Amara meminta Nasha untuk menemaninya ke pesta besok malam. Sebenarnya Nasha enggan pergi ke pesta-pesta.


“Kenapa tidak dengan ayah?”


“Besok ayahmu juga memiliki acara sendiri.”


“Bintang?”


“Tidak! Lebih baik tidak mengajak anak itu.”


Nasha tersenyum, ingin menolak namun ia tidak enak. Maka dari itu ia mengiyakan ajakan ibu mertuanya.


Nasha baru saja menutup pintu kamarnya. Galaksi yang ada di belakangnya langsung mengunci pintu kamar itu. Nasha langsung membalikkan tubuhnya dan menatap bingung Galaksi.


“Ada apa?”


Nasha terkesiap keras mendapati punggungnya menekan pintu kamar. Kedua mata Nasha melebar saat Galaksi menekankan mulutnya dengan rakus sehingga satu-satunya hal yang bisa dilakukan Nasha adalah membalas ciuman pria itu.


Nasha berhenti membalas ciuman ketika tangan Galaksi mulai bergerak.


“Galaksi,” protes Nasha.


“Aku merindukanmu.”