Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 26



Cuti pernikahan yang diberikan Nasha untuk Manda adalah seminggu, namun baru saja ia cuti tiga hari, hari keempatnya ia sudah kembali ke kantor. Seluruh orang menatapnya karena tidak banyak orang kantor yang diundang dan pernikahan Manda terkesan mendadak.


Sebelum ke mejanya, Manda mampir ke pantri untuk membuat dua gelas kopi dan menaruhnya di atas nampan kemudian berjalan menuju kantor Nasha. Perasaannya jauh lebih tenang sekarang.


Ketika Manda masuk ke ruangan, Nasha tampak terkejut dan langsung berdiri.


“Ya, kenapa kamu masuk hari ini. Aku memberimu cuti seminggu. Kenapa tidak kamu nikmati waktumu dengan Ale.”


Manda menggeleng, “Tiga hari bagiku sudah cukup. Kamu sudah sarapan?”


“Sudah.”


“Baguslah, aku membuatkanmu kopi.”


Ketika Manda meletakkan kopi di atas meja, Nasha menatap wanita itu seperti merasa tidak enak hati.


“Kenapa?”


“Aku bisa membuat kopi sendiri. Seharusnya kamu buatkan untuk suamimu.”


“Itu sudah aku lakukan.” Manda tersenyum dan mendorong gelas kopi mendekat pada Nasha. Nasha pun menerima gelas kopi itu dan meminum satu tegukan dengan perlahan.


“Oh apa itu?” tanya Manda saat mengetahui di atas meja Nasha terdapat sebuah novel.


“Oh aku tidak sengaja melihat novel itu, sampulnya bagus jadi aku membelinya.”


“Ibu pengganti? Ini bukan gayamu membaca buku seperti ini.”


“Aku hanya iseng.”


Manda mengernyitkan dahi mendengar ucapan Nasha namun ia tidak banyak berkomentar. Menit kemudian ia kembali ke mejanya untuk melakukan tugasnya yang terbengkalai karena cuti.


Jam terus berputar selaras dengan langit yang berubah warna menandakan bahwa malam akan segera hadir setelah jingga menampakkan dirinya.


Nasha masih terlelap dalam semua pekerjaannya. Dengan kaca mata yang bertengger menghiasi matanya, wanita itu tampak profesional. Tangannya dengan lihai membalikkan lembaran-lembaran yang menumpuk di depannya.


Ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mengangkatnya untuk melihat dari siapa dan ia langsung tersenyum.


“Halo?”


“Halo istri,” sapa Galaksi.


Nasha tersenyum semringah mendengar suaranya. “Hei suami.”


“Coba tebak.”


“Apa?”


“Aku sekarang dalam perjalanan ke kantormu.”


“Coba tebak.”


“Apa?”


“Saat ini aku benar-benar banyak pekerjaan dan sangat lelah tapi aku membuatkan malam ini.”


“Aku suka masakanmu.”


Tak sampai setengah jam, Galaksi mengetuk pintu kantor Nasha. Nasha langsung mendongak dan mendapatkan Galaksi dengan senyum tampannya. Pria itu masih mengenakan kemeja namun tanpa jas. Satu kancing dibiarkan terbuka. Pria itu terlihat sangat seksi.


Nasha harus menyembunyikan cengiran bodoh dari wajahnya.


“Ayo,” ajaknya.


“Tunggu sebentar lagi.”


Nasha menghabiskan sekitar lima belas menit berikutnya menyelesaikan pekerjaannya. Saat selesai, ia menutup laptop dan memandang ke arah Galaksi. Nasha pikir Galaksi tidur namun pria itu memperhatikannya sejak tadi dan tersenyum konyol.


“Aku sudah selesai.”


Nasha mendorong kursinya dan berdiri. Ia juga mengambil tasnya siap untuk pulang. Nasha menghampiri Galaksi.


“Nasha, sepertinya aku terlalu menyukaimu.”


Galaksi tiba-tiba menarik Nasha ke pangkuannya. Pria itu menarik Nasha agar merapat dan bersiap untuk mencium namun belum sempat bibir Galaksi mendarat suara gemuruh membuat suasana tiba-tiba kembali ke titik nol.


Nasha langsung melihat ke perut Galaksi dan menatap wajahnya, detik berikutnya ia tertawa lepas.


“Sepertinya kamu sangat lapar. Aku akan masak banyak malam ini.”


Galaksi langsung memalingkan wajah malu. Sementara Nasha tak henti-hentinya menggoda suaminya.


Setelah membayar barang belanjaan mereka langsung pergi ke penthouse. Nasha langsung mandi sementara Galaksi sibuk membongkar barang belanjaan.


Beberapa menit kemudian, Nasha sudah siap untuk bertempur di dapur. Ia sudah siap dengan celemek yang membungkus tubuh mungilnya.


"Aku mau mandi dulu," ucap Galaksi.


Sementara Galaksi sibuk dengan urusan mandinya, Nasha sibuk dengan urusan di dapur. Pria itu jika mandi bisa menghabiskan beberapa jam. Entah apa yang dilakukan Galaksi di dalam mandi, namun Nasha sudah menyiapkan tiga jenis hidangan untuk makan malam.


“Sayang!”


Suara Galaksi menggelegar saat memasuki meja makan.


“Apa?”


“Lihat apa yang ada di mataku, ini perih dan sangat tidak nyaman.”


Galaksi menunjuk mata sebelah kanan. Nasha menyuruhnya untuk menunduk agar ia lebih leluasa melihatnya. Wanita itu memperhatikan mata kanan Galaksi dengan hati-hati dan teliti.


“Tidak ada apa-apa.”


“Lihat lagi,” pinta Galaksi.


“Aku sudah melihatnya dan benar-benar tidak ada apa-apa.”


Nasha ingin hendak pergi namun Galaksi langsung memeluknya dan mencium bibirnya. Ciuman itu begitu menuntut. Pada akhirnya Galaksi melepasnya saat Nasha mulai terengah-engah. Wanita itu mengambil napas dalam-dalam dengan brutal.


“Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin makan malam atau ingin memakanku?”


Galaksi hanya menampilkan senyum jahat yang memesona.


“Memakanmu.”


Galaksi langsung menyusuri leher Nasha. Pria itu seperti vampir yang haus akan darah. Pria itu menghisap kulitnya keras dan membuat Nasha terangah sekaligus mengirimkan gelenyar tepat ke inti tubuhnya.


Tangan Galaksi langsung bergerak melepaskan celemek Nasha. Tangan Galaksi langsung menyingkirkan lapisan itu dan bergerak masuk.


“Kakak, aku membawakan makanan. Yak!”


Galaksi terkesiap karena sesuatu di sana terus mendesak sementara Nasha tertegun dan wajahnya merah merona karena malu.


Mendengar teriakan, keduanya buru-buru saling melepaskan. Nasha hanya mengedipkan matanya dengan wajah panil. Galaksi langsung mengikuti suara jeritan ternyata itu adalah suara Bintang, adiknya.


“Kakak! Jika kamu ingin melakukannya, lakukan lah di kamar. Kenapa harus di dapur?”


Galaksi sama sekali tidak tersenyum. “Hei ini rumahku. Terserah aku ingin melakukannya dimana saja.”


Dengan wajah yang memerah malu, Nasha merapikan rambutnya dan pakaiannya yang sudah terlihat berantakan.


“Bintang, jangan pedulikan dia. Dia sedikit mabuk.”


Galaksi memalingkan kepalanya dan menoleh pada Nasha.


“Aku tidak mabuk.”


Nasha langsung mencubit pinggang Galaksi dengan gemas. Pria itu mengaduh kesakitan.


Bintang menaruh makanan yang ia bawa dari rumah. Itu adalah makanan dari ibunya.


“Ibu menyuruhku mengantarkan makanan ini. Aku pulang! Bagaimana kalian begitu tidak berperasaan terhadap orang jomlo sepertiku.”


Bintang pergi dengan wajah cemberut.


"Itu semua karenamu,” ucap Nasha saat Bintang sudah tidak ada lagi di sana.


“Siapa yang tahu kalau dia tiba-tiba datang ke sini.”


Untuk beberapa saat, Nasha tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menatap wajah Galaksi.


“Sayang, kenapa diam? Kamu marah padaku?”


Nasha menggeleng, “Aku akan mengejar Bintang.”


Galaksi masih terbengong di tempatnya saat ia melihat wanitanya meninggalkannya begitu saja. Pria itu menghembuskan napasnya dengan gusar.


“Nasha, kamu juga harus bertanggung jawab denganku!” teriak Galaksi dengan frustrasi.


Pria itu berjalan ke kamarnya menuju ke kamar mandi. Ia ingin meredamnya di sana dengan air dingin. Setidaknya kali ini, ia akan melepaskan Nasha namun tidak dengan lain waktu.