
Mata Galaksi terbuka dalam kilatan matahari yang mencoba menerobos tirai. Galaksi mengabaikan pukulan keras di kepalanya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Jantungnya berdebar kuat ketika ingatan itu semakin jelas.
Dengan segera ia membuka selimut yang melilitnya dan melihat tubuhnya yang telanjang, seketika Galaksi begitu marah.
Ia langsung mengambil celananya dan memakainya. Setelah memakai celana dan baju, Galaksi segera keluar. Ia melihat Maya yang tengah sibuk berada di dapur.
Dengan langkah yang penuh emosi, Galaksi langsung menyeret lengan Maya dan menekannya di dinding.
“Apa yang kamu lakukan padaku? Jawab!” emosi Galaksi benar-benar meledak.
“Aku melakukan yang seharusnya kita lakukan tiga tahun lalu.”
“Terkutuk.”
Galaksi benar-benar marah. Amarahnya sudah menguasainya. Di luar kendali, pria itu mencekik Maya. Wajah maya pun perlahan menjadi pucat.
“Aku...men...cintai...mu.”
Melihat Maya yang terlihat kehabisan napas, Galaksi melepaskan tangannya. Matanya yang dingin langsung menghunjam Maya.
Maya langsung terduduk lemas dan menangis lemah karena sedih.
“Kamu membuatku muak,” ucap Galaksi.
Galaksi belum pernah merasa seperti ini tapi ia benar-benar menyesal pernah mencintai Maya.
“Galaksi, kita sudah lama bersama. Mengapa kamu begitu kejam padaku."
Galaksi menatap Maya yang memegang kakinya. Tangannya mengepal keras. Tubuhnya bahkan bergetar hebat karena mengepalkan tangannya terlalu keras. Galaksi tak pernah habis pikir. Maya yang dia anggap sebagai malaikat kini berubah. Ia benar-benar kecewa padanya.
"Mulai sekarang aku tidak ingin melihatmu lagi.”
Galaksi langsung menyingkirkan tangan Maya. Ia sudah tidak peduli dengan teriakkan wanita itu. Hatinya sudah terlanjur sakit. Hatinya sakit bukan karena perubahan Maya tapi karena istrinya, Nasha. Bagaimana ia harus menghadapinya? Apakah ia harus jujur atau berbohong?
Saat ia pulang ke penthouse, rupanya Nasha sudah menunggunya. Wanita itu bahkan sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Kemana kamu pergi tadi malam?”
Galaksi memandangi Nasha dan tak langsung menjawab. Ia merasakan nyeri ulu hati karena ia pikir ia akan setia pada Nasha sampai akhir hayat namun kenyataannya tidak.
Jauh dari lubuk hatinya ia ingin mengaku namun sayangnya ia tidak mempunyai keberanian untuk mengaku. Galaksi takut bahwa Nasha akan menceraikannya.
Galaksi langsung mengubah mimik wajahnya. “Aku minum terlalu banyak dengan teman dan aku tertidur di bar.”
“Teman yang mana? Adrian?”
Galaksi langsung mengulurkan tangannya dan membelai kepala puncak Nasha dengan sayang kemudian memeluknya.
Nasha merasakan bahwa tubuh Galaksi sedikit gemetar. Nasha ingin membebaskan diri dan bertanya namun Galaksi memeluknya dengan erat.
“Jangan katakan apa-apa. Biarkan aku memelukmu.”
Malam harinya, Galaksi duduk termenung di meja kerjanya. Nasha merasakan seharian ini pria itu benar-benar aneh. Emosi Galaksi benar-benar tidak bisa ditebak.
Nasha membuatkan kopi untuk Galaksi.
“Apakah kamu harus bekerja malam ini?”
Nasha meletakkan kopi di meja dan menatap Galaksi yang tidak melakukan apa-apa sedari tadi. Ia hanya duduk di depan meja yang penuh dengan lembaran-lembaran pekerjaan. Nasha tahu bahwa pria itu tak sekalipun menyentuh lembaran itu.
“Duduklah di sini,” pinta Galaksi. Pria itu meminta Nasha untuk duduk di pahanya.
Nasha meragu dan Galaksi langsung menarik tubuh Nasha agar duduk di pangkuannya. Pria itu menatap Nasha dengan tatapan sendu. Ia tidak berbicara dalam beberapa menit yang membuat Nasha kebingungan.
“Nasha, apakah kamu percaya padaku ?”
Nasha tertegun namun detik berikutnya ia mengangguk tanpa ragu. Galaksi menyentuh sudut bibir Nasha dan tersenyum.
“Apakah kamu bertemu dengan Maya untuk terakhir kali?”
Galaksi menghembuskan napas panjang sebelum menjawab singkat, “Ya.”
“Apakah dia mengatakan sesuatu.”
“Tidak.”
“Jangan menemuinya lagi.”
“Ya.”
Galaksi memeluknya juga.
“Nasha.”
Nasha pun melepaskan pelukannya untuk dapat melihat wajah Galaksi.
“Aku harus pergi besok dan mungkin butuh satu bulan untuk kembali.”
Nasha terbelalak kaget mendengar pernyataan Galaksi. “Ke mana kamu akan pergi begitu lama?”
“Arab saudi. Aku ingin mengembangkan bisnis di sana dan aku punya ide ini sejak satu tahun yang lalu.”
“Mengapa kamu harus pergi jauh ke sana? Bukankah perusahaanmu sudah besar.”
“Sayang, ini kesempatannya. Aku hanya ingin mengembangkan bisnisku sama sepertimu mengembangkan bisnis di cabang Amerika.”
Nasha awalnya menolak karena kepergian Galaksi yang begitu lama namun ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah pria itu karena ia tahu seberapa besar ambisi Galaksi. Ia hanya bisa mendukungnya.
"Baiklah tapi aku tidak ingin kamu meninggalkanku begitu lama.” Nasha menjilat bibirnya dan mencoba berkata, “Aku akan ikut denganmu. Aku akan menyerahkan pekerjaanku pada Manda untuk sementara waktu.”
“Tidak! Kali ini, aku akan sangat sibuk di sana. Aku takut kamu akan kebosanan.”
Nasha dengan raut wajah bingung bercampur cemberut langsung memalingkan wajahnya. Ia tidak berharap Galaksi akan menolak gagasannya.
“Sayang,” ucap Galaksi lembut.
“Jaga diri baik-baik di sana,” ucap Nasha setengah hati.
“Aku akan melakukannya.”
Nasha kembali menolehkan wajahnya untuk menatap mata Galaksi dengan serius.
“Jika kamu tidak sibuk, ingatlah untuk meneleponku.”
“Ya.”
Setelahnya mereka berbaring di tempat tidur. Lengan Galaksi menjadi bantal Nasha. Mereka berbaring dengan Nasha yang membelakangi Galaksi, sehingga posisinya seperti Galaksi sedang memeluk tubuh Nasha.
Meskipun Galaksi sudah memejamkan matanya lain halnya dengan Nasha. Wanita itu menatap tembok kamarnya dengan perasaan berkecamuk. Ia menghela napas panjang dan berbalik menatap Galaksi. Wanita itu terus menatap mata Galaksi yang terus terpejam, hidung mancungnya lalu berakhir pada bibir tipisnya.
“Tidak bisa tidur?” tanya Galaksi tiba-tiba. Pria yang semua terpejam kini membuka matanya.
“Bagaimana aku bisa tidur? Kamu akan pergi besok dan malam ini terakhir kalinya kita tidur bersama.”
“Hanya untuk sementara waktu.”
“Aku tahu.”
...♡♡♡...
Pagi-pagi sebelum Galaksi pergi ke bandara. Nasha selalu mengekor pada Galaksi, selalu menempel pada Galaksi.
Nasha ingin mengantarnya ke banda namun sayangnya pria itu menolaknya dengan alasan bahwa ia akan takut jika malah Galaksi yang tidak bisa meninggalkannya.
Akibatnya keduanya mengucapkan selamat tinggal di depan pintu. Sementara Galaksi diantar Adrian.
Adrian membawa mobil Galaksi ke bandara, dalam perjalanan Galaksi tidak mengatakan sepatah kata pun. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu.
Setelah tiba di bandara, Galaksi langsung menepuk pundak Adrian.
“Aku menyerahkan perusahaan padamu. Maaf merepotkanmu.”
Pada saat naik pesawat, hati Galaksi terasa tidak nyaman. Semenjak peristiwa itu yang menyakitkan baginya. Ia menjadi takut pulang untuk menghadapi Nasha. Ketika ia merindukannya ia hanya bisa merindukannya. Ketika ia melihatnya, ia merasa sakit di hatinya. Psikologinya bertentangan dan itu membuatnya marah.
Jadi untuk sementara waktu, ia memutuskan untuk menenangkan diri dengan alasan mengembangkan bisnisnya di cabang internasional.
ia berharap kepergiannya selama satu bulan ini dapat melupakan pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dan kembali ke masa saat berada di dekat Nasha.