
“Menikah? Dia menikah dengan siapa?”
“Dengan Maya.”
“Kamu tidak tahu?”
“Tentang apa?”
“Wanita itu hanya berpura-pura hamil. Ketika niat jahatnya terbongkar, dia diusir.”
Hening sejenak. Tampaknya Nasha tidak tahu harus berkomentar apa. Lalu, keadaan terselamatkan oleh deringan ponsel dari Manda.
Nasha langsung mengalihkan pandangannya ke jendela. Ia berpikir bahwa Galaksi dan Maya sudah menikah dan memiliki anak yang cantik.
“Galaksi telah banyak berubah dalam satu tahun terakhir,” ucap Manda begitu ia mengakhiri panggilannya dan itu sukses menarik perhatian Nasha.
“Pada beberapa kesempatan aku melihatnya dan menyapa dan dia hanya mengangguk. Setelah mendengar bahwa dia belum menikah, apakah kamu akan kembali?”
“Tidak.” Nasha menjawab tanpa banyak pikir.
“Kenapa?”
“Hanya merasa lelah jika harus mengulang ke masa lalu.”
Manda memahami suasana hatinya dan tidak mengatakan apa-apa. Keduanya berbicara tentang kehidupan mereka dan berbicara sampai lupa waktu.
Keesokannya, sebelum melakukan pekerjaannya. Nasha membuat segelas kopi untuk menemaninya. Wanita itu tetap ingin minum kopi meskipun ia belum sarapan pagi.
Entah mengapa, perasaannya jauh lebih tenang. Saat ia menyalakan laptopnya sebuah panggilan datang dan itu dari Edward.
Ia ingin mengangkat panggilan itu namun suara itu langsung berhenti karena panggilan diakhiri. Nasha ingin menelepon kembali namun sebuah suara dari sekretarisnya memintanya untuk segera menemui klien yang baru saja tiba.
Setelah pertemuan dengan klien yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikirannya. Nasha mengamati cahaya lampu jalan yang menyala. Hari yang sangat melelahkan Nasha lalui dengan berpura-pura tersenyum di permukaan.
Wajah mengerut ketika merasakan perutnya terasa sakit. Itu pasti karena ia melewatkan sarapan dan makan siang.
Wajahnya yang tadi berseri berubah menjadi pucat. Keringat mulai muncul di dahinya.
Tangannya ia letakkan di perutnya, badannya sedikit membungkuk untuk mengurangi rasa sakit.
Sebuah ketukan terdengar. Sekretaris Nasha masuk dan tampak terlihat khawatir melihat kondisi Nasha. Wanita itu menanyakan kondisi Nasha.
“Aku tidak apa-apa. Ada apa?”
“Itu...presdir dari JN group ada di sini.”
“Apa?”
Nasha pulih dari keterkejutannya ketika matanya menangkap sosok Galaksi yang rupanya sudah masuk ke ruangannya.
Pria itu terlihat mengerutkan alisnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Galaksi dengan khawatir.
“Ya, apa yang membawamu ke sini?” Nasha berusaha untuk menahan rasa sakitnya.
“Jika kamu tidak enak badan, pergi ke rumah sakit. Apa yang kamu lakukan di sini?”
Galaksi terlihat menaikkan nada bicaranya. Ia melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan Nasha lebih dekat.
Dengan cepat ia langsung melepaskan jasnya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Ayo pergi.”
Galaksi memaksa dan memapah Nasha yang terlihat sudah lemas. Galaksi langsung membawanya ke dalam mobil dan mobil itu melaju dengan pesat.
“Aku tidak ingin ke rumah sakit.”
“Kamu butuh perawatan.”
“Aku hanya butuh istirahat. Bawa aku ke apartemenku.”
Galaksi hanya bisa menuruti keras kepalanya Nasha. Pria itu mengirimnya sampai ke depan apartemen.
Galaksi mengamati jari-jari Nasha yang lihat di atas papan kode apartemennya. Pria itu menghafal sandi apartemen Nasha.
“Terima kasih. Aku akan mengembalikan jas ini setelah aku cuci.”
Galaksi mengangguk tidak mengatakan apa-apa.
“Selamat malam,” ucap Nasha sebelum menutup pintu apartemennya.
Nasha menghela napasnya sedih. Setelah mandi air panas dan mengganti pakaian. Ia meringkuk di ranjangnya.
Perutnya masih terasa sakit. Ia melilitkan tubuhnya di bawah selimut tebal. Setelah lima belas menit, ia mendengar suara pintu dibuka.
Nasha mengerutkan alisnya.
“Siapa yang datang? Ayah? Bahkan ayah tidak tahu sandi apartemen ini.”
Nasha dengan perasaan takut, menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan sekitar.
Nasha terlihat terkejut melihat sosok yang beberapa menit lalu mengantarnya.
“Mengapa kamu ada di sini? Dan kamu bisa membuka pintu apartemenku?”
Galaksi memegang tas belanjaan di tangannya. “Istirahatlah.”
Nasha membuka mulutnya tidak percaya. Matanya berkeliaran melihat gerak-gerik Galaksi yang dengan leluasa menggunakan dapurnya.
Galaksi menghampiri Nasha setelah bergulat dengan air panas dan beberapa bahan rempah. Pria itu menyerahkan cangkir berisi seperti cairan teh.
“Minumlah ini.”
Nasha memandangnya selama beberapa detik sebelum mengambil cangkir itu. Nasha menyeruput teh itu dan perasaan hangat langsung menyerbu kerongkongan sampai hatinya.
“Apa ini? Rasanya enak.”
“Terima kasih.”
Galaksi mengangguk dan bergulat kembali ke dapur. Nasha memandangnya dari ruang makan dan merasa tidak nyaman.
“Jangan melihatku seperti itu.”
Galaksi tidak melihat Nasha namun ia merasakan bahwa wanita itu terus memperhatikannya sedari tadi.
Nasha langsung mengalihkan perhatiannya.
Matanya langsung menyipit ketika Galaksi menaruh semangkuk bubur hangat yang tampak lezat.
“Makanlah.”
Keduanya duduk berhadapan-hadapan. Melihat Nasha yang tak kunjung mencicipi masakannya. Galaksi langsung memegang tangan Nasha dan menyodorkannya dengan sendok.
“Aku jamin itu sangat enak.”
Nasha mengeratkan pegangannya pada sendok. Nasha menelan salivanya dan terus menunduk.
“Aku sudah tahu, hubunganmu dengan Maya.”
Nasha berhenti sejenak sementara tubuh Galaksi membeku di tempat.
“Kenapa kamu tidak memberitahuku saat aku bertanya?”
“Kamu tidak berencana kembali padaku jadi mengapa aku harus memberitahumu?”
Nasha terus menunduk, tangannya sudah bergetar.
“Edward adalah pria yang baik. Kalian terlihat sangat serasi.”
Air mata Nasha sudah menumpuk di pelupuk matanya tapi ia menahannya.
“Aku akan pergi sekarang. Istirahatlah lebih awal.”
Mendengar suara derit kursi, Nasha langsung mendongakkan kepalanya. Sudah terlambat, ia melihat punggung Galaksi yang mulai menjauh. Melihatnya pergi menjauh membuatnya kehilangan kendali.
“Apakah kamu benar-benar merestui kami?”
Galaksi langsung menghentikan langkahnya namun tidak berbalik.
“Ya.”
Nasha langsung berdiri dan berlari ke hadapan Galaksi. Ia melihat ke dalam mata elang itu.
“Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Aku tidak mencintaimu.”
Nasha mengangguk dan tersenyum. “Oke. Aku lega mendengarnya. Terima kasih.”
Setelah itu Galaksi benar-benar pergi dari hadapannya sementara Nasha langsung luluh ke lantai dan menangis.
...♡♡♡...
Di akhir pekan, Edward kembali mengunjungi Nasha. Lebih tepatnya, pria itu menghadiri perjamuan makan malam. Tentu saja Edward mengajak Nasha sebagai pasangannya.
Waktu sudah larut malam dan acara memang diadakan saat malam hari. Ketika mobil berhenti karena lampu merah, pandangan Edward yang tadinya diarahkan ke luar jendela beralih kepada wanita cantik yang duduk di sampingnya.
“Terkadang aku terkejut karenamu, Nasha.”
“Ah, kenapa?”
“Apakah kamu benar-benar dari bumi? Kamu begitu cantik.”
“Berhenti bicara omong kosong dan cepat lajukan mobilnya. Lampu sudah berwarna hijau.
Ketika tiba di hotel tempat diadakan perjamuan. Nasha langsung melihat Galaksi yang tampak dengan wanita cantik sedang tertawa. Lengan wanita itu ada mengapit lengan Galaksi seperti pasangan dekat.
Hati Nasha langsung mencelos. Ia merasa tidak suka. Edward menyapa Galaksi. Nasha hanya memperhatikannya mereka berdua sampai pada akhirnya Nasha mendengar bahwa Galaksi sedang bercanda dengan wanita itu.
Hati Nasha terasa panas. Jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya, ia pasti sudah menyiram wanita itu dengan air.
Wanita di sebelah Galaksi tersenyum manja dan itu membuat Nasha tidak nyaman.
Nasha langsung melihat ke arah Edward. Edward yang juga melihat Nasha langsung menunduk.
“Ada apa?”
“Apakah kamu ingat kapan terakhir kali aku mengatakan akan memikirkan perasaanmu?”
“Tentu saja ingat. Apakah kamu sudah memikirkannya?”
Nasha mengangguk.
Edward tampak gembira dan ia bertanya dengan gugup. “Lalu apa jawabannya?”
Nasha menatapnya namun tidak segera menjawab. Melihat Nasha yang tak kunjung menjawab ada raut kesedihan di wajah Edward.
“Lupakan saja. Jika kamu menolak, kamu tidak harus mengatakannya,” ucap Edward dan berpura-pura tidak peduli.
Nasha melihat ke arah Galaksi lalu segera beralih ke arah Edward.
“Ya.”
Edward langsung memegang tangan Nasha.
“Ya, apa?”
“Aku menerima.”
Edward dengan gembira langsung memeluk Nasha. Seluruh pasang mata tertuju pada Edward dan Nasha tanpa terkecuali Galaksi.
Galaksi langsung merasakan jantungnya sakit. Ia lantas meneguk minumannya. Pada akhirnya Nasha bukan lagi miliknya.