
Seorang wanita dengan hak tinggi baru saja meninggalkan ruangan kerja Galaksi. Ia adalah Lea, sekretaris baru Galaksi. Wanita itu memiliki tinggi badan yang semampai mirip model dan pintar.
Semua kehidupan berjalan sesuai kehendaknya. Waktu terus berjalan sehingga tidak terasa, satu tahun telah berlalu.
Galaksi menjalani kehidupannya dengan bekerja begitu juga dengan Nasha. Meskipun mereka terkadang saling merindukan tapi mereka tak saling mempunyai kontak. Jadi tak pernah bertukar kabar. Hanya angin malam yang menjadi saksi begitu mereka saling merindukan.
Meskipun Galaksi menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja tapi hidupnya seperti mayat hidup seperti tidak ada warna di dalamnya. Ia lebih tampak berbahaya. Ia seperti raja es sehingga menjadikan perusahaannya semakin mencapai titik puncak kejayaannya.
Di tempat lain, hal begitu juga dialami oleh Nasha. Edward menyambut Nasha yang baru saja memasuki pintu ruangannya. Mata pria itu berbinar. Selalu begitu tiap kali bertemu dengan Nasha.
“Kamu sudah datang.”
Nasha menjawab singkat. Kemudian ia hanya diam mendengarkan Edward berbicara sepanjang pertemuan mereka, sampai di mana Nasha membeku di tempatnya.
“Nasha, kamu mendengarkanku?” tanya Edward.
“Huh?” Nasha balik bertanya sampai ia mendongak menatap Edward.
“Jadi dari tadi kamu tidak mendengarkanku.” Edward pura-pura kesal.
Jantung Nasha merasa diremas dan tiba-tiba ia tidak bisa bicara.
“Ada apa? Kenapa wajahmu begitu muram?”
Nasha kembali pada kenyataannya dan menggelengkan kepalanya.
“Aku terlalu sibuk bekerja mengembangkan bisnisku di sini. Aku ingin tinggal di kota ini.”
“Apakah kamu tidak ingin melihat perusahaanmu di sana?” tanya Edward.
“Ada ayahku yang mengurusnya.”
Edward menilik ke dalam mata Nasha. Pria itu melihat mata Nasha yang memerah seakan ada emosi di dalam sana yang tidak ingin orang lain mengetahuinya.
“Kenapa kamu begitu enggan kembali ke negaramu sendiri? Apakah ada orang di kota itu yang tidak ingin kamu lihat?”
“Tidak ada.”
Dua hari berikutnya, Nasha memberi kabar pada Edward bahwa ayahnya sedang sakit jadi ia akan kembali ke negaranya. Tentu saja, Edward tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Edward menunggu Nasha di bandara. Pria itu begitu terkejut melihat penampilan Nasha saat ini. Ia melihat pakaian yang digunakan Nasha dan aksesoris wanita itu. Syal yang hampir menutupi sebagian wajahnya, kacamata hitam.
Jika Nasha tidak menyapa lebih dulu mungkin Edward tidak mengenali wanita itu.
“Apa yang kamu pakai? Apakah kamu seorang agen rahasia?”
“Ya,” jawab Nasha singkat.
Keduanya tiba saat malam hari. Nasha dan Edward langsung pergi ke rumah Nasha.
Sepanjang jalan menuju rumah Nasha. Ia tidak bisa menghentikan kenangan demi kenangan yang terus muncul di benaknya.
Begitu sampai di rumah, Roseana menyambutnya dengan gembira. Wanita itu langsung bercerita tentang kesehatan suaminya yang terus menerus menurun.
“Sayang, Nasha telah kembali untuk melihatmu.”
Nasha melihat pria tua yang sedang berbaring di ranjangnya. Ia tidak tega melihatnya. Pria tua yang terlihat tegas kini terlihat rapuh.
Pria itu bahkan tidak bisa bangun tanpa bantuan.
“Nasha kemarilah. Apakah kamu tidak ingin memeluk ayah?”
Nasha langsung segera menyeka air matanya yang seenaknya keluar. Nasha langsung berlari dan memeluk ayahnya.
Edward begitu terharu melihat kebersamaan Nasha dengan ayahnya. Sementara Roseana berdiri di samping pria itu, melihatnya. Seakan ia tidak sabar untuk melemparkan beberapa pertanyaan.
“Jangan ganggu pasangan ayah dan anak. Kamu ikut aku.”
Edward hampir membuka mulut tapi kemudian mengurungkan niatnya karena ia pun tak tahu harus menjawab apa selain menurutinya.
Di tempat lain, Galaksi makan malam dengan keluarganya. Di ruang makan, empat orang berkumpul untuk makan malam.
Semua perabot rumah itu sudah diganti setengah tahun yang lalu. Duduk di posisi yang sama, terkadang Galaksi teringat orang yang selalu duduk di sampingnya.
Bintang selalu menatap wajah kakaknya. Ia punya sesuatu untuk dikatakan. Tak sengaja saat perjalanan pulang, gadis itu melihat orang yang tak asing.
Untuk beberapa kali, Bintang melihat Galaksi sambil menelan salivanya. Pada akhirnya tidak bisa menahan diri.
“Aku melihat seseorang hari ini,” ucap Bintang memecahkan keheningan.
Jeka langsung menyahutinya. “Bukankah setiap hari kamu melihat orang lain.”
Bintang langsung menggeleng. “Dia bukan orang lain.”
Bintang lalu menatap kakaknya.
“Siapa?” tanya Amara.
Bintang kembali menelan salivanya sendiri sebelum menjawab, “Kak Nasha.”
Ketika mendengar nama itu, seketika orang-orang melihat ke arah Galaksi. Sementara Galaksi hanya mengedipkan matanya.
“Kamu melihatnya di mana?”
Galaksi memandangi Bintang hingga matanya menyipit. Jawaban itu tidak jelas, tapi enggan mengorek lebih jauh.
...♡♡♡...
Keesokan paginya, hujan turun tanpa memberi kesempatan matahari untuk terlihat. Pagi itu, setelah sarapan Nasha berdiri di jendela kamarnya. Ia menatap tempat di mana Galaksi berdiri saat meminta maaf padanya.
Pada saat itu, pria itu mengabaikan hujan turun yang terus mengguyur tubuhnya.
Nasha langsung memutar tubuh ketika suara ketukan pintu terdengar.
“Boleh kah aku masuk?”
Samar- samar ia mendengar suara Galaksi.
“Masuklah.”
“Padahal, aku ingin jalan-jalan keluar tapi sepertinya semesta tak merestuinya. Apa yang kamu lakukan di sini? Setidaknya jangan membuatku terjebak dengan ibumu.”
“Dia memang seperti itu, merepotkan.”
Edward lantas berjalan ke arah Nasha dan berdiri di sampingnya. Pria itu menatap keluar.
“Sepertinya hujan sudah reda.”
Nasha berbalik dan menatap memang hujan di luar sudah reda.
“Jadi bisakah kamu memanduku untuk keluar?” tanya Edward begitu berharap.
“Pergilah sendiri.”
“Hei, aku takut akan tersesat.”
“Seorang Ceo sepertimu takut tersesat? Gunakan ponsel pintarnya.”
“Nasha!”
“Baiklah! Kita akan pergi bersama. Aku akan ganti baju dulu, kamu tunggu di bawah.”
“Tidak bisakah aku tunggu di sini saja.”
“Apakah kamu minta dipukul.”
Nasha sudah mengulurkan tinjunya dan Edward langsung lari sambil tersenyum.
Setengah hari Nasha menjadi pemandu untuk Edward. Wanita itu dengan sabar menjawab setiap pertanyaan absurd Edward.
“Apakah ini tempatnya?” tanya Edward begitu antusias.
“Ya,” jawab Nasha sambil mengangguk.
“Bagus. Ayo masuk, aku ingin membeli dasi. Kamu bisa merekomendasikan padaku kan. Aku butuh saranmu,” jawab Edward lantas pria itu langsung menggenggam tangan Nasha mengajak wanita itu untuk masuk ke toko ternama itu.
Begitu masuk, mata Edward langsung terbelalak melihat apa yang dilihatnya. Ia melihat pria yang ia kenal.
“Galaksi!”
Tubuh Nasha langsung menegang begitu mendengar nama itu. Ia meyakinkan dirinya bahwa nama pemilik itu bukan orang yang ia kenal.
Begitu ia mendongak ia bisa melihat wajah yang begitu ia kenali.
“Aku tidak menyangka bahwa kita akan bertemu di sini.”
Nasha pura-pura tidak mengenalnya begitu pula dengan Galaksi.
“Hm.”
“Perkenalkan, kemungkinan dia akan menjadi calon istriku.”
Mata Galaksi memancarkan jejak kesuraman. Pria itu lantas memperbaiki mimik wajahnya tanpa ekspresi.
“Selamat.”
“Aku akan lihat-lihat sebentar,” ucap Nasha berusaha menghindari tatapan Galaksi yang selalu tertuju padanya.
Edward langsung mencegahnya, “Kita akan melihat lihat bersama.”
“Aku akan pergi “
“Baiklah, lain kali aku akan mengajakmu makan malam.”
Galaksi mengangguk lalu pergi. Nasha melihat kepergian Galaksi. Matanya tidak pernah lepas dari punggung pria.
“Apakah kamu mengenalnya?” tanya Edward.
“Aku tidak mengenalnya.”
“Maka seharusnya kamu tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Berhenti berbicara omong kosong,” ucap Nasha.
“Aku melihat matamu menatapnya seperti aku menatapmu.”