
Nasha menatap laptop untuk waktu yang lama dan membuka halaman internet. Sebuah kursor kecil berkedip di kotak pencarian berwarna kuning.
Setelah ragu-ragu untuk beberapa saat, Nasha akhirnya menaruh jemarinya di atas papan ketika dan mengetik beberapa kata kotak pencarian.
Tidak sampai satu detik, bermacam-macam informasi muncul di layar. Namun, Nasha seperti biasa melewati beberapa halaman dengan ekspresi yang tidak berubah.
Nasha langsung mendongak begitu pintunya dibuka. Ia melihat Lea yang berjalan ke arahnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu setelah itu aku akan pergi.”
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Aku mengatakan, aku sangat membencimu. Aku membencimu karena kamu kembali dengan tiba-tiba dan aku ingin menjadi orang ketiga seperti Maya untuk menghancurkan hubunganmu dengan Galaksi tapi kemudian aku berpikir untuk tidak berakhir tragis seperti Maya. Aku sadar tidak ada yang bisa mengalahkan cinta sejadi yang sudah ditakdirkan untuk bersama.”
Nasha mengernyitkan keningnya.
“Aku akan pergi besok. Aku ingin mengatakannya dan aku merasa lega akan hal itu. Aku harap kamu bahagia meskipun sebenarnya aku enggan untuk mengatakannya,” ucap Lea sambil tersenyum lalu berjalan keluar dengan bangga.
Langit mulai menghitam dan Nasha masih di tempatnya. Ia baru saja mendapatkan pesan dari Galaksi, bahwa pria itu akan menjemputnya.
Suasana hati Nasha sedang jauh lebih baik dari pada kemarin jadi ia mengiyakan ajakan Galaksi.
Nasha mendongakkan kepalanya begitu pintu dibuka dengan tergesa-gesa.
“Kamu sudah selesai?” tanya Galaksi yang baru saja masuk ke ruangannya.
“Tunggu sebentar,” ujar Nasha.
Galaksi melangkah maju untuk melihat Nasha lebih dekat. Pria itu menarik tangan Nasha dan mendaratkan bibirnya di bibir Nasha.
Nasha awalnya terkejut namun detik berikutnya ia menutup matanya setelah merasakan tangan Galaksi bergerak memeluk punggungnya.
Tangan Galaksi yang tadi memeluk punggung Nasha seolah menerima tenaga lebih untuk menarik tubuh Nasha hingga menempel di dada pria itu.
Ciuman Galaksi mulai berubah menjadi kasar. Galaksi yang sudah tak kuasa menahan hasratnya pun mulai semakin menggebu.
Galaksi menjauh dari bibir Nasha dan mulai mencium leher Nasha.
“Aku mencintaimu.”
Galaksi membisikkannya tanpa peduli apakah Nasha mendengarnya atau tidak lalu ******* bibir Nasha.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu. Nasha terkejut dan bibir keduanya pun berpisah. Nasha mendorong keras dada Galaksi sehingga pria itu sampai terjengkal ke belakang.
“Oh, maafkan aku.” Suara itu keluar dari mulut sekretaris Nasha yang terkejut melihat pasangan yang seperti baru saja melakukan sesuatu.
Nasha hanya menjawab singkat dan tersenyum tipis. Setelah itu sekretaris itu segera pergi.
“Kita juga sebaiknya pergi.”
“Ya.”
Nasha berjalan mengikuti pria itu. Ketika hampir tiba di tempat parkir, Galaksi tiba-tiba bersuara.
“Ayo kita makan malam di luar.”
“Bagaimana sebelum makan kita jalan-jalan di pinggir kota. Aku ingin makan di pinggir jalan.”
“....”
Galaksi tidak langsung menjawabnya. Pria itu membuka pintu mobilnya.
“Baiklah, ayo pergi.”
Keduanya sampai di pinggir jalan yang memang sangat ramai dengan pejalan kaki dan di pinggir-pinggir jalan terdapat tenda-tenda penjual makanan.
Nasha menatap langit dan menghela napas panjang.
“Malam ini terlihat begitu banyak bintang.”
“Bintang terlihat lebih banyak setiap hari.”
“Siapa bilang, bisakah kamu melihat bintang saat mendung?”
“Ya, dengan menutup mata dan membayangkannya.”
Nasha menggelengkan kepalanya merasa bahwa pria yang ada di sampingnya terlihat aneh.
“Aku melihat Lea hari ini.”
“Di mana kamu melihatnya?”
“Ya, dia mendatangi kantorku dan mengatakan sesuatu.”
“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Galaksi penasaran.
Nasha langsung melirik Galaksi dan sedikit ingin menggoda pria itu.
“Dia memberitahuku segalanya hubungan di antara kalian.”
“Aku tidak ada hubungan dengannya.”
“Benarkah? Kamu masih ingin berbohong padaku?”
“Apa yang dia katakan padamu?”
Galaksi menatap Nasha dengan curiga, ia sudah tahu bahwa itu hanya jebakan dari Nasha namun pria itu tetap setuju.
“Baiklah, apa pertanyaannya?”
“Bagaimana kalian bisa bertemu?”
“Di restoran, dia pelayan di sana dan dia diejek oleh beberapa pengunjung. Aku menyelamatkannya.”
“Oh...kamu bertindak sebagai pahlawan untuk wanita cantik.”
“Jika kamu bertemu dengannya, kamu juga pasti tidak bisa mengabaikannya.”
“Setelah itu? Apakah hubungan kalian berkembang sebagai pasangan kekasih?”
“Tidak! Dia tidak sengaja melihatku pergi ke psikologis dan ia mengintip catatan medisku.”
“Lalu?”
“Lalu kita menjadi mitra.”
“Mitra apa?”
“Aku bertanggung jawab atas biaya kuliahnya dan dia bekerja atas perawatanku.”
“Bagaimana dia merawatmu?”
Ada gemuruh nyala api di dada Nasha. Galaksi terbatuk, ia merasa wanita yang berdiri di sampingnya terbakar emosi.
“Jangan berlebihan, itu semua masa lalu.”
“Aku tidak paham masa lalu!”
“Tidakkah kamu mengatakan bahwa dia memberitahumu?” Galaksi bertanya dengan bodoh.
Nasha berdehem lalu mengganti topik pembicaraan.
“Apakah kamu ingin tahu apa yang terjadi di antara aku dan Ed?”
“Aku tidak peduli.”
“Aku bertemu dengannya saat aku berada di sebuah kafe. Dia melihatku terus, aku pikir dia seorang penguntit lalu aku pergi dan dia mengekor padaku. Aku ketakutan dan berteriak tapi dia saat menjelaskan tentangnya dia adalah pria yang sopan. Lalu kami berteman kami juga bekerja sama dalam bisnis.”
Mengingat peristiwa di masa lalu tanpa sadar sudut bibir Nasha terangkat dan Galaksi yang melihatnya sedikit tidak nyaman.
“Apakah kalian sudah lama bersama? Apakah kalian pernah melakukan kontak fisik?”
Nasha memandang wajah Galaksi dengan menyipit.
“Jika aku mengatakan ya, apakah kamu akan marah?”
Galaksi tersenyum getir.
“Tentu saja aku tidak akan marah. Itu wajar untuk memiliki kehidupan baru.”
“Jadi kamu dengan Lea...hubungan kalian sangat berkembang. Kalian sudah melakukan apa saja?”
“Tidak ada. Lalu kamu dengannya sudah melakukan apa saja?”
“Kami melakukan...” Nasha terdiam sehingga membuat hati Galaksi terasa sakit. Pikirannya sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
“Kamu tidak peduli kan dengan masa lalumu bersama Edward jadi itu rahasia,” ucap Nasha.
Keduanya saling melemparkan pertanyaan dan saling menggoda. Setelah mampir di kedai untuk makan malam, mereka langsung pulang.
Nasha sudah bersiap untuk masuk ke kamar Galaksi namun pria itu menutup pintu dengan rapat.
“Hei, apakah kita tidak akan tidur bersama?”
“Hari ini aku sakit.”
“Perawat Nasha akan membantumu.”
Nasha segera masuk ke kamar sebelah dan mandi. Setelah itu ia membuka kamar Galaksi dengan mengendap-endap. Ia mendengar bahwa pria itu masih berada di dalam kamar mandi.
Nasha lantas langsung membuka lemari dan memilih kemeja putih milik Galaksi. Malam ini ia akan melancarkan aksinya.
Nasha memakai kemeja Galaksi, hanya kemeja putih yang melekat pada tubuhnya. Lantas wanita itu duduk di atas ranjang sambil menunggu Galaksi.
Ketika Galaksi membuka pintu, pupilnya langsung membesar. Jakunnya bergulir begitu saja.
“Apa?”
Nasha langsung berdiri dan berjalan ke arah Galaksi. Ia berhenti tepat di depan Galaksi.
Nasha mengaitkan kedua tangannya di leher Galaksi meskipun kakinya ia jinjitkah.
“Menurutmu?”
Galaksi begitu khawatir. “Aku takut mengecewakanmu.”
“Tidak akan.”