Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 20



Baru saja Galaksi mendapatkan laporan bahwa istrinya ternyata baru saja keluar dari rumah sakit. Saat ia hendak menyusul istrinya, tiba-tiba pintu terbuka dan menemukan Nasha berdiri mematung di sana dan terkejut melihatnya.


Galaksi langsung berdiri dan dengan langkah cepat ia menangkap tubuh mungil itu. Galaksi memeluk Nasha dengan segera. Rasa bersalah tengah bersarang di dadanya. Nasha saat ini pasti kecewa dengannya.


“Maaf, apakah kamu baik-baik saja?"


"Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Nasha, maafkan saya. Saya salah, saya tidak mempercayaimu. Saya kira...”


“Pergi dari sini.”


“Nasha.”


Nasha langsung memukul bahu Galaksi dengan kepalan tangannya. “Dasar pria berengsek.” Ada isakkan kencang di sana setelah umpatan itu. “Aku membutuhkanmu, dasar berengsek.” Ia memukul bahu Galaksi. Nasha benar-benar menangis sekarang.


“Maafkan saya.”


“Aku tidak akan memaafkanmu.”


“Saya akan melakukan apa saja, asal kamu mau memaafkan saya.”


Nasha meminta Galaksi agar kembali tinggal di sana. Nasha juga meminta agar pria itu memaafkan sikap ayahnya di masa lalu.


Galaksi terus menolak dan memberi seribu alasan yang tak bisa diterima Nasha.


“Apakah kamu menyesal berpisah dengan Maya sampai saat ini? Apakah kamu juga membandingkan aku dengannya? Siapa yang lebih baik diantara kami berdua?”


“Orang yang terbaik untukku adalah orang yang sekarang menjadi istriku."


Malamnya, Nasha dan Galaksi pergi ke vila orang tua Galaksi.


Mereka berdua disambut dengan penuh suka cita, terutama Amara, ibu Galaksi. Amara dengan senyum kerinduannya menyambut mereka.


“Kakak aku merindukan kalian,” ucap Bintang sambil mengimpit lengan Galaksi dan Nasha dan mengajaknya masuk untuk makan malam bersama.


Wangi makanan dengan uap hangat kembali Nasha rasakan. Ia memang rindu dengan masakan ibu mertuanya. Ia rindu dengan ibu mertuanya yang mengambilkan makanan di piringnya. Ia rindu dengan ibu mertuanya yang selalu menawarkan makanan.


Ia rindu dengan lelucon Bintang saat makan malam. Ia rindu dengan berbagai petuah yang Nasha dengar dari ayah mertuanya. Nasha berharap hubungan Galaksi dengan ayahnya segera membaik seperti dulu. Sehingga kehangatan selalu tercipta di ruang makan.


Setelah makan bersama, Jeka langsung mengajak Galaksi berbicara hanya empat mata. Sebenarnya Nasha penasaran apa yang dibicarakan oleh ayah mertuanya dengan suaminya. Namun ia masih tahu cara menempatkan diri.


Nasha saat ini berada di kamarnya dan sedang membaca buku. Ia sesekali melihat jam yang ada di atas nakas. Sudah dua jam ia menunggu Galaksi di kamarnya dan pria itu sepertinya masih belum keluar dari ruang belajar ayahnya.


Tak berselang lama, pintu kamarnya terbuka dan terlihat sosok Galaksi dengan wajah yang murung.


“Kamu sudah kembali?” tanya Nasha namun Galaksi tidak bersuara. Pria itu hanya melihatnya tanpa kata.


“Apa yang ayah katakan padamu? Kamu terlihat sangat...”


Belum sempat Nasha menyelesaikan kalimatnya, Galaksi langsung memeluknya dengan erat membuat Nasha terdiam.


“Suasana hati saya sedang tidak baik-baik saja tapi melihatmu di sini aku sedikit merasa lega.”


Nasha langsung membalas pelukan Galaksi dengan tulus.


Di tengah malam, Galaksi berdiri di depan jendela yang ada di kamarnya. Sementara Nasha sudah berada di alam tidurnya. Pria itu menatap lurus sambil tangannya memegang secangkir kopi.


Malam ini, ia tidak bisa tidur. Jika pria lain melampiaskannya dengan merokok, Galaksi akan melampiaskan semua emosinya dengan berdiam diri di tengah malam.


Keesokan paginya, Nasha membantu ibu mertuanya membuatkan sarapan. Ia melihat Galaksi yang sudah turun dari kamarnya. Terlihat tampan dengan setelan jas kantornya.


“Kamu ingin kopi, biar aku buatkan.” Nasha menawarkan diri membuatkan kopi untuk suaminya begitu ia melihat Galaksi duduk di kursinya.


Galaksi terkesiap saat ia mendengar Nasha menjerit dengan keras. Tak hanya Galaksi bahkan Amara juga.


Galaksi langsung berlari dan langsung menarik dan memeriksa tangan Nasha yang terluka sambil meneriakinya. Telapak tangan Nasha sampai tampak memerah.


“Tanganmu terbakar. Kamu seharusnya diam.”


Galaksi menghidupkan keran di wastafel dan menyodorkan tangan Nasha di bawah air yang mengalir.


“Apa kamu tidak berpikir bahwa ketel itu akan panas? Kenapa masih memegangnya? Kamu ini bodoh atau apa sih?”


“Aku hanya ingin membuatkanmu kopi, kenapa kamu mengataiku bodoh?” Nasha menggumam dengan wajah cemberut.


“Galaksi, tangan Nasha terluka. Kenapa kamu masih saja memarahinya?"


Galaksi langsung mematikan keran air dan melihat Nasha yang menunduk.


“Maaf, karena sudah marah denganmu.”


Nasha mengangguk.


“Sini biar saya oleskan obat untuk luka bakar.”


“Ibu akan membawa kotak p3k.”


Galaksi langsung mengoleskan salep yang ibunya berikan di dalam kotak p3k ke telapak tangan Nasha.


Sorenya, Nasha kembali dari kantornya. Tidak seperti biasanya ia pulang lebih awal. Ya, dikarenakan ia besok ada perjalanan bisnis ke Amerika, jadi sepulang dari kantor. Ia sudah mengemasi barang-barang yang ia akan bawa.


Setelah persiapannya selesai, ia membantu ibu mertuanya untuk menyiapkan makan malam.


Di malam hari, ketika seluruh keluarga berkumpul mereka makan malam seperti biasa. Setelah makan malam, Nasha langsung pergi ke kamarnya dan di susul oleh Galaksi.


Sebelumnya Galaksi tidak menyadari kehadiran koper yang ada di dalam kamarnya, namun saat ia ingin mengambil tabletnya ia baru sadar.


“Koper siapa itu?”


“Koperku,” ucap Nasha yang sibuk mengoleskan rutinitas malamnya yaitu melakukan perawatan wajah.


“Aku akan melakukan perjalanan bisnis besok."


Galaksi mengangkat sebelah alisnya. “Kemana?”


Galaksi meremas alisnya. “Kapan kamu memutuskannya?”


“Aku melakukan perjalanan bisnis dan itu bukan keputusanku sendiri.”


“Berapa hari kamu di sana?”


“Sekitar seminggu.”


“Dengan siapa kamu di sana?”


“Dengan Manda dan Ale.”


“Apa?” Galaksi tiba-tiba berteriak.


Nasha terkejut mendengar teriakan Galaksi.


“Tidak! Saya tidak akan mengizinkannya."


"Aku pergi untuk melakukan perjalanan bisnis. Jika kamu cemburu aku pergi dengan Ale, di sana Manda juga ikut denganku.”


“Kamu yakin akan pergi hanya seminggu? Tidak lebih?”


“Aku akan kembali setelah seminggu.”


Wajah Galaksi tentu saja menahan amarahnya. Tentu saja ia tidak bisa membiarkan wanitanya pergi dengan lelaki yang jelas mencintai wanitanya meskipun hanya untuk perjalanan bisnis.


Pada akhirnya Galaksi tidak bisa menghentikan Nasha pergi ke Amerika. Dalam perjalanan ke bandara, wajah Galaksi masam. Setelah sampai di bandara, Galaksi mengantarkannya sampai ke pintu masuk.


Di sana rupanya Ale dan Manda sudah menunggu.


“Kamu bilang seminggu. Jika kamu tidak pulang dalam seminggu, kamu tidak akan bisa keluar dari rumah selama sisa hidupmu.”


“Dan jika kamu berani bertemu dengan Maya lagi, jangan harap kamu bisa bertemu denganku.”


“Jika kamu merasa khawatir, maka jangan pergi. Biar mereka berdua yang melakukan perjalanan ini.”


Sejujurnya Nasha tidak ingin pergi namun ia tidak punya pilihan. Ada tanggung jawab di pundaknya untuk perusahaannya.


Setelah perjalanan yang cukup jauh hingga menguras tenaga dan pikirannya ia sudah sampai di negara paman Sam. Mereka langsung pergi ke hotel untuk beristirahat sejenak lalu melakukan pekerjaan.


Rutinitas Nasha, Manda dan Ale benar-benar menguras tenaga. Bahkan Nasha tidak istirahat untuk beberapa malam. Proyek ini benar-benar penting untuk GustamaCorp.


Nasha benar-benar lelah, ia berbaring di ranjangnya dan siap untuk pergi ke mimpinya meskipun matahari masih berada di atas namun tiba-tiba ponsel yang ada di bawah bantalnya berbunyi. Itu adalah panggilan dari Galaksi.


“Halo.”


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Galaksi dengan suara serak. Perbedaan waktu yang kontras jelas terasa.


“Tidur. Aku hanya tidur siang. Bagaimana denganmu? Mengapa kamu meneleponku? Di sana pasti sudah larut malam kan?”


“Aku merindukanmu.”


Nasha tersenyum karena Galaksi sudah tidak memakai kata saya tapi aku.


“Apa aku harus selalu bepergian agar kamu merindukanku?” goda Nasha.


“Tidak! Begitu kamu kembali, aku akan menguncimu di kamar.”


“Hohoho aku pasti akan mati kebosanan di dalam kamar.”


“Tidak akan.”


... ♡♡♡...


Setelah beberapa hari berkelit dengan pekerjaan sehari sebelum kepulangannya di negara asal. Nasha, Manda dan Ale pergi ke ke Danau Berryessa. Danau Berryessa adalah salah satu danau air tawar terbesar di California, Amerika Serikat, yang juga merupakan danau terindah di dunia. Terletak di sebelah timur Napa Valley, keindahan Danau Berryessa menawarkan banyak hiburan alam.


Begitu melihat Danau Berryessa, Nasha bergeming di tempatnya berdiri selama kira-kira tiga puluh menit lamanya. Wanita itu termangu memandangi keindahan danau. Berkali-kali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan sementara Manda yang berada di sampingnya sudah merasa bosan.


“Tempat ini...sangat bagus.”


“Ya, ini memang tempat yang bagus.”


“Sangat bagus, amat sangat bagus.”


“Ya.”


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Ale yang baru saja duduk di sebelah Manda.


“Darimana saja kamu?” tanya Nasha.


“Ah, hanya berkeliling di sekitar.”


Nasha menatap Ale lalu beralih menatap Manda. Nasha berpikir bahwa inilah kesempatan Manda untuk berduaan dengan Ale dengan pemandangan yang menakjubkan.


“Ah, aku juga ingin berkeliling.”


“Hei kamu ingin ke mana?” tanya Manda.


“Jangan ikuti aku! Aku akan berkeliling sebentar dan memamerkannya pada suamiku.”


Nasha langsung meninggalkan mereka berdua. Manda dan Ale terlihat sangat canggung. Apalagi Manda, ia tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan Nasha.


Berani-beraninya dia meninggalkannya bersama Ale sendiri.


Manda terdiam dan selalu memandangi danau itu.


"Manda."


Mada langsung menoleh seketika namanya dipanggil dengan orang yang ia suka.


“Ya.”