Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 52



Nasha pergi ke kantor Edward namun pria itu tidak ada di sana. Sekretarisnya mengatakan bahwa ia sedang rapat di luar. Nasha menunggunya sepanjang hari. Namun ia tidak melihat ada tanda-tanda Edward kembali dari rapatnya.


Pada malam harinya, Nasha pergi ke rumah Edward namun pelayan mengatakan bahwa pria itu belum pulang.


Nasha duduk di depan gerbang menunduk. Ia menunggu Edward di sana. Ia harus melihat Edward dan menjelaskan semuanya agar pria itu dapat memaafkannya.


Nasha memeluk tubuhnya sendiri saat angin malam mencoba menghunus permukaan kulitnya. Meski jam sudah menunjukkan jam sebelas malam, namun Nasha tidak menyerah.


Nasha langsung berdiri saat melihat mobil yang sangat dikenalnya. Ia bergegas ke tengah jalan untuk menghentikan mobil itu.


Keduanya saling menatap sejenak sebelum Nasha melangkah maju dan mengetuk jendela mobil kemudi.


“Ed, bisakah kamu keluar. Ayo kita bicara.”


Edward keluar dengan marah. “Apa lagi yang harus dibicarakan?”


“Maaf...”


“Untuk?”


“Semuanya.”


“Kamu sengaja kan? Kamu sengaja kan mempermainkan aku!”


Nasha menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, aku tidak berpikir untuk mempermainkan perasaanmu. Aku memang benar mencoba untuk menyukaimu. Kamu tahu, aku senang saat kita bicara tapi...”


“Tapi kamu tidak mencintaiku.”


“Ed, aku...”


“Apakah kegilaanku padamu selama satu tahun tidak bisa meluluhkan hatimu? Seharusnya aku tidak membawamu menemuinya. Aku telah menghancurkan kebahagiaanku sendiri.”


“Ed, maafkan aku.”


Edward menghela napas. “Bisakah kamu memelukku? Jika kamu memelukku aku akan memaafkanmu.”


Nasha mengambil satu langkah maju dan merentangkan kedua tangannya untuk meraih Edward. Ia memberinya pelukan minta maaf.


Ia sangat bersalah pada Edward sehingga ia tidak bisa untuk tidak menangis.


“Semoga kamu bahagia.”


Edward memeluk Nasha dengan erat. Meskipun hatinya sangat sakit ia mencoba untuk tidak menangis.


“Terima kasih Ed. Semoga kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia.”


Keesokan harinya, setelah urusannya dengan Edward selesai. Nasha akan kembali ke negaranya namun pagi-pagi sekali ia mendapatkan pesan dari Edward bahwa pria itu akan mengunjunginya. Jadi Nasha memutuskan untuk memasak sarapan pagi.


Samar-samar Nasha mendengar suara ketikan dari luar. Nasha yang sibuk memasak menyuruh Galaksi untuk membukanya.


Galaksi melihat Edward datang dengan sebukat bunga di tangannya. Galaksi melangkah maju. Melihat sekilas bunga itu lalu menatap kembali ke arah Edward.


“Terima kasih sudah melepaskan Nasha.”


Edward menyipitkan matanya dan mengejek. “Dengan posisi apa kamu berterima kasih padaku?”


“Aku mengambil posisi sebagai suaminya,” ucap Galaksi dengan ekspresi tidak puas dengan sarkasme Edward.


“Bukankah kalian sudah bercerai.”


“Aku tidak pernah menandatangani surat perceraian itu.”


Mata Edward melirik sekilas.


“Ed, kamu sudah datang?” tanya Nasha. Ia menyambut Edward dengan ramah.


Edward tersenyum lalu menyerahkan bunga pada Nasha. Nasha menerimanya dengan tangan terbuka.


Edward lantas menepuk pundak Galaksi dan melihat ke arah Nasha.


“Tolong baik hatilah dengan wanita ini, dia layak untuk dihargai.” Edward juga berkata pada Nasha. “Tolong rawat dia, pria ini jauh membutuhkanmu.”


Galaksi sedikit terpana.


Edward menghela napasnya. “Sebenarnya berat untuk melepaskan wanita yang menemaniku selama satu tahun ini.


Tapi aku harus melepaskannya.” Edward lantas melirik tajam ke arah Galaksi. “Ingat! Jika kamu menyakiti Nasha, aku akan merebutnya.”


Setelah Edward pergi setelah sarapan. Galaksi berkata,


“Jika dia bukan sainganku. Aku ingin menjadikannya teman.”


“Dia bukan sainganmu dan kamu bisa berteman dengannya.”


“Dia baru saja mengancamku.”


“Aku tidak berpikir dia begitu.”


Setelah pesawat yang mereka tumpangi lepas landas. Nasha yang kelelahan akhirnya tertidur sampai tak sadar bahwa pesawatnya sudah landing.


Perjalanan menuju ke rumah. Galaksi mendapatkan panggilan dari ibunya.


“Ya beberapa hari lagi,” ucap Galaksi bohong.


“Kakak, apakah kamu tidak merindukanku?” suara Bintang kini terdengar.


“Tidak.”


“Ya! Kamu bahkan tidak bertanya dengan kabarku.”


“Bagaimana kabarmu, Bintang?”


Tubuh Bintang langsung kaku. Ia berbalik dan tidak percaya.


“Kakak!” seru Bintang.


“Nasha, Galaksi. Kalian sudah pulang,” ucap Amara.


Amara langsung memeluk Nasha lalu menggenggam tangan Nasha.


“Nasha setelah ganti baju, aku ingin bicara denganmu.”


“Jika ada yang ingin dikatakan besok saja, Nasha sudah duduk berjam-jam di pesawat. Dia lelah,” ucap Galaksi.


“Kakak, aku melihat baju pagi ini. Kakak menemaniku untuk membelinya ya, nanti sore.”


Nasha menanggapi sedikit ibu mertuanya dan juga adik iparnya sebelum ia ditarik oleh Galaksi ke kamarnya.


Galaksi langsung membawa Nasha ke kamarnya dan mengunci kamarnya.


“Istirahatlah.”


...♡♡...


Sudah seminggu, Nasha menjalani aktivitasnya seperti biasa. Pagi ke kantor dan pulang di sore hari. Begitu pula dengan Galaksi, apalagi produk baru Galaksi sedang diluncurkan. Pria itu dua kali lebih sibuk dari Nasha.


Keduanya hanya bertemu saat sore hari atau pun saat makan siang itu pun jarang karena kesibukan mereka.


Galaksi baru saja pulang dari luar kota. Ia sangat merindukan Nasha. Ia dengan terburu-buru membuka pintu kamarnya dan melihat Nasha meringkuk di tengah ranjangnya dengan gaya yang menggemaskan.


Galaksi langsung melepaskan dasi yang mengikat lehernya. Ia juga melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja.


Pria itu bahkan membuka kancing teratas kemejanya dan langsung membungkus tubuh Nasha.


Nasha yang merasakan tidurnya terusik dan langsung membuka matanya. Begitu ia berbalik, ia melihat Galaksi sudah berada di atasnya.


“Kamu sudah kembali?”


“Aku merindukanmu.”


Nasha tersenyum lantas ia merapatkan tubuh tanpa sadar dan bergelayut pada pria itu.


Nasha sadar bahwa beberapa hari terakhir sejak Galaksi pergi ke luar negeri dengannya, pria itu jarang sekali berkonsultasi ke dokter psikologis.


Bahkan saat mereka sudah kembali, pria itu jarang sekali membicarakan kondisinya. Malam ini karena suasana yang pas, Nasha akan mengujinya.


Nasha langsung menekan bibir ke mulut Galaksi. Nasha bisa merasakan lengan-lengan Galaksi memeluknya.


Mata Nasha sedikit membelalak tatkala merasakan benda yang keras yang menekannya.


“Dia sembuh.” Batin Nasha.


“Kamu kenapa?” tanya Galaksi saat merasakan Nasha seperti orang linglung.


“Tidak! Aku hanya merasa senang.”


Galaksi tersenyum tipis, ia lantas langsung mengecup dan menghisap sudut mulut wanita itu laku berpindah ke bibir bawahnya.


Bahkan Nasha seakan pasrah ketika jari-jari Galaksi membuka kancing piyama Nasha. Napas Galaksi terasa panas dan berat di atas kulit yang membara.


Galaksi menggesekkan tubuhnya sehingga Nasha bisa merasakan bagaimana pengaruh yang barus saja Nasha timbulkan.


Tanpa meninggalkan tatapannya, Galaksi dengan tergesa-gesa melepaskan sabuknya dan menurunkan celana panjangnya lalu meloloskan boxer hitamnya yang terasa menyempit beberapa kali lipat.


Galaksi mengeluarkan desah lega ketika barangnya terbebas dan menggantung tegak di antara kedua kakinya.


Nasha melihatnya dengan takjub.


“Galaksi, sekarang kamu tidak membutuhkan dokter.”


Awalnya Galaksi mengernyit tidak mengerti namun ia tersadar beberapa detik berikutnya.


Melihat ekspresi perubahan di wajah Galaksi, Nasha langsung menutup mulutnya.


Kenapa aku mengatakannya? Aku benar-benar merusak suasana. Batin Nasha.


“Mengapa kamu tidak mencari tahu sendiri?”


Galaksi bergerak menjauh dan duduk di tepi ranjang.


Nasha memaki pelan karena ia sudah merusak suasana.