Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 43



Nasha baru saja keluar dari toilet. Saat ia berjalan di lorong tangannya langsung ditarik menuju sebuah ruangan.


Nasha belum sempat berteriak. Tubuhnya dihempaskan begitu saja di tembok. Nasha mencium parfum yang sangat ia kenal. Matanya melihat sosok pria di depannya. Pria itu adalah Galaksi.


Galaksi mencium Nasha dengan paksa dan penuh hasrat. Pria itu menggigit bagian bawah bibir Nasha sehingga bibir itu bisa terbuka dengan mudahnya, memberinya akses untuk mencium lebih dalam.


Lidah Galaksi merambat masuk ke seluruh bagian. Dengan cepat, Nasha menampar pipi Galaksi membuat suara keras akibat tamparannya.


Ia seperti tersadar kembali setelah Galaksi membawanya seperti berada di alam mimpi tadi.


Matanya yang sudah berkaca-kaca menatap manik hitam Galaksi tajam.


“Apa yang kamu lakukan? Aku sudah menerima Edward seperti yang kamu inginkan dan aku mulai melupakan masa lalu. Jangan mendorongku lebih jauh lagi dalam kebingungan!”


Air mata Nasha menyakiti hati Galaksi.


“Tinggalkan kota ini,” ucap Galaksi dengan frustrasi.


“Mengapa aku harus meninggalkan kota ini? Keluargaku ada di sini.”


Nasha langsung pergi meninggalkan Galaksi yang masih membeku di tempatnya.


Nasha segera memanggil Edward dan memaksanya agar segera meninggalkan tempat itu.


“Kamu kenapa?”


“Aku tidak enak badan. Bisakah kita segera pergi dari sini?”


Edward mengangguk dan segera mengantar Nasha pulang. Sepanjang perjalanan Nasha tidak mengatakan sepatah kata pun.


Nasha menatap keluar jendela berusaha mengalihkan pikirannya yang makin berkecamuk itu.


“Kamu baik-baik saja?” Edward bertanya lagi, menyadari kalau Nasha tak kunjung menjawab pertanyaan beberapa menit lalu. Wanita itu sepertinya masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya, yang bahkan Edward sendiri tidak tahu.


Nasha menatap Edward, tersenyum, “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawabnya meyakinkannya.


Meski begitu, Edward tetap menggeleng dan bersikeras kalau Nasha pasti kenapa-kenapa. Lagi pula apa yang berusaha wanita itu sembunyikan? Semuanya terlihat begitu jelas.


“Apakah kamu mau mampir ke kedai es krim?” tawarnya, Edward tahu bahwa Nasha suka dengan es krim.


Nasha menjawab dengan sebuah galengan santai. “Tidak usah.”


Mendengar itu, Edward mengangkat alisnya. “Baiklah kalau begitu,” ucapnya dengan nada seakan menyerah.


Edward hanya tinggal selama seminggu setelah itu pria itu kembali ke negara asalnya.


Nasha kini tidak bertanggung jawab mengawasi produk baru yang dikelola oleh JN grup. Sehingga intensitas waktu untuk bertemu dengan Galaksi hampir tidak ada.


Wanita itu kini menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan juga hubungan jarak jauh dengan Edward.


Sebulan sudah ia menjalani kencan dengan Edward. Sesekali Nasha pergi untuk mengunjungi Edward terkadang pria itu mengunjungi Nasha.


Meski mereka berstatus kencan namun hubungan mereka lebih mirip seperti layaknya teman. Hanya intensitas komunikasi mereka yang lebih.


“Aku dengan ayah Galaksi dilarikan di rumah sakit,” ucap Edward.


“Benarkah?” tanya Nasha yang kini mengubah posisinya menjadi duduk di ranjang. Ia mengamati wajah Edward yang berada di layar ponselnya.


“Ya, kamu tidak tahu?”


Nasha langsung menggeleng. “Lain kali aku akan mengunjunginya.”


“Ya, itu terdengar bagus.”


Topik mereka pun berganti pada hubungan mereka.


Tiga hari kemudian saat Nasha ingin mengunjungi ayah Galaksi. Ia mendapatkan kabar dari Manda bahwa ayah Galaksi sudah meninggal.


Nasha tidak bisa bereaksi selain tangannya terkulai lemas. Ia segera mengambil kunci mobilnya.


Rupanya rumah Galaksi sudah ramai dengan orang. Nasha datang ketika ayah Galaksi sudah dimakamkan.


Ia melihat Manda dan Ale juga ada di sana. Semua orang yang mengenalnya terkejut melihat Nasha. Semua orang tidak menyangka bahwa dia akan muncul.


Ale yang melihatnya juga sangat terkejut. Nasha langsung mendatangi ibu mertuanya dan memeluk Amara.


Tanpa terasa Nasha ikut menangis dan merasa sedih atas kepulangan ayah mertuanya.


Nasha melihat Galaksi yang kehilangan jiwanya. Pria itu terlihat kesepian.


Saat Nasha ingin berpamitan, Bintang langsung memegang tangan Nasha.


“Kakak.”


Nasha langsung mengamati wajah Bintang yang sama sedihnya dengan ibunya.


Dan di sinilah mereka, di sebuah taman yang sunyi. Malam itu benar-benar sunyi, seolah tak ada harapan yang akan datang mendatang.


“Selain ibu dan kakak Galaksi, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”


“Kamu masih memiliki aku.”


Bintang langsung menatap Nasha dengan harapan.


“Apakah kak Galaksi masih bersikap dingin pada kakak?”


“Ya.”


“Apa maksudmu?” Nasha sempat tertegun.


“Kak Galaksi sangat mencintaimu dulu. Bagaimana bisa dia berubah dalam waktu kurun satu tahun.”


Nasha menggeleng, “Mungkin dia sangat marah padaku. Aku meninggalkannya dan waktu itu dia berkata jika aku pergi dia menyuruhku untuk tidak kembali.”


“Ketika kak Maya menghianatinya, dia tidak bisa melupakannya. Sekarang bagaimana dia bisa melupakan kak Nasha begitu mudah.”


...♡♡♡...


Kata-kata Bintang menghantui pikirannya. Di dalam kamar yang gelap, di atas tempat tidur yang luas dan tampak kosong, tubuh Nasha meringkuk. Matanya yang terbuka mengedip.


Ia mengubah posisinya meringkuk ke kanan lalu berubah lagi menjadi duduk. Ia menatap sekeliling ruangan sambil menghembuskan napasnya.


Di hari berikutnya, Nasha memberikan perhatian khusus pada Galaksi. Setiap kali ada kesempatan, ia akan bertanya tentang kegiatan apa saja yang dilakukan Galaksi.


Siang ini, Nasha meminta Adrian untuk menemuinya di salah satu kafe dekat dengan kantor Galaksi.


“Aku tidak tahu mengenainya setahun terakhir ini.”


“Apakah dia menyembunyikan suatu rahasia?”


Adrian menghela napas. “Aku benar-benar tidak tahu. Dia memang dulu mengatakan apa pun padaku tapi semenjak setahun terakhir dia jarang mengungkapkan apa pun padaku.”


“Apakah dia memiliki perilaku aneh?”


“Aku tidak terlalu memperhatikannya.”


“Mulai sekarang kamu harus memperhatikannya. Ceritakan padaku sedetail mungkin. Beritahu aku dia bertemu siapa dan dia pergi ke mana.”


“Baiklah tapi mengapa kamu ingin tahu?”


“Hanya ingin tahu saja.”


Nasha langsung menyeruput minumannya tanpa sepengetahuan mereka sepasang mata telah mengamati mereka berdua. Dia hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk bereaksi.


Saat Nasha keluar dari kafe dan hendak membuka pintu mobilnya sebuah suara menginterupsinya.


“Jangan campuri urusan orang lain. Identitasmu sekarang tidak lagi bisa meminta privasi Galaksi.”


Nasha langsung membalikkan badan dan melihat sekretaris wanita Galaksi. Nasha menyipitkan matanya.


“Kamu sendiri, siapanya Galaksi?”


“Aku sendiri yang tahu kehidupan Galaksi satu tahun terakhir. Nona Nasha, jangan mencoba untuk memasuki kehidupan Galaksi lagi karena keingintahuanmu bisa membuatnya menderita.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak bisa memberitahumu terlalu banyak. Aku hanya memperingatkanmu. Jauhi dia.”


Sore harinya, saat Nasha baru saja keluar dari perusahaannya. Ia melihat Ale tengah menunggunya.


Saat pertama kali melihat Nasha keluar, senyum simpul langsung tersungging di wajahnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Apakah kamu bebas malam ini? Aku ingin makan malam bersama.”


Nasha terdiam selama beberapa detik sebelum menganggukkan kepalanya.


Keduanya datang ke restoran jepang. Setelah memesan makanan, Ale bertanya dengan santai.


“Bagaimana kabarmu selama setahun terakhir?”


“Cukup baik.”


“Aku mendengar dari Manda bahwa kamu mempunyai kekasih baru.”


“Ya.”


“Apakah kamu menyukainya?”


“Jika aku tidak menyukainya bagaimana bisa menjadikannya sebagai kekasih.”


Tatapan Ale langsung berubah. “Ya, kamu menyukai orang lain kecuali aku.”


Nasha tidak tahu bagaimana harus bersikap.


“Aku lapar. Bisakah kita makan sekarang.”


Ale tersenyum getir. “Aku adalah orang yang tidak beruntung.”


“Kamu dan Manda sudah menikah. Tidak peduli seberapa baik dan buruknya kamu, tidak peduli apakah orang lain beruntung atau tidak. Kita tidak bisa mengubah takdir. Takdir kita hanya sebatas teman.”


Ale tertawa. Ia tertawa pada dirinya sendiri. “Ya, kita akan tetap menjadi teman di sama sekarang atau pun nanti jadi jika kamu punya kesulitan jangan sungkan untuk mengatakannya.”


Nasha mengangguk. “Ya, jadi bisakah aku makan sekarang?”


“Makanlah.”