Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 17



Nasha bersandar di pintu dan bersandar di sana. Matanya tertutup rapat. Ia tidak dapat mendengar suara dengan jelas di dalam. Ia terdiam karena merasa khawatir dan gelisah. Ia memberanikan diri untuk membuka celah di pintu agar mendengar obrolan mereka.


Sementara Nasha meratapi nasib ke depannya, di dalam ruangan itu. Galaksi menatap Maya dengan dingin dan memberi waktu wanita itu selama setengah jam untuk berbicara dengannya.


Maya langsung menunduk dan menangis. Ia perlahan-lahan mengangkat kedua kelopak matanya. Maya menangis semakin tersedu-sedu. Ia mulai menceritakan peristiwa beberapa tahun yang lalu yang tidak diketahui Galaksi.


“Empat tahun yang lalu, ketika pertama kali kamu memperkenalkanku kepada orang tuamu. Ayahmu menatapku dengan aneh. Ketika kamu pergi, ia beranya tentang status keluargaku. Aku tidak berpikiran aneh-aneh lalu aku menceritakan keluargaku. Sejak saat itu, perlakuan ayahmu terhadapku sangat dingin. Sampai suatu hari, ia menyuruhku untuk pergi dari hidupmu namun aku tidak setuju. Dia bahkan memberiku cek uang namun aku menolaknya karena aku mencintaimu. aku mengatakan padanya, bahwa aku mencintaimu dengan tulus bukan karena kekayaannya tapi dia bersikeras untuk mengusirku."


Galaksi membeku di tempatnya. tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.


“Pada saat itu, entah kebetulan atau tidak, ada orang mabuk yang menyeberang begitu saja. Ayahku tidak bisa mengendalikan laju truknya sehingga menabrak orang itu hingga tewas. Ayahku sangat ketakutan dan melarikan diri karena takut di penjara. Lalu ayahmu tiba-tiba menemuiku.” Maya menyeka air matanya.


“Aku tidak berharap ayahmu tahu tentang kejadian itu. Dia membantuku tentu saja dengan satu syarat.” Maya menyeka air matanya. “Yaitu meninggalkan kamu."


Galaksi langsung mengepalkan tangannya dengan kuat jelas sekali ia marah, namun ia tidak tahu marah dengan siapa. Ayahnya atau kah dengan Maya.


“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”


“Aku dan ibuku hanya bisa diam. Pada saat itu, yang aku pikirkan hanya lah untuk menyelamatkan ayahku jadi aku memikirkan kata-kata ayahmu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku menangis sepanjang malam dan akhirnya melakukan pilihan tersulit dalam hidupku. Pada akhirnya, aku menyerah padamu.”


“Mengapa? Mengapa kamu tidak memberitahuku? Dan lebih mendengarkan kata-kata ayahku.”


Maya terus saja menangis dan Galaksi menghiburnya dengan memegang tangannya. Maya menatap mata Galaksi, wanita itu langsung berdiri dan menghadiri Galaksi. Ia langsung jatuh ke dalam pelukannya.


Nasha yang berada di luar, kakinya langsung merasa lemas. Ia melihat Maya dan Galaksi berpelukan. Ia tidak bisa marah, karena ia merasa tidak punya hak akan hal itu.


Galaksi keluar dengan wajah yang lesu. Nasya menghampirinya dan bertanya dengan keadaannya namun suara wanita itu seperti angin lalu.


Mereka pulang dengan suasana yang hening tanpa suara. Galaksi jelas tidak dengan suasana hati yang baik.


Sesampai di rumah, Galaksi meraung meneriaki ayahnya. kemarahannya jelas tampak di sana. Orang tuanya jelas bingung dengan sikap perubahan Galaksi. Orang tua Galaksi menatap Nasha berharap menjawab kebingungan mereka namun Nasha hanya diam.


Kemarahan Galaksi langsung meletus bagaikan gunung merapi. Ia melemparkan semua benda yang berada di sekitarnya.


Galaksi membuat raungan seperti orang gila, dan yang lebih menyakitkan adalah ayahnya mengakuinya.


“Ayahmu tidak melakukan apa pun, dia meninggalkanmu karena uang,” ucap Amara.


Senyum putus asa memenuhi wajah Galaksi.


“Aku akan pergi dan tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Karena kamu, aku kehilangan wanita yang aku cintai.”


Kalimat yang dilontarkan Galaksi tidak hanya menyakitkan untuk mertuanya namun menyakitkan juga bagi Nasha. Ia seperti orang bodoh dan linglung di sana sampai ia mendengarkan suara ibu mertuanya menangis.


Galaksi rupanya sudah pergi. Nasha langsung mengejarnya namun pria itu rupanya sudah menaiki mobil dan melaju.


Nasha terdiam di depan pagar, percuma ia mengejar kecepatannya tidak akan bisa menyusul Galaksi. Sampai pria itu menatap kaca spionnya dan melihat Nasha.


Pria itu langsung menghentikan laju mobilnya dan keluar dari mobil untuk menatap Nasha. Mereka saling diam. Galaksi diam dalam kebisuannya dan Nasha diam karena menahan tangisannya.


Nasha mengambil langkah pertama untuk menghampiri Galaksi. Pria itu langsung merasa sakit hatinya ketika melihat air mata Nasha. Ia mengulurkan tangannya dan membelai pipi Nasha.


“Apakah kamu akan meninggalkanku?"


Galaksi menggeleng pelan.


Keduanya tiba di sebuah apartemen. Ketika Galaksi membuka pintu, ruangan itu begitu luas dan mewah.


“Istirahatlah, aku keluar untuk melakukan sesuatu. Aku akan segera kembali.”


Nasha langsung mengangguk ringan dan melihat sosok Galaksi menghilang dari matanya. Ketika Galaksi pergi, Nasha langsung menghubungi Bintang dan memberitahu keadaan Galaksi agar mertuanya tidak khawatir.


Setelah menutup sambungan, Nasha langsung membaringkan tubuhnya yang kelelahan di atas sofa. Tidak tahu berapa lama ia memejamkan mata di sana, dengan samar-samar ia mendengar suara pintu terbuka. Ia tersadar dan membuka mata sampai melihat tubuh jangkung sosok pria.


“Kamu sudah kembali?”


Menatap pria itu, ia duduk dan mencoba tersenyum. Tidak lagi ingin bertengkar dengannya.


Galaksi mengusap puncak kepala Nasha. “Aku membelikanmu sesuatu untuk dimakan.”


Di meja makan, banyak berbagai jenis makanan. Dan semua itu adalah makanan kesukaan Nasha. Nasha mengambil satu suapan.


“Apakah enak?”


“Ya.”


“Kamu tidak makan?”


“Aku sudah makan di luar.”


Setelah makan, Nasha langsung membersihkan meja. Saat Nasha mencuci tangannya, Galaksi langsung memeluk Nasha dari belakang.


“Nasha...saya...”


“Jangan bicara. Jangan meminta maaf karena perkataanmu tadi.”


Galaksi belum selesai bicara namun wanita itu tahu apa yang ingin Galaksi katakan. Jelas Galaksi tertegun. Pria itu berpikir bahwa Nasha akan salah paham karena ucapannya tadi.


...♡♡♡...


Nasha baru saja keluar dari kantornya. Ia akan pergi ke kafe untuk membeli minuman yang mengandung kafein.


Langkahnya tiba-tiba mendadak. Ia melihat seorang pria. Nasha memutuskan untuk melangkah cepat sebelum, pria itu masuk ke dalam kafe.


“Ale.”


Kini mereka berdua sudah duduk berhadapan. Di depan mereka sudah ada kopi dan beberapa kue yang dipesan Ale untuk mereka berdua.


“Aku menantikan kamu mengajakku makan malam.”


“Aku terlalu sibuk,” ucap Nasha.


“Ya, bagaimanapun kamu sudah menjadi Nyonya Januartha. Aku sudah gagal menjadikanmu Nyonya Zildjianov.”


Ale memberikan pandangan yang dalam untuk Nasha. Sementara Nasha langsung mengalihkan pandangannya dan berdehem keras.


"Menurutmu bagaimana Manda?”


“Dia baik.”


“Apakah kamu tahu, ada orang yang dia sukai?”


Ale langsung menggeleng pelan. Nasha menghela napas. Ia bertanya kembali apakah dia penasaran namun Ale malah mengangkat kedua bahu seolah tak acuh. Nasha ingin sekali memberitahukan Ale bahwa pria yang disukainya adalah dia. Namun demi Manda, ia mencoba menahannya.


“Jelas itu bukan aku. Dia tahu aku menyukaimu.”


“Jika orang yang disukai adalah kamu, apa yang akan kamu lakukan?”


Ale mengajukan pertanyaan yang rumit. “Apakah kamu menyukai pria yang menyukai wanita lain?”


“Apakah kamu menyukai wanita yang sudah bersuami?”


“Ya, hati tidak punya cara untuk mengendalikannya.”


Nasha menggelengkan kepalanya dengan canggung. Tangannya terulur untuk mengambil satu suapan cake besar.


“Apakah kamu baik-baik saja?”


Memikirkan Maya, mata Nasha menjadi sedih. Bahkan jejak kesedihannya masih tampak terlihat.


Nasha menjawab bahwa dirinya baik-baik saja namun Ale tidak percaya akan hal itu.


“Benarkah? Aku dengar kamu tidak terlalu baik.”


“Darimana kamu dengar? Dari Manda?”


“Aku bisa melihatnya dari mataku sendiri.”


“Ho ho. Benarkah?”


Nasha mencondongkan badannya dan melebarkan matanya untuk dapat dilihat Ale.


“Lalu kamu harus memperhatikan mataku,” ucap Nasha.


Seakan terpesona dengan kecantikan mata, bibir dan wajah Nasha. Ale membeku seketika.


“Cantik,” gumam Ale.


Nasha langsung mengedipkan matanya dengan linglung. Ia langsung memperbaiki posisi duduknya.


Setelah makan siang, mereka pergi bersama untuk kembali ke kantor. Ale tidak lagi mendengar langkah suara di belakangnya dan ia bergegas berbalik.


Ale langsung mendekati Nasha, jelas ia sangat khawatir karena wanita itu tidak terlihat baik-baik saja.


“Sepertinya aku alergi.”