Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 30



Nasha segera menggeleng-gelengkan untuk menepis bayangan Galaksi. Ia berusaha kembali fokus dalam pekerjaannya. Namun sosok pria itu tak kunjung menghilang dari benaknya. Nasha tak pernah menghilangkan Galaksi dari benaknya.


Saat Nasha mengetik di laptopnya tiba-tiba ia melihat fotonya bersama Galaksi. Ia memperhatikan foto Galaksi. Tatapan hangat dari mata indahnya dan senyum tulusnya, belaian tangannya, suaranya dan semua hal tentang Galaksi, Nasha rindu.


Nasha menggeleng dengan keras untuk menepis pikiran dalam benaknya. Ia menggigit bibir bawahnya. Hatinya penuh dengan kerinduan. Pria itu, sampai sekarang belum mengabarinya. Padahal Galaksi sudah pergi beberapa hari.


Setelah hari menjelang sore, Nasha langsung pergi ke meja Manda. Nasha ingin berkunjung ke rumahnya karena kebetulan kemarin adalah hari ulang tahun Manda. Nasha hanya mengucapkan selamat dan belum memberikan hadiah.


Nasha mengajak Manda ke mall dan membelikan tas bermerek untuk hadiah. Setelahnya mereka membeli makanan dan minuman untuk dibawa ke rumah Manda.


“Duduklah, aku akan berganti baju.”


Nasha menunggu Manda dengan mempersiapkan makanan yang mereka beli tadi. Rumah Manda benar-benar bersih, karena memang tidak ada pernak-pernik yang menghiasi. Khas rumah mini malis pengantin baru.


“Kamu mempersiapkannya?” tanya Manda yang kini sudah bergantian pakaian.


“Tentu.”


“Terima kasih hadiahnya tadi. Huh, harusnya aku pilih saya yang paling mahal.”


“Hei Ale pasti membelikanmu yang mahal. Aku penasaran hadiah apa yang Ale berikan padamu?”


“Pria itu bahkan tidak tahu hari ulang tahunku,” keluh Manda.


“Kamu tidak memberitahunya tentu saja dia tidak tahu.”


“Aku sudah mengatakannya sampai dua kali lalu dia hanya berkata, Oh. Bahkan yang lebih menyakitkan adalah yang terakhir kalinya.”


“Bagaimana kamu mengatakannya?” tanya Nasha penasaran.


“Aku membawakannya secangkir teh dan berkata bisakah dia pergi denganku sepulang kerja karena aku ingin merayakan hari spesial. Coba tebak apa yang dia katakan?”


“Apa yang dia katakan?”


“Dia bilang dia bukan anak tiga tahun yang harus merayakan hari spesial setiap saat.”


Nasha mendengarnya dan tertawa, “Dia mengatakan itu. Kamu harus lebih terus terang dengannya. Seharusnya kamu mengatakan bahwa hari itu adalah hari ulang tahunmu.”


Manda langsung menggeleng, “Jika dia punya perasaan denganku maka dia harus mengerti apa yang aku maksud.”


“Ale bukan tipe pria yang mengerti akan kode-kode dari wanita. Ale itu sama halnya dengan Galaksi.”


Nasha dan Manda menghabiskan makanan mereka sambil bercerita tentang kehidupan mereka dan tak jarang membicarakan orang yang mereka cintai. Siapa lagi kalau bukan Galaksi dan Ale.


Nasha menghabiskan sorenya di rumah Manda. Malamnya ia pamit takut bahwa Ale akan pulang dan pada akhirnya ia akan menganggu pasangan pengantin baru.


“Aku harus pergi.”


Sepulang Nasha tak berselang lama, Ale pulang. Ale pulang sekitar jam sepuluh malam. Pria itu selalu pulang jam sepuluh malam. Entah apa yang dikerjakan Ale padahal mereka satu kantor tapi Manda bisa menghitung dengan jari berapa kali mereka bisa pulang bersama.


“Apakah kamu ingin langsung mandi?” tanya Manda.


Ale mengangguk. “Ya.”


Ale tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Pria itu ke kamar mandi. Duduk di ruang tamu sambil menonton televisi, Manda mendengar bahwa Ale memanggilnya.


“Apa?” tanya Manda.


“Tolong ambilkan aku ponsel.”


“Kamu ingin mandi sambil bermain ponsel?” tanya Manda.


“Aku harus memanggil seseorang. Ini sangat penting.”


“Di mana ponselmu?”


“Di laci ruang kerjaku.”


Manda mengambilnya dengan banyak keluhan. Ia dengan enggan berjalan masuk ke ruang kerjanya. Menarik laci pertama, tidak ada ponsel Ale di sana. Begitu pula di laci kedua.


Manda menarik laci ke tiga, di sana tidak ada ponsel Ale namun ada kotak hadiah yang indah dengan kartu ucapan di sampingnya.


“Selamat ulang tahun.”


Manda tiba-tiba merasa senang. Dengan rasa penasaran yang menggebu, wanita itu dengan segera membuka kotak itu.


Mata Manda langsung membulat sempurna saat melihat cincin yang indah. Saat pernikahan Ale tidak memberikan cincin pernikahan jadi saat ini ia teramat bahagia menerima hadiah cincin itu.


“Ini terlalu indah dan ukurannya pas.”


Saking bersemangatnya, Manda langsung berlari untuk menemui Ale dan mengucapkan terima kasih. Tanpa sadar Manda membuka pintu kamar mandi.


Ale terkejut melihat Manda yang membuka kamar mandi padahal dia sedang mandi. Entah Manda sadar atau tidak, Ale benar-benar malu. Ale berusaha menutupi bagian tubuhnya dengan tangannya.


“Ups maaf. Aku terlalu bersemangat,” ucap Manda dan segera menutup pintu kamar mandi tersebut.


Di balik pintu, Ale dan Manda sama-sama malu. Ale yang malu karena tubuhnya dilihat Manda dan Manda yang malu karena kecerobohannya.


“Dia terlihat seksi saat manda. Astaga apa yang aku pikirkan.”


...♡♡♡...


Nasha terus menatap ponselnya yang selama tiga minggu ini yang jarang berdering. Nasha sakit hati, marah dan merasa sedih karena sudah tiga minggu ini, Galaksi hanya menghubunginya sekali.


Berangkat ke kantor terasa membosankan sekarang.


“Katanya dia di sana sebulan. Berarti dia akan kembali minggu depan kan? Masih lama.”


Nasha memeriksa kalender mini di mejanya dengan wajah tak bersemangat kemudian menghembuskan napas panjang. Jika dipikir-pikir Galaksi sudah keterlaluan. Bagaimana bisa dia mengabaikan istrinya.


Nasha merasa bosan karena harus makan siang sendirian. Biasanya Galaksi akan datang ke kantornya untuk makan malam. Atau jika Galaksi ada meeting, Nasha akan mengajak Manda makan siang di kantin kantor.


Nasha sudah tidak makan di kantin kantor seminggu yang lalu karena tidak mau makan sendirian. Ia tidak enak mengajak Manda lagi, karena wanita itu kini selalu makan siang bersama Ale. Nasha tidak ingin mengganggu hubungan mereka yang kian membaik dan mesra.


Menunggu kepulangan Galaksi seminggu lagi, begitu menyiksa Nasha. Seminggu itu adalah waktu lama. Untungnya Nasha mampu melewatinya mesti penuh dengan keluhan.


Pada hari kedatangan Galaksi, Nasha sudah menunggu Galaksi di bandara lebih awal. Setelah melihat Galaksi keluar dari pintu keluar VIP, pria itu melambaikan tangannya.


Nasha melihatnya dan langsung berlari. Ia tidak bisa menahan kegembiraannya. Nasha langsung melompat dan memeluknya. Kedua kakinya melilit di pinggang Galaksi.


“Aku merindukanmu,” ucap Galaksi.


“Aku bahkan sangat-sangat merindukanmu,” ucap Nasha.


Mereka lalu pulang ke kediaman rumah orang tua Galaksi. Ibunya sudah menyiapkan makan malam besar.


Amara menaruh makanan kesukaan di piring Galaksi sambil berkata, “Ayo makan lebih banyak. Bagaimana bisa kamu sekurus ini.”


“Apakah kerja sama di sana berjalan baik?” tanya Ayah Galaksi.


“Ya, berjalan dengan lancar.”


Setelah makan malam, Nasha dan Galaksi pulang ke penthousenya. Setelahnya, Nasha langsung membongkar koper Galaksi, mengaturnya.


“Mandi lah, kamu pasti sangat lelah.”


“Ya.”


Galaksi bergegas ke kamar mandi, berdiri di bawah pancuran. Membiarkan air dingin membasahi tubuhnya. Ketenangan sebulan telah membuat hatinya tidak lagi terasa berat.


Saat melihat Nasha di bandara. Hatinya tiba-tiba merasa senang. Pikiran tentang rasa bersalah takut kehilangan dilupakannya di negara yang jauh dengan seiring berjalannya waktu.


Galaksi diam-diam memutuskan untuk menyembunyikan rahasianya di dalam hatinya.


Saat Galaksi keluar dari kamar mandi, Nasha sudah selesai dengan pekerjaannya.


“Duduklah aku akan membantumu mengeringkan rambutmu.”


Galaksi duduk di pinggir ranjang sementara Nasha berdiri di depannya dengan tangan memegang pengering rambut.


Galaksi mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang ramping Nasha.


“Sudah selesai,” ucap Nasha sambil meletakkan pengering rambut di nakas yang ada di sebelahnya.


Nasha mengulurkan tangannya untuk menatap rambut Galaksi. Pria itu terlihat seksi dengan rambut berantakan.


Dipisahkan selama sebulan membuat mereka saling merindukan. Galaksi mendongakkan kepalanya sementara Nasha menundukkan kepalanya.


Perlahan Nasha menunduk ingin mencium bibir Galaksi tapi saat bibir mereka hanya berjarak beberapa senti, Galaksi menghentikannya. Pria itu mendorong Nasha pelan.


“Galaksi...”


Nasha melihatnya dengan bingung, ia tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba menjadi seperti itu.