
Nasha mengedipkan kelopak matanya yang tampak bingung.
“Apakah hobimu sekarang meninggalkan rumah?” Galaksi menyindir dengan pertanyaan itu.
“Aku meninggalkan rumah ada alasannya.”
“Karena Edward.”
“Ya.”
“Kamu! Kami meninggalkanku karena pria lain? Nasha kamu benar-benar.”
“Kamu salah paham.”
“Apa yang aku salah pahami? Kamu sendiri yang bilang kamu pergi ke pria lain!”
“Maksudku tidak seperti itu. Sudahlah aku benci pertengkaran.”
“Bukannya kamu yang memulai pertengkaran?”
“Kapan? Kamu yang memulainya.”
“Bagaimana bisa kamu meninggalkan suamimu?”
“Cukup! Aku benar-benar tidak ingin bertengkar denganmu. Kenapa kamu tidak pernah mempercayaiku? Padahal aku mempercayaimu, bahkan saat kamu bersama Lea.”
“Kenapa kamu membawa nama Lea?”
“Kamu sendiri bisa membawa Edward, kenapa aku tidak bisa membawa wanita lain yang dekat denganmu!”
“Karen aku peduli padamu.”
“Jika kamu benar-benar peduli padaku, mengapa kamu harus cemburu dengan Edward.”
Nasha langsung menutup pintunya dan mengunci rapat-rapat. Ia sangat lelah dengan Galaksi. Pria itu benar-benar tidak bisa memahaminya.
Nasha mengintip ke luar dan Galaksi sudah pergi. Butuh waktu yang lama untuk merenung, apakah ia akan menelepon Edward atau kah ia langsung datang ke kantornya.
Ya, memang benar. Alasan Nasha datang ke sini untuk menyelesaikan urusannya dengan Edward. Ia tidak ingin menjadi wanita jahat yang mempermainkan hati seorang pria. Ia harus tegas untuk memilih.
Tak butuh waktu lama untuk Edward datang ke kediaman Nasha untuk sementara.
Begitu Nasha membuka pintu, seketika dada kokoh menabrak tubuhnya. Nasha merasakan sepasang lengan kokoh tengah melilitnya.
“Aku senang melihatmu. Kapan kamu datang?”
“Kemarin.”
“Kenapa tidak segera memberitahuku? Dan ada dengan rumah ini, kenapa tidak tinggal di apartemenmu?”
“Ada alasan khusus kenapa aku memilih tinggal di sini.”
Dahi Edward langsung mengernyit bingung namun detik berikutnya ekspresinya berubah senang.
“Aku sudah memasak makan malam.”
“Wah, terlihat menyenangkan.”
Nasha dan Edward duduk di ruang makan. Edward begitu takjub melihat makanan kesukaannya tersaji di atas meja. Apalagi orang yang memasaknya adalah orang yang ia cintai.
Impiannya selama ini sudah menjadi kenyataannya. Ketika ia pulang kerja akan ada orang tercinta yang akan menyiapkan makan malamnya.
Edward melihat Nasha menyiapkan makanan di piringnya. Ia begitu semangat untuk memakannya.
“Wah, ini enak sekali.”
“Kamu menyukainya?” tanya Nasha sambil menopang dagunya.
“Tentu saja, aku harap kamu memasak untukku setiap hari.”
“Ed, ini terakhir kali aku memasak untukmu.”
Edward tertegun, “Apa artinya itu?”
“Aku tidak bisa menikah denganmu.”
“Kenapa?”
Nasha menundukkan kepalanya dan berkata untuk waktu yang lama, “Karena aku tidak bisa melupakan mantan suamiku.”
Edward terkejut, “Bisakah kamu menerimaku?”
Nasha menggeleng lemah. “Maaf. Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, hatiku condong ke masa laluku.”
“Kalau begitu cobalah lebih keras lagi.”
“Ed, aku tidak bisa. Aku tidak bisa terus-menerus menerima perasaanmu. Aku merasa bersalah padamu. Kamu berhak bahagia dengan wanita lain.”
Edward jelas merasa sakit hati. Ada kesedihan di dalam matanya. Ia langsung menggenggam tangan Nasha dan meyakinkan wanita itu.
“Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu sampai kamu benar-benar menerimaku, sampai kamu lupa dengan mantanmu. Lima tahun? Sepuluh tahun? Aku siap!”
“Ed...aku...”
Edward langsung berdiri dan siap untuk pergi.
“Ed, aku belum selesai bicara. Mantan suamiku dia...”
Nasha langsung mematung melihat punggung lebar Edward pergi.
Tiga hari sudah berlalu sejak, Nasha memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Edward. Ia menghela napas dan duduk termenung di sofa ditemani secangkir teh hangat.
Malam ini cuacanya sangat buruk. Hujan deras disertai angin kencang sedang ribut di luar.
Nasha memalingkan wajahnya begitu mendengar suara ketukan pintu di luar. Dahinya mengernyit penasaran siapa gerangan yang bertamu di tengah hujan badai.
“Nasha buka pintunya! Nasha ada yang ingin aku katakan padamu.”
Nasha membukakan pintu dan tubuhnya lagi-lagi diterjang oleh dada bidang yang kokoh namun kali ini dada itu sangat basah karena guyuran hujan.
“Nasha, aku tahu kamu pasti akan keluar.”
“Masuk ke dalam dan mandi.”
Tidak ada pakaian pria di sana jadi Galaksi hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya sementara tubuh bagian atas dibiarkan terbuka.
Nasha membuatkan teh hangat untuk Galaksi.
“Minumlah.”
“Aku akan mencuci pakaianmu.”
Nasha yang berada di laundry room terkejut merasakan lengan-lengan kokoh melilitnya.
“Aku merindukanmu.”
“Jangan bilang kamu ke sini hanya untuk mengatakan itu.”
“Tidak ada hubunganku dengan Lea. Dia hanya mitra untuk perawatanku. Dokter mengatakan bahwa alasan mengapa aku menderita penyakit ini karena trauma oleh perginya orang kekasih yang telah menyebabkan rasa bersalah secara psikologis.
Perawatanku sangat sederhana, akan ada wanita yang mengenakan bajumu dan duduk di depanku lalu dokter menghipnotisku, membimbingku untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan dalam hatiku. Namun sayangnya itu tidak berhasil.”
“Dan wanita itu adalah Lea.”
Galaksi mengangguk pelan. “Karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa membayangkan orang lain sepertimu. Aku mencintaimu Nasha, aku tidak bisa hidup tanpa mu.”
Nasha langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat wajah Galaksi. Ia memandang mata yang melihatnya dengan kelembutan.
Saat Galaksi menunduk dan ingin mencium Nasha, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.
Galaksi langsung salah tingkah.
“Aku akan membuka pintunya.”
Nasha mengangguk tanda setuju.
Galaksi membuka pintu.
“Presdir Galaksi? Kenapa kamu ada di sini?”
Edward terkejut melihat Galaksi di sana apalagi dengan pakaian yang dilihatnya. Hanya menggunakan handuk. Pikiran Edward langsung berkeliaran.
Nasha yang baru saja keluar dari laundry room, langsung membeku. Saat mata Edward melihatnya, ia langsung terpaku dan suasana menjadi canggung.
Edward berpikir keras dan menarik garis sendiri.
Jadi pria ini adalah mantan Nasha. Batin Edward.
Edward langsung berjalan melewati Galaksi dan menarik tangan Nasha dengan suara suram ia berkata, “Ikuti aku.”
Nasha baru saja melewati dua langkah di depannya dan tangan Galaksi langsung meraih pergelangan Nasha yang lainnya. “Lepaskan istriku.”
Kemarahan Edward semakin menjadi. Edward langsung melepaskan tangan Nasha namun ia juga melepaskan bogeman keras di wajah Galaksi.
Edward kembali menarik lengan Nasha.
“Edward maafkan aku.”
“Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Kamu wanita jahat!”
Edward menatapnya dengan sedih, membuka pintu mobilnya dan menyalakan mesin lalu pergi dengan marah.
Di tengah hujan, air mata Nasha berjatuhan. Ia menangis sesenggukan.
...♡♡...
Di tengah ranjang, Galaksi mencoba untuk mengeringkan rambut Nasha yang basah.
Nasha terduduk lesu karena merasa bersalah pada Edward.
“Apakah aku wanita jahat?”
“Kamu bukan wanita jahat. Kamu menyelamatkan pria yang putus asa selama dua kali. Kamu adalah malaikat penyelamat.”
“Tapi aku menyakiti pria lain.”
“Itu bukan kesalahanmu. Itu salah pria yang mencintaimu yang jelas-jelas punya seseorang.”
“Aku ingin menyelesaikan masalah ini.”
“Aku akan menemanimu.”
“Tidak! Ini masalahku dengan Edward, aku akan menyelesaikannya sendiri.”