Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 10



Nasha tidak sadar jika ia meneguk ludah saat Galaksi memanggilnya dengan keras. Nasha mendongak dan menangkap tatapan Galaksi yang penuh dengan amarah.


Nasha bertanya kenapa ia semarah itu namun pria itu rupanya tidak membalas pertanyaan. Pria itu malah menarik Nasha untuk mendekat padanya. Mata Nasha menjelajah dengan penuh tanya.


Galaksi berdiri menjulang di hadapan Nasha sambil merapatkan tubuh Nasha lebih dekat. Nasha berjungkit kaget ketika Galaksi tiba-tiba menggigit tulang selangkanya.


Napas Nasha memendek dan bola mata wanita itu menggelap. Nasha bergerak gelisah di tengah ranjang.


Nasha jelas menatapnya tidak percaya dan Galaksi merasakan dorongan yang begitu besar. Dorongan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Nasha tersentak dan ia tahu reaksi selanjutnya adalah refleks kejut tubuhnya yang tidak terbiasa. Galaksi menekan kuat dan setengah memaksa untuk menerobos masuk.


Nasha berteriak kaget, tubuh wanita itu mengejang singkat. Ketika kebutuhan Galaksi semakin besar, Galaksi tidak bisa mengontrol dirinya. Galaksi menyurukkan kepalanya ke lekukan leher Nasha dan menggerung keras. Saat batas kendali, ia mengejang kuat, bergetar hebat atas kenikmatan yang ia dapat.


Setelah malam yang panjang dan penuh dengan suasana yang panas. Nasha keluar dari kamarnya dan memilih untuk pergi.


Saat matahari mulai merangkak naik. Galaksi membuka matanya dan merasakan tenggorokannya begitu kering. Ia duduk dan ingin mencari air putih tapi ia seperti kehilangan sesuatu.


“Nasha.”


Di tempat lain, Nasha duduk di kantornya. Pikirannya melayang pergi menjauh.


Nasha mengambil napas panjang dan menyibukkan sepanjang waktu untuk bekerja.


Bekerja adalah alat terbaik untuk melupakan masalah yang ingin ia hindari sementara waktu.


Nasha baru saja menyelesaikan rapat terakhirnya dan saat ini pekerjaannya sudah selesai ditambah lagi hari rupanya sudah sore.


"Nasha."


Nasha terlonjak pelan dan buru-buru meletakkan dokumen yang tadi di bawanya bersama ke ruang rapat dan menoleh tepat ketika pria itu melangkah masuk.


Jelas, Galaksi langsung mengara ke perusahaan Nasha begitu ia selesai dengan pekerjaannya.


“Apa...apa yang kamu lakukan di sini?”


Jantung Nasha berdebar kuat menyebabkan ia tergagap.


Bukannya menjawab pertanyaan Nasha, Galaksi malah bertanya balik. “Kenapa kamu pergi tanpa pamit?”


Ditodong oleh pertanyaan seperti itu, Nasha seperti seorang istri yang merasa bersalah karena meninggalkan rumah tanpa mengucapkan pamit.


"Apa?"


“Apakah berhubungan dengan kejadian tadi malam?”


Pria itu kini sudah berhenti di depan Nasha, sementara Nasha tidak mungkin menjauhinya. Pinggiran meja yang keras menekannya saat ia terus mengusahakan jarak tanpa harus terlihat kentara di mata tajam Galaksi.


Nasha menarik napas tajam ketika Galaksi mencondongkan badan. Kedua telapak Nasha kini menekan permukaan meja yang keras.


“Ayo pergi.”


Napas Nasha meninggalkan dadanya dalam bentuk helaan keras saat Galaksi menjauh darinya.


Saat Nasha bertahan di tempatnya. Galaksi mendekatinya kembali dan pria itu menangkap lengannya dan menarik Nasha merapat. Aroma Galaksi menyergapnya dan tiba-tiba ia merasa sesak.


Saat Nasha sudah berada di dalam mobil Galaksi, hanya terdengar suara mesin dan itu membuat Nasha merasa kebosanan.


Ia sesekali melihat keluar jendela dan mengernyitkan alisnya.


“Sepertinya ini bukan jalan untuk pulang?”


“Siapa bilang kita akan pulang.”


Nasha langsung bertanya dengan gugup dan Galaksi menatapnya tanpa berniat untuk menjelaskannya.


Mobil itu berhenti di pinggir jalan. Nasha melihat ke arah pinggir jalan yang banyak warung tenda di sana.


Nasha tidak pernah berpikir bahwa Galaksi akan membawanya ke warung tenda pinggir jalan.


Galaksi yang memimpin dan Nasha hanya mengikutinya di belakangnya. Angin malam membuat anak rambutnya sedikit berkibar.


Galaksi dan Nasha kini sudah duduk di warung tenda nasi goreng. Nasha melihat ke arah Galaksi dan berpikir apakah pria itu sedang berkencan saat ini.


“Ini bukan kencan.”


“Saya ingin bertanya apa hubunganmu dengan Juan?”


“Aku dan Juan hanya teman.”


Galaksi melihat mata Nasha dengan tajam.


“Munafik,” komentar Galaksi, bibir pria itu tertarik membentuk cibiran penuh ejekan.


Batin Nasha mengumpat. Kalau Nasha munafik lalu Galaksi apa?


Nasha membuang muka ketika nasi gorengnya tiba. Setelah makan di luar, Galaksi membawa Nasha pulang.


Setibanya di rumah, Bintang dan ibunya langsung tersenyum melihat Galaksi dan Nasha pulang terlambat.


Nasha menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh adik iparnya lalu langsung pergi ke kamarnya. Diikuti oleh Galaksi.


Nasha langsung memasuki kamar mandinya dan melepaskan kancing bajunya satu per satu kemeja kerjanya. Jelas di sana masih ada tanda keunguan yang samar.


Nasha menghela napas panjang. Itu semua ulah Galaksi.


...♡♡♡...


Di tengah malam, Galaksi tidak bisa tidur dengan tenang. Ia mencoba menutup matanya, senyum Nasha pun muncul di pikirannya.


Galaksi membuka matanya dan langsung duduk dengan kesal. Matanya tiba-tiba jatuh pada foto Nasha yang ada di nakas samping ranjangnya. Ia langsung menutup foto itu dengan kesal sebelum ia pergi menemui Nasha.


Nasha yang siap untuk tidur harus terusik oleh gedoran Galaksi. Wanita itu memilih untuk mengabaikannya namun semakin mengabaikannya semakin Galaksi seakan ingin merobohkan pintu itu.


“Apa?” tanya Nasha ketika membuka pintunya.


“Saya harus cepat-cepat memberikanmu bayi sebelum kamu ingin menceraikan saya.”


Suara Nasha tercekat di dalam tenggorokannya, begitu juga dengan napasnya. Ketika ia merasakan Galaksi dengan cara tidak sabar.


Nasha tidak tahu apa yang terjadi padanya. Ketika ia berada di dalam dekapan Galaksi, tubuhnya serasa bukan miliknya untuk dikontrol.


Nasha ingin mengucapkan sesuatu, seharusnya ia mengucapkan sesuatu tapi ia tidak bisa. Nasha merasakan jari Galaksi sudah merayap ke kancing teratas piyamanya dan mulai membuka bulatan kecil itu satu demi satu.


Mata Galaksi langsung membulat dan tampak terkejut.


“Apa yang terjadi pada tubuhmu? Apakah aku yang melakukannya?”


Nasha langsung menutup tubuhnya dan menggeleng pelan.


Galaksi seakan seperti dirinya. Dengan suara keras, ia langsung membanting vas yang ada di sampingnya.


Galaksi mengambil pecahan vas itu dan melukai tangannya sendiri. Nasha mengulurkan tangannya untuk menghentikan tingkah Galaksi namun pria itu seakan marah.


“Jika kamu tidak ingin terluka, cepat menghilang dariku!”


Nasha langsung pergi keluar kamarnya. Ia bersandar pada pintu yang tertutup namun saat ia ingin pergi ke lantai satu. Langkahnya terhenti saat mendengar suara yang begitu nyaring di dalam.


Nasha langsung membuka pintu kamar Galaksi dan melihat pria itu meringkuk di sudut kamar, matanya merah dan wajahnya pucat. Pakaiannya sudah penuh dengan darah.


“Galaksi, ada apa denganmu?”


Nasha ingin membantunya namun Galaksi dengan keras melarangnya mendekat


“Jangan menyakitimu sendiri.”


Nasha dengan cepat memanggil mertuanya. Dan Amara bertanya padanya. Nasha lantas menjelaskan kondisi Galaksi saat ini.


Ketika kata-kata Nasha baru saja selesai, ia mendengar suara menjerit. Mertuanya langsung bergegas ke kamar putranya.


Nasha melihat ibu mertuanya membuka laci tengah dan mengambil sebotol obat di sana.


Amara langsung meminumkannya pada Galaksi.


Perlahan-lahan suasana hati Galaksi stabil.


Amara melihat putranya yang sudah tenang di ranjang dan melihat Nasha.


“Ikuti aku.”