
Nasha mematikan lampunya dan bersiap untuk tidur, namun suara bel kamar hotelnya berbunyi. Ia sedikit menaikkan alisnya. Sebelum ia membuka pintu, ia mengintip keluar dan wanita itu terkejut melihat Galaksi sedang berdiri di depan pintu kamar hotelnya.
“Nasha! Buka pintunya! Saya tahu kamu di dalam.”
Galaksi berteriak sehingga membuat orang-orang terganggu. Dalam keadaan berharap, Galaksi terus meneriaki Nasha. Nasha ingin mengabaikannya namun orang-orang mulai berkumpul karena merasa tidak nyaman.
Nasha menarik napasnya dan membuka pintu kamarnya. Ia menarik Galaksi untuk masuk dan meminta maaf untuk orang-orang di sana karena sudah mengganggu waktu malam mereka.
Setelah Nasha menutup pintunya, Galaksi langsung memeluk Nasha dengan erat. Nasha membeku di tempatnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Menemuimu.”
“Jangan menemuiku jika kamu tidak menandatangani surat cerai itu.”
“Kamu! Saya tidak akan menandatangani surat sialan itu. Aku tidak akan melepaskanmu dan anak kita.”
“Apa katamu?”
“Apa pun hubunganku dengan Maya, itu adalah masa laluku. Masaku sekarang dan ke depannya hanya kamu dan anak-anakku.” Galaksi menunduk menatap mata Nasha.
Nasha menolehkan wajahnya ke samping dan Galaksi bergerak cepat untuk menahan dagu wanita itu dan memutarnya agar tatapan Nasha kembali padanya.
“Aku mencintaimu. I must be crazy but i really do.”
Nasha mengangkat dagu mungilnya dan melotot kesal pada Galaksi. “Pembohong.”
Galaksi mengeluarkan tawa frustrasi. “Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya memohon padamu agar menerimaku kembali.”
“Tidak, tidak...”
“Kalau begitu, kembalilah padaku.”
“Ya.”
Suara Nasha yang lirih seakan meluruhkan semua penderitaan yang dirasakan Galaksi. Galaksi menarik Nasha ke dalam pelukaannya.
"Kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu.”
“Benarkah? Lalu kenap kamu menemuiku sekarang. seharusnya kamu lebih berusaha lagi meyakinkanku. Setidaknya kamu bisa memaksaku untuk mendengarkanmu.”
“Apakah kamu lupa, kamu menyuruh pengawal sialan itu untuk menjagamu. Kamu bahkan membatasi dan tidak ingin bertemu dengan saya.” Galaksi menunduk untuk menatap Nasha gemas.
Wanita itu terkekeh pelan. Galaksi tidak ingin mengulangi kesalahannya.
“Aku tidak menyangkal bahwa aku pernah mencintai Maya di masa lalu tapi sekarang di masa kini dan masa depan aku hanya mencintaimu."
Nasha menatap Galaksi dengan secercah keraguan. “Apakah kamu benar-benar mencintai...”
“Saya mencintaimu. Galaksi mencintai Nasha. Jadi lain kali jangan menceraikanku hanya karena kamu cemburu buta.”
“Aku tidak seperti itu.”
“Ya, kamu seperti itu.”
“Aku...mmm.”
Nasha tidak sempat menyangkalnya karena Galaksi menunduk untuk menyambar bibir Nasha dan **********.
...♡♡♡...
Pintu mobil di samping kanannya ditutup. Yang pertama kali mengganggu adalah wangi chypre yang tiba-tiba berembus melewati hidungnya karena gerakan Galaksi saat memasuki mobil dan duduk di sampingnya. Kemudian ia merasa ingin melepas jaketnya namun ia urungkan saat ingatannya kembali pada peristiwa semalam, suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat.
Tiga hari berada di Jepang, Galaksi tidak henti-hentinya mengajak olahraga malam yang cukup menguras energinya. Memikirkannya membuat raut wajah Nasha memerah. Ia masih tidak ingin memalingkan wajah dari kaca jendela di sebelahnya.
Galaksi berdehem kencang, terlalu kencang sehingga membuat Nasha terkejut.
“Apakah pemandangan luar terlalu menarik sehingga mengabaikanku?”
“Ya.” Nasha mencebik setelahnya.
Galaksi mengulurkan tangan untuk meraih tangan Nasha. Nasha merutuki dirinya sendiri, ketika sekujur tubuhnya membeku hanya karena sentuhan sederhana dari Galaksi. Di momen itu, Nasha mengatakan peristiwa naas yang membuatnya kehilangan janinya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya. Galaksi menyakinkan wanita itu bahwa itu bukan salahnya.
Setiba di negaranya, Galaksi mengantarkan Nasha ke rumahnya setelah itu pria itu langsung pergi ke perusahaannya. Sesampai Nasha tiba di rumah, wanita itu langsung dicecar berbagai pertanyaan dari ibu mertuanya dan adik iparnya. Mereka berdua merasa kecewa dan juga senang, menantu dan kakak ipar mereka kembali.
Malamnya Nasha mendapatkan pesan dari Maya. Wanita itu mengajaknya untuk bertemu.
Nasha baru saja turun dari mobilnya dan kini ia menatap bangunan di hadapannya sebuah kafe yang menjadi saksi kesalahpahaman antara dirinya dan Galaksi. Ya, tempat itu adalah tempat dimana Nasha melihat Galaksi bertemu dengan Maya tanpa sepengetahuannya.
Nasha bergerak masuk dan melihat desain interior kafe yang memang terasa romantis.
“Sudah lama?” tanya Nasha pada Maya yang sudah duduk di bangku di sisi dinding kaca.
“Tidak juga.”
Mereka tiba-tiba terdiam dan suasana menjadi hening. Nasha tidak menyukai suasana seperti ini. Saat bibirnya terbuka, suara Maya membuatnya merasa tercengang.
“Kembalikan dia padaku.”
“Apa yang kamu katakan?”
“Aku bilang, kembalikan Galaksi padaku.”
“Kenapa aku harus mengembalikan Galaksi padamu?”
“Karena kami masih saling mencintai.”
“Saling mencintai? Apakah itu hanya perasaanmu saja apakah Galaksi yang memberitahumu?”
“Dia tidak perlu memberitahuku karena aku sudah cukup jelas mengenalnya.”
“Apakah kamu lupa? Kamu yang meninggalkannya.”
“Aku punya alasan untuk meninggalkannya.”
Nasha dengan percaya diri mengangkat dagunya. “Dan aku tidak punya alasan untuk mengembalikan suamiku padamu.”
"Akan aku pastikan dia akan kembali padaku."
Nasha berjalan ke luar dan langsung mengendarai mobilnya. Ia tak langsung pulang melainkan berhenti di sebuah taman. Ia berjalan di sepanjang jalan taman, menembus dinginnya malam.
Ia berjalan dengan lesu dan menundukkan kepalanya sehingga ia tidak menyadari langkahnya sendiri, akibatnya ia menabrak seseorang. Nasha langsung meminta maaf tanpa melihat orang itu.
Nasha terus berjalan dan menundukkan kepalanya.
“Apakah kamu mencari uangmu yang jatuh? Kenapa kamu selalu menundukkan kepalamu?”
Nasha langsung menghentikan langkahnya dan langsung berbalik. Saat matanya bertemu pandang dengan Galaksi, raut wajah Nasha jelas sangat terkejut.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Mengajakmu untuk makan malam,” ucap Galaksi.
“Kamu pasti tahu bahwa aku baru saja bertemu dengan Maya! Wanita itu menyatakan perang denganku!” kesal Nasha.
Galaksi tiba-tiba tersenyum. “Siapa pun yang menang, saya tidak peduli karena kamu lebih baik dari dia.” Galaksi mencondongkan tubuhnya.
“Lantas bicara dengan Maya bahwa kamu hanya mencintaiku.”
“Baik.”
“Sekarang!”
Tentu saja wajah Galaksi langsung terkejut. Namun ia mengubah ekspresinya dan langsung menyetujui permintaan Nasha. Namun pertemuan mereka ini tidak berada di kafe melainkan di hotel.
Sepanjang perjalanan Galaksi terus saja bertanya apakah Nasha akan baik-baik saja. Saat berada di tempat yang sudah dijanjikan, Nasha langsung bisa melihat wajah Maya yang terlihat berkaca-kaca.
Nasha lantas beralih menatap Galaksi yang mengambil kursi dan duduk. Tatapan pria itu dingin. Nasha duduk di samping Galaksi.
Wanita itu merasa gugup. Tentu saja ia takut bahwa Galaksi akan menyerah dan kembali ke dalam pelukan Maya.
Nasha kembali melihat Galaksi yang terus memandang wajah Maya. Tentu saja raut wajah Galaksi tidak seperti beberapa menit yang lalu. Pria itu sepertinya gugup. Tentu saja Nasha mengerti, kegugupannya karena menghadapi kekasih masa lalunya.
Setelah keheningan yang cukup lama, Galaksi berbicara.
“Aku akan memperkenalkanmu dengan istriku yang sangat aku cintai.”
Suara Galaksi membuat jari-jemari Maya menjadi dingin.
“Dia adalah Nasha. Kami hidup sangat baik dan bahagia sekarang. Aku tidak akan meninggalkannya karena siapa pun. Karena itu, aku harap kita tidak usah bertemu dimasa depan.”
Wajah Maya langsung pucat pasi. Keringatnya bermunculan di dahinya.
“Bisakah istrimu keluar, aku punya sesuatu yang untuk dibicarakan denganmu.”
Jantung Nasha langsung mencelus. Ia ketakutan karena ia merasa bahwa apa yang akan dikatakan Maya akan mengguncang emosi dalam hati Galaksi.
“Bicara saja, dia akan tetap di sini.”