
Galaksi sebenarnya ingin menjelaskan, tapi ia tahu sebelum ia menjelaskannya ia harus menenangkan suasana hati Nasha.
Galaksi tidak ingin membela dirinya sendiri, terlepas betapa ia juga terjebak oleh permainan Maya.
“Maaf. Nasha, aku sangat mencintaimu bagaimana aku bisa mengkhianatimu.”
Amara mengintip ke kamar Nasha. Ia melihat wajah menantunya dan putranya yang terlihat sangat sedih. Ia menutup kembali pintu kamar tersebut dan menunggu putranya untuk keluar. Amara harus mengetahui semua keseluruhan cerita dari putranya agar ia bisa mengambil sikap.
Beberapa jam menunggu di ruang tengah, akhirnya Galaksi keluar dari kamarnya. Amara langsung bergegas berdiri dan menghampiri putranya.
“Galaksi, apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan pada ibu. Aku tidak percaya kamu berbuat seperti itu.”
Amara memandangi putranya dengan cemas. Galaksi melihat ibunya dan ia menutup mata. Pria itu perlahan-perlahan menceritakan keseluruhan cerita yang bahkan ia tidak ingin mengingatnya.
Ketika Galaksi mengakuinya, betapa Amara juga ikut hancur hatinya. Ia sempat tidak percaya bahwa Maya akan berbuat seperti itu.
“Bagaimana bisa ia menggunakan trik semacam itu untuk menjebakmu?”
“Dia wanita gila.”
“Lalu jika dia benar-benar mengandung anakmu, apa yang kamu lakukan?”
“Aku yakin anak itu bukan anakku.”
“Kita harus memikirkan bagaimana harus menyelesaikannya,” ucap Amara.
Mereka berdua langsung mendongak begitu mendengar langkah suara kaki dari atas.
Mata Galaksi langsung membulat dan seketika ia berdiri. Ia melihat Nasha yang membawa tas sampingnya.
“Nasha, kamu mau ke mana?”
“Aku ingin pergi ke rumahku.”
Galaksi langsung menghentikan Nasha.
“Jadi kamu tidak bisa memaafkan aku?”
“Kamu pikir aku bisa memaafkan secara langsung? Aku butuh waktu.”
“Nasha,” ucap Amara mencoba memberikan nasihat.
“Ibu, aku mohon. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri.”
Setelah mengatakan itu, Nasha kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari penthouse. Galaksi ingin menghentikannya tapi Amara mencegahnya.
“Biarkan dia tenang dulu. Jangan khawatir tentang Nasha, dia adalah wanita yang kuat.”
Galaksi memijat dahinya dan sangat lelah dengan kehidupan yang kacau ini.
...♡♡♡...
“Apa kamu sedang ada masalah?” tanya ayah Nasha begitu melihat Nasha sampai di rumah. Ya, sebelumnya memang Nasha jarang sekali mengunjungi ayahnya, jadi Surya berpikir bahwa putrinya pasti sedang mengalami masalah ditambah lagi ia datang sendirian tidak bersama Galaksi.
“Apa berkunjung di rumah ayah berarti aku ada masalah?” tanya Nasha.
“Tidak! Tidak, ayah hanya merasa terkejut. Kamu jarang mengunjungi ayah.”
“Apakah ayah tidak senang aku di sini?”
“Tidak! Ayah sangat senang.”
“Aku akan menginap di sini untuk beberapa hari,” ucap Nasha lalu berlenggang pergi menuju kamarnya.
Saat ia naik tangga, ia berpapasan dengan ibu tirinya.
“Oh, Nasha kamu di sini. Kenapa kamu lemas tak bersemangat begini?” tanya Roseana.
“Tidak apa-apa.”
Saat ia memasuki kamarnya, ia melihat kamar yang luas itu. Masih sama persis, tidak ada yang berubah. Ia langsung membaringkan diri di ranjangnya. Sebuah deringan ponsel terdengar di sana.
Nasha melihat ponselnya, itu adalah panggilan dari Manda. Wanita itu pasti khawatir karena tidak seperti biasanya Nasha absen dari kerjanya.
Nasha tidak menjawab panggilan tersebut namun memberikan pesan bahwa untuk beberapa hari ia akan absen. Semua pekerjaannya akan dilimpahkan pada Manda.
Nasha mematikan ponselnya lalu membenamkannya di bawah bantalnya. Tak hanya itu, ia juga menenggelamkan wajahnya di bantal dan mulai menangis.
Meskipun anak itu tidak bersalah dan kelak akan dibesarkan Galaksi. Nasha akan melihat anak itu setiap hari dan itu bukti bahwa Galaksi sudah mengkhianatinya.
Nasha menangis hingga ia lelah dan tertidur.
Sebuah ketukan pintu membuatnya terbangun dari tidur panjangnya. Ia melihat ke sekeliling kamar, semuanya gelap. Ia mencoba melihat ke arah jendela, rupanya hari sudah mulai sore.
“Nasha, keluar lah sebentar. Makan malam sudah siap,” ucap Roseana dari balik pintu kamarnya.
“Aku tidak mau.”
“Kamu harus makan. Ayahmu sudah menunggumu di bawah.”
“Aku bilang aku tidak mau,” ucap Nasha sedikit membentak.
“Baiklah, aku akan menyuruh pelayan untuk membawakan makanan ke kamarmu.”
Nasha mendesah lalu ia mengubah posisinya menjadi duduk, setelah dirasa Roseana sudah pergi. Ia bangkit dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Surya langsung sedikit terheran saat Roseana turun sendirian. Pria paruh baya itu langsung menanyakan keberadaan putri satu-satunya.
“Di mana Nasha? Kenapa dia tidak turun?” tanya Surya.
“Dia di kamar dan tidak ingin makan malam tapi aku menyuruh pelayan untuk membawakan makanan makan malam ke kamarnya.”
“Anak itu, mungkin sesuatu sudah terjadi padanya.”
Saat Nasha baru saja keluar dari kamarnya, ia melihat seorang pelayan mengantarkan makan malamnya.
“Bawa makanan itu kembali. Aku tidak ingin makan malam,” ucap Nasha.
“Nyonya muda harus tetap makan. Saya sudah menyiapkan makanan kesukaan nyonya muda.”
Di tempat lain, Galaksi menemui Maya. Pria itu jelas sangat marah, itu tampak terlihat dari cara Galaksi memandang Maya. Pria itu melihatnya dengan sorotan mata yang tajam.
“Gugurkan anak itu,” ucap Galaksi.
Maya yang mendengarnya terkejut. Tangannya ia kepalkan sebagai wujud rasa kekesalan dan kemarahannya.
"Apa yang kamu bicarakan? Ini adalah anakmu.”
“Aku tidak peduli itu anak siapa.” Sungguh Galaksi sudah berada diambang kesabarannya.
“Kamu ingin Nasha memaafkanmu dengan cara menyuruhku menggugurkan bayi ini. Anak ini tidak bersalah, bagaimana kamu bisa mengatakan hal yang mengerikan itu. Aku yakin, Nasha tidak akan setuju dengan cara ini. Dia juga seorang wanita. Aku anggap aku tidak pernah mendengar ini.”
Maya langsung berdiri dan hendak pergi,
“Kamu memaksaku untuk bertindak sejauh ini,” ucap Galaksi dengan geram namun Maya tidak memedulikannya.
Galaksi menatap punggung Maya saat wanita itu pergi. Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat hingga menonjolkan urat-urat nadinya.
Keluar dari kafe, Galaksi enggan untuk pulang karena tidak ada Nasha di rumah. Galaksi mengemudikan mobilnya tanpa sadar menuju ke rumah mertuanya. Melihat bangunan yang menjulang tinggi, ia memandang sebuah jendela dengan cahaya kuning.
Matanya perlahan terasa perih. Betapa ia ingin berlari masuk dan memeluk istrinya.
Ketika angin mulai berembus, Nasha pergi ke jendela. Tanpa sengaja ia melihat sosok dalam kegelapan. Ia dapat dengan jelas melihat Galaksi ada di sana.
Melihatnya, ia tidak ragu-ragi untuk menutup tirai.
Galaksi sudah berdiri berdiam diri sampai dini hari sebelum masuk ke dalam mobil. Pria itu tidur di dalam mobilnya. Saat pagi telah menyambutnya, ia kembali mengendarai mobilnya menuju ke perusahaannya.
Ia sudah melakukannya selama tiga malam. Bahkan meskipun hanya bisa melihat jendela saja, Galaksi tidak bisa tidur jika tidak ke sini.
Nasha tahu bahwa Galaksi sudah berdiri di depan jendela selama tiga malam tapi ia mencoba menutup mata dan telinga.
Hari keempat, sebuah angin kencang datang bertanda bahwa akan ada hujan badai. Jendela sudah Nasha tutup dengan rapat. Wanita itu berbaring di ranjangnya. Ia mencoba menutup matanya namun pikirannya lari ke mana-mana.
“Galaksi pasti berada di luar bahkan jika lampu dimatikan. Pria itu tidak akan pergi.”
Angin kencang berlangsung beberapa menit dan akhirnya berhenti tapi dalam sekejap hujan datang dengan lebat.
Nasha langsung menyibakkan selimutnya. Perlahan ia berjalan ke jendela dan mengintai dari balik tirai.
Galaksi masih ada di sana. Tubuhnya sudah basah kuyup tapi bahkan pria itu tidak bergerak sama sekali.
Nasha kembali ke tempat tidurnya dan memaksakan dirinya untuk tertidur dengan cepat. Namun semakin ia memaksakan diri semakin ia tidak bisa tidur. Ketika ia menutup matanya, ia melihat bayangan Galaksi yang berdiri di tengah hujan.