Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 28



Setelah mengarungi lautan sehari semalam, Nasha kembali ke rutinitasnya. Bekerja, bekerja dan bekerja. Seperti biasa, setiap sore Nasha akan dijemput oleh Galaksi.


Pria itu akan rutin menjemputnya kecuali, dia benar-benar ada rapat penting yang benar-benar tidak bisa ditinggal atau pria itu bekerja lembur.


Galaksi dan Nasha meninggalkan kantor Nasha dan menuju restoran. Mereka berencana untuk makan malam di luar. Restoran yang direkomendasikan Galaksi benar-benar unik.


Bagaimana tidak, restoran itu berukuran kecil. Mejanya hanya ada dua dan bahan-bahan makanan tersusun tepat di antara salah satu meja dan dapur sehingga pengunjung dapat melihat proses pembuatannya dari awal sampai akhir. Tak hanya itu juga, rupanya juru masaknya adalah juru masak terkenal yang sudah menempuh pendidikan di prancis.


“Menarik kan?” tanya Galaksi.


“Baru kali ini aku ke restoran seperti ini. Sungguh luar biasa,” ucap Nasha. “Ah benar,” tambah Nasha seakan sedang teringat sesuatu.


“Ada apa?”


“Aku pinjam ponselmu.”


“Untuk apa?”


“Ponselku mati, aku hanya ingin memanggil Manda. Hm apa ada rahasia di ponselmu yang tidak boleh aku ketahui? Kamu masih berhubungan dengan Maya ya?”


Galaksi tidak tahu harus menangis atau tertawa, cara bicara Nasha benar-benar lucu. Apalagi jika ia cemburu dengan Maya. Tidak ingin melihat Nasha semakin kesal, Galaksi menyerahkan ponselnya padanya.


“Kamu cari tahu sendiri.”


Nasha mengambil ponsel Galaksi dan berseluncur di sana. Niat awal untuk menelepon Manda dilupakannya. Wanita itu sibuk melihat-lihat isi ponsel Galaksi. Terutama pesan dan galeri di sana.


Tampak normal di sana. Dalam pesan hanya ada pesan dari keluarga dan beberapa kolega terakhir pesan darinya. Dalam galeri juga sama. Tampak ada ribuan foto dirinya yang diambil candid.


“Kamu diam-diam memfotoku ya,” ucap Nasha sambil memperlihatkan fotonya yang diam-diam Galaksi ambil.


“Kamu begitu cantik, jadi aku tidak ingin ketinggalan setiap momen penting.”


Sementara Nasha sibuk dengan ponselnya, Galaksi memotong sebagian steiknya dan memberikannya pada Nasha.


“Terima ini. Makanlah dan letakkan ponsel itu untuk sementara waktu.”


Galaksi mendorong garpunya, hendak menyuapi Nasha. Wanita itu pun memakan daging yang disodorkan Galaksi.


“Hm, ini sangat enak.”


“Suapi aku juga, cepat. Aku ingin tahu bagaimana rasa masakan jika disuapi oleh istri.”


Ketika Galaksi merengek seperti itu, Nasha pun memotong satu bagian steik sapi miliknya dan mendorongnya ke depan Galaksi. Galaksi tersenyum dan memakannya dengan nikmat.


“Wah, keenakannya bertambah.”


Galaksi dan Nasha bertatapan dan tersenyum riang. Setelah makan, mereka langsung pulang.


Pada malam itu, seorang tamu tak diundang berkunjung. Begitu mereka sampai di depan penthouse Maya berdiri di depan pintu. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Nasha dengan tatapan yang penuh waspada.


“Aku tidak ada urusan denganmu, jadi minggirlah.” Maya berbicara dengan arogan.


Maya melewati sisi Nasha, memandangnya dengan jijik. Wanita lalu lantas berdiri di depan Galaksi.


“Galaksi, aku ingin bicara denganmu besok di tempat biasa. Aku harap kamu akan datang.”


Setelah mengucapkan niatnya untuk ingin bertemu dengan Galaksi, Maya langsung pergi begitu saja.


Nasha yang melihat tingkah aneh Maya langsung memberengut, “Wanita itu benar-benar.”


Nasha langsung memperhatikan Galaksi yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Apakah kamu ingin menemuinya?”


“Jika kamu mengizinkannya,” ucap Galaksi.


“Aku tidak akan mengizinkannya,” ucap Nasha sambil membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.


...♡♡♡...


Meskipun Nasha tidak mengizinkan prianya menemui Maya, namun pria itu saat ini sedang berada di luar. Galaksi beralasan bahwa dia akan menemui temannya. Entah temannya yang mana, pria itu tak menjawab dengan jelas.


Sebenarnya Nasha sangat penasaran, ia sempat berpikir untuk ikut Galaksi secara diam-diam. Namun gagasan itu ia urungkan.


Setelah mandi, Nasha berjalan menuju kulkas hendak membuka pintu kulkas untuk akan malam. Ia mengambil dua butir telur dan beberapa sayuran.


Saat Nasha mengambil mangkuk, tangannya tanpa sengaja tergelincir dan mangkuk itu jatuh pecah di lantai. Nasha langsung terduduk dan berniat untuk memungut pecahan tersebut namun tanpa sengaja tangannya malah tergores.


Di tempat lain, Maya dan Galaksi duduk saling berhadapan. Tidak ada pembicaraan di antara mereka sehingga membuat Galaksi jengah.


“Jika tidak ada yang ingin kamu katakan, aku akan pergi. Istriku sedang menunggu di rumah.”


“Tunggu.” Ada jeda di sana sebelum Maya kembali mengatakan, “Aku akan mencoba melepaskanmu.”


Alis Galaksi langsung mengernyit.


Matanya berkedip hanya untuk menyingkirkan air matanya yang mulai bersarang di pelupuk matanya. “Aku hanya ingin berpamitan dengan benar. Aku harap kita akan menjadi teman.”


Galaksi hanya menatap punggung Maya yang perlahan mengecil dari pandangannya. Untuk beberapa menit, pria itu tak beranjak dari sana. setelah ponselnya berdering dan itu dari Nasha, barulah ia keluar dari kafe tersebut.


Saat akan berjalan menuju mobilnya, ia menemukan Maya masih berdiri di pinggir jalan dekat kafe.


“Mengapa kamu belum pulang?”


“Aku sedang menunggu taksi.”


“Kamu ingin aku antar?” tawar Galaksi.


Maya langsung menolaknya. “Tidak perlu.”


Galaksi langsung mengangguk dan meninggalkan Maya. Pria itu berjalan lurus ke arah mobilnya. Ia membuka pintu dan duduk di kursi kemudian. Saat akan menyalakan mesin mobil, matanya tanpa sengaja melihat Maya yang dikelilingi oleh beberapa pria. Pria itu ada lima dengan wajah seperti preman.


Dengan kesal, Galaksi membuka pintu mobilnya kembali.


“Apa yang kalian lakukan?” teriak Galaksi.


Ia melihat Maya yang penuh dengan kepanikan dan juga ketakutan. Galaksi lalu beralih menatap beberapa pria itu.


Salah satu dari mereka menyugar rambutnya dan berkata, “Apa? Ibunya mempunyai hutang dengan kami. Kami hanya ingin dia membayarnya.”


“Berapa banyak dia berhutang?’ tanya Galaksi. Pria itu langsung mengeluarkan ceknya dan menuliskan beberapa nominal dan menyerahkannya begitu saja pada orang tersebut.


“Kamu sepertinya orang kaya. Apakah kamu pacarnya?” tanya salah dari kelompok itu namun Galaksi tidak menggubrisnya.


“Hei, kamu harus melayaninya dengan benar atau kamu akan kehilangan daddy sugar.”


Kata-katanya sampai di telinga Galaksi. Ia ingin sekali menghajar orang-orang itu namun ia urungkan dan menarik tangan Maya untuk menuju mobilnya.


“Terima kasih, aku akan segera membayarnya.”


“Tidak perlu. Aku membantumu karena kamu temanku.”


Dalam perjalanan pulang, Galaksi dan Maya tak saling berbicara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Saat sudah berada di parkir tempat tinggal Maya, mobil berhenti. Maya menawarkan diri agar Galaksi mampir sebentar namun pria itu menolaknya karena hari sudah malam. Maya terlihat kecewa namun ia langsung memperbaiki mimiknya.


Ketika Galaksi menyalakan mesin mobilnya, terdengar suara dering ponsel yang asing. Ia langsung menoleh dan mendapatkan tas Maya tertinggal di dalam mobilnya.


Mau tak mau pria itu kembali mengantarkan tas tersebut. Sesampai di pintu rumah susun Maya. Galaksi mengetuk pintu namun tak ada yang menyahuti. Ia mendorong pintu tersebut dan rupanya pintu tersebut tidak dikunci.


“Maya?”


Galaksi memanggil nama Maya beberapa kali namun lagi-lagi rumah itu seakan kosong. Galaksi meletakkan tas Maya di kursi ketika ia berbalik, ia menabrak Maya.


“Kenapa kamu ada di sini?”


“Tasmu tertinggal di mobil. Aku hanya mengantarkannya.”


Maya tersenyum malu, “Kamu sudah datang ke sini. Ingin segelas jus?”


“Tidak, aku harus pergi sekarang.” Galaksi menolaknya.


Maya langsung cemberut, “Jangan menghindariku. Bukan kah kita teman. Aku hanya ingin menjamu temanku.”


Melihat Galaksi yang terdiam, Maya buru-buru pergi ke dapur dan mengambilkan jus jeruk.


“Aku baru saja ganti baju, aku mendengarmu memanggil namaku, aku kira hanya ilusiku."


Galaksi mengambil jus dari tangan Maya dan langsung meminumnya.


“Dimana Daniel? Aku tidak pernah melihatnya.”


“Dia sering keluar kota untuk tampil.”


Galaksi mengangguk,” Dia sebenarnya lebih cocok bagimu dari pada aku.”


Maya menggeleng cepat. “Cinta tidak bisa dipaksakan.”


Galaksi meletakkan gelas tersebut. Jus terlihat tinggal setengah. Galaksi langsung bangkit berdiri dan pamit.


“Jaga dirimu, aku pergi.”


Tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya kabur. Maya langsung menghampirinya.


“Galaksi, apa yang terjadi padamu?”


Tubuh Galaksi terasa semakin lemas dan kesadarannya mulai turun. Satu-satunya yang ia ingat adalah Maya menuntunnya masuk ke dalam kamarnya.


Kemudian ia secara kabur mulai melihat bahwa Maya semakin dekat dengan wajahnya setelahnya ia sudah tak ingat lagi.