
Nasha menutup laptop kerjanya ketika ia sudah selesai menyelesaikan pekerjaannya. Nasha menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memejamkan matanya untuk merelakskan otot-ototnya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Kemudian, dalam matanya yang terpejam, ia menemukan wangi uap kopi hangat yang dominan sangat dekat dengan hidungnya.
"Kamu baik-baik saja?”
Nasha membuka matanya perlahan dan menemukan Manda tersenyum padanya dan meletakkan cangkir kopi di depannya.
"Kopi?"
"Terima kasih." Nasha meraih kopi itu dan menyeruputnya, sedetik kemudian Nasha melihat gelagat aneh dai Manda.
Nasha sudah paham bahwa Manda pasti ada sesuatu yang dikatakannya dan benar saja. Setelah bertanya dengan banyak drama. Manda rupanya ingin ke kafe korea sambil makan makanan pedas.
“Aku ingin makan makanan korea.” Suara Manda semakin terdengar rendah.
Manda sudah banyak membantunya dalam kehidupannya, jadi jika sekedar menemani Manda untuk hang out bukan masalah besar.
Nasha melangkahkan kakinya, menyejajar Manda keluar dari kantornya.
“Kamu tidak izin dulu sama Galaksi?” tanya Manda.
“Tidak perlu.”
Nasha memandangi jalanan malam yang terlihat gemerlap dengan lampu-lampu yang berwarna terang. Sekelebat ia memikirkan Galaksi secara tidak sengaja.
Ia lantas membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Ia memutar nomor kontak pria itu. Lalu menit berikutnya terdengar suara perempuan yang menyapanya.
Nasha berpikir bahwa ia telah memutar nomor yang salah dan dengan sengaja melihat nomor yang ia panggil. Bahwa benar itu adalah nomor Galaksi.
“Aku adalah istri Galaksi, siapa kamu?”
Sejenak tak ada suara apa pun di seberang lalu terdengar suara Galaksi. “Ada apa?”
“Apa dia selingkuhanmu?”
“Teman.”
“Apakah kamu punya teman perempuan? Aku pikir—“
“Dia istri teman saya.”
“Mengapa istri temanmu bisa mengangkat teleponku?”
“Aku tadi pergi ke kamar mandi dan meninggalkan ponsel saya di meja.”
“Kamu mencoba berbohong padaku? beri aku alamatmu. Aku akan ke sana.”
“Apakah kamu ingin menggunakan hak mu sebagai istri saya sekarang?”
“Ya,” jawab Nasha dan mematikan panggilannya dengan sepihak.
“Manda, pergi ke hotel X sekarang.”
“Huh? Kok ke hotel, buat apa?”
“Buat menangkap buaya darat.”
Setelah sampai di hotel, Nasha langsung keluar dari mobil Manda. Melihat Nasha yang terlihat sedikit kesal dan marah. Manda mengurungkan niatnya untuk menemani Nasha menangkap buaya darat.
“Kamu tidak ikut ke dalam?” tanya Nasha.
Manda langsung menggeleng. “Tidak, aku takut buaya. Aku pergi dulu.”
Nasha mengangguk. Setelah melihat mobil Manda berjalan. Nasha langsung melihat hotel yang ia pijak hotel X adalah hotel bisnis besar yang memiliki fasilitas lengkap.
Nasha menarik napas dan langsung memasuki lobi lalu tiba-tiba seorang pelayan datang.
“Selamat malam. Apakah anda nyonya Galaksi?”
Nasha mengangguk dan mengikuti pelayan tersebut. Nasha di arahkan ke sebuah ruang dan mendapati Galaksi sedang berbincang dengan seseorang. Nasha langsung menghampirinya dan menatap pria itu dengan tatapan tajam.
Nasha yang tanpa kata langsung tersenyum miring dan pergi begitu saja. Galaksi terlihat sangat kebingungan dengan tingkah Nasha yang menurutnya di luar perkiraannya.
Setelah pulang, Nasha langsung membersihkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi, ia melihat pantulan dirinya. Tubuhnya yang mungil dan indah. Sosok yang pas dengan porsinya. Ketika Nasha sudah berganti pakaian ia keluar dan menemukan Galaksi sedang duduk di sofa.
Galaksi yang mendengar suara pintu terbuka, matanya langsung bergerak ke arahnya. Nasha yang acuh tak acuh berjalan dengan santai seakan-akan tidak melihat kehadiran Galaksi.
Galaksi melihat Nasha dari atas sampai bawah dan tubuhnya seakan bergetar. Galaksi, pada akhirnya tidak tahan dengan dampak yang ditimbulkan kehadiran oleh Nasha.
Nasha langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya.
“Kenapa harus diam? Aku bukan manekin.”
Kedipan Galaksi dan jakunnya yang bergerak seakan memperlihatkan bahwa dirinya sedang bingung.
“Apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?”
“Bagaimana kalau saya mengatakan bahwa saya tidak bisa menahannya.”
Debaran jantung Nasha langsung berpacu lebih cepat.
.........
Galaksi mengulas senyum merasakan puncak kepala wanita itu menggesek dagunya saat Nasha berusaha menggerakkan kepala untuk menatapnya.
Galaksi mengencangkan pelukannya pada bahu Nasha dan menarik wanita itu agar kembali rebah di dadanya. Nasha menangkap senyum lebar yang jarang sekali Galaksi perlihatkan.
Napas hangat Nasha membelai kulit Galaksi dan pada akhirnya membuat Galaksi menutup jarak mereka. Bibir Galaksi pada akhirnya menempel di atas bibir Nasha. Galaksi berkata pada Nasha, bahwa dirinya sudah jatuh sejatuhnya pada Nasha.
Apa yang dipikirkan oleh Galaksi selama ini sudah dipatahkan semenjak hidup bersama Nasha. Wanita itu tidak sedingin itu, wanita itu tidak searogan itu, itu semua adalah tameng atau pertahanan untuk melindunginya sendiri.
“Saya sedang memintamu untuk mengubah pernikahan kita menjadi pernikahan yang sesungguhnya, Nasha.”
Ekspresi di bola mata Nasha beragam dan berganti-ganti.
“Lalu apa artinya tadi?”
“Saya hanya menguji.”
“Menguji?”
“Mengujimu dan menguji saya sendiri.”
Pria itu menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Nasha sudah berusaha untuk tidak terlalu memikirkan pernyataan pria itu dan berhasil bertahan hingga awal bulan ke enam pernikahannya. Lalu, kata-kata Galaksi kembali menghantui pemikirannya.
Suara pintu ruang kantornya yang terbuka mematahkan pikirannya.
“Halo.”
Manda menyapanya dalam suasana yang baik. Nasha melihat sikap Manda dan langsung bertanya. Manda mengajaknya untuk berjalan-jalan. Sebelum Nasha menjawab ajakan Manda seseorang sudah menolak ajakan Manda.
“Tidak bisa,” ucap Galaksi. “Ayo pergi,” tambah Galaksi.
“Pulang?”
“Ya.”
Nasha meraih tasnya dan mengikuti Galaksi. Nasha masuk ke mobil. Mobil berjalan secara perlahan dan berjalan dengan kecepatan rata-rata.
Tangan Galaksi terulur untuk mendapatkan sesuatu di dasbor depan. Galaksi mengambil makanan ringan di sana dan menyerahkannya pada Nasha.
Nasha melihat itu dalam waktu yang lama lalu melihat Galaksi. Nasha merasa sangat malu, ia tahu bahwa Galaksi sudah mulai ingin pernikahan yang sesungguhnya sementara ia bertujuan untuk mempermainkan pernikahannya.
Setelah tiba di rumahnya, Nasha langsung menuju ke kamar rahasianya. Tiba-tiba ia membuka pintunya dengan tidak sabar. Jelas Galaksi sangat kebingungan dan tersenyum kaku.
“Jika aku bilang, aku menyukaimu. Apakah kamu akan percaya?”
Galaksi terpaku di tempatnya.
Nasha langsung berbalik dan menutup pintu. Galaksi yang masih berdiri di dekat pintu, masih belum sadar dengan apa yang ia dengar barusan.
Keesokan paginya, Nasha mulai melarikan diri dari Galaksi. Di pagi hari ia bangun lebih awal dan berangkat ke kantornya. Di malam hari, ia kembali lebih lambat dan melakukan segala sesuatu untuk meminimalkan pertemuannya dengan Galaksi karena ia tidak tahu bagaimana bisa menghadapi pria itu.
Suasana hati dan perubahan sikap Nasha menarik perhatian Manda. Manda yang baru saja memesan kopi, langsung mendatangi Nasha yang duduk tepat di sebelah kaca transparan kafe.
“Apa ada yang terjadi akhir-akhir ini?”
“Tidak ada.”
Manda langsung meraih tangannya dan memaksa Nasha untuk bicara. Nasha melihat keluar jendela dan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum samar.
Sementara di tempat terpisah, Galaksi duduk di kantornya yang luas. Pria itu memegang ponselnya di tangannya dan membalik-balikkannya. Sudah tiga hari, Nasha menghindarinya. Ia tahu bahwa Nasha bersembunyi darinya,
Berpikir berulang-ulang, Galaksi mengirim pesan untuk Nasha. Setelah menunggu setengah jam ia sama sekali tidak mendapatkan balasan.
Ia langsung memutar ponselnya dan meneleponnya tapi tidak ada yang menjawab. Galaksi langsung berdiri dari duduknya....