
Galaksi yang duduk di sofa yang berada di kamarnya sedari tadi memicingkan matanya melihat Nasha yang terus mondar-mandir dari kamar ganti ke kamar mereka.
Wanita itu tak jarang meminta sarannya untuk memilih baju, tas dan juga sepatu. Hal yang paling menjengkelkan bagi Galaksi adalah Nasha meminta sarannya untuk memilih baju.
“Menurutmu yang kanan atau yang kiri?” tanya Nasha saat memperlihat kedua baju yang ia bawa.
Galaksi cukup selektif dalam memilih, ia membandingkan keduanya. Baju yang kanan memiliki belahan dada yang cukup rendah, jelas Galaksi tidak akan memilih yang itu.
“Kiri.”
Nasha langsung mengernyit dan melihat baju yang berada di tangan kirinya. Ia berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju.
“Aku tidak suka warnanya. Aku akan pilih yang kanan."
Galaksi langsung berdiri. “Tidak! Jangan pilih yang itu. Apakah kamu akan memarmerkan belahan dadamu?”
“Baiklah aku tidak akan memilih dari keduanya,” Nasha berdecap.
“Sebenarnya, kamu ingin ke mana?” tanya Galaksi yang ikut mengekori Nasha ke kamar ganti.
“Malam ini, aku akan menemani ibu ke pesta.”
Galaksi langsung menyusuri barisan baju Nasha yang berjejer rapi di rak pakaian. Pria itu memilihkan gaun untuk istrinya.
Sementara Nasha memakai baju dan mengubah dirinya, Galaksi melanjutkan bacanya yang sempat terhenti.
“Bagaimana menurutmu?”
Galaksi langsung mendongak ketika suara Nasha melintasi indra pendengarannya. Matanya tampak tersihir oleh kecantikan Nasha. Pria itu langsung berdiri dan bertepuk tangan seperti orang linglung.
“Istriku benar-benar cantik.”
Tepat jam delapan malam, Nasha dan ibu mertuanya sampai di pesta. Ini bukan kali pertamanya menghadiri pesta namun ini adalah kali pertama ia menghadiri pesta dengan ibu mertuanya, Amara.
Ia berjalan ke aula bergandengan tangan dengan ibu mertuanya. Semua orang menyapanya dan senyum Nasha tak pernah lepas dari wajahnya yang mungil.
Tiba Amara dan Nasha berhenti dan menyapa.
“Amara, aku sudah lama tidak melihatmu. Apakah dia menantumu.”
“Ya,” jawab Amara lalu melihat ke arah Nasha. “Nasha dia adalah teman ibu.”
“Halo bibi,” sapa Nasha.
Saat perjamuan makan dimulai, tiba-tiba Nasha mendapatkan panggilan dengan nomor yang tidak dikenal. Nasha langsung menjawab panggilan itu dengan rasa penasaran.
“Aku ingin bertemu denganmu.”
Nasha langsung menelan salivanya begitu ia mendengar suara Maya di seberang. Ia melihat ibu mertuanya yang masih sibuk berbicara dengan teman-temannya lalu ia meninggalkan ruang itu dan memilih tempat yang sunyi jauh dari keramaian.
“Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Nasha dengan suara yang lebih tenang.
“Tentu saja ada sesuatu yang penting. Jika kamu menolak, kamu akan menyesal.”
“Aku tidak ada waktu sekarang. Jika kamu punya sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan di telepon.”
“Kalau begitu aku akan pergi ke kediaman Januartha.”
“Jangan! Aku akan menemuimu.”
“Bagus, temui aku di sky kafe.”
Setelah berhasil pergi dari pesta itu, Nasha langsung bergegas pergi ke sky kafe untuk segera menemui Maya. Rupanya Maya sudah lebih dulu sampai di sana.
Wanita itu duduk dengan tenang sambil meminum es Amerikano. Nasha langsung mengambil kursinya dan menatap lurus ke arah Maya. Semenjak ia duduk, Maya tidak membuka percakapan sama sekali sehingga Nasha yang membuka suara terlebih dahulu.
“Apa yang ingin kamu katakan?”
“Sepertinya kamu lebih kuat dari dugaanku.”
“Apa maksudmu?”
Maya tersenyum miring lalu mencondongkan tubuh ke depan sambil berbisik, “Aku tahu kamu tidak bisa punya anak setelah kamu menjalani operasi. Bukankah kamu mengalami keguguran hebat.”
Mata Nasha langsung terbelalak untuk beberapa detik. Jantungnya langsung berdetak lebih cepat dari biasanya.
Rahasia yang ia kubur selama ini, bagaimana bisa orang tahu. Bahkan ayahnya sendiri tidak tahu. Ya memang dokter mengatakan bahwa ia akan sulit untuk mendapatkan keturunan, itu terjadi paska ia kehilangan calon bayinya dan mengharuskan diangkat.
“Jika aku jadi kamu, aku akan pergi. Kamu rupanya orang yang tidak tahu malu.”
Tubuh Nasha langsung gemetar, itu mempengaruhi emosinya. Ia merasa dipermalukan.
“Aku menyuruhmu untuk meninggalkannya.”
“Aku tidak akan meninggalkan Galaksi,” suara Nasha gemetar namun ia berusaha untuk tegas.
“Apakah kamu tidak tahu malu, kamu bahkan tidak bisa memberikan keturunan untuknya.”
“Kamu yang lebih tidak tahu malu karena ikut campur dalam pernikahan orang lain.”
“Nasha, apakah kamu tidak kasihan dengan Galaksi, dia juga pasti ingin keluarga yang lengkap jadi bukankah kamu seharusnya kamu meninggalkannya.”
“Kamu ingin aku meninggalkannya dan kamu akan pergi ke Galaksi. Apakah Galaksi akan menerimamu lagi? Kamu sepertinya terlalu percaya diri.”
“Jika dia tidak menerimaku, apakah kamu pikir kamu akan bisa bertahan. Setelah mereka tahu, pasti dia akan mengusirmu.”
“Jangan mengkhawatirkan aku. Masa depan orang tidak ada yang tahu. Sepertinya aku membuang waktuku di sini. Aku akan pergi.”
Nasha baru saja berdiri namun suara Maya membekukan tubuhnya. tubuhnya menjadi kaku di sana dan ia sama sekali tidak bisa bergerak sama sekali.
“Galaksi adalah pria yang menyukai anak-anak. Di masa lalu kami sering bertengkar mengenai anak. Dia ingin anak perempuan dan aku ingin anak laki-laki.”
Kata-kata Maya seperti pisau yang sangat tajam menghunus jantungnya. Nasha berdiri dan berusaha mengendalikan tubuhnya. ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Setidaknya ia akan berusaha terlihat sangat tegar di depan Maya.
“Apa ada lagi yang ingin kamu katakan?”
Maya terlihat terkejut, ia sudah banyak bicara dan berusaha membuat Nasha terprovokasi namun wanita itu masih tetap terlihat tenang. Melihat Maya tidak mengatakan apa-apa, Nasha melihat dengan tajam ke arah Maya.
“Sekarang giliranku,” ucap Nasha sambil mengambil air di depannya dan menyiramkannya pada Maya. “Jangan terlalu berambisi.”
Nasha langsung bergegas keluar dari kafe tersebut. Nasha langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mobil Nasha berhenti di tepi jalan. Pikirannya kalut, ia sebenarnya takut.
Air matanya terus jatuh, isakkannya terdengar bercampur anginnya malam. Dalam kegelapan malam, orang-orang di sekitarnya tak ada yang mengetahui.
Di tempat lain, Galaksi merasa gelisah karena Nasha tak kunjung pulang padahal ibunya sudah pulang beberapa jam yang lalu.
Pria itu bahkan memarahi ibunya karena membiarkan Nasha pergi sendirian. Galaksi sedari tadi mondar-mandir dan mencoba menelepon Nasha beberapa kali namun tidak diangkat. Pria itu mendengus dan dengan perasaan kalut langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar.
Sebelum ia mencapai pintu rumahnya, pintu itu terlebih dulu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang selama ini ia khawatirkan.
“Kamu darimana saja?” tanya Galaksi dengan nada tinggi. Pria itu terlihat marah.