Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 45



Nasha merasakan tangan Galaksi yang menggenggam tangannya terasa semakin erat. Nasha membuka matanya dengan perlahan jelas sekali wajah tampan Galaksi tampak panik hingga rasa bersalah bersarang di hati Nasha karena sudah berbohong.


Ya, Nasha hanya berpura-pura saat ini.


“Nasha, apa yang terjadi padamu? Apakah kamu baik-baik saja?”


“Aku tidak apa-apa. Tapi kepalaku sedikit pusing.”


Galaksi tanpa berkata lagi langsung menggendong Nasha ke apartemennya. Ia membawa Nasha ke kamarnya.


“Apakah masih sakit? Kamu ingin pergi ke rumah sakit?”


tanya Galaksi dengan suara parau.


Nasha menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Hanya saya, bisakah kamu tetap tinggal di sini?”


Galaksi menatapnya sesaat dan melepas genggaman Nasha dari tangannya.


“Jangan seperti ini. Aku akan pulang sekarang.”


Melihat Galaksi yang akan pergi membuat Nasha sedikit panik. Nasha buru-buru menutup kembali pintu kamarnya yang sempat Galaksi buka setengahnya.


“Mengapa? Apakah aku sekarang tidak lagi menarik bagimu?” Nasha menatap Galaksi dengan raut wajah sedih.


“Nasha, jangan membuat masalah. Aku punya banyak hal yang harus kukerjakan.”


Nasha menatap wajah Galaksi. Ia hanya ingin membantu Galaksi bangkit dari ketepurukannya.


“Biarkan aku pergi.”


“Tidak!”


Galaksi tidak punya cara lain selain menarik Nasha ke samping dan segera membuka pintu kamar lalu melangkah keluar.


Nasha yang melihatnya langsung bergegas berlari dan menghadangnya.


“Apa yang ingin kamu lakukan?”


“Merayumu.”


Nasha langsung mendaratkan ciumannya. Ia mengalungkan kedua tangannya. Ciuman itu membuat suasana sehangat mentari dan sepanas bara, menggelitik keduanya dan membakar di saat yang sama.


Keduanya bergerak ke dinding. Tubuh Nasha terjepit di antara tembok dan tubuh Galaksi.


Galaksi menundukkan kepalanya. Ia membenamkan bibirnya dalam-dalam, menggigit wanita itu. Ia merapatkan tubuhnya dan menekan Nasha keras ke dinding.


Nasha yang sudah dikuasai oleh keinginannya tanpa sadar tangannya meraih sabuk Galaksi. Seketika tubuh Galaksi langsung membeku.


Tiba-tiba ekspresi Galaksi berubah dan mendorong Nasha menjauh hingga terjatuh.


Galaksi hanya menatap Nasha dengan kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain melarikan diri dan menenangkan dirinya.


Keesokan harinya setelah pulang kerja, Nasha memutuskan untuk mengunjungi mertuanya. Nasha mengetahui bahwa setelah ayah mertuanya meninggal, Galaksi sekarang tinggal bersama ibu dan adiknya.


Nasha meyakinkan dirinya sendiri sebelum mengetuk pintu berwarna putih itu. Tak berselang lama Amara menyambutnya dengan senang.


“Nasha!”


Amara langsung memeluk Nasha.


“Ibu, aku ingin kembali.”


Amara langsung menangis dan mengucapkan syukur. Ia sudah kesepian dan Nasha datang membawa harapan baru.


Nasha ingin kembali karena ia mempunyai dua tujuan. Pertama ia ingin merawat ibu mertuanya dan yang kedua ia ingin membuat Galaksi bisa keluar dari bayang-bayang trauma.


Nasha dan Amara saat ini sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Mereka berdua saling bertukar topik. Rumah yang awalnya sepi kini perlahan penuh warna.


Saat tepat pukul enam malam. Suara mobil terdengar dari luar. Untungnya semua makanan sudah selesai. Nasha dengan buru-buru pergi ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


“Kamu sudah pulang?”


Galaksi tampak terkejut karena ia tidak tahu bahwa Nasha akan pergi ke rumahnya.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Galaksi.


“Aku melihat ibu sangat kesepian jadi aku akan tinggal di sini beberapa hari ke depan.”


“Apakah kamu akan pindah ke rumahku?”


“Hanya tinggal beberapa hari.”


“Terserah.”


Setelah itu Galaksi melewati Nasha begitu saja. Nasha melihat punggung Galaksi dan menghela napas panjang.


Setelah makan malam, Galaksi langsung pergi ke atas.


Sementara Nasha menemani ibu mertuanya di ruang tengah. Mereka mengobrol dengan banyak topik mulai topik Bintang yang kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan pendidikannya sampai pada topik mengenai Galaksi.


Ibu mertua langsung menggenggam tangan Nasha.


“Tidak akan.”


Amara langsung memeluk Nasha sambil menangis.


“Nasha, aku benar-benar minta maaf.”


“Ibu, tidak perlu meminta maaf.”


Setelah menghabiskan waktu dengan ibu mertuanya, Nasha pergi ke kamar Galaksi itu tidur.


Ia membuka pintu kamar yang masih sama persis seperti dulu. Saat ia mengedarkan pandangannya tatapannya bertabrakan dengan mata Galaksi.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Tidur,” ucap Nasha santai.


“Ini kamarku. Jika kamu ingin tidur, pergi ke kamar sebelah.”


“Aku tidak mau,” ucap Nasha.


Galaksi langsung menatap Nasha dengan tatapan tajam. Melihat tatapan itu Nasha justru duduk di tepi ranjang. Melihat betapa keras kepalanya Nasha, Galaksi menghela napas panjang dan keluar dari kamar dengan membanting pintu kamar.


Nasha melihat ruangan yang seketika kosong dan sepi. Ia berdiri dan membuka pintu lemari. Ia melihat pakaiannya yang masih tertata rapi di sana.


Nasha langsung merasakan panas di kedua pelupuk matanya.


Di tengah malam Nasha mencari Galaksi yang berada di kamar sebelah. Ia diam-diam menyelinap masuk.


Ia dapat melihat bahwa Galaksi sudah terlelap di sana. Nasha dengan perlahan berbaring di samping Galaksi namun ia hanya bisa menatap pria itu.


“Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu sembuh?”


Tangan Nasha akan terulur untuk menyentuh wajah Galaksi namun terhenti di tengah udara.


“Maya memberikan obat yang mengerikan dan membuatmu trauma.”


Nasha ingin menarik tangannya kembali namun tiba-tiba Galaksi terbangun dan menarik tangan Nasha. Membalikkan wanita itu dan menekannya ke bawah tubuhnya.


“Ka...kamu bangun?”


“Apa yang kamu lakukan di tempat tidurku?”


“Tidur.”


“Kamu! Pergi sekarang!”


Nasha menggeleng. “Kita sudah berpisah satu tahun. Aku tidak akan pergi.”


“Nasha!”


“Mengapa kamu selalu menyuruhku pergi? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”


Nasha berharap bahwa Galaksi mengakui penyakitnya sehingga ia dapat membantunya.


Galaksi mencium pipi, hidung dan bibir Nasha sekilas lalu pria itu mampu merasakan cairan yang keluar dari mata Nasha.


“Nasha, aku tidak lagi seperti dulu. Aku tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar...”


Betapa Galaksi berani mengakuinya. Nasha langsung memeluk erat tubuh Galaksi.


“Aku tahu dan itu tidak akan jadi masalah.”


Tubuh Galaksi menegang. “Bagaimana kamu tahu?”


“Karena aku percaya bagaimana seorang Galaksi bisa membenciku dan tidak mencintaiku? Pasti ada sesuatu yang salah dalam otakmu.”


“Hei!”


Nasha tersenyum dan membelai rambut Galaksi dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Mulai sekarang, kamu tidak perlu menjaga harga dirimu di depanku. Kamu bisa mengatakan jika kamu berada dalam kesulitan.”


“Nasha, aku sudah tidak memiliki harapan lagi. Aku sudah berusaha, tidak ada cara lain lagi untuk aku bisa kembali seperti dulu.”


“Kamu hanya perlu yakin dan percaya.”


...♡♡♡...


Setelah rapat, semua staf berjalan keluar dari ruang pertemuan. Sementara itu, Nasha memijat pelipisnya yang terasa tegang, kemudian membaringkan kepalanya di atas meja.


Pikirannya jadi kelabu dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia memang terbiasa kurang tidur karena insomnia yang kronis, tapi sejak seminggu lalu ia benar-benar tidak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkan Galaksi.


Tiba-tiba di atas kepala Nasha terdengar suara Jini yang entah sejak kapan sudah masuk ke ruangannya.


“Ada apa?” Nasha mengangkat kepalanya dan menatap sekretarisnya itu.


“Seseorang ingin bertemu dengan Nona.”


“Siapa?”