
Nasha langsung bangkit berdiri dan pikiran gila langsung muncul. Entah dorongan apa namun Nasha sudah duduk di depan Galaksi.
Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengangkatnya lalu dengan pelan ia menyentuh pria itu.
Nasha merasakan jemarinya mengetat samar lalu kepalanya menunduk ke arahnya, bibirnya begitu dekat dan nyaris menyentuhnya.
Nasha menggodanya dengan hati-hati, dengan jemarinya yang bergerak naik-turun di sepanjang ukurannya yang berubah mengagumkan.
Racauan Galaksi membuat Nasha semakin gila dengan tindakannya.
“Cukup!” suaranya berat dan parau.
Galaksi menarik Nasha dan membaringkannya. Galaksi membuka kedua kaki wanita itu lebar dan menyusupkan dirinya di antaranya sementara tatapannya bergulir ke bawahnya.
Galaksi meraih miliknya dan mendekatkan ke belahan Nasha yang mengilat, menyentuh dan mengelusnya. Pria itu juga menggodanya.
“Tolong...tolong lakukan sesuatu.”
Nasha menggelinjang pelan ketika Galaksi menekan lembut seolah setiap tekanan membuat akal sehat akan menghilang.
Pria itu menyeringai senang ketika mendorong tubuhnya maju, menggosokkan dirinya pada lapisan yang menonjol indah. Ia memasuki wanita itu lebih dalam.
Galaksi menggerakkan gigi ketika mendorong maju. Melihat bagaimana wanita itu menenggelamkan, membungkus dalam kerapatan basahnya yang panas.
Galaksi tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Ia membenamkan tubuhnya dalam-dalam, memuaskan rasa lapar akan kebutuhannya.
“Aarggh!”
Jeritan wanita itu terasa seperti lagu dewasa yang seksi dan menggairahkan. Ia melenguh, merintih, dan mengerang.
Galaksi merunduk ke bawah, menyambar mulut Nasha, menggigit bibirnya lembut untuk meredam erangan protesnya.
Nasha kembali menjerit ketika Galaksi menghunjam masuk dan membentur bagian dalamnya.
Wanita itu terengah, sesak untuk bernapas ketika rasa penuh panas memenuhi perut bawahnya.
Pria itu menggigit kecil dadanya dan Nasha merasakan kupu-kupu beterbangan. Kupu-kupu itu mengantarkan kenikmatan yang mengalir dan mengantarkan denyutan lain ke tengah tubuh.
Nasha sudah tidak bisa menahannya lagi, ketika Galaksi mendorong maju dengan kuat, menghantam hingga ke ujung dalamnya.
“Galaksi...”
Suara wanita itu kembali terpotong ketika Nasha membebaskan diri dan mendorong sekali lagi. Kali ini dengan lebih keras, membuat Nasha menjerit pelan.
Galaksi tidak bisa mengontrol kebutuhannya sendiri. Jadi ia melepaskan tombol yang menahan dan membuat sisi primitif menguasainya.
Galaksi mulai bergerak cepat, mengentak lebih keras dan liar, memuaskan rasa laparnya.
Malam masih panjang dan Galaksi akan berada dalam berada dirinya lebih lama di kali kedua. Jadi Galaksi membiarkan tubuhnya mengalahkan pikirannya dan memenuhi Nasha mengalahkan pikirannya dan memenuhi Nasha dengan benih yang panas dan menyembur kencang jauh di dalam perutnya.
Galaksi masih merasakan sisa kenikmatan itu. Belum mereda sepenuhnya ketika ia berbaring di atas tubuh Nasha dengan bagian tubuhnya masih tertanam dalam dirinya.
...♡♡...
Galaksi senantiasa setia melihat wanita yang berada di sampingnya. Selimutnya terbuka setengah memperlihatkan buah dada dengan bintik merah jambu yang ia hisap sepanjang malam.
Dalam cahaya remang matahari pagi, desah napas teratur Nasha yang baru terlelap menjelang subuh naik turun.
Erangan pelan membuat Galaksi mengalihkan tatapan dari dadanya berpindah ke wajah cantiknya.
“Huh?”
Galaksi mendekat, menundukkan wajah dan menatapnya lekat.
“Selamat pagi. Bagaimana tidurmu?”
“Baik.” Nasha menjawab basa-basi sambil menarik selimutnya lebih tinggi.
Senyum muncul di wajah Galaksi lagi dan pria itu menangkap lengan Nasha lalu menekannya kembali ke ranjang. Bibirnya menyusuri pelipisnya, mencium anak-anak rambutnya dan kulitnya.
“I want to **** you again...”
Galaksi menekan bagian tubuhnya yang keras ke tengah tubuh Nasha. Wanita itu berjengit pelan dan senyum Galaksi kian melebar.
Nasha masih berbaring di ranjangnya sementara pria yang bernama Galaksi sudah berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu.
Ia ingin menghabiskan seharian di rumah. Beristirahat dengan tenang untuk mengembalikan energinya yang semalaman dikuras habis oleh Galaksi.
Sorenya, Nasha menemani adik iparnya untuk memberi saran untuk membeli beberapa baju di marketplace.
“Kakak, ini bagaimana?”
“Bagus.”
“Warna apa yang cocok untukku.”
“Aku pikir warna putih akan cocok untukmu.”
“Oke, aku akan langsung check out. Kak, aku akan membawa beberapa camilan dulu.”
“Ya,” jawab Nasha.
Nasha menoleh ketika terdengar suara sepatu yang tengah berjalan melewati pintu penthouse.
“Hai sayang.”
Galaksi menyapa ringan, tangannya bergerak untuk melonggarkan dasi saat berjalan ke arah Nasha. Tangannya terjulur, meraih tengkukku dan menariknya kemudian membenamkan bibirnya. Ciuman singkat yang keras lalu menjauh dan menatap dalam.
“Bosan?”
“Hmm.”
Nasha bergidik ketika pria itu menelusuri sisi leher Nasha dengan bibirnya.
“Aku tahu apa yang membuatmu tidak bosan. Pergilah ke kamar. Aku akan menyusulmu kemudian.”
Nasha menelan salivanya sendiri. Galaksi sudah tidak terjebak lagi dengan masalah psikologisnya namun pria itu semakin dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
“Huh? Kakak sudah pulang!” seru Bintang begitu melihat Galaksi.
“Ya.”
Namun Bintang seketika celingukan mengetahui kakak iparnya tidak ada di ruang tengah.
“Di mana kak Nasha?” tanya Bintang dengan bingung. Padahal ia sudah membawakan camilan dan rencananya ia akan memulai penghibahan.
“Dia sedang menjalankan misi rahasia.”
“Misi rahasia?”
“Ya, jadi jangan mencoba mengganggu kami.”
Galaksi langsung berjalan ke lantai dua untuk menyusul Nasha.
Nasha yang melihat Galaksi di ambing pintu kamarnya langsung berdiri.
“Di mana hadiahnya?” tanya Nasha.
“Hadiah?”
“Kamu menyuruhku untuk pergi ke kamar agar aku tak bosan. Bukankah itu artinya kamu menyiapkan hadiah?”
“Ya.”
“Lalu di mana hadiahnya?”
“Me.”
Nasha langsung mengernyit dan detik berikutnya paham dengan apa yang dimaksud oleh Galaksi.
Entah bagaimana dua manusia ini sudah tidak berpakaian dengan utuh.
Bertumpu pada kedua lutut dan lengan, Nasha menurunkan bahu sementara Galaksi kini meraih pinggul Nasha dan menariknya ke atas, membuatnya terkesiap pelan dan menjerit keras.
Pria itu bergerak maju, menghunjam cepat dan dalam. Tekanan kuat Galaksi memenuhi Nasha.
...♡♡♡...
Beberapa bulan kemudian.
Ketika Galaksi pergi ke kamar mereka untuk mengambil pakaian kantornya, Nasha ternyata tidak ada di kamarnya.
Galaksi mengira Nasha ada di kamar tapi begitu ia tidak menemukan wanita itu di sana, entah mengapa Galaksi menjadi khawatir dan mulai melihat ke sekeliling ruangan untuk mencarinya.
Kemudian ia mendengar suara tidak enak dari kamar mandi. Galaksi langsung menjulurkan kepalanya ke dalam dan menundukkan kepala dan muntah di kloset kamar mandi.
“Kamu kenapa?”
Galaksi hendak masuk ke toilet tapi Nasha mendorongnya dan menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Suara muntah-muntah yang menyakitkan pun terus terdengar dari dalam.
Sejenak Galaksi terdiam berdiri di depan kamar mandi dengan perasaan yang tidak enak. Sejenak suara siraman terdengar.
Kemudian wanita itu membuka pintu dan keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang sangat tampak pucat.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Galaksi dengan khawatir.
Nasha menggeleng pelan, “Sepertinya pencernaanku bermasalah.” Nasha menjawab dengan suara yang serak.
“Aku akan menyuruh pelayan membawakan teh hangat untukmu,” ucap Galaksi yang bergegas menuju dapur.
“Ada apa?” tanya Amara yang kebetulan berada di dapur.
“Bu, bisakah buatkan secangkir jahe hangat.”
Mendengar bahwa menantunya muntah di pagi hari. Amara terkejut dan segera pergi ke kamar untuk melihat kondisi Nasha.
“Nasha, aku mendengar bahwa kamu mual.
“Ya, pencernaanku sedang tidak baik.”
“Apakah kamu menstruasi bulan ini?”
“Menstruasiku tidak teratur, tapi bulan ini sepertinya belum.”
“Ayo periksa ke rumah sakit. Ibu akan mengantarkanmu.”