
Suara Galaksi terhenti saat Nasha tiba-tiba melangkah menghampiri. Ia berhasil membuat Galaksi menatapnya. Ia ingin sekali pria itu memberi sikap yang sedikit kooperatif padanya tetapi saat ini ia malah melihat gurat tegang di wajah pria itu.
“Orang yang melakukan kesalahan adalah kamu tapi mengapa kamu mengabaikanku? Mengapa kamu acuh tak acuh padaku.”
“Aku hanya melakukan apa yang kamu inginkan.”
Nasha langsung mendorong tubuh Galaksi dengan marah. “Berengsek.”
Lantas wanita itu segera berlari keluar. Air matanya mengalir keluar tanpa dikomando. Sementara Galaksi, hanya mampu terpaku di sana. Sinisme yang berada di bawah wajahnya kini telah tergantikan oleh tatapan putus asa dan sedih.
Setelah Nasha dan Edward kembali ke rumah Nasha, mereka tak lantas segera keluar dari mobil.
“Aku tidak ingin membantumu mengawasi produk mereka. Suruh orang lain saja.”
“Beri aku alasan yang tepat,” ucap Edward.
“Mengapa kamu melibatkan aku pada hubungan kerja sama dengan JN group? Apakah tidak ada orang lain yang berkompeten di perusahaanmu?”
“Kerja sama ini sangat penting. Aku tidak percaya orang lain selain kamu.”
“Kenapa kamu percaya denganku? Aku bisa membocorkannya untuk keuntungan perusahaanku sendiri. Aku suka uang.”
Edward langsung tertawa. “Jika kamu suka uang seharusnya kamu menikahiku.”
“Edward.”
“Jika kamu tidak mau. Aku akan memberitahu pada semua orang bahwa kamu adalah milikku.”
Nasha tidak menjawab, wanita itu langsung membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.
Edward yang melihat kepergian Nasha langsung menghembuskan napasnya dengan kasar.
Ketika Nasha baru saja membersihkan badannya dan berganti baju, ia mendatangi ayahnya yang kesehatannya sudah mulai membaik meskipun orang tua itu hanya bisa duduk di ranjangnya.
“Ayah.”
“Apakah kamu baru saja pulang dari kantor?”
“Ya.”
“Apa ada masalah di kantor?”
“Tidak ada. Semua berjalan dengan baik. Aku mendengar perusahaan Edward dan perusahaan JN bekerja sama, kenapa kamu tidak ikut bekerja sama?”
“Aku tidak tertarik dengan pengembangan produk dari JN group,” ucap Nasha.
“Kamu tidak tertarik dengan produk pengembangannya atau melarikan diri dari Galaksi?”
“Ayah,” Nasha memprotes.
Setelah itu, Nasha menutup pintu ayahnya. Ia menghela napas panjang. Apa yang disampaikan oleh ayahnya mengenai urusan pribadi dan pekerjaan seharusnya tidak dicampur adukan karena bagaimana pun, di pundaknya ada beribu orang yang telah bekerja keras.
Seminggu setelahnya, Edward pergi ke negaranya. Sebelum pergi, Nasha menawarkan untuk bekerja sama dengan dua perusahaan mereka dalam pengembangan produk JN group.
Edward pergi ke bandara langsung ditemani oleh Nasha dan Galaksi.
“Aku berharap kerja sama kita berhasil dengan sukses.”
“Ya,” ucap Galaksi.
“Kamu tidak ingin mengatakan apa pun padaku?” tanya Edward ketika melihat Nasha yang sedari tadi hanya diam.
“Tidak!”
“Aku harus pergi sekarang. Tidakkah kamu memberiku senyuman, agar aku bisa merasa lega.”
Edward memainkan tipuan kecil yang membuat Nasha tersenyum dengan lembut. Edward merasa senang, dan pria itu lantas memeluk Nasha.
“Huh, kamu harus setiap hari tersenyum seperti ini. Aku sudah bersusah payah membuatmu tersenyum.”
“Jaga dirimu baik-baik.”
“Yah, aku harus menjaga diriku sendiri dengan baik.”
Galaksi berdiri di belakang mereka dengan tenang memperhatikan mereka berdua berbisik, wajahnya sama sekali tanpa ekspresi tapi dalam hatinya hancur dan merasa sedih.
Setelah pesawat Edward lepas landas, Galaksi mengantar Nasha ke kantornya. Sepanjang perjalanan Nasha pura-pura untuk tetap tenang.
Wanita itu hendak membuka pintu namun suara Galaksi telah membuat pergerakannya terhenti.
“Stafku mengadakan makan malam untuk suksesnya kerja sama ini. Aku harap kamu bisa akan datang?” tanya Galaksi. Jelas sekali ada nada permohonan yang terselip di sana.
“Ya.”
“Aku akan menjemputmu lagi nanti.”
“Tidak perlu. Kirim saja alamat restorannya aku akan datang sendiri.”
Saat malam tengah menyapa, Nasha mengunjungi sebuah restoran masakan gril. Di sana sudah berkumpul beberapa orang dari staf Galaksi.
“Nona Nasha, di sini.” Sapa seseorang sambil melambaikan tangannya.
Nasha pun duduk tepat di samping Galaksi. Ia melihat semua hidangan di meja dan nafsu makannya turun.
Semua orang begitu menikmatinya kecuali Nasha. Ia hanya mengambil segelas jus.
Pemimpin tim penelitian dan pengembangan melihat Nasha dan sangat terkejut. “Nona Nasha tidak makan? Apa tidak suka dengan makanannya?”
“Tidak! Aku tidak begitu lapar.”
“Tidak heran kamu begitu kurus.”
Nasha hanya tersenyum tipis. Lantas ia langsung menoleh saat Galaksi berdiri untuk menerima telepon. Nasha menatap punggungnya dan hatinya merasa tidak nyaman.
“Siapa yang memanggilnya? Pasti istrinya,” gumam Nasha.
Berpikir bahwa Maya telah mengganti posisinya. Tangannya tanpa sadar meremas gelas yang ia pegang.
Nasha hanya makan hidangan penutup. Setalah acara makan selesai, Galaksi membayar semua tagihannya. Begitu Nasha ingin segera pergi. Wanita itu segera dicegah oleh Galaksi.
“Tunggu, aku akan mengantarmu.”
Galaksi membuka pintu mobil untuk Nasha, dan wanita itu tanpa kata langsung masuk ke dalam.
Sepanjang jalan, keduanya tak ada yang membuka suara. Hanya ada alunan musik yang terdengar.
Setelah tiba di rumah Nasha, wanita itu tetap diam begitu pula dengan Galaksi.
“Bagaimana kabarmu dengan Maya? Apakah kalian sudah menikah?”
Galaksi langsung melepas sabuk pengamannya dan langsung mencondongkan tubuh ke depan Nasha. Jelas Galaksi sedang menggodanya.
“Kenapa kamu begitu penasaran? Apakah kamu masih ingin bersamaku?”
Nasha mendengus lalu mendelik ke arah Galaksi dengan tatapan yang masih menahan banyak pertanyaan.
Galaksi ingin mencium Nasha namun Nasha langsung mendorong tubuh Galaksi.
“Siapa ingin bersamamu!”
Nasha dengan marah melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun tapi tangannya lagi-lagi dicekal.
“Sebenarnya jika kamu ingin aku tinggal bersamamu, aku akan tinggal.” Galaksi berujar sembari membelai wajah Nasha lembut.
Nasha masih sama. Wanita itu tidak banyak berubah sejak terakhir ia melihatnya. Ya, kecuali sikap dinginnya.
Nasha melepaskan tangan Galaksi dari wajahnya dengan paksa dan langsung menampar wajah Galaksi sebelum ia membanting pintu mobil Galaksi.
Berbaring di tempat tidur, semakin Nasha memikirkannya semakin ia merasa bersalah.
“Apa yang baru saja aku lakukan?”
Keesokan paginya, karena hari minggu. Nasha pergi untuk jalan-jalan. Ia hanya berkeliling untuk menghilangkan stres yang sering melandanya.
Ia berhenti di sebuah kafe untuk mendapatkan kafein.
“Nasha!”
Nasha langsung menoleh dan mendapatkan Manda di depannya. Wanita itu langsung menariknya untuk duduk di sebelahnya.
“Aku tidak percaya! Apakah aku sedang bermimpi?”
Manda langsung mencubit pipinya dan mengaduh kesakitan bukti bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Manda langsung memeluk Nasha.
“Dari mana saja kamu satu tahun terakhir ini? Bahkan ayahmu tidak ingin memberitahuku keberadaanmu? Kamu juga!”
“Aku akan memberitahumu, tapi pertama kamu harus melepaskan pelukanmu. Aku tidak bisa bernapas.”
Menyadari kecerobohannya, Manda langsung melepaskan pelukannya yang terlalu bersemangat.
Setelah itu, Nasha menceritakan situasinya dalam satu tahun terakhir. Manda hanya bisa menghargai keputusan temannya.
“Ya itu sangat bagus. Kamu bisa bersenang-senang di sana.”
Nasha melihat Manda sebelum pertanyaan meluncur dari mulutnya.
“Aku punya pertanyaan untuk ditanyakan.”
“Tentang apa?”
“Galaksi. Apakah dia sudah menikah?”