
“Galaksi?”
Suara Nasha terdengar tatkala melihat pria yang jatuh di samping wajahnya. Pria itu langsung mengambil bajunya dan pergi tanpa sepatah kata pun.
Nasha menatap pintu yang tertutup rapat. Ia menjambak rambutnya.
“Aku rasa, aku tidak banyak membantu.”
Setelah Galaksi pergi, Nasha tidak bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk membaca buku setelah sekian lama tidak pernah menjamah buku novel.
Ketika ia hendak membuka novel tersebut, terdengar suara getar dari ponselnya.
Nasha mengernyit ketika ibu tirinya yang menelepon.
“Ada apa?” tanya Nasha begitu memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
Ekspresi Nasha langsung berubah seketika saat orang yang di seberang berbicara. Nasha buru-buru memakai pakaiannya setelah mematikan sambungan telepon.
Ia langsung mengambil kunci mobilnya dan turun ke bawah. Karena rasa panik bahkan Nasha lupa untuk berpamitan dengan Galaksi.
Galaksi yang berada di kamar sebelah langsung mengintip dari balik jendela setelah mendengar suara mobil dari luar.
Ia melihat mobil Nasha yang perlahan pergi. Pria itu terlihat kecewa dan marah. Ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Nasha pulang ke rumahnya, untuk melihat kondisi ayahnya yang kembali sakit.
“Apa yang terjadi?” Tanya Nasha begitu sampai ke rumahnya.
“Ayahmu beberapa kali melewatkan waktu kontrol, akibatnya sakitnya kambuh,” ucap ibu tirinya.
“Bagaimana bisa? Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Nasha kesal dengan ibu tirinya karena tidak
memberitahukannya sejak awal. Begitu dokter keluarga keluar dari kamar ayahnya. Nasha langsung membombardir dokter dengan seribu pertanyaan terkait kondisi ayahnya.
Keesokan harinya, Nasha kembali ke apartemennya untuk mengemasi beberapa pakaiannya.
Ketika Nasha keluar ia dikejutkan oleh kehadiran Galaksi. Pria itu melihat koper yang berada di samping Nasha.
“Kamu akan pergi?”
“Ya.”
“Ke mana?”
“Ayahku sakit dan perlu perawatan di luar negeri.”
Ketika Galaksi mendengar bahwa Nasha akan ke luar negeri, wajah Galaksi langsung masam.
“Apakah itu hanya alasan. Tujuan sebenarnya adalah untuk bertemu dengan kekasihmu.”
Nasha terlalu malas untuk menjelaskannya. Pesawatnya akan cepat landas dan ia tidak mempunyai waktu untuk meladeni Galaksi.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Aku harus pergi saat ini.”
“Aku suamimu, kamu harus mendengarkanku.”
“Kamu adalah suamiku dan itu dulu.”
Galaksi marah dan berteriak, “Aku tidak pernah menandatangani surat sialan itu!”
Nasha berbalik dan entah kenapa ada sebagian hatinya yang merasa lega.
Galaksi menghela napas panjang. “Aku akan mengantarkanmu ke bandara.”
Pukul tiga sore, ayah Nasha sudah mendapatkan perawatan. Rupanya kabar bahwa ayahnya di rawat di rumah sakit sampai ke telinga Edward.
Keesokan harinya, pria itu lantas pergi ke rumah sakit. Nasha tentu saja terkejut melihat Edward. Ia menatap ibu tirinya, pasti wanita itu yang memberitahukannya.
Nasha menghela napas. Setelah menyapa ayah Nasha, Edward langsung menemui Nasha.
“Terima kasih sudah menjenguk ayahku.”
Edward pura-pura marah dan berteriak “Kenapa kamu tidak memberitahuku segera?”
“Itu...”
Edward langsung tersenyum. “Hanya bercanda.”
Nasha langsung menatap Edward dengan tidak percaya.
“Pria ini...”
Edward melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku akan pergi dulu ada pekerjaan di perusahaan. Maukah kamu makan malam bersama nanti?”
Nasha mengangguk. “Ya.”
Setelah Edward keluar, Surya langsung memegang tangan putrinya.
“Edward adalah orang baik. Begitu mengetahui aku sakit, dia langsung datang untuk menjenguk. Aku dengar kamu masih memikirkan tentang lamarannya?”
“Ya.”
“Apa yang kamu pikirkan? Pria seperti Edward sulit ditemukan.”
Nasha melihat bahwa ayahnya sudah menerima Edward.
“Dia memang baik tapi orang yang aku cintai adalah Galaksi.”
“Apa?”
Surya dan juga Roseana berkata serempak.
Nasha menatap ayahnya.
“Berhenti memikirkan hubungan asmaraku. Sekarang yang paling penting kesehatan ayah. Ayah harus menurut pada dokter, minum obat teratur agar cepat keluar rumah sakit.”
Nasha kembali mengomel.
Malam harinya, Nasha dan Edward pergi makan malam bersama lalu kembali ke rumah sakit. Edward menemani Surya beberapa jam kemudian pamit pulang.
Nasha yang sedari tadi duduk di samping ayahnya pada akhirnya disuruh ayahnya untuk pergi beristirahat.
Nasha menggeleng. “Aku akan istirahat setelah ayah tidur.”
“Halo.”
“Apakah kamu sudah tidur?” tanya Galaksi di seberang.
“Belum.”
“Apakah kamu merindukan aku?”
“Tidak.”
“Kamu berbohong?”
“Aku tidak berbohong,” jawab Nasha. Ia tersenyum kecil mendengar dengusan Galaksi. Ia berhasil menggodanya.
“Kapan kamu akan kembali?”
“Aku tidak tahu pastinya, tapi dokter mengatakan ayah bisa pulang lima sampai seminggu lagi.”
“Masih lama.”
Nasha tidak berharap bahwa keesokannya ia mendapatkan pesan bahwa rupanya Galaksi sudah menunggunya untuk menjemputnya.
Ketika Nasha sampai ke bandara, netranya langsung menemukan sosok Galaksi dengan kacamata hitam.
“Mengapa kamu ada di sini?”
“Merebut seseorang. Kembalilah bersamaku.”
“Ayahku sedang sakit, aku tidak mungkin meninggalkannya.”
“Apa yang kamu inginkan?”
“Jika kamu ingin membawaku kembali maka temui ayahku.”
“Baik.”
Mereka berdua menaiki mobil dengan Nasha yang menyetir.
“Kamu harus bersikap baik.”
“Aku tahu, berhenti!”
Nasha pikir bahwa pria itu sedang takut jadi ia melihat Galaksi dengan bingung.
“Aku tidak mungkin menjenguk ayahmu dengan tangan kosong.”
Keduanya datang ke rumah sakit dengan membawa tas besar. Ayah Nasha dan ibu tiri Nasha terkejut melihat kehadiran Galaksi.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Galaksi menarik napas dalam-dalam dan tersenyum.
“Aku mendengar bahwa ayah mertua sedang sakit jadi aku menjengukmu.”
Surya terlihat enggan namun ia melirik putri satu-satunya dan menghela napas. Pada akhirnya ia menerima kunjungan Galaksi.
Pada hari berikutnya Galaksi kembali ke negaranya sementara Nasha masih menemani ayahnya sampai beberapa hari ke depan.
Hari ke lima selamat perawatan, ayah Nasha dinyatakan boleh pulang. Tentu saja Nasha sangat bersyukur. Wanita itu kini semakin ketat mengawasi ayahnya.
Mungkin dulu Nasha terlihat cuek dengan ayahnya namun saat ini apa yang dilakukan oleh ayahnya di bawah pengawasannya.
Edward yang mendengar bahwa Nasha akan kembali ikut menemaninya pulang ke negaranya.
“Kamu tidak sibuk?”
“Aku mengosongkan jadwalku untuk dua hari ke depan,” ucap Edward yang saat ini duduk di samping Nasha.
Mereka saat ini berada di pesawat.
Pesawat yang mereka tumpangi pada akhirnya lepas landas.
Saat malam hari, Galaksi mendengar bahwa Nasha sudah kembali kemarin namun ia sama sekali tidak mendapatkan pesan atau pun wanita itu kembali ke rumahnya.
Ia sangat kesal. Pada akhirnya ia menelepon Nasha.
“Kamu ada di mana?”
Nasha menjawab dengan suara rendah. “Aku sedang menonton film.”
“Dengan siapa?”
“Teman.”
Galaksi mengerutkan kening dan tidak sabar untuk bergegas membakar bioskop.
“Film apa?”
“Starway to Heaven.”
Pada pukul sembilan malam, Nasha dan Edward keluar bioskop.
“Sudah malam sebaiknya kamu beristirahat di hotel.”
“Aku akan mengirimu kembali.”
Nasha mengangguk. Pada akhirnya Edward mengirim Nasha ke apartemen. Ya, Nasha kembali tinggal di apartemen karena Nasha sudah mempercayakan ayahnya pada asisten pribadinya. Jadi segala aktivitas ayahnya akan diketahui.
Setelah sampai di apartemennya, Nasha langsung berterima kasih.
“Terima kasih, kamu sebaiknya kembali ke hotel.”
“Kamu mengusirku?”
“Tidak! Bukan itu maksudku.”
“Aku lapar. Bisakah kamu memasak untukku? Setelah itu aku akan pergi.”
Nasha tahu, bahwa terkadang Edward keras kepala seperti anak-anak. Jika pria itu tidak mencapai tujuannya dia tidak akan menyerah.
Untuk mengusirnya sesegera mungkin. Nasha harus mematuhi Edward.
Tanpa mereka ketahui, sedari tadi mobil Galaksi sudah berada di tempat yang gelap sehingga Galaksi dengan leluasa bisa mengawasi apartemen Nasha.
Galaksi menunggu setengah jam dan tidak melihat Edward keluar. Ia membanting setir kemudi dan melajukan mobilnya dengan marah.