Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 59



Sudah satu bulan, Nasha berada di Inggris. Setiap hari Galaksi akan sering mengabarinya namun pria itu tak kunjung untuk datang menjenguk sesuai janjinya.


Nasha duduk termenung di depan jendela. Saat dering ponselnya terdengar ia langsung menolehkan kepalanya. Melihat siapa yang menelepon. Seperti biasa, Galaksi yang meneleponnya.


Nasha hanya menatap layar ponselnya. Hanya melihat tanpa ingin mengangkatnya karena ia mulai kesal dengan pria itu.


Ponsel itu langsung mati dan detik berikutnya kembali berdering. Nasha tidak akan sudi mengangkatnya jika saja pelayan tidak mengingatkannya.


Nasha langsung mengambil ponselnya dan menggeser layar hijau. Seperti biasa, Galaksi akan bertanya bagaimana kabarnya? Apa yang sudah dilakukan Nasha? Apakah Nasha makan teratur? Apakah Nasha minum susu kehamilannya?


Setelah Nasha menjawab semua pertanyaan Galaksi sekarang ia mengalihkan topik.


“Kapan kamu datang? Kamu berjanji akan sering menemuiku tapi sekarang ini sudah satu bulan.”


“Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini jadi aku tidak bisa pergi. Tunggu sebentar, oke. Setelah semua urusanku selesai, aku akan langsung terbang ke sana.”


“Berapa lama? Satu bulan lagi? Dua bulan lagi?”


“Nasha, mengertilah.”


“Aku akan memberimu batas sampai seminggu jika kamu tidak datang. Kamu tidak akan pernah melihat aku dan anak-anakmu.”


Nasha langsung menutup teleponnya. Setelah panggilan terakhir itu. Galaksi tidak terlihat batang hidungnya untuk menemuinya.


Sudah seminggu dan Galaksi benar-benar tidak datang. Sebagai gantinya rupanya pria itu menyuruh ibunya dan adik iparnya untuk terbang ke Inggris.


“Kakak!”


Sapaan Bintang terdengar nyaring. Gadis itu langsung memeluk Nasha.


“Nasha, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Amara.


“Ya, bu.”


“Kakak, aku dan ibu sangat merindukanmu.”


“Benarkah? Lalu di mana kakak lelakimu? Apakah dia tidak merindukanku sehingga ia tidak datang ke sini untuk melihatku?”


“Kakak, dia sibuk. Sangat sibuk.”


“Seberapa sibuk dia sampai ia menelantarkan istri dan calon anaknya.”


“Nasha, aku tahu kamu sangat kesal dengan anak itu. Abaikan dia. Bagaimana kabarmu sebulan ini?”


Nasha mendengus, “Bu, anakmu membuatku seperti tahanan rumah.”


“Kakak, itu agak berlebihan.”


“Bintang ,itu tidak berlebihan...”


Nasha mulai mengeluh pada adik ipar dan ibunya.


Semenjak kedatangan adik ipar dan ibu mertuanya. Hari-hari Nasha tidak sesepi dulu.


Namun itu hanya berlangsung seminggu. Karena hari ini adik ipar dan ibu mertuanya akan kembali.


Amara yang berada di ruang tengah sedikit terkejut melihat menantunya menyeret koper.


“Apa yang kamu lakukan dengan koper itu?”


“Ibu, aku akan ikut dengan kalian kembali.”


“Kakak tidak bisa kembali.”


“Kenapa? Aku hanya ingin kembali.”


“Kakak sedang hamil, tidak boleh naik pesawat.”


“Kata siapa? dokter mengatakan, kalau ibu hamil yang tidak memiliki komplikasi dan masalah kesehatan dapat terbang sampai di minggu ke-37 atau 9 bulan lebih.”


“Nasha..”


“Tenang ibu, aku sudah memeriksakannya sebelumnya.”


Bintang dan Amara saling menatap dengan keraguan.


Kepulangan Nasha bersama ibu dan adiknya sampai ke telinga Galaksi. Ketika Nasha baru saja keluar dari bandara, wanita itu sudah ditarik oleh sepasang lengan kekar.


“Katakan padaku, mengapa kamu kembali? Apakah aku telah setuju untuk membiarkanmu kembali?” tanya Galaksi, jelas pria itu terlihat marah.


Nasha kembali mendengus, “Aku tidak perlu persetujuanmu ketika aku ingin.”


Sikap keras kepala Nasha membuat Galaksi tidak perdaya.


“Nasha...”


Nasha langsung meringis dan memegang perutnya.


“Ada apa?” panik Galaksi.


“Perutku sakit...”


“Sakit?”


“Ya ampun, Galaksi cepat bawa Nasha ke rumah sakit.”


Dengan panik, Galaksi menggendong Nasha ke dalam mobilnya. Ia menyetir mobil dengan perasaan waswas. Sementara ibunya memberikan semangat pada menantunya. Bintang hanya terdiam karena terlalu terkejut.


“Nasha, bertahanlah. Kita akan pergi ke rumah sakit.”


...♡♡♡...


“Mereka tampan dan cantik sepertiku.”


Nasha mengembangkan senyum dan menatap Galaksi yang sedari tadi tak henti-hentinya tersenyum. Perasaan bahagia sekaligus tak percaya yang tersirat jelas di setiap garis wajahnya.


“Menurutmu seperti itu?”


“Tentu saja.”


“Kamu bilang mereka mirip denganmu, lalu aku yang mengandungnya selama sembilan bulan tidak kebagian apa-apa.”


“Mana mungkin, lihat mata si pria kecil ini mirip sekali denganmu.”


“Aku ingin melihatnya.”


“Wah tampan sekali anakku.”


Tiga hari kemudian, Nasha diperbolehkan pulang. Saat ia baru saja membuka pintu Vila, ia dikejutkan oleh perayaan untuk menyambutnya dan kedua si kembar.


Semua keluarganya hadir di sana. Semua orang memberi selamat dan hadiah. Terkhusus ayahnya yang hadir pada saat itu.


Acara makan malam bersama keluarga besar membuat suasana haru apa lagi di tambah oleh dua sosok kecil yang hadir di tengah-tengah mereka.


Kedua anaknya saling direbutkan oleh nenek dan juga kakeknya.


Malam harinya, Wanita itu melihat bayangan dirinya di kaca dan langsung membalikkan badannya ke arah Galaksi. Nasha mengeluh pada Galaksi.


“Sayang, lihat pipiku membengkak.”


Galaksi langsung mencubit gemas pipi istrinya. Padahal itu sudah gembul sejak masa kehamilannya namun wanita itu baru sadar saat pasca persalinan.


“Ya, itu benar-benar menggemaskan.”


“Apa yang harus aku lakukan dengan pipi ini?”


“Apa yang harus kamu lakukan?” Galaksi bereaksi seolah-olah sedang berpikir. “Aku hanya bisa membantumu dengan resep dari ibu.”


“Tentu saja. Tutup matamu, aku akan memberikanmu.”


Dengan segera, Nasha memejamkan matanya dan samar-samar ia merasakan deru napas hangat lalu diikuti oleh benda kenyal yang panas.


Nasha merasakan ciuman Galaksi terasa memabukkan. Permainan bibir pria itu terlalu ahli dan terlalu nikmat dan Nasha terlena sejenak.


Namun Nasha langsung mendorong tubuh Galaksi begitu ia mendengar tangisan dari salah satu bayinya.


Ia segera menggendong bayi laki-lakinya dan mulai memberi asi. Galaksi yang melihatnya langsung menelan salivanya.


“Sepertinya dia sangat lapar.”


“Ya.”


“Aku juga merasa lapar.”


Nasha langsung mendongak. “Kalau lapar tinggal makan.”


“Boleh aku memakanmu?”


“Kamu harus menunggu sampai beberapa hari.”


Galaksi langsung mendengus.


Kehidupan Galaksi dan Nasha masih berlanjut dan kini usia si kembar sudah memasuki usia lima bulan.


Galaksi menyewa dua baby sister untuk membantu merawat si kembar.


Karena adanya dua baby sister, Nasha tidak terlalu melakukan pekerjaan berat untuk mengurus si kembar sehingga ia kangen akan bekerja di kantornya.


Saat sore hari begitu Galaksi pulang, ia memberitahukan niatnya untuk bekerja kembali. Lagi pula ia sudah terlalu lama meninggalkan perusahaannya.


“Ah, benar aku ingin kembali bekerja besok.”


“Apa? Mengapa kamu baru mengatakannya padaku?”


“Aku sebenarnya sudah memikirkannya seminggu yang lalu tapi aku baru mengatakannya.”


“Aku tidak setuju!” tolak Galaksi.


“Kenapa tidak setuju?”


“Anak-anak masih terlalu kecil, bagaimana bisa kamu meninggalkan mereka?”


“Mereka sudah ada yang mengurus lagu pula juga ada ibu. Aku bisa mengambil kerja setengah hari.”


Galaksi langsung menggeleng.


“Ayolah sayang...aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaanku.”


“Aku bisa mengurus perusahaanmu. Perusahaanmu akan tetap berjalan di bawah pengawasanku.”


Meskipun Galaksi tidak setuju, keesokan harinya Nasha pergi ke kantornya. Ia pagi-pagi sudah memompa asinya untuk stok minum si kembar jadi ia tidak perlu khawatirku.


Namun hal yang terduga terjadi, Galaksi rupanya tahu bahwa ia pergi ke kantor untuk bekerja. Pria itu marah.


“Kamu mengabaikan perintahku!”


“Aku hanya—“


“Stop! Kamu bisa mengabaikan semua perintahku. Aku juga bisa mengabaikanmu.”


Galaksi langsung berbalik meninggalkan Nasha yang masih mematung di tempatnya.


“Apakah pria itu benar-benar marah?”


Nasha berbaring menunggu Galaksi namun pria itu tak kunjung datang ke kamarnya.


“Apa dia benar-benar marah? Apa yang harus aku lakukan?”


Nasha langsung bangun dari ranjangnya. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Saat ini ia hanya mengenakan kemeja putih milik Galaksi.


Wanita itu tersenyum dan segera berlari kecil menuju ruang kerja Galaksi.


“Sayang...apakah pekerjaanmu masih banyak? Aku menunggumu.”


“Tidurlah lebih dulu.”


Tolakan dari Galaksi, bahkan pria itu tak perlu repot-repot melihat Nasha.


Nasha mendengus. “Kita lihat saja, apakah kamu akan duduk di sana selamanya?”


Nasha langsung mendekati pria itu, tangannya mengelus dada kokoh.


“Aku tidak bisa tidur.”


“Nasha...”


“Apa?” tanya Nasha dengan wajah polos.


“Keluar dari sini dan tidurlah.”


Ekspresi Nasha langsung berubah. Ia cemberut. Nasha merasa sakit hati dan tanpa kata langsung keluar dari ruang kerja Galaksi.


Galaksi mendongak ketika Nasha menutup pintu dengan keras.


“Sial!”


Galaksi buru-buru menyusul Nasha ke kamarnya. Begitu ia membuka kamarnya, pria itu langsung menarik tubuh Nasha dan menciumnya.


Pria itu menarik diri lalu membaringkan Nasha di ranjang. Saat mereka bertatapan sekilas, Galaksi merasakan gelagak gairah.


Nasha langsung melepas pakaian Galaksi lalu dirinya sendiri.


Napas Nasha terasa menghilang dan tercekat tatkala Galaksi bergerak di antara dirinya lalu menyelipkan diri, menyatukan tubuh mereka sedalamnya lalu pria itu bergerak, menunduk di atas dadanya dan mulai memainkan puncak-puncaknya- menjilat pelan, menggoda dan menghisap.


“Oh..”


Perasaan itu mengentak perutnya dan Nasha menggeliat.


Galaksi mulai bergerak dengan ritmenya lalu mulai menghunjam keluar masuk. Pria itu lalu mengerang rendah dan tersesat dalam kenikmatan.


Galaksi terus bergerak brutal, memompanya hebat dan menghukumnya dengan kenikmatan yang mengerikan.


“Galaksi!”


Nasha menjerit ngeri ketika tubuhnya menegang hebat, mengikatnya kuat. Tubuhnya bergetar hebat oleh kenikmatan yang terasa merobek-robek sementara itu, Galaksi terus mencari kenikmatannya sendiri dan mencapai puncaknya.


Setelah puas, pria itu menarik diri. Bergerak turun dari tubuhnya, Galaksi lalu menarik Nasha ke dalam pelukannya.


“Jadi apakah kamu sudah tidak marah lagi?”


“Tidak.”


“Apakah mengizinkanku untuk bekerja lagi?”


“Asal kamu tidak mengabaikanku dan anak-anak.”


“Tidak akan. Aku tidak akan mengabaikan kalian.”


...End


...