Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 44



Hari ini, Nasha mimisan akibat kelelahan karena perjalanan bisnis, lembur dan stres yang melandanya. Jini yang baru saja masuk untuk meminta tanda tangan Nasha langsung terlihat khawatir.


“Presdir Nasha, kamu baik-baik saja?”


Nasha menyunggingkan senyumnya sambil mencoba menyumpal hidungnya dengan tisu. Nasha memberikan kode untuk menyerahkan dokumen yang akan ia tanda tangani.


Nasha langsung menorehkan tinta hitamnya dan mencoret di sana sebagai tanda bukti bahwa dokumen itu sudah sah.


Ketika sekretarisnya hendak menanyakan sesuatu, ponsel Nasha yang diletakkan di meja tiba-tiba bergetar. Di layar ponselnya muncul nama ‘Adrian’ dengan jelas.


Nasha memandang jamnya kemudian dengan khawatir menjawab teleponnya.


“Sudah seminggu ini Galaksi selalu pergi ke ruang konseling psikologis Shine setiap Sabtu sore.”


“Kenapa dia pergi ke sana?”


“Aku tidak tahu persis tapi akankah PTSD kambuh lagi?”


“Kirimi aku alamatnya.”


Ekspresi sekretaris Nasha semakin rumit. Ia menatap Nasha yang menutup telepon dan bangkit berdiri.


“Apakah aku ada rapat hari ini?”


“Ya, setengah jam lagi.”


“Atur jadwalnya kembali. Aku ada hal yang mendesak. Di situasi seperti ini kenapa bisa terjatuh.”


Nasha menunduk untuk mengambil kunci mobil yang terjatuh. Setelah itu, Nasha langsung bergegas pergi.


Selain suara mesin, di dalam mobil tidak terdengar suara apa-apa lagi. Suara tik-tok-tik-tok dari lampu sein terdengar ketika Nasha mengaktifkannya sebelum berbelok.


Nasha melihat keluar jendela sebelum mobilnya ia hentikan.


Ia mengamati sebuah kantor konseling Shine. Sebelumnya ia mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka pintu tersebut.


“Apakah ada yang bisa saya bantu?”


“Aku ingin bertanya, apakah ada pasien bernama Galaksi Januartha di sini?”


“Apa yang kamu inginkan?”


“Tolong kasih tahu aku. Ini sangat penting.”


“Ya, ada pasien dengan nama Galaksi Januartha.”


“Penyakit apa yang dideritanya?”


“Maaf, aku tidak bisa memberitahukannya karena itu adalah privasi pasien.”


“Tolong beritahu aku. Aku adalah istrinya.”


“Tapi di sini, tertulis bahwa Tuan Galaksi tidak punya istri.”


“Aku mantan istrinya. Tolong aku ingin bertemu dengan dokter yang menangani Galaksi.”


Nasha duduk di sebuah ruangan berhadapan dengan dokter yang merawat Galaksi. Masih sama dengan petugas yang di depan. Dokter tersebut juga tidak bisa memberitahu penyakit apa yang diderita Galaksi.


Nasha sudah berusaha meyakinkan dokter itu namun dokter itu masih kekeh dengan loyalitasnya.


“Bukankah tujuan konseling adalah mengeluarkan pasien dari traumanya. Jika kamu memberitahuku tentang penyakit yang diderita suamiku. Aku akan senang hati menemukan cara untuk membantu mengatasinya.”


“Aku akan memberitahu Tuan Galaksi tersebut. Jika dia setuju, aku akan memberitahumu.”


Nasha sedikit kesal. “Jika dia setuju, aku tidak akan datang jauh-jauh ke sini. Tolong, aku benar-benar ingin membantunya.”


Nasha tiba-tiba menangis karena sudah putus asa. Melihat Nasha yang putus asa, dokter tersebut menghela napas dan tidak tega. Pada akhirnya ia membuka rekam medis Galaksi.


“Pasien mengalami disfungsi sek-sual.”


“Disfungsi seksual?”


“Disfungsi seksual adalah berkurang atau hilangnya ketertarikan atau hasrat seksual.”


“Kapan dia melakukan konseling psikologis?”


“Sekitar setengah tahun terakhir.”


Air mata Nasha langsung tak bisa dibendung.


“Tidak ada perubahan dalam waktu ini, karena ini tidak bisa diselesaikan oleh obat-obatan. Penyebabnya adalah keluarganya yang hancur, orang terkasih yang meninggalkannya, trauma di masa lalu, perasaan bersalah. Hantaman itu membuat ketidakseimbangan psikologisnya serius.”


“Aku adalah dokternya, bagaimana bisa aku tidak tahu. Alasan aku memberitahumu, kamu bisa berpartisipasi dalam perawatan. Itu akan membantu kondisinya. Jika kamu tidak keberatan dan sabar membimbingnya aku yakin dia bisa disembuhkan. Dia bisa keluar dari bayang-bayang yang selama ini menjeratnya.”


Nasha pada akhirnya tahu dan mengerti alasan dibalik Galaksi yang bersikap dingin padanya. Pria itu begitu kekeh membuat dinding pembatas yang kokoh.


...♡...


Nada dering terdengar di dalam kamar yang masih dipenuhi kegelapan fajar. Itu adalah panggilan dari Edward.


Hari ini, tempat tidur terlihat rapi dan kosong. Sementara di dekat jendela terlihat siluet manusia bertubuh mungil. Itu adalah Nasha biasanya jam-jam ini ia masih berbaring di tempat tidur dan menjawab panggilan dengan nada mengantuk.


“Kenapa...?”


Nasha menatap keluar jendela. Nasha merenungkan selama satu malam dan ia memutuskan untuk membantu Galaksi.


Menderita penyakit yang begitu sulit tapi tidak bisa memberitahu siapa pun. Itu pasti rasanya lebih sulit.


Nasha sepenuhnya memahami perasaan Galaksi dan membenci dirinya sendiri.


Ia mengeluh atas sikap dingin dan acuh tak acuh dari Galaksi. Ia sangat cemburu saat Galaksi mengajak wanita lain dan bermesraan karena ia ingin membalasnya jadi ia menerima Edward.


Saat ia akan berangkat untuk bekerja ia mendapatkan pesan bahwa Galaksi sudah mulai masuk kerja paska ia kehilangan ayahnya.


Nasha langsung bergegas untuk mampir ke perusahaan Galaksi.


Mobilnya ia parkir di depan dan tak berselang lama, mobil Galaksi melewati mobilnya. Dari kursi kemudi, Nasha sudah dapat melihat Galaksi yang baru saja keluar dari mobil.


Pria itu lebih lesu dari sebelumnya. Banyak lengkungan hitam di bawah kantong matanya.


...♡♡...


Ketika waktu sudah menunjukkan angka lima sore. Nasha keluar dari kantornya, sekretarisnya sedang duduk di tempatnya dan tersenyum sambil memandang ponselnya.


Mendengar suara ketukan dari sepatu Nasha, Jini langsung berdiri.


“Apa yang kamu tertawakan?”


“Oh tidak...apakah nona Nasha akan pulang sekarang?”


“Ya, ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku pergi.”


“Baik. Hati-hati nona Nasha.”


Nasha langsung mengendarai mobilnya namun di tengah perjalanan ia memperhentikan mobilnya.


Ia sedikit membanting pintunya untuk keluar dan berjongkok di ban depan mobilnya. Ia melihat bannya dan tersenyum.


Sejenak sesaat setelah melakukan aksinya yaitu mengempisi ban mobilnya sendiri. Nasha menelepon Galaksi agar pria itu menjemputnya.


Butuh alibi dan rayuan untuk meyakinkan pria itu agar menjemputnya.


Tak menunggu lama, mobil yang dikendarai Galaksi berhenti di depan Nasha.


“Apa yang terjadi?” tanya Galaksi.


Nasha langsung menunjukkan bannya yang kempes. Galaksi menghembuskan napas dan memberi isyarat pada Nasha agar segera masuk ke dalam mobilnya.


“Kenapa tidak pesan taksi?” tanya Galaksi di tengah perjalanan menuju ke apartemen Nasha.


“Aku panik dan orang pertama terlintas adalah kamu.”


Perjalanan menuju ke apartemennya sangat singkat menurut Nasha. Wanita itu sedikit menggerutu. Padahal ia ingin sedikit lebih lama dengan Galaksi.


Mobil Galaksi berhenti dan pria itu menunggu Nasha untuk turun tapi wanita itu malah tidak bergerak dari kursinya.


“Apakah kamu tidak turun?”


“Ah benar.”


Nasha meliriknya dan mendorong pintu mobil.


“Terima kasih,” ucapnya.


Baru saja Nasha mendapatkan langkahnya yang ketiga tiba-tiba kakinya lemas dan ia tersungkur ke tanah.


“NASHA!”


Dengan panik, Galaksi langsung bergegas keluar dari mobilnya.