
Setelah rapat, semua staf berjalan keluar dari ruang pertemuan. Sementara itu, Nasha memijat pelipisnya yang terasa tegang, kemudian membaringkan kepalanya di atas meja.
Pikirannya jadi kelabu dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia memang terbiasa kurang tidur karena insomnia yang kronis, tapi sejak seminggu lalu ia benar-benar tidak bisa tidur sepanjang malam karena memikirkan Galaksi.
Tiba-tiba di atas kepala Nasha terdengar suara Jini yang entah sejak kapan sudah masuk ke ruangannya.
“Ada apa?” Nasha mengangkat kepalanya dan menatap sekretarisnya itu.
“Seseorang ingin bertemu dengan Nona.”
“Siapa?”
“Aku.”
Nasha menyipitkan matanya ketika sosok wanita lain masuk ke dalam ruangannya. Nasha mengangkat tubuhnya dan bersandar di kursi.
Nasha memberikan isyarat agar sekretarisnya keluar.
“Kenapa kamu datang kemari? Aku tidak punya urusan denganmu.”
Lea merasa tertohok tapi ia tetap menjaga wajahnya tanpa ekspresi.
“Apakah kamu tahu tentang penyakit Galaksi?”
Nasha menatap Lea. Ia terkejut dengan pertanyaan Lea. Itu berarti wanita itu tahu tentang rahasia Galaksi.
“Ya, apa ada masalah?”
“Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menanyakan dan mencari tahu tentang privasi orang lain. Apakah kamu puas membuat Galaksi kesal selama beberapa hari? Jangan urusi urusan orang lain.”
Nasha memandang Lea dengan tersenyum tipis kemudian berkata dengan santai.
“Kamu memperingatkanku untuk tidak mengurusi urusan orang lain tapi kenapa kamu sendiri mengurusi urusanku?”
“Kamu!”
“Jangan ikut campur dengan urusanku.”
“Kenapa kamu masih sombong? Kamu bukan siapa-siapa lagi Galaksi!” Lea terlihat kesal dan menahan marahnya.
“Kamu begitu naif. Kamu sendiri juga bukan siapa-siapanya Galaksi.”
Nasha mengambil berkas di meja dan membukanya.
“Pintu keluar ada di sana,” ucap Nasha tanpa melihat ke arah Lea.
Lea yang kesal mengeratkan tangannya ke samping. Ia mengentakkan kakinya dan berjalan keluar.
Melihat Lea yang keluar dari ruangannya. Ia langsung menaruh dokumennya kembali ke meja dan menghela napas.
Ketika pulang dari kerja di malam hari, Nasha tidak mengatakan apa-apa. Saat makan malam pun begitu, ia tidak mengatakan apa-apa.
Ibu mertuanya merasa khawatir.
“Nasha, apakah kamu baik-baik saja?”
“Ya.”
“Ibu lihat kamu dari tadi hanya diam dan makan hanya sedikit.”
“Hanya kelelahan saja.”
“Kamu seharusnya istirahat.”
Nasha menggeleng. “Aku akan menemani ibu menonton acara ini.”
Galaksi yang sedari tadi memperhatikan Nasha juga sebenarnya merasa curiga. Biasanya Nasha akan mengomel dan banyak bicara namun kali ini wanita itu banyak diam.
Nasha yang menonton acara televisi bersama ibu mertuanya tiba-tiba mendapatkan pesan dari Galaksi. Pria itu menyuruhnya untuk membuatkan kopi dan segera mengantarkannya ke ruang kerja.
Nasha yang masih kesal pada akhirnya membuatkan Galaksi kopi.
“Bu, aku akan membuatkan kopi untuk Galaksi. Apakah ibu juga minta dibuatkan sesuatu?”
“Tidak.”
Nasha mengangguk lalu pergi ke dapur. Setelah selesai membuatkan kopi, Nasha segera beranjak menuju ke ruang kerja Galaksi.
Nasha tidak perlu repot-repot mengetuk pintu. Ia langsung membuka pintu dan segera meletakkan kopi di meja lalu berbalik.
“Apa yang terjadi denganmu? Kamu aneh hari ini.”
Nasha berhenti tiba-tiba. Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan atas keluhannya namun ia tidak bisa menahan perasaannya.
“Kamu mencoba menyembunyikannya dariku tapi kamu begitu terbuka dengan sekretaris wanitamu. Apakah hubungan kalian begitu dekat?”
Galaksi dengan tenang menatapnya, ada semburat kebahagiaan di wajahnya.
“Apakah kamu cemburu?”
“Tidak! Aku tidak peduli dengan hubunganmu dengannya.”
Setelah itu, Nasha langsung bergegas pergi.
Pada hari berikutnya, setelah bekerja. Galaksi mengajak Lea untuk makan malam. Lea begitu senang karena akhir-akhir ini pria itu jarang mengajaknya makan malam.
Lea senantiasa tak meninggalkan senyumnya dari wajahnya.
“Wah, ini benar-benar membuatku senang.”
“Seolah-olah aku tidak pernah mengajakmu makan.”
“Ya memang, tapi ini adalah makan malam dengan lilin cantik.”
“Makanlah!”
Keduanya langsung menikmati makan malam yang lezat dan saling mengobrol dengan topik ringan.
“Apakah kamu rutin kontrol akhir-akhir ini?”
“Ya.”
“Kenapa kamu tidak mengajakku lagi? Apakah kita harus mencobanya seperti dulu untuk memulihkanmu.”
Ekspresi Lea langsung berubah kaku.
“Kamu memberitahukannya?”
“Tidak, dia tahu sendiri.”
“Bagaimana dia bisa tahu jika kamu tidak memberitahukannya?”
“Dia menemui dokterku.”
“Apakah dia benar-benar baik padamu? Jika dia baik mengapa dia dia meninggalkanmu?”
“Itu bukan salahnya.”
“Kamu mencari alasan untuk membelanya.”
“Kamu sudah pasti mengerti perasaanku padanya.”
“Lalu bagaimana dengan perasaanku? Apakah kamu mengerti?”
“Maaf, aku mencintai Nasha. Karena aku mencintainya ketika aku di depannya setidaknya aku memiliki sedikit dorongan tapi menghadapi aku sama sekali tidak impulsif. Terima kasih atas dukunganmu dalam setengah tahun terakhir. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri.”
“Apa maksudmu dengan perkataanmu? Kamu mengeluarkanku dari perusahaan?”
Galaksi langsung mengeluarkan cek dari jasnya.
“Bukankah saat pertama kali kita bertemu, kamu mengatakan ingin melanjutkan study di luar negeri. Ini adalah ketulusanku.”
“Apakah dia menyuruhmu?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman karena keberadaanmu.”
Lea langsung menitikkan air matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia sudah melangkah sejauh ini dan karena keberadaan seseorang, mimpinya hancur seketika.
Bayangan romansa yang selama ini ia idamkan bagaikan tembok runtuh yang berantakkan.
Lea langsung merobek cek yang diberikan Galaksi. Wanita itu langsung pergi meninggalkan makan malam romantis yang ia harapkan.
...♡♡...
Edward bangkit berdiri, mengacak-acak rambutnya, menghembuskan napas panjang dan kemudian bergumam.
“Nasha...”
Edward mengamati orang-orang yang hadir di pesta dengan ekspresi tegang tapi sebenarnya ia hanya memandangi mereka saja tanpa mengetahui siapa saja yang ada di pesta itu.
Kepalanya terasa semrawut seperti dipenuhi oleh laba-laba dan dadanya juga jadi sesak.
“Sepertinya aku harus menemui Nasha.”
Sepertinya Edward kini mengetahui alasan ia tidak bisa tidur nyenyak selama satu minggu ini.
Edward terdiam sesaat. Kemudian dengan pose yang elegan ia mengangkat jarinya dan menunjuk Edgar, asistennya.
“Pesankan tiket pesawat tercepat malam ini. Aku ingin bertemu dengan Nasha.”
Pada hari itu, Edward langsung terbang untuk menemui Nasha. Pria itu langsung mengamati area bandara untuk menemukan sosok wanita yang ia rindukan.
Ya, pria itu memberikan pesan pada Nasha agar menjemputnya.
Begitu ia menemukan Nasha di garis pandangannya. Edward langsung berlari. Ia sudah tidak melihatnya selama setengah bulan.
Edward langsung memeluk Nasha dengan erat dan Nasha yang awalnya terkejut kini membalas pelukan Edward.
“Kamu orang sibuk, apakah kamu punya waktu untuk terbang ke sini?”
“Aku sengaja mengosongkan jadwalku,” ucap Edward.
“Karena aku ingin makan bersamamu. Aku ingin jalan-jalan seharian bersamamu.”
“Apa yang ingin kamu makan? Aku akan mentraktirmu.”
Edward langsung menggelengkan kepalanya. “Tidak! Kamu harus memasak makanan untukku.”
“Baiklah.”
Sesampai di apartemen Nasha, wanita itu langsung pergi ke dapur untuk membuatkan makan malam.
Edward dengan setia mengamati Nasha di kursinya. Pria itu tersenyum sambil terus memandangi begitu lincahnya tangan Nasha memegang pisau. Tindakannya begitu menggemaskan sehingga Edward begitu ingin menggodanya.
Pria itu bangkit dari kursinya dan berdiri di belakang Nasha.
“Kamu memasak apa?”
“Makanan kesukaanmu.”
“Boleh aku bantu.”
“Tentu saja.”
Mereka berdua memasak bersama sering sekali Edward melakukan tindakan konyol yang membuat Nasha tertawa. Terkadang Nasha mengomel karena Edward yang melakukan kesalahan. Dapur mereka begitu penuh dengan warna-warna keterkejutan.
Mereka menyelesaikan makan malam dengan waktu yang lama namun mengasyikkan.
“Bagaimana?”
“Ini sangat lezat.”
Setelah mereka selesai makan malam. Nasha dan Edward memutuskan untuk menonton film di ruang tamu.
Nasha begitu fokus dengan filmnya namun itu tidak berlaku dengan Edward. Pria itu fokus pada wajah Nasha dan berakhir pada bibirnya.
Saat ia hendak ingin menciumnya, tiba-tiba ponsel Nasha berdering. Wanita itu langsung menoleh ke arah ponselnya.
Dan Edward kecewa karena gagal menjalankan misinya.
“Siapa yang meneleponmu di malam hari?” tanya Edward.