Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 27



“Ayo pulang.”


Galaksi menyapa Nasha ruang kerja. Nasha yang tadinya menunjukkan wajah serius saat berkutat dengan pekerjaan itu langsung mendongak dan tersenyum saat matanya bertemu pandang dengan Galaksi.


“Masih lama?"


Nasha menggeleng. “Tidak.”


Wanita itu langsung merapikan mejanya dan berdiri menghampiri Galaksi. Tangannya ia langsung kalungkan pada lengan Galaksi.


“Ayo pulang,” ucap Nasha lalu tersenyum.


Ketika melihat senyuman itu, Galaksi menyadari bahwa itu senyuman itu sudah jadi candunya.


Nasha berjalan beriringan dengan pria itu. Ketika tiba di tempat parkir. Galaksi tiba-tiba bertanya. “Aku tidak tahu apakah kamu menyukai film horor atau tidak.”


“Film horor?”


“Film yang mengerikan itu.”


“Ah.”


“Mau nonton?”


“Sekarang?”


Kalau menonton film horor, malam adalah waktu yang tepat.”


“Tapi...”


“Ayo pergi.” Galaksi pun membuka pintu mobilnya. Nasha pun naik.


Nasha sibuk mengeluarkan ponselnya dari tasnya. Ia berpikir akan menelepon Manda. Pasti seru jika mereka bisa menonton bioskop bersama.


“Aku akan menelepon Manda dan mengajaknya bergabung dengan kita. Huh? Kenapa tidak terpikirkan olehku tadi.”


“Manda?”


“Ya, dia bisa mengajak Ale”


“Apa?” mata Galaksi langsung menyipit. “Mengapa harus mengajak pria itu?”


“Karena dia suaminya.”


“Kenapa kamu mengajak mereka?”


“Semakin banyak orang semakin seru.”


Galaksi memalingkan matanya dan berkata bahwa ia tidak setuju. Setelah beberapa perdebatan dan juga drama panjang. Pada akhirnya Nasha mengurungkan niatnya untuk mengajak Manda.


“Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan akhir pekan ini?” tanya Galaksi tiba-tiba.


“Jalan-jalan?”


“Ya, tapi hanya kita berdua. Kita akan naik kapal yacht.”


“....”


Nasha tidak langsung menjawabnya. Ketika wanita itu bergumam sendiri, galaksi menggenggam tangannya.


“Jangan banyak berpikir dengan kepala cantikmu itu. Cukup katakan ya.”


“Ya.”


Galaksi pun tersenyum puas saat Nasha menjawabnya. Setibanya di bioskop, pria itu memarkirkan mobilnya di area berbayar kemudian menarik tangan Nasha yang hendak membuka pintu mobil. Galaksi langsung mengecup Nasha. Nasha terlihat linglung dan Galaksi hanya memasang wajah tampannya.


Mereka turun dari mobil. Setelah membeli popcorn dan minuman, mereka memasuki studio dan duduk berdampingan. Keduanya kaget setelah melihat ruangan dipenuhi oleh penonton.


“Ini pertamanya kalinya aku menonton film horor. Huh, aku takut sekali.”


Galaksi pun berkata bahwa sebenarnya ini juga kali pertamanya namun bedanya ia sama sekali tidak takut. Lampu dipadamkan dan film dimulai. Sejak film dimulai, suasana horor sudah terasa kental, seolah-olah bagian ini bukanlah bagian awal melainkan bagian ******* dari film.


Nasha benar-benar tidak mengetahui alur dan jalan film tersebut karena sering kali matanya akan terpejam. Jelas sekali wajah Nasha begitu gugup. Tak jauh berbeda dengan Nasha, Galaksi juga tidak begitu paham dengan jalan ceritanya bahkan ia tidak mengetahui apakah filmnya menakutkan atau tidak. Karena ia sibuk memperhatikan wajah Nasha.


Ketika suara melengking seperti teriakan terdengar kencang, Nasha langsung meringkuk ke pelukan Galaksi


Ketika film sudah berjalan kira-kira setengah dari total durasinya, Nasha masih dalam posisi yang sama. Ia sama sekali tidak bergerak. Kepalanya ia tenggelamkan pada bahu Galaksi.


Tangan Nasha terlihat dikepalkan. Galaksi langsung menggenggam tangan Nasha, keringat dingin sudah membasahi tangan Nasha.


“Kamu takut?”


“....”


“Nasha?”


“Ayo pulang,” katanya dengan suara gemetar.


Dalam perjalanan pulang, Galaksi terus mengutuk Adrian dalam hatinya. Pria itu yang merekomendasikan film itu. Ia termakan omongan pria itu.


Setiba di penthouse, Nasha tidak berani ke mana-mana selain kamarnya. Bahkan untuk ke dapur saat di tengah malam, ia membangunkan Galaksi.


Keesokan paginya, Nasha sakit. Galaksi menduga, bahwa sakit Nasha setelah terkejut melihat film horor. Pria itu benar-benar mengutuk Adrian sekarang.


Sakit Nasha tidak terlalu lama. Nasha hanya butuh istirahat beberapa hari. Nasha melihat tanggal yang ada dalam ponselnya. Ini adalah akhir pekan dan Galaksi berjanji akan membawanya untuk jalan-jalan di pantai.


“Apakah kita akan jadi naik yacth?” tanya Nasha begitu Galaksi baru saja keluar dari kamar mandi.


“Kalau kamu memang sudah tidak sakit lagi, kita bisa pergi sekarang.”


“Kalau begitu kita pergi.”


Setelah berganti baju, dengan perlahan Nasha masuk dan duduk dalam mobil. Galaksi menutup pintu mobilnya dan duduk di bangku sopir. Galaksi memperhatikan raut wajah senang Nasha dan tersenyum melihatnya. Ia pun memasangkan sabuk pengaman untuk Nasha.


“Aku tidak mau menonton film horor lagi,” ucap Nasha dengan kesal.


“Iya, aku tidak akan mengajakmu menonton film horor melainkan akan sering mengajakmu jalan-jalan.”


Nasha mengangguk dengan semangat. Galaksi pun segera menyetir mobilnya menuju tempat tujuannya.


“Kita akan pergi ke mana?” tanya Nasha dengan rasa penasarannya.


“Rahasia.”


“Kalau kamu berkata rahasia, aku bisa tebak kalau itu pasti di pantai.”


“Pintar juga.”


“Kamu mengajakku naik kapal yacth tapi aku tidak tahu di pantai mana kita akan menaiki kapal itu.”


“Penasaranlah,” ucap Galaksi sembari tersenyum.


Ucapan Galaksi tadi ternyata bukan sekedar ucapan belaka. Karena saat akan tiba di pantai. Nasha disuguhkan pemandangan yang luar biasa.


“Berhenti sebentar!” teriak Nasha.


“Ada apa?” tanya Galaksi dengan wajah bingungnya.


“Sepertinya itu mobil Ale,” ucap Nasha ketika ia melihat mobil Ale yang berada di pinggir jalan tak berselang lama sosok wanita turun dari mobil itu. Wanita itu adalah Manda.


“Sepertinya mobil mereka sedang mogok.”


“Lalu?”


Pertanyaan konyol meluncur begitu saja dari bibir Galaksi.


“Kita harus menolongnya.”


Niat untuk menolongnya berakhir Nasha mengajak mereka untuk ikut. Galaksi yang sedari tadi menyetir tidak bisa menyembunyikan raut wajah kesalnya. Sementara Nasha, wanita itu terlihat sangat senang ketika sahabatnya ikut.


Sangat berbanding terbalik dengan perasaan Galaksi.


Mereka sudah tiba di pantai, Nasha langsung terkagum melihat kapal yacth mewa. Setelah mereka menaiki, kapal perlahan pergi meninggalkan bibir pantai.


“Kamu suka?” tanya Galaksi pada Nasha. Galaksi meraih tangan Nasha.


“Aku sangat suka.”


“Aku jadi tidak menyesal membeli yacth ini.”


Ale tidak menampilkan ekspresi apa pun. Pria itu berjalan menjauhi pasangan Galaksi dan Nasha. Ia terlalu malas untuk mendengarkan seseorang yang memamerkan kekayaannya.


Saat waktu tiba makan siang, mereka berempat makan dengan senang . satu-satunya orang yang tidak menikmati perjalanan ini adalah Ale.


“Makanlah ini. Ini sangat enak,” ucap Manda sambil mengambilkan daging panggang untuk Ale.


Ale jarang berbicara, ia hanya menanggapi dengan senyum tipis. Jika memang diperlukan Ale akan menjawab dengan jawaban yang singkat.


Karena perutnya terasa kenyang setelah makan siang, Galaksi merasa sedikit mengantuk dan menengadah menatap langit biru yang benar-benar bersih dan cerah. Nasha yang duduk berdampingan dengan Galaksi merasakan angin laut yang mengalir berembus memeluk kulitnya.


“Sayang, berbaringlah di sini.”


“Aku duduk saja.”


“Jangan begitu. Berbaringlah dan lihat langit di atas.”


“Aku duduk saja.”


Galaksi menariknya paksa dan membaringkannya. Nasha yang merasa malu karena di sana ada Manda dan juga Ale, mencoba untuk bangkit tapi Galaksi menahan Nasha sehingga ia tidak bisa bangun.


“Coba lihat langit,” ucap Galaksi.


Nasha pun melihat langit yang dilihat oleh Galaksi.


“Cerah dan indah.”


“Seperti senyummu,” ucap Galaksi.


Sontak saja, Nasha langsung memalingkan wajahnya menatap Galaksi.


“Kita akan sering bepergian mulai sekarang.”


“...iya.”


“Coba pikirkan tempat lainnya yang bagus untuk dikunjungi. Nanti aku akan membawamu ke tempat yang ingin dikunjungi.”


“Benarkah?”


“Tentu saja. Aku tidak tahu kalau aku bisa merasakan bahagia hanya dengan menggenggam tanganmu dan berbaring menatap langit seperti ini.”


Di sisi lain, Manda selalu mengawasi Ale. Pria itu beberapa terlihat mencuri pandang ke arah Nasha.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Manda pada Ale.


“Aku hanya memandangi langit tanpa memikirkan apa-apa.” Ale berbohong dengan mengatakan bahwa tidak sedang memikirkan apa-apa. Sebenarnya, ia sedang memikirkan Nasha.


Setelah mendengar ucapan Ale, Manda pun memalingkan wajahnya untuk melihat pasangan Nasha dan Galaksi.