
Rasa dendam yang selalu menghantui andra membuatnya melakukan yang tak pernah di lakukannya, dia telah mencoba untuk meredam kebencian dan rasa dendamnya namun dia tak mampu untuk melakukannya.
Andra laki laki yang begitu sangat baik dan anak yang sangat peduli terhadap orang sekitarnya namun apa yang pernah di lakukan toni terhadapnya membuat amarahnya meronta ronta apalagi toni dan loli sudah menyakiti wanita yang di cintanya.
Andra yang terlihat duduk termenung di depan pintu rumah tersebut tangannya seperti membengkak akibat memukuli toni
"Sadar ndra lu bukan orang yang seperti ini" gumamnya seraya berteriak sangat keras, sakit hatinya yang membuat dirinya berubah menjadi orang yang lebih kejam
"Ton lu kenapa??" tanya salah seorang temannya yang mendengar teriakannya, toni hanya berdiam tanpa menjawab pertanyaan temannya, wajah nya yang kusut dengan mata yang berlinangan air mata.
Kemudian ponsel genggam milik andra berdering namun dia tak menghiraukannya setelah beberapa kali berdering andra mengeluarkan ponsel genggam dari kantong celananya yang ternyata dari pak abbas
"Halo pak"
"Halo nak, bapak mau berangkat ketempat toni itu kamu tunggu bapak di sana nak"
"Iya pak, andra udah di sini" jawab nya
Andra meletakkan ponsel genggam tersebut dan kembali masuk ke dalam kamar tempat toni dan loli di kurung dan membuka ikatan yang terikat erat di tangan dan kaki mereka, namun toni tak bergerak sedikit pun karna khawatir andra menyuruh temannya untuk mengambil air dan menyiramkan ke wajah toni, tak lama kemudian pak abbas menerobos masuk ke dalam kamar tersebut dan mencoba untuk memukul toni namun andra berhasil menahan pak abbas karna dia tidak ingin terjadi sesuatu yang membuatnya akan menyesal.
"Bapak gak bisa membiarkan anak ini yang sudah menganiaya viza tanpa ada rasa manusiawi" jawab pak abbas
"Sudah pak jangan, bapak harus bisa mengontrol emosi bapak, jangan sampe gara gara ini kita dapat masalah pak dan aku juga gak mau ibuk tau tentang ini pak" jelas andra
Setelah mendengar perkataan andra pak abbas menurunkan sedikit egonya dan meninggalkan andra, pak abbas duduk di luar rumah dan memukul dinding tersebut karna merasa kesal terhadap toni, tanpa di sadari pak abbas andra mengikuti dari belakang dan mencoba menenangkan nya.
"Sudah lah pak, jangan nyakitin diri bapak sendiri, sekarang kita cari jalan yang terbaik aja pak" ucap andra
"Bapak gak bisa diam ndra, viza sudah seperti anak bapak gak mungkin bapak diam atas apa yang sudah mereka lakukan terhadap anak malang itu" jelas pak abbas
"Aku tau pak, aku juga marah dan sakit hati kepada mereka, andra rela kalo mereka pernah nyakitin andra pak tapi andra gak bisa rela kalo mereka perlakukan viza seperti itu pak"ucap andra dengan nada serius.
"Sekarang kita pulang aja pak, bapak istirahat besok siang kita ketemu dan pikirin cara selanjutnya pak"
Setelah itu andra masuk ke dalam rumah tersebut dan berpamitan untu kembali kerumah nya, andra pun pergi dan Berpisah dengan pak abbas, di dalam perjalanan andra mengingat semua kesulitan yang di alami viza tanpa di sadarinya air matanya menetes karna andra begitu sangat mencintai viza dan selalu ingin melindungi wanita yang di cintainya.