Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 74



1 tahun kemudian. . .


Di usianya yang telah memasuki masa sekolah taman kanak-kanak, Valerie dan Elang bersekolah di sekolah yang sama, keduanya selalu bersama dimana pun dan kapan pun sampai suatu waktu karena sebuah bisnis yang di rintih Joe, mereka harus terpisah dengan jarak yang begitu jauh dan sulit untuk bertemu.


"Om Joe, ku mohon jangan bawa kak Elang pergi hiks.." Ucap Valerie dalam tangisnya.


"Elang masih kecil, gak mungkin juga om tinggalin dia disini sendiri dalam waktu yang begitu lama atau mungkin kita gak akan kembali." Sahut Joe.


"Huaaa... mommy.. om Joe jahat, kenapa dia membawa kak Elang pergi? hiks hiks.." Ucap Valerie dalam tangisnya.


"Vale sayang, semuanya juga demi kebaikan Elang kamu gak boleh seperti itu." Sahut Vanya.


Elang yang sedari tadi menatap gadis kecil itu berjalan menghampirinya, ia menyeka air mata Valerie yang terus mengalir membasahi pipinya dan memberikan sebuah gantungan tas boneka kecil yang berbentuk kucing.


"Jika kamu ingat aku, lihatlah boneka ini jangan menangis lagi." Ucap Elang.


Valerie pun memeluk Elang dengan begitu erat dan menangis dalam pelukannya. Suasana haru pun terjadi diantara keluarga yang akan berpisah itu.


"Joe apa kamu tega memisahkan mereka?" Ucap Michelle.


"Sebenarnya aku juga gak tega, tapi mau gimana lagi? gak ada pilihan lain." Sahut Joe.


"Vale sayang, Elang gak meninggalkan kamu dia akan selalu ada buat menjaga kamu, jika kamu merindukannya kalian bisa melakukan panggilan video iya kan sayang?" Jelas Michelle.


"Mommy benar, jangan sedih lagi ya?" Ucap Elang.


"Daddy... bolehkah aku mengantarkan mereka ke bandara?" Tanya Valerie.


"Tentu, kita akan mengantarkan mereka, hapus air mata mu dan tersenyum lah." Sahut Ernan.


Kedua keluarga itu pun pergi menuju sebuah bandara internasional, Sesampainya di bandara, kedua anak kecil itu tak hentinya saling menggenggam satu sama lain, sampai akhirnya sebuah pesawat yang akan di tumpangi keluarga Joe akan segera lepas landas. Valerie kembali memeluk Elang sebelum akhirnya anak laki-laki itu masuk kedalam pesawat bersama dengan keluarganya. Sebuah pesawat telah terbang meninggi, Valerie yang melihat semua itu menyimpan kesedihan yang begitu mendalam.


"Kak Elang... aku akan menunggu mu kembali.." Teriak Valerie katika melihat sebuah pesawat yang perlahan mulai menghilang.


"Anak Daddy gak boleh cengeng, ayo kembali." Ucap Ernan.


"Iya dadd, aku udah gak nangis lagi kok." Sahut Valerie melebarkan senyumnya.


"Anak pintar." Ucap Ernan mengelus kepala putrinya.


**


Satu Minggu berlalu selepas kepergian Elang, Valerie mulai terbiasa dengan kehidupan nya tanpa seorang kakak laki-laki yang selama ini selalu bersamanya. Ia menyimpan dengan baik gelang pita yang di berikan Elang dan menggantungkan boneka kucingnya di tas kesayangannya.


"Vale sayang.. Elang video call nih." Teriak Vanya.


"Iya mom." Balas teriak Valerie yang berlari menghampiri mommy nya.


Meski di pertemukan secara virtual, namun kedua anak itu bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya jika sudah bercengkrama bersama.


"Kamu lagi apa?" Tanya Elang.


"Nunggu telpon dari kakak, kenapa kau pergi begitu lama?" Sahut Valerie.


"Baru juga 1 Minggu Val, apa kau sungguh merindukan Elang?" Tanya Michelle yang kebetulan sedang bersama putranya.


"Iya Tante, buat aku itu cukup lama." Ucap Valerie.


"Tunggulah, nanti aku bicara sama Daddy untuk minta segera kembali." Ucap Elang.


"Benarkah? aku tunggu loh kak nanti kita main bersama lagi." Sahut Valerie.


"Iya, aku janji." Ucap Elang.


Hari demi hari terus berlalu dan selama itu juga Valerie selalu menunggu kedatangan kakak nya itu namun dia tak pernah kunjung datang. Ya, karena usianya yang masih kecil sangat tidak memungkinkan untuk Elang kembali seorang diri.


Bisnis yang di kembangkan Joe di negara itu cukup besar dan berkembang pesat dengan cepat, dan itulah menjadi salah satu alasan untuk mereka menetap disana, sementara yang di negara asal ia serahkan pada asistennya untuk di kelola dan akan di berikan pada putra tunggalnya setelah dia dewasa nanti.


"Mommy.. ini bahkan sudah cukup lama kenapa om Joe tidak pernah kembali?" Tanya Valerie.


"Daddy pulang..." Ucap Ernan yang baru kembali dari perusahaannya.


Melihat putrinya yang cemberut, Ernan menghampiri kedua bidadari kesayangannya itu dan duduk di antara mereka berdua.


"Ada apa dengan putri kesayangan Daddy ini hm?" Tanya Ernan mencubit pelan pipi Valerie.


"Gak tau, lagi males ngomong." Sahut Valerie yang kemudian pergi meninggalkan orangtuanya.


"Kenapa dengan nya?" Tanya Ernan pada Vanya.


"Biasalah dia merindukan kakaknya, ini sudah cukup lama semenjak mereka pergi dan gak pernah kembali." Sahut Vanya.


"Kemarin Joe menghubungi ku, kemungkinan mereka akan menetap disana, tapi kamu jangan bilang sama Valeri kau yakin dia akan melupakan semuanya seiring berjalannya waktu." Ucap Ernan.


"Aku mengerti." Sahut Vanya.


*


Beberapa tahun kemudian. . .


Happy Birthday to you


Happy Birthday to you


Happy Birthday happy birthday


Happy Birthday to you....


"Yeayyy... tiup lilinnya.." Teriakkan dari beberapa tamu dalam acara ulangtahun Valerie yang ke 17 tahun.


Sebuah pesta yang di gelar di taman belakang rumah berlangsung cukup meriah, tidak hanya teman Valerie yang di undang dalam acara itu, tapi juga dari kalangan pebisnis yang merupakan kerabat dari Ernan. Selesai dengan acara pemotongan kue semua orang menikmati pestanya yang di temani alunan musik dan jamuan yang begitu mewah.


"Bibi Lian, apa ada kado spesial buat aku?" Tanya Valerie.


"Apa yang kamu inginkan dari bibi hm?" Sahut Lilian kepala pelayan rumah.


"Bukan dari bibi maksudnya tapi, kiriman dari kak Elang apa bibi menerimanya? soalnya aku cari dari semua kado gak ada satupun." Ucap Valerie.


"Tidak, hari ini bibi tidak menerima paket satu pun." Sahut Lilian.


"Ah, baiklah." Ucap Valerie.


Gadis yang mulai tumbuh dewasa itu melangkah gontai ke dalam kamarnya dengan perasaan yang begitu kecewa, setiap tahun ia selalu menerima kado dari Elang namun tidak kali ini, entah apa yang terjadi dengannya Valerie tidak ingin tau.


Tok tok tok. . .


"Vale.. kamu ngapain di dalam sayang? semua teman kamu menunggu mu." Ucap Vanya.


"Aku lelah mom, mau istirahat sebentar." Sahut Valerie yang teriak dari dalam kamarnya.


Vanya pun melangkah pergi meninggalkan kamar putrinya. Sementara dengan Valerie, berdiri di depan jendela kamar dengan pandangan yang menatap bintang indah di langit sana.


"Apa kau sudah melupakan ku? katakan kalau itu gak mungkin" Ucap Valerie yang bicara sendiri.


"Elang ku mohon, jangan siksa aku dengan harapan seperti ini, aku merindukanmu." Gumam Valerie.


Tak terasa buliran bening pun menetes di kedua pipi nya.


***


...TAMAT...


Makasih buat para readers yang udah setia baca novel receh othor dan makasih juga buat yang udah kasih dukungan nya selalu 🙏


Mau season 2 gak? kalau mau komen ya, dan jangan dulu unfav karena kalau kemungkinan ada S2 nanti akan aku umumkan di Eps berikutnya walau mungkin akan cukup lama mohon bersabar.


...Love you all ...