Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 65



"Sayang cepatlah sedikit apa kau masih belum selesai?" Ucap Ernan.


"Iya iya ini hampir selesai tunggu sebentar." Sahut Vanya.


Ya, hari itu adalah dimana hari Vanya untuk bertemu dengan dokter kandungannya, Ernan sengaja meluangkan waktunya hanya untuk mengantar istri tercinta dan melihat anak mereka lewat sebuah layar komputer. Vanya keluar dari kamarnya dengan mengenakan sebuah dress yang cukup pendek serta sebuah heels yang cukup tinggi dan rambut yang terurai.


"Ayo aku udah selesai." Ucap Vanya yang berdiri di hadapan suaminya yang sedang menatap layar laptop.


Perlahan Ernan memutarkan kepalanya dan melihat sosok istrinya dari atas hingga bawah ia mengerutkan alisnya dan menatap heran ke arah Vanya.


"Kenapa? apa aku terlalu cantik sampai kamu memasang ekspresi seperti itu?" Tanya Vanya dengan rasa percaya diri yang power full.


"Kau mau menemui dokter apa mau ketemu berondong hm?" Sahut Ernan yang melekatkan tatapannya.


"Ehh... boleh kah aku menemui seorang berondong?" Tanya Vanya.


"Coba ulang sekali lagi, aku tidak mendengarnya begitu jelas


" Ucap Ernan dengan tatapan usilnya.


"Hehe... gak ada pengulangan kata, ayo jangan sampai kita telat." Sahut Vanya menggandeng tangan suaminya.


Alih-alih mengikuti ucapan istrinya, Ernan melepaskan gandengan tangan Vanya dan berjalan menuju kamarnya, tentu saja hal itu membuat Vanya bingung sendiri dan hanya terdiam di tempat menatap punggung suaminya itu. Tak lama kemudian Ernan kembali menghampiri Vanya dengan menenteng sepasang sepatu di tangannya, ia berjongkok dan meraih kaki Vanya untuk memasangkan sepatunya.


"Ini baru benar, ayo." Ucap Ernan menggenggam tangan Vanya dan menuntunnya masuk kedalam mobil.


"Kenapa kau mengganti sepatu ku? aku bahkan jadi terlihat sedikit lebih pendek." Ucap Vanya.


"Wanita hamil mana boleh memakai sepatu dengan hak yang begitu tinggi, apa kau mau terjatuh dan membahayakan anak ku hm?" Sahut Ernan.


"Mana mungkin aku jatuh? bahkan aku telah terbiasa menggunakannya."


"Sayang.. apa kamu tau kapan bahaya akan menimpa mu? enggak kan? ini hanya untuk mencegah dan membuat nyaman kaki kamu tentunya." Jelas Ernan.


"Hahhh.. sudahlah aku malas debat dengan mu." Sahut Vanya.


Pria itu melirik ke arah istrinya dan mengusap kepalanya. Sesampainya di rumah sakit Vanya dan Ernan menuju sebuah ruangan yang dimana seorang dokter telah menunggunya. Namun siapa sangka mereka akan bertemu dengan Carla yang kebetulan sedang magang di rumah sakit itu.


"Kak Vanya...." Teriak Carla.


Vanya dan Ernan pun langsung menoleh ke sumber suara yang meneriakkan namanya. Carla berlari menghampiri Vanya dan memeluknya erat karena kesibukan nya mereka cukup lama tidak bertemu.


"Kamu magang disini?" Tanya Vanya.


"Em.. Kakak ngapain? mau cek kandungan kah?" Tanya balik Carla.


"Ya, kakak ada jadwal bertemu dengan dokter kandungan hari ini." Sahut Vanya.


"Hei kutub! kenapa kau tidak menyapa adik mu yang cantik ini?" Ucap Carla pada Ernan yang sedari tadi hanya diam.


Pletaakkk


Sebuah sentilan mendarat di kening gadis itu.


"Dasar gadis nakal, sopan kah kau bicara seperti itu sama kakak mu?" Ucap Ernan.


"Ya, kenapa kau begitu sensi? bukankah sudah biasa aku memanggil mu seperti itu?" atau.. ahh sepertinya aku tau."


"Apa kakak tidak memberinya jatah semalam?" Bisik Carla pada kakak iparnya.


"Tidak." Sahut Vanya.


"Ahh.. pantas saja dia sensi ternyata itu penyebabnya." Ucap Carla.


"Yak!! dasar kakak nyebelin..!!" Teriak Carla.


Kedua saudara kandung itu memanglah cukup dekat sampai tak jarang dari keduanya saling menggoda dan bercanda satu sama lain. Setelah masuk kedalam sebuah ruangan, dokter pun segera melakukan pemeriksaan dengan begitu rinci, mereka begitu senang setelah melihat calon anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Selesai pemeriksaan serta konsultasi, mereka pun bergegas keluar dan di kagetkan dengan kehadiran Carla yang ternyata menunggunya di depan pintu. Karena bertepatan dengan jam makan siang, gadis itu pun mengajak Vanya juga suaminya untuk makan bersama di sebuah restoran tempat keluarga Addison.


Tidak hanya mereka bertiga, Carla juga mengajak tunangannya yang tak lain adalah Ian untuk makan siang bersama. Mereka memesan beberapa makanan yang cukup menggiurkan di lidah dan salah satunya adalah makanan favorit Vanya dengan tingkat kepedasan yang cukup tinggi.


"Kamu tidak bisa memakan itu." Ucap Ernan yang begitu memperhatikan istrinya.


"Tapi aku mau, ini baby nya yang minta loh." Sahut Vanya.


"Sekali-kali gak papa kali kak, asal jangan keseringan." Sahut Carla.


"Lagian itu makanan favorit nya kak Vanya, mana mungkin dia mengabaikan nya begitu saja." Sahut Ian.


"Sepertinya di masa lalu kamu begitu dekat dengan istri ku sampai makanan favoritnya aja kamu tau." Ucap Ernan.


"Oh jelas karena dulu aku...." Ucapan Ian terhenti ketika ia melihat sorot mata yang menatapnya begitu tajam.


"Hehe... aku adik pungut nya." Sambung Ian cengengesan.


"Ckckck... sudah mau menjadi adik ipar nya masih aja di cemburui." Ucap Carla.


"Sayang, jangan kau menakutinya seperti itu apa kau mau di kategorikan sebagai kakak ipar yang menyeramkan? kan gak lucu, ayo makan nih aaaa...." Ucap Vanya yang hendak menyuapi suaminya.


Ernan pun menerima suapan dari istrinya, ia juga sengaja memperlakukan Vanya dengan begitu manis dan romantis di hadapan adik nya dan juga Ian. Entah itu bawaan calon anaknya atau bukan yang jelas semenjak Vanya mengandung anaknya ia terlihat begitu sensi dan selalu waspada dengan pria yang dekat dengan istrinya.


Setelah makan siang, Vanya memeluk Carla untuk berpamitan lebih dulu karena ada pekerjaan mendadak yang harus segera Ernan selesaikan, di saat ia akan berpamitan dengan Ian, Ernan menariknya agar Vanya tidak bersentuhan dengan pria lain walau hanya berjabat tangan. Tentu saja hal itu membuat Ian tertawa geli di saat keduanya telah pergi.


"Kakak mu begitu lucu, masih saja cemburu sama yang lebih muda." Ucap Ian.


"Mungkin efek bayi, yang sensi bukan mama nya tapi papanya haha.. sungguh absurd." Sahut Carla.


Sementara itu yang berada di dalam mobil, Vanya sibuk dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri entah apa yang dia lihat.


"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" Tanya Ernan.


"Tidak ada." Sahut Vanya menyembunyikan ponselnya hanya untuk mengerjai suaminya.


Sampai akhirnya Ernan menghentikan mobilnya dan merebut ponsel Vanya dari tangan pemilik nya, dan ternyata Vanya tersenyum karena hanya melihat foto mereka berdua yang begitu manis.


"Apa kau tersenyum karena ini?" Tanya Ernan.


"Menurut mu aku tersenyum karena hal apa?"


"Siapa tau kau sedang chat dengan pria lain." Ucap Ernan.


"Hei.. apa kau pikir seorang wanita hamil begitu menggoda? dilihat dari bentuknya aja udah terlihat aneh gitu, masih banyak gadis seksi lainnya di luar sana dan satu lagi apa mereka masih berani menggoda ku setelah tau aku istri kamu? mungkin mereka akan mikir dua kali untuk tidak mati konyol." Ucap Vanya dengan senyuman manisnya.


"Kau tidak perlu secemas itu sayang, aku tidak akan berpaling." Sambung Vanya yang mengecup bibir suaminya.


"Hm, aku pun terkadang merasa aneh dengan sikap ku yang sekarang." Sahut Ernan.


"Hehe.. sudahlah, ayo lanjut bukannya kamu harus ke perusahaan?" Ucap Vanya.


Ernan hanya mengangguk dan kembali melajukan mobilnya.


***


Bersambung. . .