
"Er... Leo?" Ucap Vanya yang hendak memanggil nama Ernan namun ia sadar kalau pria di hadapannya adalah Leo.
"Kenapa? apa kau mengira aku tuan muda?" Tanya Leo.
"Hm, masuklah, ada apa larut malam begini kamu menemui ku?" Sahut Vanya yang langsung menanyakan maksud dan tujuan Leo menemuinya.
"Aku dengar ada insiden mengenai Luna beberapa jam lalu, apa kau yang melakukan nya?" Tanya Leo.
"Tidak, terjatuh sendiri karena terpeleset." Saut Vanya.
Malam berlalu, Vanya yang baru tertidur selama beberapa jam harus terbangun kembali karena mendengar suara bell rumah nya berbunyi. Ia melihat sebuah jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 08.00 gadis itu pun bergegas menuju sebuah pintu dan langsung membukanya.
Tampaklah seorang pria berdiri tegap dengan pakaian yang begitu rapi dan tersenyum ke arah Vanya. Dengan mata yang masih ngantuk, Vanya hanya bisa menatap malas pria yang kini berada di hadapannya.
"Apa kau gak akan mengijinkan ku masuk?" Tanya Lucas.
"Katakan, untuk apa kau datang kesini?" Tanya balik Vanya.
"Hei.. kenapa kau terlihat begitu arogan? sedangkan ketika bersama dengan Ernan kau terlihat begitu santai." Ucap Lucas.
"Aku gak ada waktu untuk membahas hal yang gak penting! silahkan pergi!" Ucap Vanya yang hendak menutup pintunya namun di tahan oleh tangan Lucas.
"Lupakan Ernan, kita mulai hidup baru bersama bahkan sekarang aku telah mendapatkan posisi yang pernah Ernan duduki, bukankah itu yang kamu mau?" Ucap Lucas.
"Hm kau benar, uang memang segalanya tapi tidak untuk hati sebaiknya kamu cari wanita lain dan jangan pernah menemui aku lagi! " Ucap Vanya.
"Apa kau tidak ingin mengetahui siapa di balik semua ini?" Tanya Lucas.
Vanya pun kembali membukakan pintunya dan menatap Lucas dengan penuh harap, ia pun menyuruh pria itu untuk masuk kedalam rumahnya. Lucas berjanji akan memberitahukan semuanya asal Vanya bersedia menjadi pendamping hidupnya. Jika dikatakan serakah, jawabannya benar Lucas memanglah begitu serakah setelah ia berhasil merebut posisi Ernan ia juga ingin merebut Vanya untuk di jadikannya sebagai istri.
Setelah berpikir berulang kali, akhirnya Vanya menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh pria itu. Dengan segera Lucas pun memberitahukan kebenaran semuanya yang terjadi pada kecelakaan Ernan.
"Bukankah ini sebuah pengkhianatan karena kamu memberitahukannya pada ku?" Ucap Vanya.
"Aku tidak pernah mengkhianatinya karena aku tidak pernah bekerjasama dengan nya, dia nya aja yang terlalu polos dan bertindak gegabah terlebih putrinya yang sekarang berada di rumah sakit." Jelas Lucas.
"Hmm.. baiklah, apa kau bisa membantu ku?" Ucap Vanya.
"Katakan apa yang kau butuhkan? aku pasti membantu mu." Sahut Lucas.
"Berikan aku semua buktinya, kalau dia yang melakukan semua itu." Ucap Vanya.
"Aku akan memberikannya di hari pernikahan kita nanti, bagaimana?" Sahut Lucas.
"Aishh sial!" Desis Vanya.
Cukup lama Lucas berada di rumah Vanya dan berbincang, akhirnya Vanya berhasil mengusir nya secara halus dengan sebuah alasan, gadis itu pun pergi ke butik yang di berikan oleh Ernan dan mulai sekarang Vanya yang menjadi pengelola toko tersebut.
Tidak hanya tinggal diam Vanya pun menghubungi Leo, Ian dan Carla untuk meminta bantuan mereka dalam menjalankan misi nya. Mereka membuat sebuah janji untuk bertemu di salah satu cafe dekat butik itu. Satu persatu mereka pun datang dan menghampiri Vanya yang tengah duduk bersama dengan sebuah laptop di hadapannya.
"Kak Vanya.. serius banget? lihat apa?" Tanya Carla.
"Ahh... ini aku lagi menyalin sebuah file." Jawab Vanya.
Sementara dengan Ian yang baru bertemu dengan Carla tak lepas dari pandangannya yang menatap gadis kecil itu dengan sejuta arti.
"Dia siapa? manisnya mengalahkan gula." Ucap Ian yang terpesona melihat Carla.
Belum sempat Vanya menjawab ucapan Ian, gadis yang duduk di sebelahnya dengan cepat mengulurkan tangannya ke arah pria itu.
"Nama ku Carla, gadis kecil berparas cantik nan seksi." Ucap Carla.
Ian pun langsung menerima uluran tangan Carla, sementara dengan kedua orang dewasa yang berada di antara mereka hanya bisa menahan tawa melihat tingkah Carla yang kecentilan serta Ian yang malu-malu harimau.
"Sudah, kita kesini untuk memenuhi panggilan nona muda." Ucap Leo.
"Ada apa kamu memanggil kita kesini?" Sambung Leo.
"Kalian dengarkan ini." Ucap Vanya menaruh ponselnya dan menyalakan sebuah rekaman pembicaraannya dengan Lucas di pagi tadi.
Satu, dua, tiga... mereka tersentak kaget secara bersamaan setelah selesai mendengar rekaman itu. Bagaimana bisa Vanya yang baru di tinggalkan Ernan menyetujui perjanjian pernikahan bersama pria lain terlebih lagi itu adalah adik sepupunya, ketiga orang itu pun langsung protes dengan tindakan Vanya.
"Hei kalian dengarkan dulu penjelasan ku!" Ucap Vanya.
"Apa ini adalah bagian dari rencana mu?" Tanya Leo.
"Hm, kita bisa menembak empat ekor burung dengan satu kali tembakan." Sahut Vanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Carla.
Vanya pun tersenyum dan memberikan mereka tugasnya masing-masing untuk menjalankan rencananya.
"Ingat, jangan sampai ada orang lain yang mengetahuinya, kita lakukan sebaik mungkin."
"Baiklah." Ucap mereka kompak.
Bukan hanya mereka bertiga yang di beri tugas oleh Vanya, tapi juga Joe dan Michelle pun ikut terlibat dalam tugas itu. Setelah rapat selesai, Leo mengajak Vanya untuk pergi ke suatu tempat yang cukup jauh dari pusat kota, sementara dengan Carla dan Ian di berikan kesempatan untuk mereka saling mengenal satu sama lain.
"Kemana kau akan membawaku pergi? kenapa begitu jauh dari pusat kota?" Tanya Vanya.
"Ke suatu tempat yang mungkin akan membuat mu senang."
"Apa kau berniat untuk merayu ku dengan sebuah tempat yang menarik?" Tanya Vanya kembali.
"Ck, apa aku terlihat seperti orang yang mampu bersaing dengan boss sendiri?" Ucap Leo.
"Tapi kan Ernan udah gak ada, siapa tau kamu akan menggunakan kesempatan itu." Sahut Vanya.
"Sudahlah, kau perlu duduk diam dan nikmati perjalanannya sebentar lagi kita sampai." Ucap Leo.
Vanya pun menuruti apa yang di katakan Leo, sepanjang jalan ia melihat sederetan kebun buah yang terlihat begitu subur dan memanjakan mata seakan ia ingin turun dan memetik buah-buahan tersebut. Satu jam berlalu, Leo pun menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang sederhana dan kecil.
Leo pun segera membukakan pintu mobil untuk Vanya dan membawanya masuk kedalam rumah itu yang terdapat seorang wanita muda dengan dua orang pria bersamanya. Sesampainya di dalam rumah Vanya meneliti seisi rumah itu dengan seksama hingga akhirnya datanglah seorang wanita yang biasa di sebut dengan nama Liora atau Yora.
***
Bersambung. . .