
Pagi hari menjelang yang bertepatan dengan hari libur, jika setiap hari libur adalah hari dimana Vanya untuk bermalas-malasan, lain hal nya dengan hari itu dimana ia telah di bangunkan Carla dari pagi buta hanya untuk menemaninya joging di sekitaran taman dekat rumah, bukan hanya mereka berdua tapi juga Ernan dan nyonya Liu pun ikut bersamanya.
Vanya yang terlihat masih ngantuk gak punya semangat untuk berlari, ia hanya berjalan santai dengan wajah yang begitu lemas. Tentu saja hal itu membuat nyonya Liu mencemaskannya ia berpikir kalau Vanya sedang tidak enak badan, nyonya Liu pun segera menyuruh Ernan untuk menggendongnya dan membawanya kembali ke rumah.
Dengan tiba-tiba Ernan jongkok di hadapan Vanya dan menyuruh gadis itu untuk naik ke punggungnya, hal itu membuat Vanya mengerutkan keningnya dan menatap bingung ke arah pria di hadapannya. Vanya pun mengabaikan Ernan dan melewatinya begitu saja.
Melihat Vanya yang terlihat baik-baik saja, Ernan pun kembali berdiri dan berlari kecil untuk mengejarnya.
"Apa kau sedang mencari perhatian hm?" Tanya Ernan.
"Tidak, kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Mama menyuruh ku untuk menggendong mu karena kamu terlihat seperti orang sakit!"
"Ahh, begitu rupanya..." Sahut Vanya.
Seketika gadis itu pun menemukan sebuah ide untuk mengerjai Ernan, ia berpura-pura sakit kepala dan berjongkok di pinggiran jalan hingga menarik perhatian nyonya Liu dan juga Carla yang berjarak tak begitu jauh dari tempat pasangan absurd itu berada.
"Kak Vanya..." Teriak Carla yang berlari menghampiri Vanya dan di susul oleh mamanya.
Sementara dengan Ernan hanya bedecak dan berkacak pinggang melihat tingkah gadis di sampingnya yang sedang mendrama.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau hanya berdiri dan mengabaikannya?"
"Tau nih kakak emang gak punya hati! Calon istrinya sakit bukan di tolongin malah di biarin!" Ucap Carla.
"Sudahlah aku gak papa, dia emang gak pernah tulus menyayangi aku, tante bisa lihat sendiri dia seperti apa." Ucap Vanya dengan wajah yang memelas.
"Tunggu apa lagi? cepat gendong dia! Apa kau akan membiarkannya pingsan disini?!" Ucap nyonya Liu memukul tangan putranya.
Merasa puas dengan tingkahnya Vanya menjulurkan sedikit lidahnya pada Ernan, sementara pria itu dengan malas mengendong Vanya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Ernan menurunkan Vanya di sebuah ranjang kamar tamu.
Semantara dengan nyonya Liu sibuk membuat sup untuk Vanya yang di anggap calon menantunya itu, ia sengaja membuatkannya sendiri tanpa menyuruh seorang pelayan untuk menunjukkan kasih sayang nya pada Vanya.
Di dalam sebuah kamar, Ernan ingin mengerjai balik gadis yang kini sedang terbaring di hadapannya, perlahan pria itu mendekati Vanya dan menindihnya dengan kedua tangan yang mencengkram tangan Vanya.
"K-kau... Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Vanya gugup.
"Membuat keponakan untuk Carla." Sahut Ernan menggerakkan kedua alisnya.
"What? Cepat minggir sebelum ku tendang masa depan mu!" Ucap Vanya.
"Coba saja kalau berani."
Di saat Vanya akan mengangkat kakinya, sebuah pintu terbuka dengan refleks Ernan menoleh ke belakangnya hingga melonggarkan genggaman tangannya, Vanya menggunakan kesempatan itu untuk mendorong Ernan hingga pria itu terjatuh, dengan cepat Vanya duduk dan membenarkan bajunya.
"Ashh..." Desis Ernan yang terduduk di lantai.
"Maaf ganggu, mama cuma mau mengantarkan ini." Ucap nyonya Liu yang membawa semangkuk sup buatannya.
"Makasih Tante ngerepotin, aku udah gak papa kok." Ucap Vanya.
"Pokonya kamu harus minum sup ini, Tante khusus buatkan untuk kamu." Sahut nyonya Liu yang hendak menyuapi Vanya.
Vanya hanya bisa tersenyum dan menerima suapan itu, seketika ia merasakan kehadiran sosok mama nya dalam diri nyonya Liu. Tanpa terasa gadis itu meneteskan air matanya dan menatap wanita di hadapannya dengan begitu lekat.
"Kenapa kamu menangis? Apa sup nya tidak enak?" Tanya nyonya Liu yang mencemaskan masakannya.
Vanya pun menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya merindukan mama." Ucap Vanya dengan suara sendu.
Melihat suasana yang penuh dengan keharuan seperti itu membuat Ernan tersentuh, ia pu pergi meninggalkan kedua wanita itu untuk memberikannya ruang.
"Kakak.. gimana dengan kak Vanya? Apa dia baik-baik aja?" Tanya Carla.
"Dia gak papa, apa kau begitu mencemaskannya?" Tanya balik Ernan.
"Tentu, bagaimana tidak? Dia calon Kakak ipar aku dan aku begitu menyukainya." Jawab Carla.
Mendengar jawaban dari adik kesayangannya, Ernan hanya tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepalanya. Ia pergi ke dapur dan membuatkan minuman untuk Vanya. Cukup lama Ernan pergi, ia pun kembali ke kamar tamu dengan segelas jus di tangannya.
"Minumlah." Ucap Ernan memberikan gelas itu.
"Gak kamu kasih racun kan?" Sahut Vanya.
"Apa aku terlihat seperti akan meracuni mu hah? Jika aku niat membunuh mu aku tinggal lempar kamu ke jalan raya." Tutur Ernan.
"Ernan! Apa seperti itu cara bicara mu pada istri mu?" Ucap sang ibu.
Merasa menang dan mendapatkan pembelaan Vanya kembali menjulurkan lidahnya dan tersenyum nakal ke arah pria yang berdiri di depannya.
"Baiklah, kalian lanjutkan berdua, mama akan keluar dulu, jagain dia baik-baik!"
"Kalau Ernan menyakiti mu, bilang Tante." Sambung nyonya Liu.
"Siap Tante." Sahut Vanya tersenyum senang.
Setelah nyonya Liu pergi dan pintu tertutup, raut wajah Vanya seketika berubah dari yang awalnya terlihat ceria kini menjadi datar.
"Kenapa? Bukankah kau begitu senang telah berhasil mengerjai ku?" Tanya Ernan.
"Bawel ya, aku sekarang jadi merasa bersalah tau gak?"
"Bersalah? Untuk apa?"
"Bodoh! Bukannya kita telah membohongi mama kamu dengan status palsu kita? Dia begitu baik, kenapa kau tega melakukan semuanya?" Ucap Vanya.
"Baiklah, ayo kita pacaran dan menikah secara resmi." Ujar Ernan.
"Hah?! Gak gitu juga maksudnya."
"Lalu?"
"Kamu bisa cari wanita lain yang lebih baik dari aku untuk kamu jadikan istri yang sesungguhnya."
"Aku gak mau dan gak akan pernah menikah selain dengan kamu." Ucap Ernan yang terdengar begitu serius.
Deg... Perkataan yang baru saja Ernan ucapkan membuat Vanya seakan terbang, entah ia menyukai ucapan yang di katakan Ernan atau karena hal lainnya. Gadis itu pun tertawa geli hingga mengeluarkan air matanya.
"Dasar bodoh! Siapa juga yang mau menikah dengan mu? Haha..." Ucap Vanya yang masih tertawa.
"Terserah, cepat keluar gak usah berpura-pura lagi!"
Pria itu pun pergi meninggalkan Vanya dengan langkah yang begitu elegan. Vanya yang masih menatap punggung Ernan pikirannya hilang entah kemana, sampai akhirnya ia menepuk pipinya sendiri agar tersadar dari mimpi yang hanya akan membuat nya terjatuh.
"Kita berbeda dan gak akan pernah menyatu, ingat itu Vanya!" Gumam gadis itu yang bicara pada dirinya sendiri.
***
Bersambung. . .