
Satu hari setelahnya, seperti biasanya Valerie hanya ditemani oleh Arumi karena Ernan dan Vanya sibuk dengan bisnisnya masing-masing. Di usianya yang masih dini, Vale lebih senang menghabiskan waktunya dengan belajar ketimbang bermain layaknya anak lainnya, kecuali jika ia bersama dengan Elang yang jika sudah bertemu bisa sampai lupa waktu.
Di saat Valerie tengah sibuk belajar suara langkah kaki terdengar menghampirinya dan saking sibuknya Vale mengabaikan orang yang kini telah berada di dekatnya.
"Hallo Vale, kamu sedang apa?" Tanya seseorang yang menyerupai suara Anek kecil dan menutup wajahnya dengan sebuah boneka.
Vale pun menaruh alat tulis nya dan menoleh ke arah boneka tersebut.
"Woahh.. Minnie." Ucap Valerie yang melihat sebuah boneka Minnie mouse.
Gadis kecil itu mengambil boneka tersebut dan melihat orang yang berada di baliknya tersenyum ke arahnya.
"Om Joe.." Ucap Vale sambil clingak-clinguk melihat ke belakang Joe.
"Elang mana? apa om hanya datang sendirian?" Tanya Valerie.
Hanya selang beberapa detik setelah Valerie menanyakan sepupunya, terdengar suara anak laki-laki yang memanggil nama Vale dengan begitu akrab dan tak asing. Joe datang bersama dengan keluarganya untuk menitipkan Elang karena ia harus pergi keluar negeri untuk bisnisnya bersama dengan Michelle sang istri.
"Kyaaa... Elang..." teriak Valerie yang berlari ke arah Elang dan memeluknya.
Elang sudah bagaikan pawang bagi Valerie, gadis kecil itu akan menuruti semua apa yang di katakan kakak sepupu nya. Walau sebenarnya Elang adalah adik sepupunya tapi karena usianya yang lebih tua dari Valerie gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan kakak hanya untuk menghormati nya.
"Elang untuk sementara tinggal sama om Ernan dan Tante Vanya gak papa kan?" Ucap Michelle.
"Iya mom, lagipula disini ada Valerie." Sahut Elang.
"Om dan Tante mau kemana?" Tanya Vale.
"Om sama Tante ada urusan pekerjaan, jadi selama satu Minggu kedepan Elang akan tinggal disini." Jelas Joe.
"Woaahhh.. itu menyenangkan kak Elang tinggal bersama ku." Ucap Valerie.
"Rumi.. aku titip Elang disini, nanti aku hubungi kak Ernan dan juga kak Vanya." Ucap Joe.
"Baik tuan, dengan senang hati saya akan menjaganya." Sahut Arumi.
"Mommy sama Daddy pergi dulu ya sayang, kamu baik-baik disini jangan nakal dan jangan buat aunty Rumi marah." Ucap Michelle.
"Siap mom." Sahut Elang.
Joe dan Michelle pun melangkah keluar meninggalkan rumah itu, keduanya masuk ke dalam mobil yang sama dan di saksikan oleh putra tunggalnya sampai mobil melaju dan tak te0rlihat lagi. Elang menghela nafas beratnya melihat kedua orangtuanya pergi, Valerie yang melihat kesedihan di wajah kakak nya itu menggenggam tangan Elang agar ia tak perlu merasa cemas karena dirinya tak sendiri.
"Ayo masuk." Ucap Valerie.
Elang hanya mengangguk dan mereka pun masuk kedalam rumah.
Di tempat lain Vanya yang tengah di sibukkan dengan serangkaian kegiatan nya di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang masuk kedalam tokonya itu. Seorang wanita dengan sebuah kain yang menutupi kepalanya serta memakai kacamata hitam diantar masuk kedalam ruangan Vanya oleh salah satu karyawannya.
"Apa kau masih mengenali ku?" Tanya wanita tersebut.
Vanya tidak dapat mengenali sosok wanita itu karena kacamata yang di kenakan nya, sampai akhirnya wanita itu melepaskan kacamata nya dan menunjukkan wajah nya di hadapan Vanya. Betapa terkejutnya Vanya ketika melihat sosok yang di kenalnya di masa lalu dan kini berada di hadapannya.
"Luna?" Ucap Vanya kaget.
"Hm ini aku, kenapa kau terlihat begitu kaget?" Tanya Luna.
"Ahh, tidak." Sahut Vanya.
"Bagaimana kau bisa keluar dengan begitu cepat?" Tanya Vanya.
"Bukan hal yang sulit."
"Ku dengar kehidupan kamu sekarang begitu sempurna dengan kehadiran seorang putri." Ucap Luna.
"Ya tentu, selama gak ada pengganggu keluarga ku baik-baik saja." Sahut Vanya seraya meneguk teh nya.
"Katakan, apa tujuan mu sebenernya menemui ku?" Tanya Vanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas perlakuan ku dulu sama kamu dan juga apa yang kamu katakan tentang Daren benar, dia hanya ingin perusahaan dan bukan pria yang baik." Jelas Luna.
Di tengah-tengah obrolannya tiba-tiba ponsel Vanya berdering, ia pergi beberapa langkah untuk menerima panggilannya yang tak lain adalah Michelle. Sementara Vanya berbincang di telpon, dengan tanpa ia sadari Luna mengikutinya dan mendengarkan pembicaraan Vanya dengan Michelle, setelah selesai ia segera kembali ke tempat duduknya sebelum Vanya kembali.
"Emm.. sepertinya aku tidak bisa berlama-lama." Ucap Luna.
"Kenapa begitu terburu-buru? tidak kah kau ingin bermain ke rumah?" Tanya Vanya.
"Mungkin lain kali aku akan sengaja berkunjung ke rumah." Sahut Luna.
"Ahh, baiklah kalau gitu hati-hati di depan sana mungkin ada lubang jangan sampai kamu terperosok." Ucap Vanya yang tersenyum.
Luna membalas senyuman Vanya meski sebenarnya ia tak ingin, Wanita itu pun pergi meninggalkan cafe tersebut dan berjalan entah kemana, sementara dengan Vanya tersenyum miring melihat kepergian Luna. Entah itu benar atau hanya berpura-pura namun Vanya masih harus tetap waspada dengan wanita licik itu sekalipun ia adalah kakak nya Joe.
Sore hari...
Tiba dimana saatnya Ernan untuk menjemput istri tercinta di tokonya, sebuah mobil hitam pekat mengkilat berhenti tepat di depan sebuah toko, beberapa karyawan menatap kagum dengan kedatangan Ernan yang selalu menjemput Vanya sekalipun ia sedang sibuk. Perlakuannya terhadap sang istri membuat beberapa orang iri melihatnya. Vanya pun bergegas meninggalkan toko nya dan pergi bersama dengan suaminya
"Kau tau apa yang terjadi hari ini?" Tanya Vanya.
"Kenapa? kau membuat gaun yang indah? atau menemukan kekasih baru?" Sahut Ernan dalam candaannya.
"Kau mengijinkan aku berselingkuh?" Ucap Vanya bertanya balik.
"Asalkan pria itu lebih segalanya dari aku, maka aku akan membiarkan mu." Sahut Ernan.
"Dasar licik" Ucap Vanya tertawa kecil.
Ya, bagaimana bisa Vanya menemukan pria yang lebih dari Ernan sementara dia adalah penerus perusahaan terbesar no 1 di tempatnya.
"Luna datang menemui ku." Ucap Vanya dengan tiba-tiba.
"Kapan dia bebas? lalu apa yang dia katakan?" Sahut Ernan.
"Entah, sepertinya belum lama, dia hanya datang minta maaf dan menyesali perbuatannya di masa lalu." Ucap Vanya.
"Apa kau percaya?" Tanya Ernan.
"Menurut mu apa aku harus percaya? tapi sepertinya hati ku melarang untuk mempercayai nya." Sahut Vanya.
Ernan hanya tersenyum mendengar jawaban dari istrinya itu, ia mengusap lembut kepala Vanya hingga tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah mansion.
***
Bersambung. . .