
"Bagaimana keadaannya? kenapa dia terus muntah seperti itu?" Tanya Ernan.
"Hanya ada sedikit masalah dengan pencernaan nya, tapi kemungkinan tidak hanya itu, ini aku berikan resep obatnya sekaligus sama alat tes kehamilan untuk mengetahui lebih jelasnya atau bila perlu kamu bisa membawanya langsung ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut." Jelas dokter Ling.
"Baiklah, terimakasih." Sahut Ernan.
Setelah dokter Ling pergi, Ernan menyuruh Leo untuk menebus obat di apotek terdekat. Wajah yang awalnya terlihat begitu cemas kini berubah menjadi ekspresi yang bahagia, Ernan menghampiri Vanya yang duduk bersandar di sebuah ranjang.
"Dokter bilang apa? kenapa kamu terlihat begitu bahagia?" Tanya Vanya.
"Apa bulan ini kamu telat?" Tanya Ernan.
"Telat?" Ulang Vanya yang tidak mengerti dengan yang di maksud suaminya.
"Datang bulan." Sahut Ernan.
Vanya pun terdiam sejenak mendengar apa yang di katakan Ernan, ia mengambil ponselnya dan melihat sebuah kalender. Benar saja tanpa di sadari Vanya telah telat dua Minggu dari tanggal yang seharusnya ia datang bulan namun sampai sekarang belum juga datang. Vanya menatap suaminya hingga keduanya saling beradu tatapan dan senyum dari keduanya pun melebar.
Ernan meraih tangan Vanya dan menarik kedalam pelukannya, di saat terjadi suasana romantis Leo mengetuk pintu kamar itu namun tidak dari keduanya yang menjawab ketukan pintu karena begitu terhanyut dalam kebahagiaan, sampai akhirnya Leo masuk dan melihat sepasang suami istri yang sedang berpelukan begitu mesra hingga membuatnya iri.
"Maaf tuan, nona.. ini obatnya." Ucap Leo memberikan kantong kecil yang berisi obat.
"Makasih Leo." Ucap Ernan.
Mendengar Ernan mengucapkan terimakasih membuat Leo tercengang, faktanya ia begitu jarang mendengar bos nya itu mengucapkan terimakasih terutama pada dirinya. "Apa yang membuatnya berubah?" Gumam Leo yang kembali keluar.
Ernan memberikan alat tes itu dan menyuruh Vanya untuk segera menggunakannya dan membuktikan kalau Vanya benar positif hamil. Setelah 5 menit Vanya berada di kamar mandi ia pun keluar dengan membawa hasilnya dengan wajah yang menunduk, Ernan yang melihat kedatangan istrinya beranjak dari duduknya dan menghampiri Vanya, ia mengangkat dagu istrinya dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Hei.. kenapa wajah mu di tekuk seperti itu? bagaimana dengan hasilnya?" Tanya Ernan.
Vanya kembali menunduk dan menggelengkan kepalanya, terlihat rasa kecewa pada raut wajah Ernan dengan ekspresi Vanya yang seperti itu membuat ia mengetahui hasil nya tanpa di beritahu.
"Tidak apa, mungkin belum waktunya kita masih bisa mencobanya." Ucap Ernan memeluk Vanya.
Vanya tak bisa lagi menahan tawa nya, akhirnya ia tertawa cekikikan dalam pelukan suaminya dan membuat Ernan bingung sendiri.
"Hei.. ada apa dengan mu? kenapa kau tertawa begitu kencang? jangan dulu gila masih ada kesempatan untuk kita berusaha." Ucap Ernan.
"Yak!! kenapa kau malah mengatai ku gila?" Sahut Vanya melepaskan pelukannya.
"Lalu? kenapa tadi kamu terlihat begitu sedih dan sekarang tertawa?"
"Jangan bilang itu hanya..." Ucapan Ernan terputus.
Vanya mengangguk dan masih tertawa melihat suaminya yang masih bingung di buatnya, ia pun memberikan hasil tesnya yang menunjukkan garis dua dan menandakan kalau Vanya positif hamil. Ernan yang terlihat sangat bahagia menggendong Vanya dan memutarkan tubuhnya, keduanya terlarut dalam kebahagiaan yang begitu sempurna akhirnya waktu yang di tunggu pun tiba.
**
Hari itu pun tiba, dimana Ernan yang harus pergi mengurusi pekerjaannya dan meninggalkan Vanya untuk beberapa hari, ia menyuruh adiknya untuk menemani kakak iparnya yang kini sedang hamil muda.
"Jaga diri baik-baik, aku akan segera kembali setelah selesai." Ucap Ernan mengecup kening Vanya dan perutnya yang masih rata.
"Kamu gak perlu cemas gak akan ada yang berani mengusik seorang Vanya." Sahut Vanya tertawa kecil.
"Aku percaya, mungkin nanti Carla atau mama akan sering berkunjung untuk menemani kamu." Ucap Ernan.
"Shita? apa itu kamu?" Tanya Ernan menghentikan langkahnya.
Wanita itu pun membuka kacamatanya dan tersenyum.
"Ya, ini aku kenapa kau terlihat begitu kaget seperti itu?" Tanya Shita.
"Leo.. jelaskan semua ini!" Ucap Ernan.
"Jangan tanya Leo, dia bahkan tidak tau apapun." Sahut Shita.
"Apa di balik semua ini?" Tanya Ernan.
"Aku akan menceritakan nya di pesawat, ayo sebelum kita terlambat." Ucap Shita yang menarik Ernan dan masuk kedalam pesawat.
Entah suatu kebetulan atau unsur sengaja, kini mau tidak mau Ernan duduk berdampingan dengan Shita untuk menuju tempat yang sama dan mengurusi pekerjaan yang sama. Setelah beberapa jam mereka melakukan perjalanan akhirnya Ernan tiba di tempat tujuan, ia menuju sebuah hotel yang telah di pesannya begitu juga dengan Shita yang telah memesan hotel yang sama dan kamar yang bersebelahan dengan Ernan dan Leo.
"Leo! bagaimana bisa kamu tidak mengetahui semua ini?" Ucap Ernan di dalam kamarnya.
"Maaf tuan, tapi selama ini saya tidak bertemu dengan non Shita." Sahut Leo.
"Cari tau apa hubungannya dengan perusahaan x sekarang!" Ucap Ernan.
"Baik tuan."
Leo pun keluar dari kamar Ernan dan berpapasan dengan Shita yang berada di luar kamar tersebut. Wanita itu tersenyum ke arah Leo dengan penuh arti, ia mengetuk pintu kamar Erman. Sebuah pintu terbuka dengan sambutan wajah Ernan yang jelas tidak menyukainya.
"Ada perlu apa?" Tanya Ernan.
"Ini aku belikan cake kesukaan kamu, sekalian ada yang ingin aku bicarakan mengenai sebuah kerjasama dengan perusahaan x." Ucap Shita yang nyelonong masuk ke kamar Ernan.
"Apa yang kau sebut kerjasama? jelas-jelas pekerjaan ku gak ada sangkut pautnya sama perusahaan kamu!" Sahut Ernan.
Shita duduk di sebuah sofa dengan menyilangkan kakinya dan tersenyum miring seolah ia meremehkan pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Duduklah dulu, tidak baik bicara sambil berdiri seperti itu." Ucap Shita.
Alih-alih mengikuti ucapan Shita, Ernan berbalik dan berjalan menuju sebuah pintu keluar, dengan cepat Shita mengejarnya dan memeluk punggung Ernan dengan begitu erat.
"Percayalah, aku melakukan semua ini demi kamu, aku ingin membantu kamu Ernan bahkan aku bisa membantu mu untuk menghancurkan Nic sekalipun dia adik ku." Ucap Shita.
"Membantu kamu bilang? bukankah ini rencana kamu bersama dengan adik mu itu?!" Bentak Ernan.
"Tidak, aku tidak ada sangkut pautnya dengan Nic aku tau apa yang telah dia lakukan itu salah aku bisa menghentikannya kalau kamu mau dengan syarat buat aku bahagia satu malam saja." Ucap Shita.
"Kau gila Shita!" Bentak Ernan.
"Ya, aku benar gila! dan asal kamu tau perusaahan x yang kamu ajak kerjasama sekarang dia mau bekerjasama dengan kamu semua karena aku!" Ucap Shita.
Seketika Ernan mengentikan langkahnya mendengar apa yang di katakan Shita.
***
Bersambung. . .