
Hari-hari yang di lewati Vanya kini terasa begitu sepi, mimpi yang telah di rencanakan nya bersama dengan Ernan kini musnah sudah dan hanya akan menjadi sebuah harapan yang tidak akan pernah terwujud.
Hari kelulusan pun tiba kini Vanya menyandang sebagai status seorang desainer, jika harapannya dulu merayakan kelulusan bersama dengan Ernan namun tidak dengan kenyataan nya Vanya melewati semua itu hanya bersama dengan teman-teman nya yang termasuk Michelle dan Joe. Di malam kelulusan semua bergembira dengan berbagai acara atau hanya sekedar minum-minum.
"Hei Van.. kenapa bengong aja? ayo minum." Ucap Michelle memberikan satu gelas minuman.
"Hahhh.. kenapa semuanya begitu singkat." sahut Vanya menghela nafasnya.
"Apa kau merindukannya?" Tanya Joe yang mengerti apa yang di rasakan Vanya saat ini.
"Hm.. sangat rindu, kenapa semuanya begitu sulit untuk terungkap?" Tanya Vanya.
"Sabar lah, aku akan membantu dengan cara ku sendiri, dan aku yakin kalau kak Ernan belum meninggal." Ucap Joe.
"Bagaimana kau begitu yakin?" Tanya Michelle.
"Karena dia pernah menjadi altet renang, jadi kemungkinan dia keluar dari sungai itu dan berada di suatu tempat yang kita gak ketahui." Jelas Joe.
"Hei.. kenapa kau bisa menyimpulkan semua itu?" Tanya Vanya.
"Bukan kah aku benar? kamu pikir aja sendiri." Ucap Joe.
"Bagiamana dia bisa berenang jika dia terluka? sungai itu cukup dalam Joe." Sahut Michelle.
Apa yang di katakan Joe mungkin ada benarnya, setelah Vanya mengingat kembali kejadian itu dan menganalisisnya kemungkinan Ernan masih hidup karena sampai saat ini mereka tidak berhasil menemukan jenazah Ernan. Gadis itu pun beranjak dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan area kampus.
"Vanya mau kemana?" Tanya Michelle.
"Pulang, aku lelah." Sahut Vanya sambil melenggang pergi.
Sesampainya di sebuah gedung tempat tinggal Vanya, ia menapaki beberapa anak tangga untuk sampai di depan rumahnya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok wanita yang cukup akrab di matanya, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun Vanya melanjutkan langkahnya dan menghampiri wanita yang telah menunggunya itu.
"Apa kau punya urusan bersama ku?" Tanya Vanya.
Plaaakkk... sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Vanya.
"Apa kau datang untuk melakukan itu hm? sungguh hanya buang-buang waktu!" Ucap Vanya yang hendak masuk kedalam rumahnya.
Namun dengan cepat tangan Luna menariknya dan mendorong Vanya ke sebuah tembok, ia mencengkeram tangan Vanya dengan begitu kencang hingga membuatnya meringis. Tidak hanya tinggal diam Vanya membalas apa yang di lakukan Luna, ia mendorongnya hingga Luna mundur beberapa langkah.
"Apa yang kau lakukan? kau datang dengan secara tiba-tiba dan membuat keributan, apa itu perilaku seorang wanita terhormat?" Ucao Vanya.
"Dasar wanita sialan! kau tak beda jauh seperti ibu mu!" Bentak Luna.
"Hentikan Luna! apa masalahku dengan keluarga mu?!"
"Karena Milly telah merebut tuan Edric dari mama!" Bentak Luna kembali.
"Apa? jaga ucapan mu Luna! mama bukan wanita yang seperti itu!" Ucap Vanya yang terlihat begitu marah ketika Luna menghina mendiang mamanya.
Keributan di antara keduanya pun tidak bisa terhindarkan, Luna yang memulai semuanya membuat amarah Vanya semakin memuncak layak nya seekor singa yang tiba-tiba di bangunkan. Posisi mereka kini berada di tepi sebuah tangga, Luna yang berniat mendorong Vanya malah dirinya sendiri yang terjatuh dan menggelinding sampai bawah dengan luka di kepalanya dan membuat dia tidak sadarkan diri.
Vanya yang masih memiliki hati bergegas menghampiri Luna yang telah terkapar, ia pun segera mengubungi ambulan untuk membawa Luna ke rumah sakit. Tanpa butuh waktu yang lama mereka pun telah sampai di rumah sakit, karena malam yang telah larut, tidak ada satu pun dokter yang bertugas di rumah sakit itu dan hanya ada beberapa perawat yang berjaga malam.
"Cepat suruh dokter kalian kemari! apa kalian akan membiarkannya mati seperti ini hah?!" Bentak Vanya yang terlihat panik dengan tatapan yang seperti kesetanan.
Perawat disana pun berhasil menghubungi seorang dokter yang kini telah menangani Luna. Disaat sedang menunggu ponsel Luna yang berada di tangan Vanya terus berdering, terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Lingga, Regan, dan juga Joe. Vanya hanya menatap layar ponsel itu dengan perasaan yang masih bimbang karena dokter belum juga keluar dari ruangan itu.
Drrtt ... drrtt... Ponsel Luna kini berdering kembali, mau tidak mau akhirnya Vanya pun menerima panggilan tersebut yang tak lain adalah dari Lingga. Gadis itu pun mengatakan apa yang telah terjadi dengan putrinya.
*
"Cukup Tante! Luna jatuh dengan sendirinya! dia yang pertama mencari masalah, dan jika aku tidak segera membawanya kesini mungkin Luna udah mati!" Bentak Vanya.
"Dasar ****** murahan! kelakuan mu tak beda jauh dengan ibu mu!" Ucap Lingga.
"Hentikan...!!!" Teriak Vanya sambil menutup kedua telinganya.
Joe pun merangkul Vanya dan segera membawanya dari tempat itu. Di depan sebuah minimarket yang buka 24 jam Joe memberikan Vanya satu kaleng minuman dan berusaha untuk menenangkannya.
"Berikan aku alkohol." Ucap Vanya.
"Kau tidak boleh minum dalam keadaan seperti ini, soda sudah cukup." Sahut Joe.
Vanya pun mengambil minuman itu dan langsung meneguknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana Luna bisa bersama mu?" Tanya Joe.
Vanya pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal sampai akhir, Joe yang tidak mengetahui masalalu mama nya cukup tercengang ketika ia mendengar Vanya mengatakan hal itu, bahkan Vanya sendiri pun tidak percaya jika papa nya adalah masalalu Lingga.
"Kini kamu harus lebih berhati-hati, ayo aku antarkan pulang." Ucap Joe.
Sesampainya di rumah, Vanya bergegas masuk dan Joe pun segera kembali, selang beberapa menit setelah Joe pergi sebuah bell berbunyi, baru ingin beristirahat gadis itu pun kembali terbangun dari posisinya dan bergegas menuju sebuah pintu.
"Haahhh.. orang iseng mana yang bertamu di tengah malam seperti ini!" Gumam Vanya yang kemudian membuka pintu rumah tersebut.
Ceklek. . . Sebuah pintu terbuka, seorang pria berpakaian rapi berdiri tepat di balik pintu itu dengan posisi yang membelakangi pintu, di lihat dari postur tubuh serta tinggi badan pria itu jelas bukan orang asing di mata Vanya.
Siapakah orang itu?
***
Bersambung. . .
Nb : Latar cerita negara lain jadi alkohol dan lain sebagainya sudah biasa.
Visual buat yang belum tau karena kemarin sempet hapus, sesuai dengan haluan othor kalau kurang pas sesuai dengan haluan kalian aja 😌
...Vanya...
...Michelle...
...Ernan...
...Jonathan...
...Carla...
...Ian...