Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 68



Beberapa bulan kemudian. . .


Kehidupan rumah tangga Vanya dan Ernan sangatlah bahagia setelah melewati berbagai masalah di masa lalunya, di tambah dengan kehadiran seorang putri yang baru saja Vanya lahirkan yang menjadi pelengkap satu keluarga. Valerie Angelina Putri nama yang di berikan oleh Vanya dan juga Ernan untuk putri pertama mereka.


Momen yang begitu bahagia dengan di hadiri oleh keluarga Addison, Joe dan juga Lucas untuk menjenguk dan menyambut kelahiran Valerie ke dunia berhasil mereka abadikan dalam sebuah video dan beberapa foto. Semua berbahagia menyambut baby Vale terlebih nyonya Liu yang kini telah menjadi seorang nenek.


"Ahh.. sungguh cantiknya dirimu sayang." Ucap nyonya Liu di saat menimang cucu pertamanya.


"Kecantikan mu bahkan terkalahkan oleh nya." Sahut tuan Richard.


"Apalah kau ini, seorang wanita tua di bandingkan dengan bayi baru lahir jelas aku kalah." Ucap nyonya Liu.


Semua yang berada dalam ruangan pun tertawa melihat dan mendengar percakapan kakek nenek itu. Satu persatu ucapan selamat mereka berikan untuk Vanya dan juga Ernan.


"Akhirnya launching juga, jadi punya temen deh baby Elang." Ucap Michelle yang menyebutkan nama putra pertama nya.


"Hm, harap perhatikan jangan sampai mereka saling tertarik satu sama lain di saat dewasa nanti karena mereka sepupuan." Ucap Vanya.


"Jika sudah cinta ya bisa apa? hehe..." Ucap Joe dalam candaannya.


"Ohh baby.. kapan kita akan menikah? aku juga ingin mengandung benih kamu." Ucap Carla manja.


"Setelah kuliah dan bekerja, aku akan menikahi mu." Sahut Ian.


"Bagaimana jika kita mencetaknya terlebih dulu? biar cepat gitu." Ucap Carla.


Seketika beberapa sorot mata langsung melirik ke arah Carla dengan aura yang mencekam dari kedua orangtuanya dan juga kakaknya.


"Eehh.. jangan di anggap serius, aku cuma canda ok? hehe..." Ucap Carla ketakutan sendiri.


"Berani macam-macam ku ku coret nama mu dari keluarga Addison!" Ucap Ernan.


"Baiklah baiklah... kakak ku tersayang, aku anak baik ok kita damai hehe..." Sahut Carla.


**


6 bulan kemudian. . .


Karena sibuk dalam karir nya Vanya dan Ernan memutuskan untuk mempekerjakan seorang pengasuh untuk menjaga putri semata wayang mereka. Tidak sembarang orang yang bisa bekerja untuk menjadi pengasuh Valerie, Ernan menyuruh Leo untuk meneliti latar belakang para pelamar dan memastikan dari kalangan baik-baik tidak pernah terlibat dalam kasus apapun, sampai akhirnya Leo menemukan seorang wanita yang sesuai dengan persyaratan dan langsung membawanya untuk bertemu dengan Ernan.


Tok tok tok. . .


"Masuklah." Ucap Ernan dari dalam ruangannya.


"Permisi tuan, saya telah menemukan orang yang sesuai dengan persyaratan yang anda ajukan." Ucap Leo.


"Bawa dia masuk." Sahut Ernan.


Seorang gadis pun masuk dengan dandanan layaknya orang biasa dan terlihat begitu polos juga lugu, ia memberi hormat pada Ernan dengan membungkukkan tubuhnya.


"Ini CV nya." Ucap Leo memberikan sebuah berkas pada Ernan.


Pria itu membaca CV gadis tersebut dengan memakai sebuah kacamata yang membuat aura ketampanannya semakin meningkat. Ernan pun mengajukan beberapa pertanyaan untuk gadis itu yang salah satunya adalah sebuah pengalamannya dalam menjaga seorang bayi. Dengan sigap gadis itu menjawab dan memberitahu Ernan kalau ia cukup berpengalaman dalam mengurus bayi karena itu bukan hal yang pertama kalinya.


"Baik tuan, permisi." Sahut Leo.


Leo pun membawa pergi gadis itu dengan menggunakan mobilnya, tidak ada percakapan selama perjalanan sampai akhirnya Leo menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang begitu besar dan mewah, ini menjadi yang pertama kalinya gadis itu bekerja di rumah yang bagaikan istana. Ia melihat kagum rumah itu dan merasa bangga bisa bekerja disana.


Sampai di dalam sebuah rumah Leo menyuruh gadis itu untuk menunggu di sebuah ruang tamu dan menyuruh pelayan rumah untuk segera memanggil Vanya. Tak lama kemudian seorang wanita yang terlihat masih muda melangkah menuruni tangga dengan seorang bayi dalam gendongan tangannya menghampiri Leo dan juga gadis di sampingnya.


Gadis itu menunduk ketika melihat Vanya telah berdiri di hadapannya begitu juga dengan Leo yang selalu menghormati majikannya.


"Perkenalkan, nama saya Arumi." Ucap gadis itu.


"Duduk lah." Sahut Vanya.


Ketika melihat Leo, baby Vale tidaklah mu diam seakan ia menemukan teman bermainnya, dengan tangan yang meronta-ronta ia memberi isyarat agar Leo menggendongnya.


"Lihatlah dia, kau sudah seperti idola nya." Ucap Vanya pada Leo.


"Ayo sayang om gendong." Ucap Leo.


Pria itu pun menggendong baby Vale dan mengajaknya bermain, sementara dengan Vanya mewawancarai Arumi dengan begitu detail untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan. Cukup lama mereka berbincang akhirnya sebuah surat kontrak kerja pun Arumi tandatangani dan mulai hari ini ia resmi menjadi pengasuh Valerie. Vanya menyuruh kepala pelayan untuk mengantarkan Arumi ke kamarnya dan mengenalkan setiap sudut rumah termasuk kamar Valerie dan juga orangtuanya.


"Kamu harus ingat satu hal, mereka bukanlah keluarga biasa, jadi bekerja lah sesuai aturan dan jangan berbuat macam-macam jika keselamatan mu tidak ingin terancam." Ucap Lilian.


"Mengerti." Sahut Arumi mengangguk.


"Ini kamar kamu, beristirahatlah dulu, karena hari ini nyonya ada di rumah kemungkinan kamu akan bekerja nanti malam untuk menjaga non Vale dari tidurnya." Jelas Lilian.


"Baik Bu, terimakasih sudah memberitahu." Sahut Arumi.


Menjelang malam, seorang pria masuk kedalam rumah dengan begitu elegan dan berwibawa, Vanya yang datang dari arah berlawanan berlari kecil menuju suaminya dan memeluknya layaknya mereka tidak bertemu satu tahun.


"Sayang... kau sudah pulang? bagaimana di perusahaan?" Ucap Vanya yang masih melingkarkan tangan di leher suaminya.


"Semuanya baik-baik aja, dimana Vale?" Sahut Ernan.


"Ahh, dia lagi tidur habis mandi, kamu mau mandi dulu atau..." Ucapan Vanya terpotong.


"Mau kamu." Bisik Ernan yang di lanjutkan dengan sebuah kecupan di bibir istrinya.


Karena posisi mereka masih di ruang tengah, hal itu tidak sengaja di lihat oleh Arumi yang kebetulan lewat, ia menatap keduanya dengan begitu kagum atas keromantisan yang tejadi pada suami istri itu.


"Sungguh mereka pasangan yang manis." Gumam Arumi.


"Seperti itulah keseharian mereka, jadi kamu tak perlu kaget lagi jika suatu hari melihat lebih dari itu, dan satu lagi sebaiknya jangan sering-sering melihat tuan dan nyonya bermesraan jika jiwa jomblo mu masih ingin aman." Ucap Lilian yang kemudian pergi.


"Darimana dia tau kalau aku jomblo?" Gumam Arumi yang kemudian melangkah masuk kedalam kamar Valerie.


Di dalam sebuah kamar, Arumi duduk di samping tempat tidur Valerie, ia menatap bayi itu dengan begitu lekat dan tersenyum tipis. "Anak yang cantik." Ucap Arumi.


***


Bersambung. . .