Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 63



Sore hari..


Karena merasa bosan hanya diam di rumah, Vanya pergi keluar hanya untuk berjalan-jalan, dengan pakaian sebuah dress berwarna putih polos dan tas selempang ia berjalan ke arah halte bus disana Vanya duduk seorang diri sampai akhirnya bus yang di tunggu nya datang.


Walau suaminya seorang Presdir dengan harta yang melimpah dan beberapa mobil di rumahnya namun Vanya lebih nyaman hidup sederhana, ia lebih memilih naik bus daripada mobil pribadi milik suaminya. Ia berhenti di sebuah halte bus dan berjalan beberapa meter untuk sampai di sebuah minimarket tempat ia bekerja dulu.


Vanya pun masuk kedalam minimarket itu dan mengambil satu kaleng minuman sambil mengitari setiap sudut tempat itu ia mencari sosok pelayan yang bertugas menjaga toko tersebut, Vanya juga mengambil satu cup mie instan.


"Permisi nona, ada yang bisa di bantu?" Sapa sang pelayan toko.


"Ah, ini bisa tolong buatkan untuk ku?" Sahut Vanya memberikan mie di tangannya.


"Baik nona, tunggu sebentar." Sahut pelayan tersebut.


Vanya pun melangkah keluar dan duduk di sebuah kursi yang telah di siapkan, ia mengambil ponselnya dan mengambil potret dirinya yang langsung di post di akun medsosnya. Tak lama kemudian, pesanan Vanya pun datang ia langsung melahap mie favorit nya walau masih terlihat panas.


"Aahhh... gak ada yang lebih enak selain mie favorit ku, makanan di rumah sungguh membosankan." Ucap nya.


Di tengah-tengah Vanya sedang menyantap makanannya tiba-tiba seorang wanita datang menghampirinya dan menepuk pundak Vanya, ia pun menoleh ke sampingnya dan mendongak melihat wanita yang berdiri di sampingnya.


"Ehh.. Tante Anggi." Ucap Vanya ketika melihat sosok wanita yang tak asing baginya.


"Vanya? Tante kira salah mengenali orang, kamu ngapain disini?" Tanya Anggie yang selaku pemilik toko tersebut yang sekaligus ibu dari Ian.


"Aku hanya merasa bosan dan tiba-tiba teringat tempat ini." Sahut Vanya.


"Ahh.. gitu, yaudah lanjutkan makan mu setelah ini mampir ke rumah Tante mau? kebetulan Tante mau buat pangsit." Ucap Anggie.


"Wahhh seru.. mau Tante." Sahut Vanya.


Dengan cepat Vanya menghabiskan mie nya dan pergi ke rumah Anggie yang tak jauh dari toko itu. Meski telah menikah namun di usianya yang masih muda terkadang Vanya masih kekanakan dan lupa kalau dia telah punya suami bahkan telah mengandung anak pertamanya. Berbeda dengan Ernan yang usianya cukup jauh dengan Vanya yang memiliki sifat dewasa walau terkadang manja ketika bersama dengan istrinya.


Didalam sebuah rumah, Vanya begitu asik membuat pangsit rebus bersama dengan Anggie, baginya keluarga itu telah seperti keluarganya sendiri.


Sementara di tempat lain, sepulang dari perusahaan nya Ernan tidak mendapati Vanya di kamar atau ruangan lainnya, ia telah mencari ke seluruh penjuru rumah dan bahkan menanyakan ke setiap pelayan rumah namun tidak ada yang mengetahui kemana Vanya pergi. Alhasil ia menghubungi nyonya Liu untuk menanyakan keberadaan istirnya, namun Vanya juga tidak berada di rumah utama.


Beberapa kali Ernan menghubungi Vanya tidak satupun panggilan yang di terimanya. Sampai akhirnya Vanya telah selesai dengan pekerjaannya, ia mengambil ponsel dan melihat sederetan panggilan tak terjawab dari suaminya, Vanya pun menekan nomor Ernan dan menelpon balik.


"Dimana kamu? kenapa tidak menjawab telpon ku? apa kau baik-baik saja?" Sederet pertanyaan Ernan ajukan karena perasaan yang begitu mencemaskan Vanya.


"Hei.. tenanglah aku baik-baik saja." Sahut Vanya.


"Katakan dimana kamu sekarang? biar aku menjemput mu." Ucap Ernan.


"Rumah Tante Anggi, kamu masih ingat kan?" Sahut Vanya.


"Siapa itu Tante Anggi?" Tanya Ernan.


"Astaga, mama nya Ian sayang." Sahut Vanya.


"Tunggu 10 menit!" Ucap Ernan yang langsung memutuskan sambungan telponnya.


"Yak! Ernan.. hallo..." Ucap Vanya.


"Aishh, bagaimana bisa dia sampai dalam waktu 10 menit? dia pikir bisa teleportasi apa?" Gerutu Vanya.


Selesai menelpon Vanya kembali ke dapur dan menghampiri Anggi yang masih di sibukkan dengan kegiatannya. Ia mencium aroma pangsit rebus yang begitu wangi dan menggugah selera.


"Nah sudah matang, ayo sini coba." Ucap Anggi yang mengambil satu buah pangsit dan menyuapi Vanya.


"Enak Tante, pake banget aku suka." Ucap Vanya.


Anggi pun mengemasi satu toples untuk Vanya bawa pulang dan makan bersama dengan suaminya.


"Ini serius buat aku?" Tanya Vanya.


"Hm, ambil lah makan bersama dengan suami mu." Sahut Anggi.


"Aaaahh.. makasih Tante." Ucap Vanya memeluk Anggi.


Di tengah obrolan mereka, suara bel berbunyi dengan segera Vanya membantu Anggi untuk membuka pintu rumahnya, terlihatlah sosok pria dengan wajah datar di ambang pintu. Dengan tampang yang tak berdosa Vanya memasang wajah imutnya untuk meluluhkan hati suaminya.


"Ayo pulang." Ucap Ernan menarik tangan Vanya.


"Ehh tunggu sebentar." Sahut Vanya menahan dirinya.


Saat akan kembali masuk, dengan kebetulan Anggi datang menghampiri Vanya untuk melihat tamu yang datang.


"Tuan Ernan, ayo masuk." Ucap Anggi dengan rasa sungkannya.


"Emm.. tidak usah Tante, udah hampir malam kita mau langsung pamit pulang." Ucap Vanya.


"Yaudah jangan lupa ini bawa." Ucap Anggi memberikan pangsit yang di buatnya tadi.


"Makasih Tante, lain kali main lah ke rumah." Ucap Vanya setengah berteriak.


Ernan pun membawa Vanya masuk kedalam mobilnya, sampai keheningan pun terjadi diantara keduanya. Vanya mengerucutkan bibirnya untuk menarik perhatian suaminya yang kini sedang fokus membawa mobil. Namun trik yang ia gunakan tidaklah ampuh dan tidak menarik perhatian Ernan sama sekali, sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide lainnya.


"Kamu lihat sayang, papa mu mengabaikan mama mu yang imut ini, apa pantas di bersikap seperti itu? hahh.. andaikan kamu udah lahir mama gak akan merasa terabaikan." Ucap Vanya sambil mengelus perutnya.


Ciiittt....


Suara rem mobil terdengar begitu jelas, Ernan menepikan mobilnya dan membuat Vanya kaget. Tanpa aba-aba ia menarik tengkuk leher Vanya dan mengecup bibirnya dengan begitu saja.


"Kamu tau betapa aku mencemaskan mu?" Tanya Ernan.


"Hm, maaf aku hanya bosan di rumah dan gak sengaja bertemu Tante Anggi." Sahut Vanya yang memasang baby face.


Lagi-lagi Ernan menariknya dan melahap bibir mungil Vanya yang menjadikan nya candu. Beberapa menit mereka berpautan akhirnya Ernan melepaskan pautannya dan kembali melajukan mobilnya.


"Kenapa harus bermain di rumah pria lain?" Tanya Ernan yang secara tiba-tiba.


"Pria lain siapa maksud kamu? bukannya sudah jelas aku bermain di rumah Tante Anggi?" Sahut Vanya.


"Dia memiliki seorang putra." Ucap Ernan.


"Aahhh... cemburu mu menggemaskan sayang, Ian bahkan calon adik ipar kamu kenapa harus di cemburui?"


"Jangan bilang kamu kesal hanya gara-gara itu?" Tanya Vanya.


Ernan tidak menjawab pertanyaan istrinya itu, ia hanya melirik sekilas dan kembali menatap jalanan. Sementara Vanya tak hentinya tertawa cekikikan melihat tingkah suaminya yang cemburu pada calon adik iparnya sendiri.


***


Bersambung. . .