
Satu hari berlalu, perjanjian kerjasama itu telah terjalin dengan baik kini Ernan bisa membangkitkan kembali perusahaan nya, namun tidak hanya sampai disitu semua terjalin karena Shita yang telah menjadi akses untuk membantunya sampai ia bangkit kembali. Tiba saatnya ia menagih janjinya bahwa Ernan akan menemaninya satu malam dengan penuh gairah.
"Aku telah menyelesaikan tugas ku, dan kini saatnya kamu menepati janji mu." Ucap Shita.
"Semua belum selesai, beri aku semua bukti tentang perusahaan yang di pimpin adik mu maka aku akan memuaskan mu malam nanti." Sahut Ernan.
"Baiklah, aku akan memberitahu nya." Ucap Shita.
Satu perangkap berhasil Ernan pasang hingga Shita masuk kedalam nya, ia mengirimi sebuah pesan pada Joe untuk melaksanakan tugasnya dan menjatuhkan Nic dalam hitungan menit tanpa sepengetahuan Shita. Gadis itu berpikir sekalipun ia memberitahukan semuanya pada Ernan, semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan rencana karena posisi Ernan dan Leo saat ini sedang bersamanya, bahkan ia sempat merekam perbincangannya dengan Ernan untuk di jadikan sebuah bukti karena suatu saat ia akan membutuhkannya. Namun ternyata Shita salah mengenal Ernan karena pria itu memiliki seribu cara untuk melakukan tugasnya.
Bukan pengusaha sukses namanya jika tidak memiliki sebuah taktik yang terencana di dalam nya bahkan dalam keadaan genting sekalipun Ernan harus siap dengan semua idenya.
*
"Sial! bagaimana bisa kebenarannya terkuak dengan begitu mudah?!" Bentak Nic pada asistennya.
"Saya tidak tau pasti tuan, yang jelas semua pemegang saham dan investor telah memutuskan kerjasama kita dengan mereka, jika tuan tidak mendapatkan pinjaman bank sesegera mungkin semuanya akan hancur." Jelas asisten Nic.
"Bangshat! siapa yang telah berani bermain-main?!" Teriak Nic yang semakin membludak.
Sementara di tempat lain, Joe, Michelle, bersama dengan Vanya tertawa melihat Nic yang begitu panik akan kehancurannya. Di saat Joe menyuruh bawahannya mengambil semua bukti kecurangan Nic, ia menyuruhnya untuk menaruh sebuah kamera di ruang kerja Nic yang terhubung langsung dengan laptopnya.
"Hahhh.. ternyata dia dalang di balik semuanya? aku gak nyangka dia bisa berbuat senekat itu." Ucap Vanya.
"Karena dia tidak berhasil mendapatkan keperawanan mu gadis pintar." Sahut Michelle.
"Menyebalkan, kira-kira apa yang akan di lakukan Shita pada Ernan? aku jadi sedikit cemas." Ucap Vanya.
"Gak usah cemas, kak Ernan bukan orang yang mudah untuk masuk kedalam perangkap dia punya seribu cara untuk melawan musuhnya." Jelas Joe.
"Yasudah, aku pergi dulu." Sahut Vanya.
"Mau kemana kamu? tinggallah lebih lama kita udah jarang ketemu loh." Ucap Michelle.
"Aku ada janji sama mama." Sahut Vanya.
"Ahh, baiklah temani ibu mertua mu dengan baik." Ucap Michelle.
Vanya pun berpamitan dan pergi meninggalkan rumah Joe, ia masuk kedalam sebuah taksi yang telah di pesannya menuju sebuah toko tempat dimana nyonya Liu menunggu.
*
Sementara itu di tempat lain, Ernan melaksanakan makan malamnya bersama dengan Shita, sebuah ruangan yang berada di restoran hotel ia sulap menjadi tempat yang begitu romantis sesuai dengan keinginan Shita. Beberapa menu hidangan yang lengkap dengan sebotol wine telah siap di atas meja tak lupa juga satu buket bunga mawar yang menjadi pelengkap semuanya.
Pertama kali Shita melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu ia begitu kaget di buatnya masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya impian menghabiskan malam romantis bersama dengan Ernan kini telah terwujud, Shita pun berbalik dan memeluk pria yang berada di belakangnya itu. Dengan malas dan terpaksa Ernan pun membalas pelukan Shita.
Satu jam berlalu, selesai makan malam mereka masuk kedalam kamar yang sama, Shita telah mengganti bajunya dengan gaun malam yang begitu transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu seksi. Ia menarik dasi yang di kenakan Ernan hingga jatuh di atasnya.
"Tunggu sebentar, sepertinya ada yang kurang tanpa sebuah minuman." Ucap Ernan.
Ia pun kembali beranjak dari posisinya dan menuangkan minuman kedalam gelas, ia kemudian memberikan gelas itu pada Shita dan mengajaknya untuk bersulang, Shita yang tidak bisa minum alkohol kadar tinggi langsung mabuk ketika meneguknya meski itu hanya sedikit, bukan hanya itu tapi Ernan telah mencampurkan obat kedalam agar dia semakin bergairah meski tanpa di sentuhnya.
"Umhhh.. Ernannhhh... cepatlah aku benar-benar sudah tidak nyaman." Ucap Shita dengan Des*han nya.
"Tunggu sebentar, bahkan kita belum pemanasan." Sahut Ernan tersenyum miring.
Tok tok tok. . . Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuklah." Ucap Ernan.
"Astaga...." Ucap Leo kaget melihat Shita.
"Katakan ada apa?" Tanya Ernan.
"Maaf tuan mungkin ini adalah kabar buruk, nyonya Liu masuk rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari." Ucap Leo.
"Apa?!" Ucap Ernan kaget dan membelalakkan matanya.
"Bagaimana bisa semua itu terjadi? siapa yang telah melakukannya?!" Bentak Ernan.
"Saya sudah menugaskan beberapa orang untuk mencaritahu siapa pelakunya." Ucap Leo.
"Kita pulang sekarang!" Ucap Ernan.
Ernan dan Leo pun bergegas pergi dari hotel itu. Lalu bagaimana dengan Shita? Ya, Ernan telah membayar seorang pria untuk memuaskan Shita malam itu. Ia langsung melakukan penerbangan kembali ke negaranya.
Sementara di rumah sakit, seorang dokter sedang menangani nyonya Liu yang mengalami pendarahan di kepalanya. Vanya yang merasa bersalah tak hentinya ia menangis dan merasa cemas akan keadaan mama mertuanya yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Kakak.. bagaimana keadaan mama?" Tanya Carla yang baru saja datang.
"Dokter masih menanganinya, aku takut terjadi sesuatu sama mama semua gara-gara aku, maafin aku Carla hiks.." Ucap Vanya di sela-sela tangisnya.
"Sssttt.. tenanglah semua hanya kecelakaan, bukan salah kakak." Sahut Carla memeluk Vanya.
Beberapa jam berlalu, dokter telah menyelesaikan tugasnya dan memindahkan nyonya Liu ke ruangan VIP, tak lama setelah itu Richard bersama dengan Ernan telah tiba di rumah sakit dengan jarak waktu yang tidak terlalu jauh.
"Carla bagiamana keadaan mama mu?" Tanya tuan Richard.
"Mama baik-baik aja pa." Sahut Carla.
"Sayang.. bagaimana bisa semua ini terjadi?" Tanya Ernan menghampiri Vanya.
Melihat Ernan yang telah tiba, Vanya langsung memeluknya dengan begitu Erat tanpa menjawab pertanyaan yang di ajukan suaminya. Rasa takut akan trauma di masa kecilnya terus menghantui Vanya, ia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
"Maafin aku.. hiks hiks..." Ucap Vanya yang menangis dalam pelukan Ernan.
"Sssttt... bukan salah kamu, gak perlu minta maaf dan merasa bersalah, mama akan baik-baik aja." Sahut Ernan mengusap punggung Vanya dan mengecup kepalanya.
***
Bersambung. . .