
Setelah melewati beberapa kejadian di rumah nyonya Liu, gadis itu pun kembali ke rumahnya, hari yang di lewatkannya sangatlah melelahkan karena harus berada dalam kebohongan. Vanya pun terbaring di atas sebuah sofa dan menenteng sebuah rokok di tangannya. Terbesit dalam benaknya ucapan Ernan yang mengatakan kalau dia benar ingin menikahinya, tentu saja hal itu membuat Vanya merasa tidak tenang, ia pun beranjak dari posisinya dan bergegas keluar rumah.
Di dalam sebuah minimarket Vanya mengambil satu kaleng minuman dan duduk di depan minimarket tersebut. Vanya yang terlihat seperti seorang gadis nakal dengan santainya ia merokok di depan umum dan mengabaikan desas desus dari beberapa orang yang melewati dan memperhatikannya.
*
Sementara itu di tempat lain, Lingga mendesak Joe untuk bisa menyalip Ernan dan mendapatkan hak waris mendiang kakeknya. Terkadang Joe merasa muak dengan keluarganya sendiri yang selalu menginginkan harta, orangtua Joe telah bercerai beberapa tahun lalu kini Lingga menjalankan bisnisnya yang telah di rintis cukup lama yang merupakan masih anak dari perusahaan utama. Sementara dengan Luna bekerja di salah satu perusahaan yang di pimpin oleh calon suaminya sendiri.
"Ma, aku mohon untuk kali ini aja jangan paksa aku untuk merebut apa yang bukan hak aku." Ucap Joe.
"Jonathan! Kamu mama lahirkan untuk jadi penerus perusahaan bukan untuk jadi pria lemah! Apa kamu gak lihat gimana sukses nya Ernan? Harusnya kamu lebih unggul dari dia!" Bentak Lingga.
"Apa yang di katakan mama benar, sekarang kamu udah dewasa harusnya kamu bisa bersaing dengan Ernan!" Sahut Luna.
"Ini alasan aku gak betah di rumah!" Ucap Joe yang kemudian pergi meninggalkan rumah itu.
"Dasar anak keras kepala! Gak bisa di andalkan!" Ucap Lingga yang begitu marah.
"Mama tenang aja, aku akan mencari kelemahan Ernan agar tidak mengambil alih semuanya." Sahut Luna.
Di sebuah apartemen, Joe menekan bel berulangkali sampai akhirnya si pemilik rumah pun keluar. Dengan wajah yang tidak punya semangat Joe menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan seorang gadis yang di cintainya.
"Hei.. Joe ada apa?" Tanya Michel.
"Diamlah, aku butuh ketenangan." Jawab Joe memeluk erat Michel.
Gadis itu pun mengelus punggung Joe dan sesekali menepuknya perlahan. Setelah Joe merasa lebih tenang, Michel mengajaknya masuk dan duduk, ia mulai menanyakan apa yang terjadi dengan prianya itu.
*
"Hei ladies.. tumben disini? Aku kira udah lupa sama tempat ini." Tanya Ian yang menghampiri Vanya.
"Bagaimana bisa aku lupa tempat ini, sementara disini ada seorang adik kecil yang selalu merindukan ku." Ledek Vanya.
"Hei! Siapa yang kau sebut adik kecil?"
"Tentu saja kamu baby Ian yang menggemaskan." Ucap Vanya mencubit hidung pria di hadapannya itu.
"Apa sekarang aku benar-benar akan menjadi adik kamu? Kenapa kamu gak memberikan kesempatan untuk aku jadi pacar kamu?" Rengek Ian.
"Sekolah yang bener sebentar lagi kamu lulus setelah itu kuliah dan jadilah orang sukses, baru kau boleh melamar ku." Sahut Vanya mengusap kepala Ian layaknya seorang kakak pada adiknya.
"Apa kau bersedia menunggu ku dan gak akan menikah dengan pria lain?"
"Akan ku nikahkan kau dengan putri ku nanti.. hehe."
"Yash! Dasar wanita licik." Ucap Ian mengerucutkan bibirnya.
Vanya pun beranjak dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan tempat itu beserta dengan Ian.
"Hei.. kau mau kemana?" Teriak Ian.
Sesampainya di depan sebuah gedung tempat tinggal Vanya, ia melihat seorang pria yang tengah menunggunya dan bersandar di sebuah tembok dengan wajah yang terlihat begitu serius. Dengan wajah malas, Vanya mencoba melewati pria itu seolah ia tak melihatnya.
"Apa sekesepian itu kau setelah putus dengan ku? Sampai beberapa pria kau pacari?" Tanya pria itu.
"Apa urusan mu?" Sahut Vanya.
"Kau boleh kencan dengan siapapun, tapi tidak dengan para pria brengsek yang hanya merusak hidup mu!"
"Jika menurut kamu mereka seperti itu, lalu apa bedanya dengan mu yang tak lebih menjijikan dari seorang binatang?" Ucap Vanya dengan senyum remehnya.
"Pergi dan jangan pernah temui aku lagi!" Sambung Vanya.
Gadis itu pun melanjutkan langkahnya namun pria itu berhasil menarik tangan Vanya dan menyeretnya ke sebuah tembok serta mengunci kedua tangannya. Dengan senyum yang menyeringai Vanya menendang aset pria itu dengan lututnya hingga dia merintih kesakitan dan melepaskan Vanya.
"Jangan kamu pikir aku masih sama dengan Vanya yang dulu yang bisa kau tindas dan khianati, semua telah berubah jika kamu masih berani menemui ku, aku pastikan kamu gak akan pernah menemukan kebahagiaan mu!" Ucap Vanya dengan suara yang menekan.
Ia pun mulai menapaki tangga dan masuk kedalam rumah nya. Sesampainya dalam rumah Vanya bersandar di sebuah pintu, tanpa sadar ia menitikkan air matanya ketika mengingat kenangan masalalu bersama dengan mantan kekasihnya. Gadis itu berjalan ke arah pantry dan mengambil sebotol minuman, ia meneguknya langsung dari botol itu tanpa menuangkannya kedalam gelas sampai akhirnya ia terkapar dan tertidur.
**
Ting tong... Suara berisik sebuah bell membuat Vanya begitu terganggu, dengan kepala yang masih pening gadis itu beranjak meninggalkan tempat tidurnya untuk melihat siapa yang bertamu sepagi itu. Sebuah pintu terbuka dengan samar-samar Vanya melihat seorang pria berdiri tegap di balik pintu sana. Gadis itu pun melebarkan matanya ketika ia melihat jelas bahwa Ernan lah yang berdiri disana, dengan cepat ia menutup pintunya dan berlari menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan rambutnya.
Selang beberapa menit Vanya kembali membuka pintu, tanpa di persilahkan untuk masuk, Ernan langsung menerobos kedalam rumah itu dan memeriksa ke setiap ruangan yang ada di dalam rumah Vanya seolah sedang mencari sesuatu. Dengan kebingungan sendiri Vanya memperhatikan tingkah laku pria aneh itu.
"Dimana dia?" Tanya Ernan.
"Huh? Siapa yang kau maksud?"
"Pria yang semalam bersamamu! Kamu pikir aku gak tau apa yang terjadi semalam?" Ucap Ernan.
"Hei.. kau salah paham, gak ada siapapun disini! Aku hanya sendiri." Bantah Vanya.
"Jangan kamu pikir aku bodoh Vanya! Semalam Leo bilang kamu bersama dengan seorang pria bahkan kalian berciuman di luar sana!" Bentak Ernan yang begitu marah.
"What the ****! Gosip macam apa ini? Aku gak melakukan semuanya!"
"Masih gak mau jujur hm? Aku masih mengijinkan mu kerja di bar tapi tidak untuk membawa pria lain masuk kedalam sini!" Bentak Ernan dengan emosi yang telah meluap.
"Hei.. kenapa kau begitu marah? Aku bahkan bukan siapa-siapa mu, kenapa kamu begitu tertarik mencampuri urusan ku?"
"Mungkin buat kamu aku bukan siapa-siapa, tapi buat aku kamu adalah wanita ku! Gak ada seorang pun yang bisa mengubah itu!" Bentak Ernan kembali.
Wajah Ernan yang awalnya tenang dan putih pucat berubah menjadi memerah dengan tatapan yang sangat tajam seolah menusuk kedua mata Vanya. Entah apa yang dia maksud dengan wanitanya karena yang Vanya tau ia hanyalah seorang wanita yang di bayarnya untuk sebuah drama.
***
Bersambung. . .