
"Hei.. kenapa kau malah tertawa? bahkan tidak ada yang lucu sama sekali." Ucap Vanya.
"Buat aku kamu sangatlah lucu, haahhh.. apa kamu sedang cemburu hm?" Tanya Ernan memegang kedua bahu Vanya dan menatapnya.
"Tidak, ayo lanjut jalan." Sahut Vanya yang hendak melangkah.
Dengan cepat Ernan menarik tangan Vanya kedalam pelukannya. Entah apa yang terjadi selama beberapa hari ini yang jelas Vanya merasa kaku dengan semua perlakuan Ernan terhadapnya. Ia mencoba memejamkan matanya dan mendengarkan detak kan jantungnya yang terdengar begitu nyaman.
Perlahan Ernan melepaskan pelukannya dan memegang tengkuk Vanya seraya saling bertatap hingga keduanya masuk kedalam dunia yang dimana hanya ada mereka berdua. Beberapa menit mereka berpautan Ernan pun mengakhir semuanya.
"Gak ada wanita lain yang akan bisa menggantikan mu, Liora udah aku anggap seperti adik sendiri kamu gak perlu cemburu." Jelas Ernan.
"Haishh.. bodoh! apa yang kau pikirkan Vanya!" Batin gadis itu menepuk kepalanya sendiri.
"Jangan menyalahkan pikiran mu sendiri, ayo lanjut jalan." Ucap Ernan menggandeng tangan Vanya.
*
Sementara di tempat lain, dengan penuh kemarahan Lingga menemui keponakan nya di perusahaan utama ia menerobos masuk bahkan tanpa izin sekalipun.
Brakkk... Sebuah pintu terbuka lebar, terlihat sosok pria di balik sebuah meja yang sedang melakukan aktivitas nya. Lucas sempat kaget dengan kedatangan Lingga yang secara tiba-tiba bahkan tanpa sebuah janji.
"Ada apa lagi Tante datang kesini?" Tanya Lucas.
Plakkk... Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi pria itu.
"Dimana kau sembunyikan gadis itu?!" Bentak Lingga.
"Gadis? siapa maksud Tante?"
"Vanya! kamu kan yang membawa dia pergi dari tempat itu?!" Bentak Lingga kembali.
Lucas mengerutkan keningnya ketika Lingga menuduhnya membawa kabur Vanya, ia sama sekali tidak tau atas semua yang terjadi.
"Vanya berhasil kabur? pasti ada orang lain yang membantunya, tapi siapa? jika itu Leo dia tidak mungkin bekerja sendiri, aku harus menghubungi nya." Batin Lucas.
"Jika Tante tidak percaya, Tante bisa mengecek rumah aku untuk mencarinya." Ucap Lucas.
"Kalau sampai aku menemukannya, lihat apa yang akan aku lakukan pada mu Lucas!" Ucap Lingga dengan suara menekan.
Lingga pun bergegas pergi dari tempat itu. sementara dengan Lucas ia segera mengubungi bawahannya untuk mencari keberadaan Vanya dan memastikan kalau gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Apa semua bukti sudah terkumpul? kapan kita mengungkap semuanya? aku sudah geram dengan apa yang di lakukan Tante Lingga!" Ucap Carla.
"Semua bukti memang sudah cukup untuk membuka kedoknya selama ini, tapi belum saatnya kita membongkar semuanya." Sahut Leo.
"Apa lagi yang kita tunggu?" Tanya Carla.
"Waktu yang tepat, hanya tinggal beberapa hari." Sahut Leo.
"Apa kau baik-baik saja Joe?" Tanya Michelle.
"Kenapa harus enggak?" Sahut Joe.
"Dia mama kamu loh, apa kamu yakin ingin melakukan semua ini?" Ucap Michelle.
"Bagaimana pun juga dia tetap salah, aku gak bisa terus membiarkan nya semua telah di luar batas kedua orangtua Vanya meninggal karena ulahnya." Sahut Joe.
Dengan penuh rasa bangga, Michelle memeluk kekasihnya itu hingga membuat orang di sekitarnya merasa iri dan seperti menjadi seekor nyamuk terlebih Leo yang masih lajang sampai saat ini. Walau usianya terbilang cukup untuk menikah namun ia lebih memilih fokus pada pekerjaannya ketimbang memikirkan wanita yang hanya akan membuang waktu.
Di tempat lain, seorang wanita terbaring Lemah di atas tempat tidur karena kondisinya yang drop. Ya, dia adalah nyonya Liu, semenjak di kabarkan putra nya meninggal kondisi nyonya Liu tidak sebaik seperti biasanya. Ia mengalami syok berat sampai menganggu kesehatan nya. Leo yang tidak bisa terus menyembunyikan semuanya akhirnya memutuskan untuk memberitahukan nyonya Liu mengenai keberadaan Ernan.
"Jadi kau selama ini menyembunyikan semuanya?" Tanya nyonya Liu.
"Benar nyonya, maaf aku melakukan semua itu atas perintah tuan untuk menjerat nyonya Lingga." Jelas Leo.
"Apa kecelakaan yang menimpanya adalah perbuatan Lingga?" Tanya nyonya Liu kembali.
"Ya, semua itu atas perbuatannya yang bekerjasama dengan putri dan calon menantunya, tapi tidak menutup kemungkinan Lucas pun ikut campur untuk menduduki posisinya yang sekarang." Jelas Leo.
"Dasar wanita licik! papa, lihat kelakuan adik mu! dia
sudah sangat keterlaluan, kita gak bisa terus membiarkannya!" Ucap nyonya Liu.
"Papa akan mengurusnya, mama gak perlu cemas fokus lah pada kesembuhan mama." Sahut Richard.
"Nyonya dan tuan tidak perlu turun tangan, karena tuan Ernan dan non Vanya telah merencanakan sesuatu untuk membuka semuanya." Ucap Leo.
"Saya sangat berterimakasih pada mu, berhati-hatilah dalam menghadapi orang licik sepertinya." Ucap Richard.
Leo pun pamit undur diri dan meninggalkan rumah utama. Hari pernikahan Vanya dan Lucas hanya tinggal hitungan jam, namun karena telah mendapatkan semua bukti tanpa bantuan Lucas perjanjian pernikahan itu tidak lagi ada artinya untuk Vanya, ia berencana tinggal bersama Ernan sampai hari selanjutnya tiba dan kembali bersama calon suaminya.
"Ahh... rasanya aku tidak sabar menunggu hari besok tiba." Ucap Vanya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Sahut Ernan.
"Jika aku mampu dan tidak ada seorang pun yang menghalangi ku maka aku ingin membalaskan hal yang setimpal dengan apa yang di alami mendiang mama papa." Ucap Vanya.
"Apa kau ingin menjadi seorang psycho?" Tanya Ernan.
"Aku bisa menjadi apapun sesuai dengan apa yang aku inginkan." Sahut Vanya.
"jika kau menginginkan semua itu, aku bisa melakukannya untuk kamu." Ucap Ernan.
"Jangan, bagaimana pun juga dia Tante kamu biar hukum yang menentukan kejahatannya." Sahut Vanya.
"Gadis pintar." Ucap Ernan mengusap pucuk kepala Vanya.
Keromantisan yang mereka pancarkan, membuat orang yang melihatnya begitu iri tidak terkecuali Liora yang cukup lama mengenal Ernan dan berada di sampingnya. Ya, walau gadis itu tau Ernan telah memiliki seorang wanita namun yang namanya kenyamanan dan sebuah rasa timbul dengan sendirinya tanpa ia inginkan. Liora masuk kedalam rumah dan mencoba menyembunyikan air matanya.
"Yora.. kau kenapa?" Tanya seorang pria yang tak lain adalah kakaknya.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya lelah." Sahut Yora mencoba mengusap air mata yang telah di bendung nya.
"Aku gak yakin kamu baik-baik saja, ayo katakan." Ucap kakaknya.
"Sudah ku bilang aku baik-baik saja, aku tidur duluan." Sahut Yora yang langsung masuk kedalam kamarnya.
Tidak bisa menahannya lagi, Yora pun menangis seorang diri di dalam kamarnya, sementara dengan kakak laki-laki nya pergi ketempat dimana tadi Yora berasal, ia melihat Ernan yang sedang asik bersama dengan Vanya.
"Kamu harus tau diri Yora." Gumam pria itu seraya menatap sepasang kekasih yang begitu serasi.
***
Bersambung. . .
Maaf kalau muter-muter manjangin Episode.. hehe...