Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 30



Detik demi detik terus berlalu, matahari mulai tenggelam dan hari pun mulai gelap namun Vanya belum melihat tanda-tanda akan kedatangan pria yang di tunggu nya. Setela mengelilingi setiap sudut rumah yang cukup besar itu akhirnya Vanya masuk kedalam kamar Ernan dan duduk di atas ranjang yang cukup besar dan tertata rapi.


"Hahhh... Apa aku akan menjadi seorang Cinderella yang tinggal di sebuah istana?" Gumam Vanya dengan mata yang menelusuri setiap sudut kamar.


"Tidak tidak tidak... Apa yang kau pikirkan Vanya?!" Sambung gadis itu menepuk-nepuk kepalanya.


"Bersikaplah seperti biasanya, walau dia telah mengatakannya tapi bukan hal yang mungkin seorang pria sepertinya benar-benar mencintaiku." Ucapnya yang berbicara sendiri.


Gadis itu pun melihat sebuah jam yang terletak pada sebuah nakas di samping ranjang Ernan, waktu telah menunjukkan pukul 20.00 Vanya pun beranjak dari duduk nya dan keluar dari kamar tersebut perlahan menuruni tangga. Setelah menapakkan kakinya di lantai bawah, seorang pelayan menghampiri Vanya untuk makan malam yang telah di siapkan.


"Aku akan pulang, biar nanti aku makan di rumah aja." Ucap Vanya dengan wajah yang terlihat kecewa.


Entah itu karena ia telah jatuh cinta pada pria yang telah mengubahnya atau hanya sekedar merindukan kehangatan nya. Vanya benar-benar belum bisa menafsirkan perasaan dia yang sesungguhnya.


Tidak bisa menahan, pelayan itu membiarkan Vanya keluar dari rumah itu. Sesampainya di ambang pintu ia melihat sosok wanita yang sedang berjalan ke arah pintu masuk rumah Ernan dengan pakaian yang begitu seksi dan menenteng sebuah tas kecil yang di sertai langkah yang anggun. Vanya yang melihat sosok wanita tidak asing itu kembali masuk dan berpura-pura tidak mengetahui kedatangannya.


"Non Vanya, apa ada yang ketinggalan?" Tanya seorang pelayan rumah.


"Tidak, sepertinya aku akan tinggal sedikit lebih lama disini seenggaknya mungkin sampai Ernan pulang." Sahut Vanya.


Tak lama setelah berbincang dengan si pelayan rumah, wanita itu pun masuk dan melihat Vanya yang tengah duduk santai dengan berbagai macam makanan ringan dan minuman di hadapannya.


"Bagaimana bisa kamu ada disini?" Tanya Shita yang berdiri di hadapan Vanya dengan tatapan remeh.


"Ahh.. tentu saja calon suami ku yang membawa ku kesini, apa kau keberatan?" Tanya balik Vanya.


"Ch, bahkan wanita rendahan seperti mu masih bisa sombong di hadapan seorang putri?" Sahut Shita meremehkan Vanya.


"Aku tidak yakin jika Ernan mencintaimu, karena yang aku tau selain dari mama nya yang mendesak dia juga butuh seorang istri hanya untuk mengambil alih perusahaan utama, jadi kamu jangan merasa menang dulu gadis liar." Sambung Shita.


"Ya, mungkin apa yang di katakan kamu semuanya benar, tapi dengan seiring berjalannya waktu aku akan membuat dia benar mencintai ku dan enggan untuk melepaskan ku."


"Satu lagi, aku pastikan dia akan membenci mu lebih dari sekarang!" Sambung Vanya dengan nada yang menekan.


Merasa geram dengan apa yang di katakan Vanya, wanita di hadapannya itu pun mengangkat sebelah tangannya dan hendak menampar Vanya. Namun dengan waktu yang tepat Ernan pun datang dan menahan tangan Shita.


"Berani sekali kau melakukan itu!" Ucap Ernan menatap Shita dengan penuh amarah.


"Sayang.. kenapa kamu pergi begitu lama? Aku merindukan mu." Ucap Vanya dengan suara manja dan memeluk pinggang Ernan serta bersandar di dadanya.


"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!" Ucap Ernan mengusir Shita.


"Tapi Ernan.. aku datang kesini untuk..." Ucapan Shita terputus.


"Pergi atau ku hancurkan dunia bisnis papa mu!"


Melihat raut wajah Ernan yang terlihat murka, wanita itu pun segera pergi meninggalkan rumah itu. "Bye bye" ucap Vanya melambaikan sebelah tangannya dengan tubuh yang masih melekat pada Ernan. Dengan inisiatif nya Ernan membalikkan tubuh Vanya dan menarik pinggangnya, Vanya yang kaget dibuatnya langsung mendongak dan menatap pria tampan di hadapannya.


"Boleh ku dengar sekali lagi yang tadi kamu ucapkan?" Ucap Ernan.


"Apa? Tadi aku bilang apa?" Sahut Vanya yang berpura-pura lupa.


"Masih mau berpura-pura hm?" Ucap Ernan yang semakin menarik pinggang Vanya hingga tubuh keduanya saling menempel.


Di saat keduanya terpaku pada tatapan satu sama lain, ponsel Vanya berdering dan mengacaukan semuanya. Ia segera melepaskan tangan Ernan dan mengambil ponselnya yang berada dalam tas.


"Hallo... Siapa?" Tanya Vanya dalam sambungan telponnya.


"Kami dari kantor polisi ingin memberitahukan...." Belum sempat polisi berbicara, orang di hadapannya berteriak.


"Vanya......" Teriak Ian.


"Astaga Ian!" Ucap Vanya kaget.


Setelah gadis itu menutup telponnya ia bergegas pergi dari rumah Ernan dengan terburu-buru. Melihat Vanya yang pergi begitu saja hanya demi seorang pria membuat Ernan begitu kesal meski ia tau siapa Ian sebenarnya dan status hubungan mereka.


*


"Kak Vanya..." Ucap Ian dengan menyedihkan.


"Bagaimana bisa kamu disini?" Tanya Vanya yang terlihat mencemaskannya.


"Dia terlibat dalam perkelahian antar anak sekolah." Sahut petugas.


"Bohong! Ceritanya gak seperti itu! Aku hanya korban! Mereka sendiri yang menyerang ku lebih dulu." Sahut Ian.


"Tapi jelas-jelas kamu memukul mereka!" Ucap polisi.


"Itu namanya perlawanan pak! Kalau gak melawan saya bisa mati!" Tegas Ian dengan kesal.


"Sudah cukup! Dia adik saya, dia juga anak yang baik jadi gak mungkin kalau dia berbuat seperti itu." Sahut Vanya.


"Apa kau bisa menjamin nya?"


"Saya yang akan menjaminnya." Ucap seorang pria yang batu saja datang.


Sontak Vanya dan Ian pun menoleh ke belakangnya dan terlihatlah Ernan yang berjalan menghampiri keduanya.


"Ernan? Bagaimana kamu bisa ada disini?" Tanya Vanya.


"Aku mengikuti mu."


Selesai menyelesaikan masalah Ian dengan kepolisian, Ernan mengajak keduanya masuk kedalam mobil dan mengantarkannya pulang.


"Hei, kau yang kena masalah kenapa harus menganggu aktivitas ku?" Tanya Ernan.


"Aku sama sekali tidak menganggu aktivitas mu, bahkan aku tidak meminta bantuan mu!" Sahut Ian.


"Kau mengubungi Vanya sama saja kau mengganggu aktivitas ku! Karena kita sedang melakukan aktivitas bersama!" Ucap Ernan.


"Apa? Kalian berdua...." Ucapan Ian terputus.


"Ssttt.. berisik kalian berdua!" Ucap Vanya.


Pria di samping Vanya pun tersenyum tipis, ia mengusap kepala wanitanya hingga membuat Ian kesal sendiri.


"Tidurlah, nanti aku bangunkan, bila perlu ku gendong kamu sampai ke dalam kamar." Ucap Ernan.


"Yak! Apa yang kau katakan? Dasar pria mesum! Kau mau apakan kakak ku hah?!" Sahut Ian.


"Apa kau lupa dia calon istriku? Sebaiknya kamu jangan terlalu nempel padanya!" Ucap Ernan.


"Sudahlah dia masih kecil jangan membuatnya tertekan." Ucap Vanya meledek pria di belakangnya.


"Atau.. jangan bilang kamu cemburu padanya?" Sambung Vanya.


Cup... Sebuah kecupan mendarat di bibir Vanya dan tepat di depan mata Ian yang duduk di kursi belakang. Setelah memberikan sebuah kecupan, Ernan kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Yak.. kenapa kalian tega melakukan itu di depan ku?" Ucap Ian merengek melihat gadis yang di sukainya kini telah menjadi milik orang lain.


"Agar kamu sadar." Sahut Ernan ketus.


"Hahh.. baiklah, aku ikhlaskan Vanya untuk mu. Awas aja kalau kamu berani menyakitinya!" Ucap Ian mengibarkan bendera putih.


"Drama yang begitu sempurna." Gumam Vanya memejamkan matanya.


***


Bersambung. . .