Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 21



Hanya kurang lebih 4 jam Vanya tertidur, ia harus segera bangun kembali untuk pergi ke kampus dan segera menyelesaikan tugasnya. Vanya kini menjalani semester akhir dengan kelulusan yang telah di depan mata, untuk mencapai hasil dan nilai yang maksimal mau tidak mau Vanya harus lebih giat belajar dan bisa membagi waktunya dengan pekerjaan yang ia jalani.


"Hei.. Van, apa rencana mu setelah lulus kuliah?" Tanya Michel.


"Entah, mungkin aku akan menghabiskan waktu di tempat kerja." Sahut Vanya.


"Tch, bukan di tempat kerja, tapi yang ada sibuk ngurus suami dan seorang anak." Sahut Joe yang baru datang.


"Yak! Siapa yang akan jadi suami ku? Makhluk astral kah?" Ujar Vanya.


"Ayolah, gak usah menutupi lagi aku tau kalau kamu gadis misterius yang di maksud kak Ernan, benarkan?" Ucap Joe.


"Ssttt... Aku gak tau, yang jelas bukan aku dan gak mungkin aku!" Ucap Vanya menyangkal ucapan Joe.


Di tengah obrolan mereka, seorang pria menghampiri Vanya dan duduk di sampingnya, seketika suasana menjadi hening ketika Nic hadir di tengah-tengah mereka.


"Kenapa semalam kau mematikan ponsel mu?" Tanya Nic.


"Habis daya." Jawab Vanya.


"Aku butuh jawaban mu." Ucap Nic kembali.


Vanya pun berdiri dan menarik Nic membawa nya ke sebuah atap kampus. Di tempat yang cukup luas itu hanya ada Vanya dan Nic berdua dengan keyakinan hatinya gadis itu memberikan jawaban atas pertanyaan Nic kemarin, ia meyakinkan dirinya untuk tidak menerima Nic sebagai pacarnya karena rumor yang ia dengar di tambah dengan Shita yang mengenalnya walau tidak tau status hubungan mereka seperti apa.


"Berikan aku alasan yang jelas Vanya, bukan kah kau selama ini menyukai ku?" Ucap Nic.


"Awalnya aku pikir seperti itu, tapi ternyata aku salah, aku lebih nyaman sendiri, terlebih lagi aku gak mau mengulang kenangan pahit." Jelas Vanya.


"Tapi aku bukan dia, aku bukan mantan kamu yang brengsek itu."


"Apa bedanya kamu dengan nya? Kamu hanya terobsesi dengan tubuh ku, kamu menginginkannya dan setelah mendapatkan apa yang kamu mau, kamu akan mencampakkannya, benar begitu?" Ucap Vanya.


"Aku gak sebrengsek itu Van, aku benar menyukai kamu."


"Buktikanlah." Kata terakhir yang Vanya ucapkan sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Nic sendiri.


Karena kesal dengan apa yang di katakan Vanya, pria itu mengeluarkan amarahnya, ia berteriak serta memukul sebuah tembok untuk melampiaskan kemarahannya.


Vanya pun masuk kedalam kelasnya, ia menyelesaikan tugasnya secepat mungkin sebelum dosen datang untuk memeriksa hasil karya nya. "Haahhh.. akhirnya selesai, semoga gak mengecewakan." Ucap Vanya berdiri di depan sebuah patung yang di balut hasil desain nya.


Tak lama kemudian, dosen pun datang dan memeriksa hasil karya murid nya satu persatu. Ketika melihat hasil Vanya ia tersenyum lebar dan menatap takjub, sebuah karya yang benar-benar di luar dugaan yang gadis itu ciptakan.


"Sepertinya kau mengerjakan semua ini dalam keadaan hati yang begitu senang, apa kau sedang jatuh cinta?" Tanya dosen itu pada Vanya.


"Hm, jatuh cinta pada hasil karya sendiri." Sahut Vanya.


"Sepertinya sebentar lagi ibu bakal besanan sama Professor jurusan manajemen." Ujar Michel menggoda Vanya.


"Yashh!! Apa mulut mu ingin ku robek hah?!" Teriak Vanya.


"Jika bukan dia lalu siapa? Atau jangan-jangan..." Ucapan Michel terhenti ketika Vanya menyumpalkan sebuah kain kedalam mulut gadis itu.


Melihat tingkah anak didik nya yang seperti anak TK membuat Bu Aira menggelengkan kepalanya, setelah selesai memeriksa tugas yang di berikan nya ia pun bergagas keluar dan kelas telah selesai.


"Chel..." Panggil Vanya.


"Hm? Cepat katakan gak usah muter-muter." Sahut Michel.


"Aku tadi menolak Nic, kasihan gak sih?"


"Hah?! Kau serius? Tapi bagus sih dan gak perlu kasihan juga." Sahut Michel.


"Gak juga, untuk saat ini aku lebih nyaman sendiri dan hanya akan fokus pada pekerjaan ku."


"Gimana dengan perjanjiannya?"


"Tenang aja, aku gak lupa dengan janji aku untuk membantunya, terlebih lagi dia udah kasih aku ini." Ucap Vanya menunjukkan gold card milik Ernan.


"Sialan, dasar wanita licik!" Ucap Michel tertawa kecil.


Selesai dengan semua tugas kuliahnya, Vanya dan Michel pun pergi menuju sebuah mall, sesuai dengan rencananya yang ingin mengerjai Ernan ia menggunakan gold card pria itu melebihi batas yang di berikan.


**


Tok... Tok... Tok... Leo mengetuk pintu ruangan Ernan sebelum akhirnya ia masuk dan memberikan sebuah laporan, tanpa sebuah kata Leo menaruh tab di hadapan bosnya. Dengan segera Ernan melihat laporan apa yang di bawakan asistennya itu.


"Benar-benar wanita cerdas." Ucap Leo.


"Sialan, dia telah mentransfer gaji ke rekening nya dan masih mengunakan kartu milik ku untuk berfoya-foya!" Ucap Ernan.


"Apa aku perlu memanggilnya?" Tanya Leo yang sedari tadi menahan tawa nya melihat raut wajah Ernan yang kesal.


"Biarkan, aku ingin tau apa lagi yang akan di lakukan nya." Sahut Ernan menyeringai.


"Ahh, iya.. ku dengar semalam Shita pergi ke bar dan menemui Vanya disana, apa kau tidak mencurigai sesuatu?" Ucap Leo.


"Vanya bukan gadis yang mudah untuk di lawan, tunggu sampai nanti malam nyonya Liu akan menyuruhnya datang." Sahut Ernan.


"Darimana tuan tau semua itu?" Tanya Leo penasaran.


Ernan hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari asisten yang sudah seperti temannya itu. Hal itu membuat Leo bingung sendiri, bagaimana dia bisa tau sisi lain Vanya sedangkan dia mengenalnya belum cukup lama. Memanglah beberapa hari ini Leo melihat bos nya itu sedikit lebih beda dari biasanya, terlihat aura kehangatan dari dalam diri Ernan serta raut wajah yang tidak lagi datar seperti jauh sebelum dia bertemu Vanya.


Apakah Ernan telah jatuh cinta? Atau ada hal lain di balik semua itu?


Disisi lain, Vanya dan Michel yang telah lelah berbelanja mereka masuk kedalam sebuah restoran untuk mengisi perut yang telah keroncongan. Begitu banyak makanan yang mereka pesan untuk makan berdua.


"Kamu yakin ingin menghabiskan uang gaji mu dalam sekejap? Untuk ini biar aku yang bayar." Ucap Michel.


"Tidak, uang gaji ku tetap utuh dan ini kamu gak perlu membayar nya karena di dalam sini masih begitu banyak." Sahut Vanya menunjukkan gold card milik Ernan.


"Yashh! Apa sekarang kamu telah berubah pikiran dan setuju untuk menjadi wanita nya kak Ernan?"


"Hmm... Gak rugi juga sih jika benar itu terjadi, karena dia bisa jadi bank berjalan buat aku hahaha...." Sahut Vanya yang di akhiri dengan tertawa begitu puas.


Di tengah-tengah obrolan dan makan mereka, ponsel Vanya berdering ia segera mengambil ponselnya dan melihat sebuah layar dengan bertulisan "Baby kecil", Vanya pun segera menerima panggilan tersebut.


"Kakak lagi dimana?" Tanya Carla dalam sambungan telponnya.


"Lagi makan bareng temen, kenapa? Rindu ya?" Goda Vanya.


"Tidak! Mama menyuruh kakak datang ke rumah malam ini bersama dengan kak Ernan!" Sahut Carla ketus.


"Baiklah, nanti aku kesana." Jawab Vanya santai.


Setelah menutup telponnya Vanya kembali melanjutkan makan nya, "Masih ingin bermain dengan ku ternyata." Gumam Vanya tersenyum sinis.


***


Bersambung. . .