Virgin (True Love)

Virgin (True Love)
Bab 32



Saat hendak akan menyuap makanan nya tangan Vanya terhenti ketika melihat sosok pria yang pernah di temui nya satu kali ketika bersama dengan Ernan. Ya, dia adalah Lucas entah dengan maksud dan tujuan apa dia datang secara khusus untuk menemui Vanya bahkan sampai masuk ke area kampusnya.


"Kau... bukan nya kau adalah adik sepupunya Ernan?" Tanya Vanya menunjuk pria yang duduk di depannya.


"Ternyata daya ingat mu cukup baik." Sahut Lucas.


Michel yang juga berada di tempat itu hanya menyimak pembicaraan mereka sambil fokus pada makanannya.


"Ada apa sampai repot datang kesini hanya untuk menemui ku?" Tanya Vanya.


"Aku hanya ingin mengenal calon kakak ipar ku lebih dekat, apa kamu keberatan?" Tanya balik Lucas.


"Tentu saja tidak, aku senang bisa mengenal keluarga calon suami ku dengan begitu baik dan dekat, agar tidak ada kecanggungan saat menjadi keluarga nanti." Jawab Vanya.


"Mau pergi bersama ku sebentar? rasanya kurang nyaman ngobrol di area kampus." Ucap Lucas yang mengajak pergi.


Michel yang mendengar ucapan Lucas. sedikit melirik kan matanya ke arah Vanya, tidak enak untuk ikut campur ia pun mengirimi Vanya sebuah pesan meski mereka duduk berhadapan.


"Apa kau yakin akan pergi dengannya?" ku rasa bukan hal yah baik." Pesan yang di kirimkan oleh Michel.


"Kamu gak perlu cemas, aku akan baik-baik saja." Jawab pesan Vanya.


Setelah menyetujui ajakan Lucas, mereka pun pergi bersama menuju sebuah tempat, sampai akhirnya Lucas menghentikan mobilnya tepat di area parkiran sebuah taman bunga. Vanya yang terlihat begitu santai bersamanya tidak menaruh rasa curiga sedikitpun pada pria itu, namun ia tetap selalu waspada agar tidak masuk kedalam sebuah perangkap yang mungkin telah Lucas siapkan. Karena rasanya sungguh tidak mungkin ia mengajak Vanya pergi secara tiba-tiba jika tanpa sebuah tujuan.


"Sungguh gadis yang baik dan cantik, kak Ernan beruntung bisa mendapatkan gadis seperti mu." Puji Lucas yang berjalan berdampingan dengan Vanya.


"Benarkah? apa aku akan menjadi keberuntungan untuk nya?" Sahut Vanya.


"Tentu karena bertemu dengan mu dia bisa mendapatkan posisi tertinggi di perusahaan utama, mungkin jika aku lebih awal bertemu dengan mu, aku yang akan beruntung bisa dekat dengan mu." Ucap Lucas yang mencoba menggoda Vanya.


"Benarkah? bagaimana jika aku tidak tertarik dengan mu? bukan kah itu akan menjadi kekecewaan dan bukan keberuntungan?" Sahut Vanya tersenyum seribu arti.


"Haha.. kau benar, aku tidak sesukses Ernan jadi mana mungkin kamu mau bersama ku." Sahut Lucas tertawa paksa dengan jawaban Vanya.


Setelah berbincang cukup lama kini Vanya telah paham dengan maksud kedatangan Lucas yang secara tiba-tiba mengajaknya jalan. Ia pun mengajak Lucas untuk berhenti di sebuah kursi taman untuk beristirahat sejenak. Cuaca yang cukup panas membuat Vanya mengeluarkan buliran keringatnya, Lucas menggunakan kesempatan itu untuk bisa menarik perhatian Vanya dengan cara ia mengelap keringat Vanya menggunakan saputangannya.


"Ehh. . padahal aku bisa sendiri, kamu gak perlu repot melakukan itu." Ucap Vanya.


"Aku senang melakukannya." Sahut Lucas.


"Apa kau tau masalalu Ernan dengan Shita?" Tanya Lucas.


"Tidak, boleh kamu ceritakan? kebetulan aku begitu penasaran dengan hubungan mereka berdua." Jawab Vanya.


"Dulu mereka teman dekat di masa sekolah menengah sampai lulus kuliah, kedekatan mereka sudah seperti layaknya orang pacaran bahkan sempat terdengar kalau mereka pernah tinggal bersama saat kuliah di luar negeri." Ucap Lucas memberitahukan semua kisah kakak sepupu nya itu.


"Ahh.. pantas saja dia masih mengejar Ernan." Sahut Vanya mengulas senyumnya.


Dengan tanpa sepengetahuan Lucas, Vanya merekam semua pembicaraan mereka untuk berjaga dari sebuah kesalahpahaman karena Vanya mengetahui ada orang lain yang mengikuti mereka.


*


Sementara itu di dalam sebuah perusahaan, Ernan mendapatkan sebuah pesan gambar dari nomor yang tidak di kenal, sebuah foto Vanya yang bersama dengan Lucas dengan posisi yang begitu dekat di antara keduanya.


"Cara mu bermain masih kekanak-kanakan Lucas, kamu belum tau dia gadis yang seperti apa." Gumam Ernan tertawa geli.


Ceklek... Disaat Ernan masih tertawa dengan tanpa permisi Leo masuk kedalam ruangannya. "Serius demi apa dia tertawa? benar-benar keajaiban yang luar biasa." Batin Leo yang begitu aneh melihat Ernan tertawa seperti itu, karena sebelumnya Leo tak pernah melihat bos nya tertawa sebahagia itu.


Saat menyadari kehadiran Leo dalam ruangannya seketika ia menghentikan tawa nya dan kembali dengan wajah datarnya.


"Ada apa? kenapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk?"Tanya Ernan.


"Apa perlu ku ulang?" Tanya balik Leo dengan polosnya.


"Cepat bilang." Ucap Ernan.


"Non Luna telah menunggu mu di lobby." Sahut Leo.


"Suruh dia masuk." Perintah Ernan.


Dengan segera Leo keluar dari ruangan itu untuk memberitahu Luna. Selang beberapa menit, seorang wanita muda yang memiliki paras cantik dengan lekuk tubuh yang indah berjalan masuk kedalam ruangan Ernan. Tanpa kata pembuka atau sebuah basa basi gadis itu langsung berbicara pada intinya, Ernan yang menanggapi Luna hanya tersenyum remeh.


"Apa begitu senggangnya kah kamu untuk mengurusi kehidupan orang lain?" Tanya Ernan yang duduk di kursinya sambil memainkan jari.


"Aku cuma gak mau kamu menyesal Ernan! dia bukan wanita baik-baik bagaimana tanggapan orang lain jika tau siapa gadis itu sebenarnya! apa kamu ingin merusak citra keluarga kamu sendiri?" Ucap Luna.


"Keluar lah." Ucap Ernan dengan wajah datar dan aura dingin nya.


"Pikirkan baik-baik sebelum semuanya terlambat!" Ucap Luna yang kemudian melangkah pergi.


Tepat di ambang pintu saat Luna hendak melangkah keluar, seorang gadis tengah menatapnya dengan kedua tangan yang melipat di dadanya. Ya, gadis itu adalah Vanya yang sengaja datang ke perusahaan Ernan tentunya dengan sebuah maksud dan tujuannya sendiri.


Ketika kedua gadis itu saling bertatap muka, Vanya hanya tersenyum miring dan mengangkat kedua alisnya seolah ia meremehkan Luna.


"Sekuat apapun kamu berusaha untuk menghasut Ernan, dia hanya akan percaya pada pilihannya sendiri, bukan orang lain atau kabar angin."


"Ahh.. satu lagi, daripada sibuk mengurusi orang lain, lebih baik kamu urus kehidupan mu sendiri, bagaimana caranya agar bisa bersaing dengan calon suami ku secara sehat." Sambung Vanya yang berbisik pada Luna.


Dengan begitu geram, Luna mengepalkan kedua tangannya. Ingin rasanya dia menjambak Vanya namun hal itu tidak bisa ia lakukan di hadapan kakak sepupu nya yang begitu tergila-gila pada wanita yang ada di depannya.


"Semua belum berakhir, jangan kira kamu bisa menang Vanya!" Ucap Luna dengan suara yang menekan.


***


Bersambung. . .