
Di dalam sebuah ruangan kini hanya Ernan dan Vanya. Gadis itu melangkah gontai menuju sebuah sofa dan duduk dengan posisi yang semaunya. Jika setiap gadis selalu bersikap anggun di hadapan seorang pria terlebih di depan orang yang di sukainya, berbeda hal nya dengan Vanya yang terkadang bersikap seenaknya sendiri asalkan dia nyaman.
Vanya duduk dengan mengangkat kedua kakinya di atas sofa dan menyilangkan nya, ia juga menaruh sebuah bantal sofa di atas pangkuannya. Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, Vanya mengeluarkan ponselnya dan memainkan sebuah game yang sedang menjadi trending di masa sekarang.
"Apa kau datang kesini hanya untuk bermain game?" Tanya Ernan menghampiri Vanya.
"Tidak." Jawab Vanya.
"Jika itu bukan tujuan mu lalu apa kau merindukan ku?" Tanya Ernan yang perlahan membelai gadis itu.
"Sssttt... jangan dulu bicara aku bisa kalah." Sahut Vanya menempelkan telunjuknya di bibir pria itu.
Gadis itu pun kembali fokus dengan game nya, sementara Ernan yang tak bisa menahan pesona Vanya beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di belakang wanitanya. Ia membungkuk dan menaruh kepalanya di bahu Vanya, aroma khas yang di miliki gadis itu membuat Ernan semakin ingin menyentuhnya lebih jauh. Dengan perlahan ia mulai menciumi leher Vanya hingga membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
"Hei . bisakah kau diam? kau membuat ku geli." Ucap Vanya dengan tatapan mata uang masih fokus pada layar ponselnya.
"Biar ku mainkan, jika aku menang selanjutnya kamu yang akan aku mainkan." Ucap Ernan yang langsung merebut ponsel Vanya dan mengambil alih game nya.
Hanya dalam hitungan menit pria itu berhasil memenangkan permainan nya dengan peringkat paling unggul daripada yang lainnya. Ini saatnya untuk dia menyombongkan dirinya pada gadis yang begitu di cintainya.
"Wah Daebak.. apa kau seorang master? kenapa hanya dalam sekejap bisa memenangkan semuanya?" Tanya Vanya terkagum.
"Aku hanya pernah memainkannya dulu." Sahut Ernan.
"Dan sekarang, saatnya aku untuk memainkan mu." Sambung Ernan yang langsung mendekatkan bibirnya ke arah bibir Vanya.
"Eehhh... tunggu... apa kau sungguh gak tau tempat? ini bahkan di kantor! bagaimana jika ada orang lain masuk dan melihat semuanya? reputasi kamu akan hancur sebagai orang ternama!" Ucap Vanya yang menahan bibir Ernan dengan tangannya.
Dengan senyum miring nya, pria itu menyingkirkan tangan Vanya dan menguncinya hingga kini gadis itu tak bisa berontak. Perlahan Vanya memejamkan matanya dan terbaring di atas sofa tersebut serta Ernan yang hendak menyerangnya berada di atas Vanya. Hanya tinggal 1cm lagi kedua bibir itu bertemu, dengan tanpa sebuah ketukan pintu Leo masuk dan tercengang melihat apa yang di lakukan kedua insan itu.
"Maaf bos gak lihat." Ucap Leo yang langsung kembali keluar dan menutup pintunya kembali.
"Aishhh sialan!" Gumam Ernan.
Vanya pun kembali ke posisi duduknya yang semula, ia mengambil ponselnya dan memutarkan sebuah rekaman pembicaraan nya dengan Lucas. Setelah mendengar semua rekaman itu sampai selesai, Ernan hanya tertawa geli seolah ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
"Hei apa nya yang lucu? apa kau tidak mencemaskan masa depan mu? dia jelas ingin mencari kelemahan mu!" Ucap Vanya.
"Apa ini sebuah perhatian?" Sahut Ernan bertanya balik.
Benar, mungkin saat ini Vanya telah benar-benar jatuh cinta pada pria yang selalu membuatnya mabuk kepayang, di satu sisi ia ingin membantunya untuk mengalahkan semua saudara liciknya yang selalu ingin menjatuhkan, namun disisi lain ada kekhawatiran yang selalu menghantui Vanya jika suatu saat Ernan mencampakkannya dengan begitu saja seperti apa yang di lakukan mantan kekasihnya di masa lalu.
Dalam sebuah perjalanan, Vanya duduk di sebuah kursi bus paling belakang, ia membuka sedikit jendelanya hingga hembusan angin masuk menerpa wajahnya. Vanya menghirup dalam-dalam hembusan angin di sore hari itu sembari memejamkan matanya. Sampai akhirnya bus pun terhenti di sebuah halte, dengan segera Vanya turun dan berjalan menuju tempat tinggalnya.
Langkah demi langkah ia lalui, sampai akhirnya ia berada tepat di depan sebuah tangga. Langkah Vanya terhenti ketika melihat seorang pria dewasa kini berada di hadapannya, wajah yang tak asing dengan sebuah tatto di tangannya mengingatkan Vanya pada kejadian beberapa tahun silam, rasa takut, dendam serta amarah kini bercampur dalam diri gadis itu.
"Kau..." Ucap hanya yang berjalan mundur tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa kau masih mengingat ku?" Tanya pria itu yang terus berjalan menghampiri Vanya.
"Jangan mendekat atau aku akan teriak!" Ucap Vanya yang terus mundur.
"Setelah sekian tahun, akhirnya aku berhasil menemukan mu dan gara-gara kamu, aku menderita selama bertahun-tahun di penjara! kini saatnya kau harus membayar semuanya!" Ucap pria itu.
"Tidak! aku bahkan tidak tau apapun! kau masuk penjara karena ulah mu sendiri! dan itu memang pantas kamu dapatkan bahkan lebih baik jika kamu di hukum mati!" Bentak Vanya.
Rasa sesak di dada serta keringat pun mulai bercucuran, kejadian pahit di masa kecilnya kini teringat kembali setelah ia bersusah payah untuk melupakannya dengan kedatangan pria itu dengan terpaksa Vanya harus mengingat dimana ia kehilangan kedua orangtuanya tepat di malam hari setelah mereka pergi bersama untuk makan malam.
"Kemari lah, maka aku tidak akan menyakiti mu." Ucap pria itu.
Kaki Vanya kini mulai bergetar, entah apa yang harus ia lakukan suasana di sore hari yang mulai gelap serta tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong membuatnya semakin takut. Walau Vanya di kenal sebagai gadis pemberani namun ia juga memiliki titik kelemahan dan rasa takut tersendiri.
Dengan cepat Vanya pun berlari menelusuri sebuah gang menuju ke tempat yang begitu ramai, namun tak hentinya pria itu terus mengejar hingga jarak keduanya semakin dekat, dengan kaki yang telah lelah gadis itu terus berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya.
"Sial! kenapa dia harus muncul lagi setelah sekian lama!" Gumam Vanya sambil berlari hingga kini akhirnya ia telah sampai di tempat yang cukup ramai. Vanya menyelinap masuk kedalam sebuah kedai dan duduk di kursi paling pojok, ia menutupi wajahnya dengan sebuah buku yang terletak di atas meja itu, entah itu milik siapa yang penting ia aman.
"Sial! aku gak boleh kehilangan nya lagi! jika aku menemukannya dan melaporkan pada nyonya, maka hidup ku tidak akan sengsara lagi!" Ucap pria itu yang masih mencari Vanya.
***
Bersambung. . .
Minta dukungan like + give nya ya.. vote untuk novel yang kalian suka aja karena voting sangat terbatas π
makasih yang udah setia baca novel receh hasil kegabutan othor semoga gk membosankan.. ππ