
Hari berikutnya, Lingga telah bersiap untuk pergi ke suatu tempat menemui seseorang. Joe yang berpura-pura berada di pihaknya terus mengoreksi informasi kemana mama nya akan pergi dan bertemu dengan siapa, selagi berbincang dengan mama nya ia menyelipkan sebuah alat perekam kedalam tas Lingga.
"Kenapa kau menjadi begitu bawel Joe? bukankah kamu selama ini selalu menentang mama?" Ucap Lingga.
"Aku tau aku salah, aku minta maaf karena telah menentang mama setelah aku pikirkan ternyata mama ada benarnya aku harus bisa berada di posisi itu dan menyingkirkan kak Lucas." Ujar Joe.
"Heh, akhirnya kamu sadar dengan apa yang harus kamu lakukan. Mama dengar dia akan menikahi Vanya dan gadis itu akan kita jadikan sebuah alat untuk menghentikan Lucas dan memberikan posisi itu untuk kamu." Ucap Lingga.
"Apa yang akan mama lakukan dengan Vanya?" Tanya Joe.
"Lihat saja nanti, selain Vanya di jadikan sebagai alat mama juga membencinya karena dia putri dari Edric dan Milly!" Ucap Lingga.
"Sepertinya aku tau kemana mama akan pergi." Batin Joe.
Setelah lingga pergi meninggalkan rumah, Joe bergegas mengikutinya dengan sejuta penyamaran agar tidak di ketahui, ia juga menghubungi Carla dan juga Ian untuk bersiap di sebuah tempat yang kemungkinan akan di datangi Lingga.
Sebuah rumah sakit tempat dimana Luna masih di rawat, Carla dan Ian telah siap dengan sebuah pakaian dokter dan seorang pelayan, mereka menyamar dan masuk ke ruangan Luna untuk melihat keadaannya dan menaruh sebuah kamera pengintai yang cukup kecil.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Ian yang berperan sebagai dokter.
"Udah baikan dok, kapan aku boleh pulang?" Sahut Luna.
"Tunggu kamu benar-benar pulih, karena luka mu cukup serius dan kalau boleh tau bagaimana kamu bisa terjatuh di tangga itu?" Tanya Ian kembali.
Belum sempat Luna menjawab pertanyaan Ian, seorang pria masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Luna. Ya, dia adalah Regan calon suaminya Luna, pria bermuka dua yang cukup serakah dan ingin mengambil posisi Lingga di perusahaannya.
Melihat kedatangan Regan, Dokter beserta dengan suster gadungan itu bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan meninggalkan kameranya di sana. Sementara di tempat lain Lingga menemui Lucas yang berada di perusahaannya.
"Tante, ada urusan apa sampai harus datang kemari?" Tanya Lucas.
"Kamu kenal siapa dia?" Tanya balik Lingga yang memperlihatkan sebuah foto Vanya yang terlihat menyedihkan setelah di siksa olehnya.
"Vanya!" Ucap Lucas kaget dan membelalakkan matanya.
"Apa yang Tante lakukan padanya?!" Bentak Lucas.
"Begitu berharganya kah dia buat kamu? segitu cinta nya kah kamu sama dia?"
"Aku dengar, dalam waktu dekat ini kau akan menikahinya benar begitu?" Sambung Lingga sambil berjualan memutari Lucas.
"Apa mau Tante? kenapa harus melibatkannya?!" Tanya Lucas.
"Turun dari posisi mu maka aku akan membebaskannya atau tetap mempertahankan posisi mu dan kau akan melihatnya mati seperti apa yang aku lakukan pada Ernan." Ucap Lingga.
"Ch, dasar wanita licik! tante pikir bisa melawan aku dengan mudah? gak semudah itu, Tante pikir dia gadis biasa? itu salah besar! jika Tante salah melangkah semua kebusukan Tante akan terbongkar!" Ucap Lucas yang balik mengancam.
Dengan kesal, lingga menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia pun bergegas keluar dari gedung itu dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui Luna, Joe yang masih menguntitnya kembali menghubungi Ian agar bersiap kembali untuk mengambil sebuah alat perekam dalam tas Lingga. Kurang dari satu jam Lingga pun sampai di rumah sakit itu, ia bergegas masuk kedalam kamar perawatan Luna dan merencanakan tahap selanjutnya yang akan mereka lakukan.
Sebelum wanita itu kembali keluar, dengan cepat Carla mengalihkan perhatian nya agar Lingga pergi keluar dan meninggalkan tasnya. Rencana Carla pun berhasil kini giliran Ian yang beraksi dan masuk keruangan itu, ia mengajak Luna berbincang sepatah dua patah kata dan disaat yang bersamaan Carla kembali masuk untuk mengambil alat perekam itu serta kamera yang di sembunyikannya.
Misi selesai, mereka pun segera melepas seragamnya dan pergi dari rumah sakit itu dengan membawa sejumlah bukti untuk di berikan pada Leo.
"Apa kamu pikir aku sudah terbiasa? ini juga pertama kalinya buat aku! ternyata menyenangkan juga menjalankan permainan seperti ini." Sahut Ian.
"Menyenangkan pala mu! tegang iya, kalau sampai kita ketahuan bisa end di tempat." Ucap Carla.
Gadis itu pun meneguk minumannya dengan rambut yang tertiup oleh angin hingga terlihat leher mulusnya dan membuat Ian begitu anteng menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Menyadari Ian yang sedang memperhatikannya, Carla pun mendorong wajah Ian dengan tangannya hingga membuat pria itu tersadar.
"Hilangkan pikiran kotor mu dasar mesum!" Ucap Carla.
"Yak, kamu pikir apa yang ada di pikiran ku hah?" Sahut Ian.
"Tentu saja tubuh seksi ku yang begitu menggoda yang bisa membuat mu menggila, benarkan?" Ucap Carla.
Pria itu hanya tersenyum miring, tanpa sebuah basa basi Ian menarik tengkuk leher Carla dan menariknya mendekat ke arah wajah tampannya. Kini jarak keduanya begitulah dekat, Ian menatap wajah cantik Vanya dengan begitu lekat secara rinci, begitu juga Carla yang melihat wajah tampan Ian dengan jarak dekat membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Glek..." Carla menelan salivanya dengan cepat ketika Ian semakin mendekatkan wajah nya dan hendak mengecup bibir gadis itu. Saat keduanya akan beradu tiba-tiba suara seorang anak kecil menggagalkan semuanya.
"Kakak... kalian ngapain?" Tanya anak itu.
"Hahaha... ini ada daun di rambutnya kakak cantik." Sahut Ian yang berpura-pura membuang daun dan mengusap kepala Carla.
Sementara dengan Carla yang tersipu malu membuang wajahnya ke arah lain.
"Kok muka nya kakak ini merah? udah kayak udang rebus." Ucap anak itu melihat Carla.
"Cuacanya cukup panas, jadi muka ku agak merah." Sahut Carla.
Melihat dan mendengar apa yang di katakan Carla membuat Ian menahan tawanya dan hanya tersenyum .
"Adik kecil kamu ngapain disini?" Tanya Ian.
"Aku sedang menunggu mama, dia lagi ke beli permen kapas buat aku." Jawab anak itu.
Tak lama kemudian, ibu dari si anak itu kembali dan memberikannya permen kapas yang cukup besar, anak itu pun berpamitan pada Ian dan juga Carla. Andaikan anak itu tidak datang apa yang akan terjadi dengan Ian dan Carla? Ya, tentu saja mereka akan merasakan hal yang baru untuk keduanya.
Drrtt... ddrttt... Sebuah panggilan di ponsel Ian.
"Yess dengan agen Ian disini." Ucap Ian dalam sambungan telponnya.
"Aku tunggu di cafe biasa dalam waktu 30 menit." Sahut Leo.
"Baiklah."
Setelah sambungan telpon terputus, Ian pun mengajak Carla untuk pergi dari tempat itu dan menuju tempat yang telah di tentukan oleh Leo.
***
Bersambung. . .